Terbit Rindu pada Makam Kutukan di Lasem

Lasem. Kota kecil di pesisir Pantura ini mendadak menyembul kembali di memori. Perjalanan menelusuri gang-gang tuanya dua tahun silam mengingatkan saya ada beberapa bagian perjalanan yang belum sempat diceritakan, yakni tentang sebuah kuburan tua yang menelurkan kutukan bagi keluarga Han di Lasem.

Sebelum berangkat ke Lasem, saya membaca-baca sedikit referensi mengenai sejarah kota ini. Supaya saat tiba di sana, ada bahan yang bisa digali dan ditanyakan. Selain dari sejarah orang-orang Cina, kelenteng tua, rumah lawas, dan bisnis opiumnya, cerita tentang makam terkutuk kedengerannya seru. Tidak banyak referensi daring yang membahas detail tentang makam ini, namun satu buah karya tulisan dari Agni Malagina yang terbit di National Geographic Indonesia memberikan saya banyak gambaran tentang cerita di balik kutukan makam tersebut.

Sowan ke makam terkutuk 

Hari kedua jelajah di Lasem, saya, Mas Joe, dan Mas Pop menghabiskannya dengan makan, keliling rumah tua, dan singgah ke pohon Trembesi legendaris. Sebelum matahari tepat di atas kepala, saya usul ke Mas Pop. “Mas, mbok kami dimampiri ke makam Han yang ono kutukanne.”

“Oh, mau ke sana? Makamnya ada di tengah kebon. Ayo kalau ke sana. Tapi, mampir warung dulu,” jawabnya.

Kami lalu mampir sejenak di warung, membeli jajanan dan sebotol air. Tiba-tiba ada seseorang memanggil Mas Pop, mereka lalu berbicara sebentar. Katanya, ada seorang sepuh meninggal dunia. Mas Pop kaget dan mohon izin pada kami untuk mengecek keadaan sejenak. Setelah urusan selesai, dia akan kembali lagi dan mengantar kami ke makam.

Singkat cerita, urusan Mas Pop usai dan kami melanjutkan perjalanan. Makam Han Wee Sing bukanlah makam keramat yang dijadikan objek wisata. Jadi jalan ke sana tak ada papan penunjuk sama sekali. Mas Pop, orang yang khatam seluk beluk Lasem, memandu kami melewati gang-gang kecil.

Sampailah kami di sebuah pemakaman umum. Saya pikir makam Han Wee Sing ada di sini, tapi saya salah. Motor kami parkir, lalu kami jalan kaki melewati makam desa tersebut. Sungguh tak ada tanda-tanda akan ada makam bersejarah. Jalan yang kami lewati cuma jalan setapak ditumbuhi belukar di kiri-kanannya. Setelah beberapa menit, barulah kami tiba di makam bersejarah ini. Makamnya besar dan dilapur cat putih. Dari ukuran makamnya, kita bisa menerka siapa sejatinya Han Wee Sing ini. Pastinya dengan makam sebesar ini, dia bukanlah orang kere.

Makan Han Wee Sing. Sudah 200 tahun lebih, tapi masih terawat rapi.
Keterangan di nisannya. Saya tidak bisa membaca artinya.
Tertulis “suci”, namun saya tak tahu apakah suci ini artinya tak boleh disentuh atau bagaimana.

Orang tua yang sakit hati

Dalam artikel “Sebuah Kutukan yang Menghidupkan Lasem” karya Agni Malagina, sinolog dari Universitas Indonesia, Han Wee Sing adalah saudagar kaya raya yang memiliki dua anak laki-laki. Mereka hidup di Lasem pada tahun 1700-an. Lasem pada masa itu adalah kota yang menjanjikan secara ekonomi. Para imigran dari Tiongkok daratan berdatangan ke sini dan membuka aneka bisnis: dari batik sampai opium.

Han Wee Sing dikenal sebagai pekerja keras, suka menolong orang, dan tak suka menghamburkan kekayaannya di meja judi. Tapi, karakter baik ini tidak diikuti oleh kedua anaknya yang suka berjudi. Paparan ini serasa tidak asing bagi saya. Sewaktu saya ikut papa mudik ke Sungailiat, Bangka dulu, papa bercerita bahwa banyak temannya jatuh bangkrut karena tupok alias judi. Lelaki Tionghoa perantauan pada masa itu memang erat kaitannya dengan judi. Secara sekilas, fenomena judi ini bisa dikatakan sebagai hiburan semata bagi mereka. Toh pada masa itu hiburan tidak semudah sekarang yang bisa nonton YouTube atau baca buku. Tapi, hiburan ini berisiko. Seorang yang judi, ambisinya pasti ingin selalu menang, sampai-sampai akal sehat pun dikesampingkan. Menang sekali tidak puas, pasang lagi taruhan lebih besar. Begitu seterusnya sampai ujung-ujungnya apes.

Suatu ketika, Han Wee Sing meninggal dalam keadaan menderita dan miskin akibat ulah kedua anaknya. Karena keluarga mereka telah bangkrut, pemakaman Han Wee Sing diundur terus. Uang sumbangan dari pelayat malah dipakai judi oleh anak-anaknya. Saat akhirnya jenazah hendak dikubur, rombongan pembawa jenazah terjebak mendung pekat dan hujan petir. Mereka lantas meninggalkan jenazah begitu saja. Konon katanya, jenazah itu mengubur dirinya sendiri dan terdengar suara kutukan dari dalam makam yang mengatakan keturunan Han tidak boleh lagi tinggal di Lasem.

Kisah lebih lengkap tentang akar sejarah dari Han Wee Sing dan bagaimana kelanjutan hidup keturunannya bisa dibaca di artikel karya Agni Malagina.

Pecinan Lasem yang semakin tua

Meski sudah dua ratus tahun lewat, kisah legenda kutukan Han Wee Sing sebenarnya tidak pernah usang. Anak sudah seyogyanya berbakti kepada orang tua. Prinsip ini tentunya masih berlaku sampai kepada hari ini.

Dalam budaya Tionghoa, penghormatan kepada orang tua adalah hal penting. Saudara dari mama yang tinggal di desa Ciampea, Bogor, adalah Cina Benteng penganut Konghucu dan Animisme yang taat. Meskipun kedua orang tua mereka telah tiada, tapi mereka masih rajin menyambangi makam, membersihkannya, kadang pula mendaraskan doa di sana. Bakti kepada orang tua tak cuma diwujudkan saat mereka masih hidup, tapi saat sudah mati pun masih perlu didoakan dan disambangi makamnya. Itulah sebabnya ketika generasi Tionghoa yang lebih muda memilih pindah ke agama Kristen, generasi yang tua khawatir akan siapa yang akan mendoakan dan berbakti pada mereka selepas meninggal nanti, mengingat pada iman Kristen (Protestan khususnya) setelah orang meninggal dianggap tak lagi ada urusan dengan yang masih hidup.

Pulang dari makam Han Wee Sing, saya merenung. Jelajah Lasem selama dua hari ini begitu menyenangkan. Bertemu dan berbicara dengan orang-orang tua, di rumah mereka yang tua, sunyi, dan sendu ibarat pergi menjelajahi lorong waktu.

Tapi, entah sampai kapan keakraban ini bisa berlangsung. Orang-orang tua di Lasem punya umur. Cepat atau lambat, mereka akan kembali ke istirahat yang kekal. Kebanyakan generasi muda keturunan mereka telah merantau jauh, meninggalkan rumah-rumah tua itu tak lagi berpenghuni.

Lasem yang dahulu berdegup kencang, kini tersenyum tipis di balik deru roda truk-truk besar yang saban hari melintasi jalan arterinya.

Swafoto bersama Mas Joe di perbatasan Rembang-Pati. Kami dalam perjalanan pulang kembali ke Semarang.

5 Comments

Tinggalkan Balasan ke aryantowijaya Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s