Merengkuh Kembali Kereta Angin

11 Desember 2018. Theresa May, Perdana Menteri Inggris saat itu tiba di acara Brexit Breakfast di kota The Hague, Belanda. Dia turun dari sebuah mobil mewah, sesuatu yang rasanya lumrah bagi pejabat publik. Tapi, kemudian Mark Rutte, Perdana Menteri Belanda, tiba dengan naik sepeda. 

Terlihat jomplang, bukan? Penggalan berita itu dimuat di majalah Forbes pada tanggal 8 Januari 2019 dan rasanya cocok untuk jadi pembuka artikel ini, ketika momen-momen bersepeda sedang naik daun di Indonesia—terkhusus Jakarta—pasca pandemi merebak di negeri kita. 

Sepeda tak diragukan lagi menjadi transportasi hijau yang baik bagi tubuh dan lingkungan, tapi penggunannya di Indonesia masih rendah. Data dari BPS pada tahun 2018 menyebutkan ada 120 juta lebih sepeda motor tercatat. Nggak heran, kalau di jalanan kota-kota besar, sepeda motor seperti semut yang mengerubung. Ini belum ditambah lagi dengan mobil-mobil pribadi, angkot, bus umum, bahkan truk yang berseliweran. 

Tapi, keadaan sedikit berubah. Di awal-awal pandemi merebak di Indonesia, jalanan Jakarta rasanya berubah 180 derajat. Waktu itu saya diminta kantor untuk menyetir mobil. Melewati Slipi-Semanggi yang biasanya padat merayap kala senja, eh malah kosong melompong. Tapi keadaan tak berlangsung lama. Sekarang Jakarta sudah kembali seperti sedia kala: macet. 

Membangkitkan kembali romansa bersepeda

Sebelum negara api menyerang hijrah ke Jakarta, saya pernah jadi penglaju sepeda selama lebih kurang 5 tahun: sedari kelas IX SMP sampai kuliah di Jogja semester pertama. Tak cuma sebagai alat komuter, sepeda juga jadi alat rekreasi. Kala hari Sabtu, bersama teman-teman goweser kami jalan-jalan ke Lembang, Dago Bengkok, Maribaya, atau sampai ke Soreang. Setelah pindah ke Jogja, gowes masih rutin dilakukan sebagai sarana komuter dari Babarsari ke kawasan Tugu, hingga jelang semester kedua, saya pensiun bersepeda akibat kegiatan yang makin padat. 

Nah, setelah pandemi menyerang dan saya ‘dikurung’ di kantor tanpa bisa mudik ke Bandung atau Jogja, terbersit ide untuk mengisi waktu. Ide impulsif ini mengantar saya pergi ke toko sepeda di Pesanggrahan. Sejam kemudian, saya pulang dengan gowes ke Kalideres. Sepeda yang dipilih adalah Polygon Monarch MJR, karena di toko itu sepeda yang masuk budget cuma ini. 

Meski idenya impulsif, syukurnya sudah sebulan ini saya masih rutin bersepeda, sebagaimana jalanan Jakarta belakangan ini juga semakin ramai dipenuhi sepeda. 

Tapi pertanyaannya buat saya dan juga khalayak mungkin, sampai kapan tren bersepeda ini akan lestari? Apakah sepeda hanya jadi alternatif kala pandemi karena ruang gerak kita dibatasi? Dan kapasitas angkut transportasi publik dikurangi? 

Untuk menjawab pertanyaan ini, selain menelisik ke dalam aspek personal (saya ikutan sepedaan karena niatan sehat + kontribusi bagi lingkungan, atau cuma ikut-ikutan), kita juga perlu melihat aspek sosialnya. 

Belanda, bangsa yang dulu bercokol di negeri kita, sekarang dikenal karena jumlah sepedanya yang melebihi populasi manusia: 22 juta sepeda vs 17 juta warga Belanda. Kita bisa lihat di banyak media bahwa Belanda dikenal sebagai surganya pesepeda. Warga asyik bermobilitas dengan gowes, sampai-sampai perdana menterinya juga naik sepeda tiap hari ke kantor. 

Namun, kendati kita melihat prestasi Belanda sebagai negara yang ramah pesepeda, untuk mewujudkannya dibutuhkan perjuangan yang panjang. 

Pasca perang dunia menghancurkan Eropa, Amerika Serikat hadir untuk menolong negara-negara Eropa pulih dari efek perang dengan menggelontorkan dana Marshall Plan. Dekade demi dekade berselang, Eropa mulai bangkit. Hingga di tahun 1974 terjadi krisis minyak. Belanda terkena embargo dari Organization of Arab Petroleum Exporting Countries yang mengakibatkan harga minyak melonjak drastis. Untuk menyiasati krisis ini, pemerintah menghimbau warga beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan berbahan bakar tenaga manusia, alias sepeda. 

Ditulis di Vox dalam artikel How The Dutch Created A Casual Biking Culture, upaya menjadikan sepeda sebagai sesuatu yang lumrah di jalanan tak berjalan instan. Rotterdam, contohnya. Kota yang hancur pasca perang dunia kedua ini mendesain ulang city planning-nya dengan meletakkan permukiman di luar area kota dengan anggapan warga lebih suka tinggal di daerah penyangga. Orang-orang akan berkomuter ke pusat kota dengan mobil. Tapi, ide ini kemudian disangkal karena dirasa tak pas untuk masa depan. Ruang permukiman yang hendak dibangun tak cocok untuk berjalan, bersepeda, dan transportasi publik. Angka bersepeda menghujam turun. Angka kecelakaan di jalan meningkat. 

Desain tata kota pun disesuaikan kembali. Pemerintah mulai menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi pengguna sepeda dengan cara memberi mereka jalur khusus yang terpisah dari kendaraan lain. 

Faktor kebijakan pemerintah punya peran besar bagi suburnya pesepeda di Belanda. Tapi, faktor lain yang menjadikan Belanda ramah sepeda adalah letak geografisnya. Belanda yang berlokasi di pesisir utara dikenal sebagai negara low countries, dengan ketinggian daratan di bawah muka air. Tiada gunung tinggi di Belanda, akibatnya jalanan di kota-kotanya datar. Nah, ini juga yang menjadikan salah satu faktor gowes di Belanda tak menyiksa. Jika semisal warga Bandung yang rumahnya di Lembang diwajibkan gowes setiap hari untuk bekerja dan beraktivitas ke pusat kota, bisa dipastikan mereka semua akan gempor kakinya karena medan yang dilalui naik turun. 

Parkiran sepeda di Belanda | Image by PublicDomainPictures from Pixabay
Gowes santai di Belanda. Kalau di Jakarta, pemandangan seperti ini masih langka. | Image by Robert Armstrong from Pixabay

Dari dua paparan sederhana ini, saya sih optimis jika Jakarta bisa dibuat seperti Belanda selama memang ada upaya serius. Pertama, meskipun cuaca Jakarta panas pisan, tapi jalanan di Jakarta terbilang landai kalau dibandingkan dengan Bandung dan Bogor. Tanjakan yang lumrah ditemui paling-paling flyover. Kecuali di Jakarta Selatan mungkin lebih banyak dijumpai tanjakan dan turunan. Kedua, Jakarta sudah punya modal berupa animo masyarakat yang membeludak. Minggu kemarin, jumlah pesepeda di kawasan HI meningkat 1000 persen! Seribu persen loh! Meski kita tak tahu niatan terdalam dari para goweser ini, tapi jika mereka difasilitasi dengan lingkungan yang mendukung, bukan tak mungkin mereka akan beralih menjadi pesepeda seterusnya. Apalagi sekarang dengan hadirnya Se-Li, sepeda makin ringkas. Sepeda bisa masuk ke kereta komuter atau Trans Jakarta bahkan. Mobilitas jarak dekat bukan tak mungkin bisa digantikan dengan mudah oleh kehadiran sepeda. 

Jika kita serius membenahi, mungkin 5 sampai 10 tahun lagi kita bisa melihat langit Jakarta yang lebih biru dan suara kring-kring memenuhi jalanan. 

Santai sore setelah gowes dari Kalideres ke Pulau Reklamasi, Jakarta Utara.

23 pemikiran pada “Merengkuh Kembali Kereta Angin

  1. Gegara banyak yang sepedahan di Jakarta, saya jadi bisa lihat mana yang emang senang sama cuman biar hitz. Tapi apapun alasannya, senang juga lihatnya. Anak-anak jadi punya aktivitas lebih berfaedah ketimbang cuman nongkrong di jembatan atau pinggir jalan.

    Btw saya pun penasaran juga sama Belanda. Seenak apa sepedahan di sana. Waktu ke Munich, Jerman, saya lihat orang-orang pada sepedahan baik ke kantor atau ke kampus. Bahkan ada jalur sepeda khusus di trotoar atau pedestrian, yang kalau ada orang jalan di jalur itu, bisa ditegur (kayak kami wkwk).

    Semoga Indonesia bisa lebih baik lagi pedestrian sama trotoarnya, termasuk jalur sepeda di mana mana ya. Biar makin minim polusi.

  2. Aku SMP naik sepeda, Ry. Rumahku di Kadipiro, sekolah di SMPN 11 Yogyakarta, dari kecil udah suka sepedaan. Masih inget, waktu itu sepedaku adalah sepeda BMX silver 😀

    Sejak SMA, setop nyepeda dan naik bus ke sekolah haha.

    Kalo menurutku, tren sepeda ini hanya sementara, bisa dilihat dari banyaknya pesepeda yang sepedaan untuk ajang eksis dan refreshing, dan malah merasa belagu kayak banyak video yang beredar di media sosial. Sebagian besar dari mereka belum bersepeda untuk beraktivitas, misalnya ke kantor atau kampus.

    1. Sepeda sarat nostalgia ya guh 🙂

      Tp setuju denganmu, besar kemungkinan memang tren ini cuma sesaat. Gimanapun budaya kita udah motor-oriented banget sih. Kecuali ada momen penggerak besar seperti yg terjadi di Belanda yaa

  3. kalau saya sih pesimis tren bersepeda ini akan lestari.. dulu tahun-tahun 2010-2011an juga heboh rame bgt orang sepedeaan, terutama fixie (termasuk saya juga sampai abis jutaan buat ngebangun fixie wkwk),, lalu setelah itu trennya hilang.. Sekarang pun seperti akan seperti itu,, hanya akan ada sisa-sisa orang-orang yang benar-benar punya passion di sepeda aja yg akan bertahan…

    -traveler paruh waktu

  4. Kayaknya ga cuma di Jakarta Mas trend ini. Di daerah pun sama. Beberapa grup jual beli sepeda yg aku ikuti mendadak ramai. Bahkan beberapa toko sepeda harus indent. Luar biasa banget.

    Aku sendiri setelah kurang lebih 2 taun bike to work (meski jaraknya ga ada 2km), sekarang sepedanya udah aku hibahkan ke sepupu wkwk.

    1. Temanku jg bilang gt mas, di Magelang sing kota kecil pun ikutan rame bersepeda. Sampe-sampe mau pesen aja kudu indent wkwk.

      Nek bersepedanya lestari sih apik ya, jadi sego segawe :))

  5. Aamiin, semoga trend positif seperti ini ga cuma jadi trend sesaat ya. Pengen juga ngeliat sepeda jadi sarana transportasi favorit di negara kita. Sejauh ini, dengan berbagai alasan, kebanyakan masyarakat masih memilih sepeda motor ya. Bahkan ke warung dekat rumah aja kadang kita liat banyak yang make motor hehe.

    Butuh waktu pastinya, seperti Belanda yang butuh bertahun-tahun buat sampai di kondisi sekarang. Ngomong-ngomong pesepeda di Belanda cukup galak. Kalau ada pejalan kaki (biasanya turis atau visitor) yang berdiri di jalur sepeda, dari jauh udah dikrangkring krangkring. Dan rata-rata bawa sepedanya ngebut haha..

  6. Dulu jaman SD aku naik sepeda ke sekolah, SMP SMA naik angkutan umum karena jauh…

    Udah lama banget euy gak naik sepeda 🙂 Disini jarang yg naik sepeda, kalo ada bisa dipastikan pendatang, jalannya naik turun hehe…

  7. Jangankan di Jakarta, di kampung-kampung di Jombang setiap pagi, sore, dan malam banyak pesepeda sekarang. Dan saya termasuk ikutan beli sepeda ahahah. Saya nggak mau dibilang latah hahaha, padahal sejak dulu pengen beli sepeda buat gowes. Toh sampai sekarang masih rutin jogging tiap pagi.

    Rasanya sulit membuat Indonesia menjadikan sepeda sebagai alat komuter. Iya benar mumpung animonya gede. Tahu sendiri kan watak kita, ikutan ramai terus menguap kek gosip artis hahaha. Jadi percuma juga dibangun fasilitas.

    Lagipula banyak pesepeda yang nggak tertib, balapan di jalan berasa jalan milik sendiri. Mana suka menerobos lampu merah lagi. Watak kita memang gitu.

    1. Halo Mas Alid, wahhh aku dikunjungi blogger hits Jombang! Wkwkwk. Btw ibukku asli wong Ploso mas, di Rejoagung.

      Iyo sih mas… agak pesimis sebenernya sepeda ini bakal senantiasa memenuhi jalanan karena banyak faktor.

        1. Iyo mas. Rumahnya skrg sudah dijual, skrg jadi Dealer Kawasaki.

          Terakhir mampir ke Ploso aku tahun 2010. Rumahnya sudah dipindah ke Jl. Pembina, yg tembus ke pinggir tanggul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s