Main Sebentar ke Puncak Gantole Wonogiri

Pertama dan terakhir kali ke Danau Toba itu tahun 2015 lalu. Saya yang lahir dan besar di Jawa berpikir kalau danau yang digadang-gadang terluas se-Indonesia itu palingan seperti Situ Ciburuy di Padalarang, atau kalau lebih besar lagi, Waduk Jatiluhur lah. Imaji itu seketika ambyar, saat bus reyot yang saya tumpangi mulai turun gunung, meliuk-liuk di jalan sempit menuju Kota Parapat.

Alamak! Ini danau apa laut? Cantik dan luas bener! Punggung-punggung bukit nan kokoh menghujam ke tepi danau. Pun permukaan danau tampak begitu luas dan tenang. Dua minggu bersemayam di Tuk-tuk, salah satu desa di Pulau Samosir, saya makin kepincut dengan megahnya Danau Toba ini.

Tapi sayang, untuk kembali lagi ke sana ongkosnya mahal dan jauh. Tidak ada kereta ekonomi subsidi. Kalau pun ada, perjalanannya pasti terlampau lama.

Untuk mengobati rindu akan Danau Toba, saya iseng gugling tempat-tempat mana di Jawa yang punya panorama mirip-mirip. Ada satu unggahan foto dari teman kuliah dulu. Dia berpose duduk di atas bukit dengan pemandangan air danau menghampar luas. Lokasi yang disebut ada di Wonogiri. Susun rencana, bulan depannya saya berangkat ke sana.

Waduk Gajah Mungkur 

Jika Danau Toba merupakan danau yang terbentuk secara alami, Kabupaten Wonogiri juga punya danau, tapi tidak dibentuk secara alami. Tahun 1964, pemerintah menggagas ide membuat waduk sebagai pengendali banjir Bengawan Solo. Sungai tersohor di kota Surakarta ini tak cuma populer karena lagunya, tapi juga karena banjir-banjir besarnya. Salah satu banjir besarnya terjadi pada  tahun 1966, ketika Indonesia sedang gonjang-ganjing isu penumpasan PKI. Banjir ini merendam hampir tiga perempat wilayah kota. Dikutip dari buku Banjir Bandang di Kota Bengawan (1966:44), tercatat hujan lebat mengguyur sejak tanggal 15 Maret 1966 sekitar jam 1 siang dan tidak berhenti sampai besoknya. Lima tanggul di sekitar Bengawan Solo pun jebol. Di daerah Pasar Nguter, tinggi air mencapai 1,5 meter.

Tahun 1976, dimulailah pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Untuk membangun waduk dengan cakupan luas genangan 8.800 hektar, 51 desa di 6 kecamatan harus ditenggelamkan. Dampak penenggelaman ini, 67.515 warga tergusur ditransmigrasikan ke Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatra Selatan.

Lokasi waduk tidak jauh. Cuma 6 kilometer dari Kota Wonogiri ke selatan. Dari Kota Solo, saya berangkat naik motor matik. Cukup bingung mencari spot menikmati waduk dari ketinggian tanpa GPS. Beberapa kali sempat salah jalan. Setelah GPS dinyalakan, saya dituntun menyuri jalan aspal di tepi waduk. Jalanannya sepi karena memang bukan jalur lintasan utama. Jika jalan ini diteruskan ke selatan, kita akan tiba di Pracimantoro yang nantinya jika diteruskan lagi ke timur akan sampai di Pacitan, dan kalau ke selatan akan sampai ke Pantai Nampu.

GPS mengarahkan saya belok ke kanan, ke sebuah jalan desa. Jalanannya sudah diaspal mulus, tapi tanjakannya lumayan ekstrem. Agak was-was kalau-kalau motor matik sewaan ini tidak kuat, atau amit-amit saat turun remnya putus. Sambil motor dipacu, dalam hati bergumumam supaya hal-hal buruk tidak terjadi.

Tempat yang saya tuju bernama Puncak Gantole. Dari tempat ini, kegiatan paralayang biasanya dilakukan. Sinyal ponsel mulai melemah, padahal sudah pakai operator pelat merah. GPS juga mulai menunjukkan gejala kesurupan. Setelah saya melewati pos masuk dan membayar karcis sebesar 10 ribu, GPS meminta saya belok ke kiri, ke jalan setapak sempit yang entah mengarah ke mana. Saya hiraukan instruksi itu, tapi tetap saja GPS kekeuh ke sana. Akhirnya saya pun balik lagi, bertanya jalan ke mbak-mbak penjaga pos.

“Lurus mawon mas, ikuti jalan aspal pasti sampe.”

Dari pos masuk, jalanan masih lumayan nanjak. Saran, jika mau bawa motor matik, pastikan tenaga dan remnya oke. Kira-kira 10 menit kemudian, saya tiba di Puncak Gantole.

Motor dan badan sama-sama kepanasan. Meski lokasinya di atas bukit, cuaca Wonogiri siang itu panasnya menyengat. Angin semilir sedang ogah bertiup. Suasananya sepi. Cuma segelintir muda-mudi yang berwisata ke sini. Dari parkiran motor, kita tinggal jalan kaki beberapa langkah melewati tangga. Lalu sampailah di puncak gantole.

Dari Puncak Gantole, Waduk Gajahmungkur terlihat dengan jelas dan luas. Mirip-mirip lah dengan pemandangan Danau Toba versi Jawa. Tidak ada pagar di sekeliling puncak, karena area ini memang dibangun untuk olahraga paralayang. Untuk yang fobia dengan ketinggian disarankan tidak dekat-dekat ke tepian.

Tidak ada pagar di sekeliling. Di sini tempat take-offnya paralayang.
Pemandangan dari atas
Waduk Gajah Mungkur
Di tepi bukit disediakan gazebo untuk bersantai

Tidak banyak atraksi pun fasilitas yang ditawarkan di sini, tapi menurut saya ini sudah baik. Spot seperti ini memang bagusnya untuk orang bersantai menikmati suasana angin semilir dengan pemandangan danau yang rupawan. Tak perlu ditambahi banyak-banyak tempat swafoto yang sifatnya temporer. Biarkan para pengunjung larut dalam hembusan angin bersama rekan-rekan yang mereka ajak.

Satu jam berlalu, saya turun kembali menuju Kota Wonogiri. Besoknya, Jakarta sudah memanggil kembali.

14 Comments

  1. Matius Teguh Nugroho

    Aku ke Danau Toba tahun 2016, puji Tuhan bisa berpartisipasi dalam Karnaval Kemerdekaan. Jangankan Danau Toba, melihat Sungai Musi untuk pertama kalinya aja aku gumun! Memang kita anak-anak Jawa ini perlu melihat bagian lain nusantara 😀

    Gajah Mungkur masih kayak Jatiluhur aja sih, hehe. Di Jawa nggak ada danau yang besar ya.

    Aku setuju, nggak usahlah bikin spot-spot foto yang merusak konsep itu. Alam kita udah bagus dari sononya.

    1. aryantowijaya

      Jawa kecil-kecil danaunya guh, mungkin karena secara geografis ukuran pulaunya juga kecil. Kalau di Sumatra kan danaunya luas-luas. Danau Lut Tawar pun lumayan luas waktu aku ke sana ya.

      Ngmg-ngmg spot foto kadang aku bingung sih, itu pencetusnya siapa dan bisa jadi hits banget. Di banyak tempat wisata dibangun itu.

  2. RIFAN JUSUF

    Teman sekolah yang di Solo pernah ngajak ngetrip ke waduk Gajah Mungkur. Cuman nyebut nama waktu itu dan saya belum punya gambaran sebelumnya seperti apa. belum sempat googling juga. Ternyata cakep juga wei pemandangannya.

    Wah, mumpung dekat dari pekalongan, saya juga harus mengagendakan juga nih kesana. Nggak perlu mendaki kan mas untuk bisa ke puncak spot take off paralayang?

    1. aryantowijaya

      Ndak mas, tinggal bawa motor aja. Cuma ya itu, nanjaknya lumayan. Nanti dari parkiran tinggal jalan dikit lewatin tangga.
      Tapi kalau siang, panasnya luar binasa mas haha.

      Wah mas, Pekalongan Wonogiri mayan jauh mas, nginep semalem di Solo baru joss mas hihi. Atau gak diterabas sampai ke Pantai Nampu sekalian

  3. Johanes Anggoro

    Ada beberapa titik untuk menikmati Waduk ini dari ketinggian Mas. Di deket bendungan ada bukit kecil juga, ga terlalu tinggi, tapi itu titik terdekat ke bendungan. Lalu aku pernah juga ke Watu Cenik. Sepertinya lebih rendah dari Gantole ini. Btw waduk Gajahmungkur punya kenangan sendiri, karena kampung halaman Ibu di Wonogiri hehe.

    Di area waduknya juga ada kebun binatang. Bahkan gajahnya sudah menelan korban yaitu pawangnya sendiri.

    1. aryantowijaya

      Aku baru tahu ada Watu Cenik. Kemarin cuma ke Puncak Gantole, lalu bablas turun deh mas. Aku kemarin ini baru pertama kali ke Gajahmungkur, dan suka sama suasananya. Sepi pula.

      Kebun binatangnya aku belum tahu, baru denger malah ini mas.

      Masih suka mudik Wonogiri mas?

      1. Johanes Anggoro

        Masih, akhir tahun lalu ke sana. Tiba-tiba aja ga direncanain, padahal musim ujan.
        Daerahnya sblm waduknya, dan masih terhitung kota. Tapi suasananya enak, sepi. Syahdu. Apalagi di belakang kampung itu ada gunung gandul, semacem bukit kecil dan di atasnya ada batu besar, yang juga bisa diakses dr stasiun wonogiri 😁

        1. aryantowijaya

          Wah mas, noted. Aku bakalan jajal ke Wonogiri lagi next time. Kotanya syahdu, bukit-bukit kelihatan dari kota, sepi pula.

          Terus makan ikan di pinggir waduk juga enak dan nggak mahal.

          1. Johanes Anggoro

            Sekitaran Sukoharjo juga banyak tempat-tempat buat nyepi mas. Ga banyak dilirik karena kebanyakan malah lari ke Karanganyar dan sekitarnya.
            Wonogiri ke selatan lagi belum nyoba explore sih, ada pantai juga, museum karst, kampung wayang dll.

Tinggalkan Balasan ke Matius Teguh Nugroho Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s