Empat Tahun Bikin Blog, Dapat Apa?

Konon katanya, tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan.

Sewaktu awal-awal pindah ke Jakarta di tahun 2016, saya meramalkan nasib saya tidak akan sebebas dulu. Waktu di Jogja, keluyuran bisa dilakukan dengan mudah, tapi kalau sudah di Jakarta, kayaknya nggak bakal bisa deh. Tiga bulan pertama kerja, jalan-jalan yang saya lakukan cuma mudik ke Bandung. Lalu, terbitlah rindu untuk do something. Daripada mengeluh terus karena susah pergi-pergi, kenapa tidak mendokumentasikan perjalanan yang dulu-dulu?

Mau bikin vlog, tapi diri ini tidak pede-pede amat. Rasanya risih jika wajah memenuhi isi frame video. Lalu terbersit ide, kenapa nggak blog aja? Pernah nulis di Kompasiana, lalu kuliahnya juga jurusan nulis berita. Mestinya soal tulis-menulis tidak asing lagi dong. Lalu, tahun 2014 dulu juga sempat bikin blog gratisan di WordPress, tapi terlantar tak pernah disentuh.

Singkat cerita, blog terlantar itu diasuh kembali. Saya mulai memoles tampilannya dengan pilih tema gratisan yang menarik, lalu mulai menulis konten-konten dengan ide perjalanan apa adanya.

Sekarang, sudah empat tahun sejak ide menggagas blog itu terjadi. Blog ini mungkin biasa saja, tidak mendapatkan penghargaan apa-apa di luar sana. Tapi, dari blog ini hidup saya jadi lebih berwarna. Ini di antaranya.

  1. Dapat uang atau teman? Kalau bisa keduanya, oke banget. Tapi, kalau cuma satu? 

Awal-awal bikin blog, tidak bohong kalau saya juga berharap blog ini pada akhirnya bisa jadi sumber pemasukan kedua. Beberapa bulan setelah getol nulis, mulai datang tawaran content-placement. Lalu, saya sempat ikut komunitas blog yang saya pikir dari situ bisa belajar meningkatkan kualitas tulisan. Tapi taunya tidak. Komunitas itu lebih banyak jadi ajang penempatan konten dengan bayaran sekian rupiah. Karena tujuan belajar nulis tidak tercapai, saya undur diri dari situ.

Teman-teman yang ngeblog mungkin sering juga ditawari penawaran seperti ini. Karena masih newbie, saya tanya ke seorang rekan yang ngeblog juga. Ambil jangan penawaran kayak begitu? Dia tanya balik, memang barang yang ditawarin apa? Itu, dari toko online diminta kita promosiin jas hujan.

“Nah, balik ke kamu sih” katanya. “Kalau mau konten-kontenmu sedikit ‘kotor’ dengan selingan seperti itu ya gapapa,” tambahnya.

Saya tidak mau terlalu idealis, tapi tak ingin juga jadi oportunis. Alhasil, tawaran-tawaran yang saya ambil hanya yang berkaitan dengan jalan-jalan. Selebihnya tidak.

Tapi, sekarang setelah pamor audio-video meningkat, tawaran-tawaran semacam itu jadi makin berkurang. Saya merasa biasa saja. Toh ketika blog ini dibuat, tujuannya memang bukan kepada hal itu. Ditambah lagi dengan semakin sibuknya pekerjaan utama, menulis konten-konten baru jadi semakin sulit. Otomatis, para pengiklan pasti lebih pilih blog yang lalu lintasnya tinggi.

Yang paling disyukuri dari ngeblog adalah bisa bertemu dengan teman-teman baru, yang punya spirit yang sama, dan juga kadang senasib. Mereka inilah yang nilainya jauh lebih berharga daripada rupiah yang didapat.

2. Dapat teman dan komunitas baru

Saya suka sejarah dan kereta api. Setiap kali jalan-jalan cuma buat naik kereta, lihat kuburan, atau cuma sekadar nonton YouTube kereta lalu-lalang, saya sering dicap aneh. Setelah ngeblog saya bertemu dengan rekan-rekan baru. Teman pertama dari nge-blog adalah Johanes Anggoro, sang empunya Ruangsore. Kami sering bertukar komentar, lama-lama bertukar cerita, sampai akhirnya jadi teman seperjalanan. Lalu, ada pula Kak Olive, sang empunya Obendon.com yang tulisannya tentang jalan-jalan dan kuburan selalu menginspirasi saya. Juga ada Teguh, sang empunya Thetravelearn.com yang trip-trip ke luar negeri dan hotel reviewnya bikin pengen ikutan. Juga teman-teman lainnya yang secara langsung atau tak langsung jadi rekan seperjalanan.

Jalan-jalan jelajah Lasem bersama Mas Joe.
Jalan-jalan keliling Surakarta bersama Halim Santoso, sang empunya jejakbocahilang.wordpress.com

3. Dapat dukungan buat nggak malu dengan karya sendiri 

Dulu saya tidak pernah pede dengan karya apa pun yang saya buat. Jangankan karya, menongolkan muka di depan kamera aja nggak mau.

Tapi, salut dan bersyukur sekali dengan rekan-rekan blogger. Ketika mereka mampir ke blog, mereka nggak cuma mampir. Mereka membaca tulisan, lalu menorehkan komentar. Ada mas Hendi yang blognya banyak mengupas tentang Banjarnegara, Mas Djangki yang dari blognya jadi ngeh soal destinasi di Sumatra, dan rekan-rekan lainnya. Kata-kata positif yang mereka tulis itu sungguh jadi penyemangat. Mereka paham betul bahwa sebagai sesama blogger, harus saling dukung. Dukungannya bisa berupa saling berkunjung dan mengapresiasi karya-karya yang sudah ditulis.

Bersama Gara, Mas Indi, dan Ryan sewaktu jalan-jalan ke Ereveld Ancol

4. Dapat motivasi untuk upgrade 

Salah satu blog favorit saya adalah Efenerr.com. Ketika ada kesempatan sharing dari Mas Farchan, sang empunya blog, saya mendaftarkan diri. Darinya, saya belajar bagaimana sih membuat tulisan itu renyah dibaca. Vlog sudah menjamur, tapi tulisan akan tetap punya audiensnya sendiri. Tapi, jika tulisan yang ditulis bantet, siapa gerangan yang tahan membacanya?

Saya lalu membaca buku Mas Farchan dan termotivasi untuk ikut kelas menulis seperti yang diikutinya. Tahun 2018 saya pun ikut Kelas Narasi dan Jurnalisme Sastrawi dari Yayasan Pantau. Kelas menulis intensif selama tiga bulan ini sangat mengasyikkan. Saya baru tahu bahwa menulis itu bukan bakat, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Ada indera-indera yang harus digunakan, kosa-kata yang perlu dipilah-pilah, dan rasa yang perlu ditambahkan supaya tulisan tidak hambar.

Dapat ilmu dari Andreas Harsono, pengampu kelas narasi selama 3 bulan

5. Dapat sukacita 

Ngeblog di sela-sela kerjaan dan stres sehari-hari seperti jalan-jalan ke sebuah empang yang di kiri-kanannya banyak bunga-bunga cantik. Menyenangkan dan menenangkan! Sambil menulis di blog, memori saya jalan-jalan ke suatu masa dan tempat yang pernah dilalui dulu.

Seperti ketika saya menulis ini, saya jadi ingat masa-masa saya tinggal di rumah kos Ibu Haji Sri Muslimatun. Kosnya panas, banyak tikus, saya sering dikunci tak bisa masuk, sampai dicurhatin masalah rumah tangga setiap pulang kerja. Di kamar kos yang terasa suram itulah saya memilih nama Jalancerita untuk dijadikan nama bagi blog ini.

Segala sesuatu memang tidak terjadi kebetulan, tapi kalau pun kebetulan pun, yang selanjutnya menentukan adalah respons kita.

Yuk tetap menulis, teman. Kita warnai dunia digital dengan untaian kata. Supaya kita tetap terus melatih imajinasi kita.

 

23 Comments

  1. papierandme

    Salam kenal Mas, 😀
    Mungkin hampir sama pada awalnya ngeblog juga pengen latihan menulis lebih bebas hehe. Banyak banget ide tapi karena hiperthinking jadi tidak bisa ditulis
    sama sekali. Akhirnya dengan blog lumayan bisa terurai hehe

  2. Mentik

    Salam kenal mas Aryanto,
    Membuat blog bisa mendapat relasi atau kawan, yah sepanjang perjalanan saya ngeblog sejak 2017, udah agak jarang bisa komen-komen gini antar situs blog.

    Blogger era sekarang trend-nya fokus di SEO dan AdSense.

    Tapi beruntunglah ada komunitas blog di FB yang bisa menyatukan kita pada umumnya 🙂

  3. Novianita

    Saya merasa beruntung sekali menemukan blog nya mas aryanto ini. Walaupun Vlog sudah sangat menjamur, tp saya kurang bisa mengikuti. Saya lebih suka membaca daripada audiovisual.

  4. Avant Garde

    Ohya, last but not least, pernah meet up sama Joe juga di Kota Lama,terus main ke rumahnya di dekat Tanjung Mas (Hai, Joe!!)

    Siap Yo… semoga kita bisa bersua di selain alam maya…

  5. bara anggara

    wah, usianya sama seperti blogku, udah 4 tahun juga, tepat di bulan april ini hehe..

    semangat terus nulisnya masbro.. semoga pandemi segera berakhir biar jalan2nya juga lanjut lagi..

    -Traveler Paruh Waktu

  6. Johanes Anggoro

    Woaaaa ada aku lagi di blog Jalan Cerita 😀
    Meskipun aku udah ga ngeblog lagi, tapi masih menjalin relasi di media sosial ya karena dari ngeblog juga mas.
    Kan kadang meninggalkan komen tuh sbg obat jangen ngeblog juga hehe

    1. aryantowijaya

      Gara-gara komen-komenan, lalu ketemu, eh jebule sama-sama sepur mania kita mas! Haha.
      Gk kerasa sudah 3 tahun mau berlalu loh. Kita ketemu di Kota Lama kalo gak salah Agustus 2017 mas.

  7. Nasirullah Sitam

    Sekarang katanya Jo ruang sore mulai jarnag ngeblog. Mungkin lupa ahhahaha. Kami sering komunikasi, bahkan dia dua kali ke rumah saya di Karimunjawa, tapi aku sendiri belum pernah ketemu orangnya ahhahahah.

    Dari ngeblog, aku bisa ketemu banyak relasi, dan itu memang menyenangkan

    1. aryantowijaya

      Aku juga mas. Dulu sebelum ngeblog kalau jalan-jalan liat kereta atau kuburan sendirian, stelah ngeblog rupanya ketemu banyak rekan yang setipe hobinya.

      Dari tulisan, jadi pertemanan.

  8. Avant Garde

    Wah, happy anniversary ya Ar (atau Yo sih??) … sungguh ulasan yang menarik dan terima kasih udah dimention (ikut seneng ada kawan-kawan blogger lain di sini kayak Gara, mas Halim, Hendi, mas Farchan dan Nugie) 🙂 Dari semuanya, aku masih ada utang meet-up sama Hendi dan mas Halim, keren Ar udah meet-up sama mereka semua…

    Semoga makin semangat sharing hehe… stay safe dari pandemi ya Ar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s