Suketi, Sebuah Memoar Singkat

Suketi, nama yang disematkan kepada sesosok perempuan muda yang kelak menjadi hantu sundel bolong. Jika kamu pernah menonton sinema horor Suzanna, mungkin kamu tahu tentang kisah Suketi. 

Tapi… Suketi yang dibahas di sini bukanlah sesosok hantu dengan punggung berlubang. Ia adalah mamalia berkaki empat yang setahun lalu datang ke kantorku setiap tengah malam. 

Suatu ketika di awal Desember 2018, seekor kucing berbulu putih abu menyelinap masuk lewat kolong pagar. Perutnya besar, seperti ada gumpalan lemak menggantung. Matanya kuning melotot. Di lehernya terdapat luka sobek yang menganga. Karena tak tega melihatnya terluka, kuberilah ia makan, remah-remah makanan dari dapur.  Aku tidak tahu apakah nanti ia akan datang lagi ke kantor, tapi untuk jaga-jaga, esok harinya kubeli sebungkus cat food di minimarket dan sebotol kecil betadine untuk mengobati luka di lehernya.

Kucing itu pun datang lagi. Kali ini kuberikan catfood dan kutetesi sedikit obat luka di lehernya. Ia meronta, tapi lama-lama menjadi tenang. Sambil mengelus kepalanya, aku terpikir. “Kasih nama apa ya?” 

Datang tengah malam dan leher sobek. 

Aku pun teringat akan hantu Sundel Bolong yang dibintangi Suzanna. Meski aku lahir di dekade yang berbeda dengan tahun launching film Malam Satu Suro, mamaku di rumah adalah seorang Suzanna mania. Saat umurku masih enam tahun dia mengajakku nonton film Beranak dalam Kubur di bioskop Palaguna, Bandung (sekarang bioskop dan malnya sudah hancur). Aku merinding, sampai akhirnya di setengah film, aku meronta minta keluar. Suzanna jadi sosok yang amat familiar di benakku. 

Suketi. Kupilih nama itu. 

Sekarang saatnya mengubah branding nama Suketi, dari sesosok sundel bolong menyeramkan dan penuh dendam, menjadi sesosok kucing betina yang lucu dan gemuk. 

Jadi kawan seperjalanan 

Selepas bulan Desember, Januari 2019 pun menyambut. Suketi semakin rajin datang ke kantorku. Ia tak lagi datang tengah malam, siang-siang pun datang meminta makan. Soal makanan kucing, aku tidak ragu merogoh kocek. Kubelikan dia Whiskas sampai lama-lama bulunya yang kusam menjadi cerah. 

Suketi semakin nyaman tinggal bersamaku. Selepas tiga bulan, dia mulai ogah keluar kantor. Sepanjang siang dan malam dia lebih memilih untuk tidur di depan pintu kamarku. Jika maghrib, barulah dia jalan-jalan ke taman. Kalau habis hujan, dia suka mencari kodok untuk diajak bermain. 

Setiap kali aku pulang membuka pagar, tubuh gemuknya bergoyang ke kanan kiri, lalu terduduk menyambutku. 

Setiap kali aku membaca buku di akhir pekan, dia selalu duduk lalu tertidur di sebelah kakiku. 

Setiap kali aku bosan dan sendiri malam-malam, dia selalu menjadi teman bicaraku. 

Mungkin agaknya aneh, kok bisa manusia komunikasi sama hewan? Memangnya tidak ada manusia lain yang bisa diajak bicara? 

Kujawab tentu bisa. Meski Suketi mungkin tidak paham apa yang kubicarakan, tapi dia tahu kalau aku sayang padanya. Buktinya, aku tetap memberinya makan, meskipun kalau dia nakal tak jarang dia kusiram seember air. 

Jakarta tidak seselow Jogja. Tak banyak orang mau ‘membuang’ waktu dengan makan atau ngobrol bersama sepulang jam kantor. Masalah pribadi sudah banyak. Cicilan dan tagihan sudah berat di pikiran. Itu belum ditambah dengan ruwetnya jalanan. Selepas jam kerja usai, pulang dan beristirahat di rumah tentu jadi pilihan pertama.

Masalahnya, aku tidak punya rumah di Jakarta. Keluargaku di Bandung. Teman-temanku di Jogja. Jikalaupun ada teman-teman di Jakarta, lokasinya terlampau jauh. Aku harus membelah lautan macet terlebih dulu untuk jumpa mereka. Sehabis jam kerja adalah waktu-waktuku sendiri. Aku berteman karib dengan sunyi dan remang-remang kantor yang ditinggal pekerjanya. Kehadiran Suketi, meski ia bukan manusia, memberiku warna tersendiri di malam-malam yang kelabu. 

Tidak ada pertemuan yang berlangsung selamanya

Seorang penulis Amsal berkata, di bawah kolong langit ini tidak ada yang abadi. Dan, untuk segala sesuatu ada waktunya. 

Jika Desember 2018 adalah pertemuanku dengan Suketi, Oktober 2019 adalah perpisahanku dengannya. 

Kantor tempatku tinggal, bekerja, dan berjaga bukanlah rumahku. Ada aturan yang tetap aturan. Hewan tidak dapat dipelihara di sini, demi kenyamanan seluruh penghuni. 

Aku tunduk pada aturan itu. Kuusap kepala Suketi, kubilang kalau dia tak boleh lagi tinggal bersamaku. Tapi, aku janji untuk memberi yang terbaik buatnya. Bahkan kalau bisa, hidup yang lebih nyaman daripada hidupnya saat ini. 

Kucarikan orang-orang yang bersedia mengadopsi Suketi dan gayung pun bersambut. Ada pemuda yang baru kehilangan kucing kesayangannya. Dia melihat iklanku di aplikasi adopsi hewan. Kami berkontak dan sepakat untuk bertemu. 

Kamis, 10 Oktober 2019, aku melepas Suketi. 

Mungkin ia tahu kalau hari itu ia akan pergi ke tempat yang baru. Sedari pagi ia tak mau beranjak dari keset depan kamarku. Ia tak mengeong. Ia berjalan gontai. Ketika melihat sebuah pet cargo, ia pun meronta. 

Setahun ke belakang adalah momen belajar buatku. Merawat Suketi mengajariku untuk memperlakukan ciptaan Tuhan dengan baik. Tak hanya manusia, hewan pun adalah ciptaan-Nya. Demikian pula dengan bumi ini dan segala isinya, harus dirawat dengan hati. 

Selamat tinggal, Suketi 🙂


6 respons untuk ‘Suketi, Sebuah Memoar Singkat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s