2020: Krisis-krisis yang Akan Menjadi Normal

Naik gunung Bromo bulan Maret, agenda wajib saya dan Andre di tahun 2020. Sudah sejak kuliah kami mendamba naik ke gunung ini, tapi kesempatan tak pernah sampai. Barulah di tahun ini kami menemukan tanggal yang sepakat. Rencana disusun rapi. Saya memesan penginapan dan sewaan motor, Andre mengurus tiket kereta. 

Tapi, Januari lalu dunia gempar dengan munculnya virus corona di Wuhan yang dengan cepat melumpuhkan Tiongkok. Kami adem-ayem, merasa tak mungkin virus itu masuk ke negeri tercinta. Namun, kenyataan bicara lain. Virus menyebar bak cendawan di musim hujan. Dari Tiongkok, ia merangsek hingga ke Eropa, membikin kelumpuhan di Italia dan Spanyol. Indonesia pun tak luput. Sejak Pak Jokowi mengumumkan dua kasus positif pertama di tanah air, media sosial jadi lebih gaduh daripada dunia nyata. Informasi menyebar cepat dari grup WhatsApp sebelah sana dan sini. Panik. Saling tuding. Korban-korban dan suspect-suspect terus bertambah. Hingga akhirnya dengan berat hati, kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan impian ini. 

Tak cuma perjalanan kami yang batal, rutinitas pun jadi terganggu. Presiden menginstruksikan masyarakat untuk kerja dari rumah. Karena kantor taat pada peraturan dan tidak ingin karyawannya ada yang tertular dan menularkan, maka efektif sejak hari ini seluruh staf diminta kerja dari rumah. Tapi, ini bukanlah kali pertama di tahun 2020 para staf kerja dari rumah. 

Sebelumnya, di awal Januari, banjir melumpuhkan megapolitan Jakarta. Kantor memang tidak terendam, tapi akses jalan menuju kantor terputus, plus banyak rumah staf yang kelelep. Dari yang airnya semata kaki sampai sedada. Akibatnya, kantor diliburkan tiga hari. Sebulan berselang, di 27 Februari, Jakarta banjir lagi. Rumah-rumah staf terendam lagi, kantor diliburkan lagi. 

Rasa-rasanya, 2020 ini belum genap tiga bulan, tapi kok ngeri? Berbeda dari dua peristiwa sebelumnya, kali ini kita masih menebak-nebak kapan para staf bisa kembali lagi ke kantor. Bencana banjir yang lalu bisa diprediksi kapan surutnya, tapi sekarang, siapa bisa prediksi si virus-virus nakal ini stop hinggap di tubuh orang? 

Belajar menerima keadaan 

Gagal naik Bromo. Banjir yang melumpuhkan kota. Virus yang tiba-tiba nongol dan ganas. Semua ini mengingatkan saya bahwa di tengah kemajuan zaman, kita, manusia, tetap bukanlah makhluk sempurna. Kita tidak bisa mengendalikan segala sesuatu. 

Kita susun banyak rencana dan harapan untuk 2020 dan masa-masa menjelang, tapi siapa bisa pastikan kalau semuanya bisa terwujud? 

Krisis yang jadi normal 

Bumi semakin tua, tapi perilaku manusia tak jadi lebih arif. Selepas dari pandemi corona yang selesai, dengan segera kita akan mendengar dan dibuat getir lagi dengan bencana atau krisis lainnya. Jangan lupa, sebelum semua media sibuk membahas corona, dunia pernah hampir baku hantam gara-gara Amerika Serikat merudal Iran. Indonesia masih belum selesai juga dengan dosa-dosa masa lalunya: keadilan HAM, korupsi, politik identitas, dan lainnya. Belum ditambah lagi dengan krisis lingkungan, yang kalau pun kita tahu dan peduli, baru sebatas ‘stop kantong plastik’ dan slogan-slogan lainnya. Belum ada tindakan amat nyata dan berskala besar yang digalakkan di negara kita. Restoran-restoran bikin kampanye stop sedotan plastik tapi lupa kalau botol minum dan alat makannya masih dari plastik sekali pakai, yang jika sudah selesai digunakan nasibnya sama dengan si sedotan plastik. Bahan bakar masih tergantung pada fosil. Hutan-hutan masih rajin ditebang dan dibakar, lalu asapnya bikin keki negeri tetangga. 

Dengan segala kerusakan-kerusakan yang dibuat manusia, bencana dan krisis bisa jadi datang semakin cepat. Kita ibarat mengundang mereka datang cepat-cepat. Tengoklah Jakarta, megapolitan ini semakin tahun semakin turun permukaan tanahnya. Tapi, siapa warga yang concern dengan ini? Kita masih lebih suka heboh di media sosial tentang siapa yang lebih jago, siapa yang sealiran dengan kita, lalu dengan enteng melontarkan sumpah serapah dan makian kebun binatang atau bahasa sarkastik ke satu sama lain. 

Kita lupa, kalau bumi yang kita diami saat ini bukan warisan dari masa lalu yang bisa kita perlakukan seenaknya. Kita cuma meminjam bumi ini dari anak cucu kelak di masa depan. 

Impian utopis 

Lah, terus gimana dong? Ini orang bikin tulisan kok nadanya negatif doang.

Tidak ada solusi tunggal dan instan buat segala macam masalah ini. Kita berharap satu-satu dapat terurai, minimal pandemi Corona ini dapat usai. Tapi, jangan harap cepat usai kalau kita masih ngeyel colak-colek sana sini tapi ogah cuci tangan, mengabaikan instruksi untuk pembatasan sosial, atau cuma nyinyir sana-sini. Setelahnya, untuk krisis-krisis politik kita mungkin tak bisa berbuat banyak, tapi untuk hal-hal lain seperti kasus intoleransi dan segregasi sosial yang terjadi di Indonesia, kita bisa berkontribusi dengan bertindak adil sejak dalam pikiran, menghapus prasangka atas golongan tertentu, berteman dengan mereka, dan membangun narasi kebaikan yang bisa kita mulai dari media sosial kita sendiri. Alih-alih share berita hoaks penuh prasangka, mengapa tidak share pengalaman berkawan dengan orang baru dari golongan sebelah yang menginspirasi? 

Perubahan besar adalah perubahan-perubahan kecil yang dilakukan dengan konsisten dan integritas. 

Perubahan tetap dimulai dari diri kita sendiri. Negeri kita bisa maju dan bebas dari korupsi di saat kita sadar betul bahwa kebijakan kerja dari rumah bukan berarti liburan di rumah. Ah, bangun siangan aja deh, disambi nonton Yutub deh. Jika ini dilakukan, sama saja kita sedang melestarikan budaya korupsi yang nantinya bisa berkembang ke berbagai rupa. 

Akhir kata, bagi yang kerja di rumah, selamat bekerja dengan rajin dan semangat. Bagi yang tetap harus kerja di tempat kerja, kiranya badanmu tetap sehat dan tetap semangat pula. 

Semoga pandemi corona ini segera usai dan kita berbesar hati menghadapi kejutan-kejutan selanjutnya. 

9 Comments

  1. rivai hidayat

    Berharap wabah corona bisa segera berakhir dan semuanya bisa berjalan seperti semula. Rasanya kerjasama dari warga sangat berpengaruh terhadap cepatnya penanganan wabah corona. Masyarakat mesti paham dan ikut berjuang bareng pemerintah.

    Semangat kak. Semoga semuanya segera berakhir

  2. Matius Teguh Nugroho

    Corona yang melumpuhkan dunia ini seolah ingin mengembalikan semua peserta lomba pada satu titik start yang sama. Reset. Virusnya sendiri mungkin bisa selesai di pertengahan tahun atau akhir cawu ketiga. Namun dampak ekonominya bisa setahunan.

    Corona juga mengingatkan kita bahwa negara-negara termaju sekalipun, negara-negara tropis yang biasanya aman dari wabah flu pun, tak berdaya saat virus telah menyebar.

    Aku kesel sama orang-orang ignorance yang malah liburan rame-rame. Nanti mereka pada sakit, baru tau rasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s