Perjalanan Dua Kawan

Di siang bolong, sepeda motor kami melumat jalanan desa yang tak beraspal. Di kanan kini, kebun-kebun warga telah gundul karena kekeringan. Kabupaten Gunungkidul saat musim kemarau memang sulit air, agaknya seperti padang pasir tapi di tanah Jawa. 

Perjalanan kali ini adalah kali ketiga saya menyambangi Pantai Watu Lumbung. Meski destinasinya sama, tetapi orang-orang yang menemani selalu berbeda. Di belakang saya, duduk Putra, rekan sekantor di Jakarta. Sepanjang hidupnya, dia tinggal di permukiman kumuh kawasan Pedongkelan, Jakarta Barat. Nyaris tak ada sekat antar tembok rumah yang saling berhimpit. Kali pertama singgah ke rumahnya, benak saya bertanya, “Kalau amit-amit kebakaran, mau lari ke mana?” 

Berbeda dengan saya yang dengan mudah bisa keluyur ke tepi laut, perjalanan jauh semacam ini adalah barang langka untuk Putra. Sebagai anak pertama, dia punya tanggung jawab untuk menolong kehidupan keluarga, terlebih setelah ayahnya dipanggil pulang ke surga beberapa tahun lalu. Di samping bekerja, dia pun kuliah kelas karyawan. Nyaris tak ada akhir pekan yang bisa digunakan untuk sekadar keluyur. 

“Wuihhhh, liat tuh lautnya udah mulai keliatan,” saya menyahut sembari tangan kiri menunjuk ke balik bukit. 

Pantat rasanya sudah menyatu dengan jok. Sudah dua setengah jam kami berkendara dari Jogja dengan motor sewaan. 

Ketika kami tiba di parkiran dan membuka jaket, rupanya ada kesalahan konyol yang tak terdeteksi sebelumnya. 

“Lah, kan gw udah bilang jangan pake baju ijo. Lu malah pake baju ijo,” kata saya kepada Putra. 

“Eh, lu sendiri itu apa? Baju lu juga ijo!” balasnya. 

Waduh. 

Sehabis mandi pagi, saya lupa mengganti baju yang dipakai sejak kemarin. 

Tapi, apa boleh buat, kami sudah kadung tiba di Watu Lumbung, yang notabene adalah laut selatan wilayah kekuasaan Nyai Roro Kidul.

Jalan menuju Watu Lumbung

***
Watu Lumbung adalah pantai favorit saya sejak tahun 2015. Pantai ini aksesnya sulit. Dari jalan raya yang menuju Jepitu, kami harus melewati jalan dusun yang tak beraspal. Meski begitu, kondisi saat ini jauh lebih baik daripada empat tahun lalu. Kala itu satu motor teman kami sampai tergelincir dan jatuh. Ada pula satu mobil yang ban depannya terperosok, sampai-sampai rombongan kami turun dari motor dan ikut mendorong mobil itu supaya bisa jalan kembali. 

Tapi, saya tidak kapok. Destinasi yang bagus memang harus dibayar dengan harga mahal. 

Plus, susahnya medan perjalanan menjadikan Pantai Watu Lumbung bak pantai eksklusif: serasa pantai pribadi. 

Dari area parkir, kami meniti jalan turun. Jalan setapak sudah mulus. Warga dengan swadaya membangunnya untuk kemudahan akses wisatawan. Dan, di setengah jalannya, warga menempatkan satu kardus aqua botol dengan tulisan: silakan ambil dan bayar di sini. Ada kotak kecil untuk meletakkan uang. 

Pantai Watu Lumbung bukanlah pantai yang cocok untuk berbasah ria. Tak ada bagian yang landai dan berpasir halus. Semuanya dipenuhi karang dan bebatuan terjal. Tetapi, pemandangannya spektakuler. Sebuah batu karang raksasa berdiri menjorok ke laut. Batu itu berdiri teguh diterjang ombak laut kidul yang ganas. 

Putra mengajak saya duduk di atas sebuah batu, membelakangi bukit. 

Kami saling diam. 

Ombak mengalun. Buihnya seperti air dari semprotan burung sesekali menerpa kami. 

Lalu kami saling tertawa. Kami tidak menyangka, perjalanan sejauh lebih dari 500 kilometer ini akan terwujud. Biasanya, mewujudkan rencana itu berujung hanya wacana. Dan, rasanya tak banyak rekan sekantor yang akhirnya jadi teman seperjalanan di atas aspal, bukit, dan laut. Di saat beban kerja menjadi berat, ditambah sedikitnya waktu luang, acap kali membuat pertemanan kantor tak mampu mekar menjadi persahabatan. 

Di hadapan laut selatan, perasaan sebal yang sebelumnya sempat menggunung di hati saya kepada Putra pun meluntur. Sebulan sebelumnya, kami sempat bertengkar hanya karena intonasi suara yang berbeda. Buat Putra, nada bicaranya yang ngegas adalah natur dirinya. Nada tinggi dan singkat bukanlah amarah. Tapi buat saya, itu adalah cara yang tidak elok untuk mengekspresikan sesuatu. 

Tetapi, kami bersyukur. Konflik itu tak berlangsung lama. Ada hikmat dari yang ilahi memampukan kami untuk sama-sama berani berkata maaf, sampai akhirnya, perjalanan ini pun terwujud. 

Tak dibayangkan, jika ego tak turun, momen di pinggir laut ini mungkin hanyalah imajinasi belaka. 

***
Dua jam lebih kami bertetirah bersama gulungan ombak. 

Perjalanan pulang tidak semudah perjalanan datang. 

Dari bibir pantai, kami harus berjalan menanjak ke parkiran motor. Jalan setapak memang sudah halus, tapi tetap saja, tubuh tak bisa dibohongi. Biar usia masih di kepala dua, tapi kerja kantoran minim gerakan membikin jantung kelabakan. Lima langkah maju, satu menit berhenti. Begitu seterusnya sampai akhirnya kami tiba di atas. 

Terima kasih Laut Selatan, nanti kami akan kembali lagi menyapamu. 





7 respons untuk ‘Perjalanan Dua Kawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s