Sepanjang Jalan Jogja-Cilacap

Minggu, 22 Maret 2015. 

Kira-kira jam sepuluh pagi, langit Jogja mendung. Tidak ada rencana apa-apa hari itu selain malas-malasan di kosan. Tapi, tiba-tiba hape bergetar. Ada telepon masuk dari Roland. 

“Wei, kenapa?” tanya saya. 

“Ar…,” suara dari seberang telepon. Nadanya bergetar. 

“Eh, kenapa Lan? Di mana kamu?” 

“Papa meninggal barusan,” jawabnya sesenggukan. 

Suasana hati Roland kalut, dia ingin segera pulang supaya bisa melihat wajah almarhum papanya. Nanti malam akan diadakan upacara tutup peti. Tapi, rumah Roland terletak di Sidareja, Cilacap, sekitar 200 kilometer ke barat dari Jogja. Sidareja cuma kota kecamatan kecil. Akses kendaraan umum memang ada, tapi tidak di setiap waktu. Kereta Lodaya yang lewat Sidareja sudah berangkat tadi jam delapan. Kereta lain yang berangkat siang dan sore sudah ludes tiketnya. Naik bus Budiman dari Terminal Giwangan baru ada jam setengah enam sore. Itu belum ditambah perjalanan sekitar 7 jam. Tidak keburu untuk ikut upacara tutup peti. 

“Aku pulang sekarang naik motor aja wes,” tukasnya. 

“Ngawur kamu! Udah wes, sekarang ke kosku dulu aja, baru kita cari solusi bareng.” Roland menurut. Sejurus kemudian dia sudah tiba di kos. Meneduhkan suasana hati orang yang berduka rasanya sulit. Semua penjelasan logis tentang ludesnya tiket tidak digubris. Roland kekeuh untuk motoran sendirian. 

Tapi, motoran sejauh 200 kilometer di musim hujan dalam kondisi duka dan terburu-buru bukanlah ide baik. Saya membayangkan risiko kecelakaan: nyungsep di aspal atau terserempet bus Efisiensi. Bukannya pulang buat meluruhkan duka, bisa-bisa yang ada malah menambah duka.  

“Ya udah, kamu gak mungkin motoran sendirian sambil kondisi begini. Ayo berangkat sekarang. Naik motorku. Kita ke Sidareja sekarang,” saya bilang ke Roland sambil segera mengganti baju dan meraih jaket. 

Dia bengong sejenak, tapi karena merasa tidak ada jalan lain, dia mengikut. 

Nekat ke Cilacap 

Tanpa ada persiapan apa-apa, kami berangkat. Jam 12 siang, kami sampai di Wates dan menepi buat makan. Supaya hemat waktu, saya akan ambil jalan Daendels—jalan raya di tepi pantai selatan yang lurus dan sepi. Di pertigaan Pantai Glagah, kami berbelok kiri dan melaju lurus. Biasanya bus-bus malam jalur selatan yang lewat jalan ini akan keluar di daerah Karanganyar, lalu masuk ke jalan raya biasa dan menyatu dengan kendaraan lainnya. Tapi, jalur itu bakalan ramai, dan jalannya juga bergelombang. Saya ingat di peta kalau jalan Daendels diteruskan ke barat, bisa sampai di Kroya. Selepas pertigaan yang mengarah ke Karanganyar, dengan percaya diri saya ambil jalan lurus. Lumayan kalau bisa hemat 2-3 jam, pikir saya. 

Namun, kesialan menimpa. 

Di jalan raya yang lurus melompong tepi laut, hujan badai turun. Kami menepi sebentar, pakai jas hujan, lalu melanjutkan perjalanan. 

Setengah jam, satu jam, kami malah tidak tahu sampai di mana. Tangan mulai pegal. Hidung mulai meler. Emosi juga mulai muncul. Saya agak kesal karena Roland membawa satu koper kecil yang diletakkanya di tengah jok, membikin posisi duduk amat tidak enak. 

“Kamu yang bener dong Ar. Ini kita ke mana sih? Kok malah nyasar. Kita buru-buru tau, kamu jangan aneh-aneh.”

Emosi saya naik. “Eh, tolong ya. Ini kita lagi cari jalan tembus yang lebih cepat. Ya kali aku muterin kamu supaya lebih lama.”

Setelah itu, hening… motor melaju, menembus hujan, tapi entah kami berada di mana. 

Saat menjumpai warga, barulah saya bertanya arah mana yang bisa mengarah ke Cilacap. Rupanya saya salah jalan. Jalan Daendels yang lurus ini memang bisa tembus ke Cilacap, tapi di daerah Kebumen ke barat, dekat Karangbolong, jalanan bercabang dan tak banyak digunakan kendaraan besar untuk melintas antar kabupaten. 

Tahun 2015 itu hape saya adalah Samsung Grand 1 yang baterainya sudah menggembung dengan durasi hidup paling lama 8 jam. Saat berangkat, tidak sempat charge. Alhasil, tanpa GPS kami meraba-raba jalanan baru. 

Sudah nyasar entah di mana, kami coba cari jalan lain. Puji syukur, akhirnya kami bisa masuk lagi ke jalan utama. Tapi, waktu yang perjalanan jadi molor. Jam empat sore kami masih di Kebumen, padahal imajinasinya jam 4 harusnya udah bisa masuk Cilacap kota. 

Di situ saya baru sadar. Gila juga ini rencana dadakan. Kok tadi bisa-bisanya saya nawarkan diri untuk motoran ke Sidareja? Kok bisa saya nggak mikir kalau tiba di sana nanti mau tidur di mana, besok kuliah pula.

“Duh Gusti, tolong,” gumam saya dalam hati. 

Jelang jam 5 sore, motor memasuki daerah Sampang, perbatasan antara Banyumas dengan Cilacap. Roland tiba-tiba menepuk pundak saya. “Ar, itu Avanza di depan kayaknya mobil sodaraku dari Jakarta deh, aku inget plat nomornya.”

“Serius kamu?” 

“Bener, coba deketin.”

Saya pacu gas motor lebih dalam sampai motor kami sejajar dengan mobil. Roland melambai-lambaikan tangannya ke kaca.

Kaca mobil dibuka dan penumpangnya terbelalak. “Loh? Roland? Ngapain kamu?” 

Kami pun berhenti di tepi jalan. Roland yang kondisinya masih basah kuyup karena jas hujan tak cukup setrong menahan badai akhirnya masuk ke mobil itu dan melanjutkan perjalanan ke Sidareja. 

Tersisalah saya sendirian di tepi jalan, ditemani rintik gerimis, hidung penuh ingus, dan badan yang basah kuyup pula. 

Jam lima lewat, langit mulai gelap. Saya mampir angkringan, beli teh panas sambil minum tolak angin. Jogja masih jauh. Motor kembali dipacu dan jam 10 malam tibalah saya di kos dengan badan meriang dan besoknya bolos kuliah. 

***

Memori lima tahun itu bersemi kembali saat di awal Januari 2020 ini saya dan Roland naik motor bersama ke Desa Legokjawa. Kami ingat, betapa polos dan gobloknya kami masa itu. Dipikirnya motoran 200 kilometer itu seperti jarak dari kampus ke kos. Tanpa pikir panjang, dua pemuda melibas jalan aspal ditemani hujan badai, pakai kesasar pula. 

Tapi, itulah yang jadi momen perekat pertemanan kami sampai sekarang, bahkan ketika kami sudah berpisah kota. 

Persahabatan tidak dibentuk dari kumpulan cerita bahagia semata, tapi juga dari kisah-kisah bodoh dan duka yang dilalui bersama-sama. 

8 respons untuk ‘Sepanjang Jalan Jogja-Cilacap

  1. Plot twist banget ceritanya Ar… aku mikirnya bakal ada rangkaian kata waktu air Roland bertemu mendiang bapaknya… hebat kamu, mengorbankan kesehatan sendiri demi teman.. keren….

Tinggalkan Balasan ke aryantowijaya Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s