Jejak Perang di Tengah Bandung

Sekonyong-konyong suara pesawat terbang itu menderu mendekat lagi. Kedua petani itu spontan seperti tersepak jin lari tunggang-langgang dan melompat ke dalam selokan sehingga basah kuyup. Tetapi gadis itu hanya membaringi lelaki itu dan menangis tersedu-sedu. Serentetang berondongan menghalilintar membuat jantng kedua petani itu nyaris berhenti. “Nyuwun Ngapunten Gusti, nyuwun pangapunten Gusti, nyuwun pangapunten Gusti,” hanya itulah yang dapat mereka ucapkan. 

-Burung-burung Manyar, karya Y.B Mangunwijaya, halaman 129 

Penggalan suasana perang dari novel fiksi karya Romo Mangun yang berlatar Indonesia saat terjadi Agresi Militer Belanda memberikan kira-kira sedikit gambaran bagaimana gejolak suasana Jawa setelah datangnya Jepang yang menandai akhir dari kekuasaan Hindia Belanda. Sejak 1942 sampai 1949, bisa dikatakan suasana negeri panas membara. Perang dunia, meskipun jantungnya jauh di Eropa dan Pasifik, terasa kobarannya hingga ke Jawa. Pun setelah Jepang kalah dan Indonesia mendeklarasikan diri sebagai negeri merdeka, revolusi terus bergulir. Belanda tak rela negeri jajahannya berdikari, tetapi Indonesia pun tak sudi kembali dijajah. Senjata terangkat, bedil ditembakkan. Orang-orang meringis ketakutan, pejuang tak takut mati.  Demi satu tekad: kedaulatan.

Di tahun 2020 ini, Indonesia akan genap memasuki 75 tahun kemerdekaannya. Bagi kita yang hidup jauh dari masa-masa awal proklamasi, kita mungkin tak dapat menangkap secara nyata bagaimana gelora perang masa itu berkobar. Buku-buku sejarah semasa sekolah dulu memang menceritakannya, tapi kerap kali hanya sebagai hafalan tanpa rasa. Akibatnya, sejarah jadi membosankan dan dilupakan begitu saja sesaat setelah ulangan selesai. 

Namun, sejarah itu bukanlah isapan jempol, pun untaian kata di buku pelajaran. Sejarah sungguhlah terjadi. Jika berkunjung ke Bandung, di tepi jalan raya Pasteur yang kini berganti nama menjadi Jalan Dr. Djundjunan, ada sepetak luas kuburan Kristen bernama Pandu. Kuburan sejak zaman Belanda ini masih aktif sampai sekarang. Namun, di tengah-tengahnya, terselip satu petak kompleks pemakaman yang kontras dari sekelilingnya. 

Ereveld Pandu, dua kata ini tertulis di depan gerbang pagar berwarna hitam. Saat saya tiba di depannya, makam Pandu sedang ramai orang yang baru selesai menghadiri ibadah penguburan. Namun, semua berkerumun di luar gerbang. Ketika saya membuka pintu gerbang, mereka menatap heran, seolah saya juragan pemilik tanah itu. 

Monumen di muka ereveld
Bunga-bunga yang dikirimkan pihak keluarga

Saya sendiri baru pertama kali masuk sungguhan ke dalam Ereveld Pandu. Biasanya ereveld ini cuma dilewati saat saya ingin memotong jalan dari Pajajaran ke Pasteur. Dulu tak ada niatan buat masuk, apalagi kata orang-orang ereveld ini tidak bisa sembarangan dikunjungi. Tapi… itu dulu, sekarang lain ceritanya. 

Seperti ereveld-ereveld lain yang ada di Jawa, Ereveld Pandu punya peraturan yang sama. Siapa saja boleh berkunjung dari pagi sampai jam 5 sore. Bedanya, kalau di ereveld lain ada lonceng, di sini kita melapor diri dengan memencet bel. Setelah bel dipencet, tak lama petugas akan datang dan menanyakan maksud kunjungan. 

Sebelumnya saya mendapat informasi kalau Pak Dicky yang dahulu bertugas di Ereveld Ancol sudah pindah dinas ke sini, tapi hari itu saya tidak beruntung. Pak Dicky tidak bisa ditemui karena sedang kumpul keluarga. Tak apalah, yang penting tujuan utama menyapa para prajurit yang telah beristirahat bisa kesampaian. 

Patung penanda Prajurit KNIL
Salib-salib nisan prajurit
Empat ribu prajurit terbaring di sini

Ereveld Pandu memiliki sekitar 4000 makam. Sebagian besar mereka adalah prajurit Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) alias tentara Kerajaan Belanda. Anggota KNIL tak cuma orang Belanda totok, banyak juga merupakan putra daerah. Setelah Indonesia merdeka dan Jepang pergi, Belanda masih belum ikhlas. Terjadilah dua kali agresi yang kelak diakhiri dengan diakuinya kedaulatan Indonesia secara de jure dan de facto. Namun sebelum itu terjadi, pertumpahan darah terjadi lebih dulu. 

Di Ereveld Menteng Pulo, kebanyakan prajurit tewas ketika berjuang menghalau Jepang di tahun 1942. Di Ereveld Ancol, banyak warga sipil yang jadi korban. Di Ereveld Pandu, para prajurit tidak hanya tewas karena melawan Jepang. Dari nisan-nisannya, tertera tahun wafat mereka kebanyakan berkisar 1948-1949, bertepatan dengan terjadinya Agresi Militer Belanda. Kemungkinan besar para tentara KNIL di sini berhadapan dengan para nasionalis yang tidak ingin Indonesia kembali jatuh ke tangan Belanda. 

Saya tidak hafal dan agaknya tak cukup waktu juga untuk mengumpulkan bukti literatur kecamuk revolusi di Jawa Barat. Namun, dari penuturan petugas yang menemani saya berjalan-jalan di makam sejenak, dia menyebutkan setidaknya ada beberapa pembantaian terhadap tentara KNIL yang terjadi di Jawa Barat. Salah satunya pembantaian di Subang. Selain itu, kita juga tentu tidak asing dengan peristiwa Bandung Lautan Api (orang Bandung yang gak tahu ini, kudu ikut kelas sejarah di SD lagi :p) di mana orang-orang Bandung tak mau jika kota mereka kembali dikuasai Belanda. Bandung pun dibumihanguskan. Salah satu bangunan yang turut dihancurkan adalah kompleks pemancar radio Malabar yang lokasinya di Gunung Puntang. 

Seandainya hari itu saya bertemu Pak Dicky, pasti saya bisa mendengar lebih detail kisah tentang siapa-siapa yang terkubur di sini. Barisan salib putih diam membisu. Jika mereka bisa bicara, mungkin kisahnya akan banyak sekali. Namun, terlepas dari bagaimana pun cara mereka meninggalkan dunia, di ereveld ini mereka telah beristirahat dengan tenang dan dalam ketenangan mereka pula, kita bisa menyadari bahwa sejarah gelap dulu pernah terjadi. 

Petugas menemani kami berjalan-jalan



2 respons untuk ‘Jejak Perang di Tengah Bandung

Tinggalkan Balasan ke Uchi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s