Menikmati Perjalanan, Memelihara Janji

Namanya juga perjalanan, sering ada kejutan tak terduga. Bus Rosalia Indah yang saya naiki terjebak tiga jam lebih di tol dalam kota karena ada truk pengangkut elpiji terguling. Perjalanan ke Solo yang harusnya tiba jam tiga pagi jadi molor. Sampai di terminal Tirtonadi, langit sudah terang benderang. Di penginapan, cukup mandi dan istirahat sebentar, lalu perjalanan pun dimulai kembali. 

Perjalanan Sabtu itu adalah ke Wonogiri. Ada satu spot di atas bukit yang kelihatannya ciamik. Dari spot itu, kita bisa melihat waduk Gajah Mungkur menghampar luas. Tapi, meski pemandangannya elok, treknya adalah kebalikannya. Jalanan aspal sempit meliuk-liuk di punggung bukit, tak muat jika dua mobil bertemu papasan. Tanjakannya curam, tikungannya tajam. Gas motor sudah mentok, lajunya pun jadi pelan bak siput. 

Kira-kira dua puluh menit melibas tanjakan, kami tiba di pucuk. Bangunan landai berbentuk persegi dibangun di sini. Di momen-momen tertentu, tempat ini jadi tempat take-off paralayang. Sejauh mata memandang, Waduk Gajah Mungkur membentang seperti lautan mungil. Airnya tenang dan meneduhkan. 

Perjalanan jalan-jalan macam ini telah jadi hal yang biasa, teristimewa hampir dua tahun belakangan. Meski sekilas seperti jalan-jalan yang asyik, tapi ini bukanlah jalan-jalan biasa. Ini adalah jalan-jalan sekaligus belajar. Bersama si dia, kami menjadikan jalan-jalan ini sebagai momen untuk melepas penat sekaligus merajut kasih. Di bulan sepuluh tahun 2018, saya mengajak seorang wanita di kota Solo untuk memasuki jenjang relasi yang lebih dari sahabat. Tiga bulan mendoakan dan menimbang-nimbang, kami tiba pada kata “ya”. Sejak saat itu, perjalanan kami untuk saling mengenal dan memelihara komitmen pun dimulai. 

Kami bukanlah orang yang baru kenal. Sejak awal kuliah dulu kami sudah saling kenal, tapi baru tujuh tahun setelahnya kami berani mengambil langkah. Meski sudah kenal tujuh tahun, tapi menjalin relasi, apalagi terpaut jarak, adalah hal yang ngeri-ngeri-sedap. Tapi, namanya juga lelaki, di awal-awal pasti semangatnya 1945. Sudah dikasih tahu bahwa akan berat, tapi tetap yakin seyakin-yakinnya. “Jakarta Solo doang mah, gampang. Masih satu pulau. Bisa naik kereta,” saya meyakinkannya ketika dia ragu akan jarak yang membentang. 

Jelang setahun, membuktikan apa yang sudah diucapkan adalah cerita lain. Tiket kereta makin mahal. Kerjaan makin sibuk. Naik kereta ekonomi subsidi sepanjang malam tak lagi menyenangkan, malah bikin sakit badan. Alternatif pun dicari. Karena ongkos kereta mahal, okelah pindah jadi naik bus malam. Tapi, naik bus pun punya tantangan sendiri. Turun di terminal Kalideres subuh-subuh, ojek pangkalannya ganas. Tas ditarik-tarik, jalan kaki pun diikuti. Ngeri akan dijambret dan sederet skenario buruk lainnya, saya vakum naik bus. Tapi, pelan-pelan coba memupus takut dan akhirnya berani naik bus lagi. Kadang, kalau dapat tiket kereta subsidi, saya pun naik kereta. Tak apalah meski pulang-pulang sakit punggung. 

Dua tahun ke belakang, tengkar-tengkar kecil maupun besar pun kadang mewarnai hari-hari kami. Komunikasi lewat telepon dan chat suka bikin salah persepsi, tapi dengan segera kami membuka hati untuk kata maaf dan belajar dari kesalahan itu. Dalam diskusi, kami belajar saling kenal, memupus kode-kode dengan kesediaan bicara jujur. Banyak hal jadi topik diskusi, soal kesukaan, aktivitas sehari-sehari, sembari otak menganalisis. Lambat laun, frekuensi konflik mulai menurun, prasangka pun meluntur. Sebaliknya, rasa percaya dan kasih mulai tumbuh. 

Setidaknya sebulan atau dua bulan sekali, kami saling jumpa. Dan, karena sehari-harinya kami dilibas dengan pekerjaan, kami mendesain pertemuan kami dengan agenda jalan-jalan. Pergi ke alam, makan di pinggir kolam, atau jalan-jalan ke pinggiran kota. Dalam suasana yang rileks, rindu dapat tersalurkan dengan baik, plus hal-hal serius pun dapat disampaikan dengan lebih enteng. 

Sungguh, jelang dua tahun belakangan ini adalah momen-momen yang amat membentuk kami. Kami belajar untuk terbuka, juga berkompromi. Kami tak ingin memandang jarak sebagai rintangan. Sebab jika jarak dimaknai dengan negatif, maka tak akan ada rasa syukur dalam relasi jarak jauh yang kini kami jalani. Jarak yang terbentang di antara kami adalah kesempatan untuk saling percaya dan bertanggung jawab. Ketika waktu ketemuan yang sudah disepakati harus berubah, kami coba sama-sama cari solusi, bukan menyalahkan. Demikian juga ketika adalah kerikil-kerikil lain yang perlu kami lalui. Bukan mengomel akan salah siapa yang membawa kami ke jalan ini, tapi kami belajar untuk saling menguatkan dan cari solusi, bagaimana caranya ya supaya kerikil-kerikil ini bisa kami lalui.

Jarak yang membentang meski tetap adalah jarak, tetapi ia tak lagi menakutkan. Di tengah jarak itu, kami jadi belajar bahwa kendati relasi jarak jauh adalah berat, tetapi berat tidak berarti mustahil. Relasi jarak jauh adalah kesempatan yang amat berharga untuk kami menghargai pertemuan dan berkarya dalam ladang kami masing-masing sampai nanti tiba kesempatan untuk kami lebih dekat secara jarak fisik. 

Seperti perjalanan ke puncak bukit di Wonogiri kemarin, perjalanan hidup tentulah terjal dan banyak tikungan—kecuali kamu anaknya Bill Gates, tapi mungkin orang kaya pun punya banyak masalah. Tak ada perjalanan hidup manusia yang senantiasa mulus. Naik ke atas bukit rasanya tidak menyenangkan. Tanjakannya seram. Tikungannya tajam. Tapi, saat tiba di puncak dan pemandangan indah tersaji di depan mata, barulah kita menyadari bahwa perjalanan berat di bawah adalah perjalanan yang baik, yang mengantar kita kepada tujuan yang mulia. 

Dua tahun kurang adalah waktu yang teramat pendek, kami masih amat perlu belajar dalam memelihara komitmen dan relasi ini. 

Salam 

Waduk Gajah Mungkur dipandang dari ketinggian

Satu respons untuk “Menikmati Perjalanan, Memelihara Janji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s