Cerpen: Kisah Kasih dari Sidareja

Jam setengah delapan. Di kota, jam segini belumlah tergolong malam, tapi tidak dengan di Sidareja. Hilir mudik manusia semakin jarang. Kodok-kodok dari sawah semakin banter terdengar. Setelah dua belas jam berdagang, ditariklah tirai besi yang menandakan toko kelontong Roland selesai bertransaksi. 

Roland adalah kawan baikku, seorang pria sintal bermata sipit, warga keturunan yang telah bergenerasi menetap di tanah Ngapak. Delapan tahun lalu, aku berkawan dengannya karena kami sama-sama belajar di Yogya. Aku tak dekat dengannya, sungguh. Hingga suatu ketika, dalam acara retret penyambutan mahasiswa baru di Kaliurang, kami saling berkenalan. Dia anak yang energik, yang kala permainan ice-breaking dimulai, kelompoknya berdiri tepat di sampingku. Sejak itu, kalau berpapasan di lorong kampus, kami sering bertukar sapa sampai akhirnya jadi kawan mengobrol. 

“Mainlah ke rumahku lah, serius ini,” ketiknya singkat di ponsel. 

Kurasakan nada lemah, meskipun itu cuma teks tanpa suara. “Kerjaanku masih banyak wei, belum tahu kapan bisa ke Sidareja. Solo dan Bandung pun belum kudatangi, tunggulah giliranmu.” Tiga bulan terakhir, kapasitas kerjaku bertambah. Tak banyak perjalanan yang bisa kulakukan di akhir pekan karena harus lembur sendirian. 

Jujur, di zaman modern dengan transportasi yang serba cepat ini, Sidareja tak masuk hitungan. Kecamatan di barat Cilacap ini lokasinya susah kujangkau. Tak ada pesawat. Kalaupun ada, itu harus pesawat capung sewaan. Mendaratnya pun jauh, di Tunggul Wulung yang jaraknya lima puluh kilo lebih. Cuma kereta dan bus yang paling bisa diandalkan. Tapi, dua transportasi ini memakan waktu hampir dua belas jam sekali jalan. Sebabnya, meskipun Jawa pada masa kini dianugerahi dengan jalan tol malang-melintang, Sidareja jauhlah dari jalanan beraspal beton itu. Untuk sampai ke sini, bus dan kereta perlu melewati jalur berkelok warisan Belanda dulu. Dari Nagreg, mengular, menanjak, dan menurun sampai ke Ciamis. Lalu dilanjut lagi seperti itu dari Wanareja sampai ke Lumbir. Belum lagi di balik jok-jok kursi bus atau kereta itu menyelinap kecoak-kecoak mungil. Jika harus pergi ke sini, waktu bepergianku yang cuma dua hari di akhir pekan harus tersita dua puluh empat jamnya hanya untuk bengong di atas kendaraan. Malaslah rasanya, terbayang akan nyamannya berbaring saja semalam-malaman di atas kasur. 

Merasa kecewa dengan jawabanku, Roland membalas. “Mamaku sakit. Temeninlah aku di sini sebentar saja. Kan kamu masih punya jadwal cuti.” 

Aku bergeming sejenak. Terbayang olehku kesusahan hatinya, tinggal di desa tanpa kawan karib, ditambah lagi musibah kelemahan fisik menimpa keluarganya. Aku tak lagi banyak tanya. Berkawan dengannya selama delapan tahun, aku tahu sepeninggal papanya, mama Roland banyak sakit. Mungkin karena usia tua, atau mungkin juga beban pikiran. 

“Ya sudah, nanti Jumat kucari waktu ke sana,” balasku. Segera kuhitung tanggalan. Kutandai pekerjaan mana yang perlu kutuntaskan dalam tiga hari, atau kutunda. Tiga hari lagi, aku perlu izin sejam lebih awal untuk minggat ke Terminal Kalideres. Dari sana akan kunaiki bus dengan jok penuh kecoak itu agar aku bisa tiba di rumah Roland. 

 

Tatkala mentari telah utuh tampak di cakrawala, Roland menjemputku di depan terminal. Cuma ada lima bus, semuanya jurusan Cilacap kota, semuanya lowong. Bus yang baru saja kunaiki sudah berlari lagi ke timur. Supirnya ingin cepat-cepat pulang dan tidur, sebelum malamnya kembali lagi berdinas. 

Sumringah wajah Roland. “Yeeeee, kamu datang juga akhirnya.” Tangan kanannya menyodorkan salam, bukan helm. Siapa pula polisi yang hendak menilang di jalanan tepi sawah. 

Kubalas ocehan itu dengan menggoyang gumpalan lemak di perutnya. “Akhirnya juga, kupegang lagi ini samcan*.

“Eh, bangkek,” gerutunya. Motor oleng, tapi kami tak sampai jatuh. Cah lanang kok pegang-pegang. Tapi inilah yang memang sering kami lakukan. Kala dibonceng naik motor, lemak-lemak di sekitaran perut Roland ibarat puding yang baru saja mendingin. Begitu kenyal dan mengopyak-opyak jika tergoyang. Buatku yang bertubuh kerempeng, punya teman berbadan gempal adalah kebahagiaan, sebab darinya aku jadi bisa merasakan seperti apa rasanya hidup dilimpahi dengan lemak-lemak. 

Keceriaan di atas motor tadi cuma singkat. Jarak dari terminal ke rumah dan toko Roland tak sampai lima menit. Di atas bangku berbalut kulit sintesis warna hijau, mamanya tergolek lemas. Tatapan matanya tampak kosong. Nafasnya pelan. Keadaan ini tak akrab buatku. Biasanya, tiap kali aku datang, mama Roland menyambutku hangat. “Tadi macet nggak? Sana mandi-mandi dulu,” lalu menyodorkan aneka makanan yang sudah dibuatnya, atau jika semalam tidak sempat masak, diberinyalah beberapa berkas uang pada Roland untuk membelikanku nasi kuning di kampung belakang. 

Beberapa saat bergeming, barulah sang mama menyadari kehadiranku.

“Ar,” hanya itu saja, tanpa ada kalimat lain yang menyertai. 

“Ya tante, saya singgah ya tante,” jawabku sembari memegang lengannya dan tersenyum. 

 

Roland bilang sakit mamanya telah komplikasi. Ada diabetes, kerusakan lambung, pun ada indikasi kebocoran jantung. Dua minggu sebelumnya, mamanya mondok bermalam-malam di bangsal rumah sakit di Purwokerto. Kata dokter sudah boleh pulang tiga hari lalu, tapi keadaannya belum membaik. Obat susah ditenggak, sebab lambungnya terus menolak. 

Apa yang kulihat di depan mataku terasa pilu. Jika itu yang terjadi pada mamaku, tak kutahu bagaimana perasaanku. Tapi, kulihat Roland berbesar hati menghadapi ini, dan takjublah aku dibuatnya. 

Dari kamar mandi, Roland merisihkan diri dengan seteko air panas yang dituang ke dalam baskom. Ditambahkannya tiga gayung kecil air dingin, lalu diboyonglah baskom itu ke tepi kursi. Kain waslap dicelupkannya sebentar, lalu diperas kuat-kuat. Selembar kain hangat itu mengusap wajah sang mama. Pelan dan lembut. Kulit renta itu disekanya perlahan, dari wajah lalu turun sampai ke leher, lengan, dan berakhir di kaki. 

Setelah ritual seka itu usai, Roland merangkul sang mama. Hening. Aku bisa merasa, pelukan itu jauh lebih hangat ketimbang waslap tadi. Berselang lima detik, sang mama tampak lebih cerah. Roland lalu memapahnya untuk berbaring di atas kasur. 

Kutepuk pundak Roland “Keren,” ucapku. 

Merawat orang tua yang sakit kupikir bukanlah perkara mudah. Tak banyak anak berkenan melakukannya, kendati pun orang yang sakit itu adalah pribadi yang menafkahi dan membesarkan mereka. Banyak orang tua melanjutkan hari senja mereka di rumah jompo, dikunjungi famili hanya sesekali. Atau, jikalaupun tinggal di rumah, suster-suster berseragam dari tenaga penyalurlah yang mengurusi segala tetek-bengeknya. Tapi hari itu, kutemukan bakti mendalam yang dipertontonkan oleh kawan karibku. 

Meski dia dari dan tinggal di desa kecil, tetapi cinta kasihnya besar. 

 

*Samcan: lemak daging babi. 

 

Sidareja, Jawa Tengah, November 2019

 

8 Comments

  1. Ikhwan

    Sejujurnya, menurut saya, memiliki kesempatan untuk merawat orangtua di masa tua dan sakitnya itu adalah hak istimewa yang belum tentu dihadiahkan ke semua orang. Tergolong privilege kalau kata orang sekarang.

    Di luar sana, ada banyak anak yang hidup jauh dari orangtuanya. Jalan hidup membawa mereka berpisah dan seringkali hanya bisa mendoakan dari jauh. Tiap hari selalu dihantui pikiran buruk, jika sewaktu-waktu orangtua di kampung yang jauh jatuh sakit, atau kemungkinan buruk lainnya. Bayangan ga berkesempatan membalas jasa orangtua ke kita di masa kecil itu agak-agak membebani kadang-kadang hehe.

    Terima kasih sudah menuliskan kisah humanis ini, Mas Yanto. Semoga persahabatannya langgeng dan Mamanya Roland diberi jalan terbaik menurut Tuhan. Aaamiin.

    1. aryantowijaya

      Amiin mas Ikhwan, terima kasih.

      Dulu waktu kita kecil, rasa-rasanya kita pun merepotkan orang tua kita, tapi mereka nggk lelah 🙂 Semoga kita pun punya semangat berbakti yg sama, bahkan lebih besar yaa

    1. aryantowijaya

      Bebas sekali mas. Kadang ada kesinggung sih haha, tapi cepat minta maaf dan cepat balik lagi.

      Sekarang puji Tuhan alhamdullilah sudah membaik. Sudah bisa beraktivitas, hanya masih rutin perlu kontrol ke Purwokerto.

Tinggalkan Balasan ke amijasmine Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s