Gara-gara “Yayam Goyeng”

Pagebluk sudah menjangkit lebih dari tiga bulan. Bagiku yang hidup menjadi kuncen atas bangunan kantor sepuluh ruko, jangankan pergi nyepur lintas provinsi, jalan kaki ke minimarket di pojokan jalan saja warga kantor sudah heboh. “Eh maskernya jangan lupa!”, “Cuci tangan sebelum masuk kantor.”, “Bajunya ganti! Bawa virus dari luar.”

Ah, persetan dengan virus tak kasat mata itu, gumamku dalam hati. 

Tiga bulan itu kulalui dengan perasaan jiwa yang sekarat. Sebentar aku senang, menggebu menuntaskan semua kerjaanku. Tapi sebentarnya lagi aku hilang asa. Tak pernah aku mendekam selama ini di satu tempat, tak bertemu dengan sobat-sobatku yang kadang suka bergurau cabul. 

Malam itu, kerjaanku masih tak usai jua. Puluhan naskah menanti disunting. Tetiba, tuing, notifikasi muncul di layar ponselku. 

“Aku masak yayam goyeng nih,” tulis Irene, kekasihku, disertai seberkas gambar masakan buatannya. 

Harusnya aku bahagia melihat pacarku yang jaraknya 500 kilometer lebih dariku bisa masak makanan enak dan beragam. Ada saja menu baru yang dibuatnya saban hari; kemarin capcay, minggu lalu udang goreng, dan hari ini ayam goreng. Setahun sebelumnya, aku selalu ngomel pada dia. “Kamu itu mbok ya cari aktivitas,” ucapku jengkel. “Masak kalau kamu libur kerjaanmu cuma nungguin teleponan sama aku tok?” Dia suka sekali mendengarkanku mendongeng panjang lebar, tapi jika tekanan menumpuk di pundakku, mulutku seolah terkunci. Tak ada niatan bagiku untuk bercerita apa pun. 

Tak kusangka, ocehan dari bibirku itu diserapnya sempurna. Tatkala pagebluk sialan ini melanda dan manusia-manusia jadi terkurung di rumah seperti kera dalam kerangkeng, pacarku itu malah menggembleng dirinya dengan keterampilan memasak. Sejenak aku berpikir, jika Ibu Kartini masih hidup, tentulah dia bangga bahwa emansipasi yang dulu diperjuangkannya dimaknai serius. Seorang sarjana wanita yang piawai menyunting kata-kata, tapi ahli pula dalam urusan olah rasa. Bisa-bisa kalau masakan si Irene ini memang enak, walau seringnya keasinan, kelak dia bisa bikin rumah makan khas Cina sendiri. Dia mungkin bisa bersanding dengan Chef Gordon Ramsay! 

Tapi, imaji-imaji positif itu tak mampu menyembul di otak dan jariku hari itu. Karena sepanjang hari aku dilibas rapat membosankan tiada henti, menatap wajah-wajah kabur dan mendengar suara patah-patah dari layar laptop, asaku pudar. Yang kuinginkan hanyalah berselonjor di atas ranjang dan diam, atau jika memang aku bisa meminjam pintu ke mana saja punya si cerpelai fiksi, alias si Doraemon, ingin ku pergi menjumpai kawan-kawanku di Jogja dulu dan ikut berseloroh cabul dengan mereka. 

“Hih, manja banget sih!! Ayam kok ditulis yayam!”, ketikku dengan murka. Usiaku 26 tahun, tak ingin ku diperlakukan bak bocah. 

Sejenak aku diam, merenungi deretan kata yang baru saja terkirim. Aku menerka-nerka, pastilah pacarku itu membaca pesanku dengan kikuk. Kok bisa gambar masakan ayam goreng nan lezat itu memancing murka jahanam. 

Emosiku tetiba meletup, laksana Arga Merapi yang tanpa gejala menyemburkan wedhus gembelnya. Gambar masakan beserta narasi yang mengikutinya tak kuanggap sebagai ungkapan sayang atau pun upaya pelipur lara yang dia coba berikan. Yang kulihat adalah betapa pesan itu menunjukkan sisi manja wanita, sisi yang tak kusukai jika aku sedang dalam posisi berberat hati. 

Malam itu pun menjadi hening. Banyak jeda dalam bicara kami. 

“Ya sudah, aku minta maaf, besok-besok aku nggak akan begitu lagi,” ketiknya polos tanpa emotikon. 

Aku bingung. Hendak kujawab apakah pesan itu? Tatkala seseorang minta maaf, bahkan untuk sesuatu yang jelas bukan salahnya, tentulah orang itu menganggap relasi sebagai hal yang mahapenting, yang untuk mempertahankannya dia rela kehilangan harga diri. Kuserap pesan itu dalam senyap. 

Sebelum kuiyakan dan kuucap maaf pula, kunaikkan tembang doa dalam hatiku pada Tuhan. Kuakui pada-Nya bahwa kendati umurku telah melampaui seperempat abad, aku ini masihlah belum dewasa…dan bodoh pula. Betapa mudah aku terpancing dan rabun melihat kebaikan orang lain. Kabut-kabut tekanan kerja kubiarkan menyelubungi retinaku. Oh Tuhan, tolonglah aku mengusir penghalang ini. 

“Iya, aku juga minta maaf,” ketikku dengan perasaan bingung. 

Semenit, dua menit berlalu, perlahan suasana mencair. Deretan kata di layar ponsel tak lagi polos, ada emotikon yang menyertainya. Gara-gara ‘yayam goyeng’, lagi-lagi pertengkaran terjadi, tapi lagi-lagi pula ada maaf yang terucap, yang darinya kami belajar untuk saling mengerti. 

Sungguh, ku tak menyangka, hanya gara-gara “yayam goyeng”, aku yang disebut-sebut orang setenang air di Waduk Gajahmungkur, berubah menjadi gelora angkara Samudera Pasifik yang mampu menenggelamkan kapal-kapal raksasa. 

6 pemikiran pada “Gara-gara “Yayam Goyeng”

  1. Wahahahaha yang kecil kecil itu bumbu sih, bakal bikin ketawa ketiwi kalau diinget nanti di tahun-tahun berikutnya. Semoga pagebluknya cepet selesai terus bisa ketemu Irene dan makan yayam goyeng bareng yaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s