Kereta Tua yang Ditinggalkan Tapi Dirindu

Di Ambarawa, masa lalu menjadi hidup kembali. 

Masa lalu memang tak bisa lagi diulang, tapi ada sedikit peninggalan-peninggalannya yang menolong kita untuk mengecap bagaimana nuansa kehidupan di masa itu. 

Stasiun Ambarawa, dibuka pada 1873, kini menjadi stasiun yang sunyi. Rel-relnya dan juga bangunannya masih tampak elok, tapi ia tak lagi berfungsi seutuhnya sebagai stasiun. Semenjak jalur Yogyakarta-Semarang ditutup pada 1972, Stasiun Ambarawa mati suri sebelum nantinya difungsikan sebagai museum dan stasiun kereta wisata. 

Jika melihat perkembangan transportasi kereta api yang semakin maju di dekade ini, kita mungkin bertanya-tanya apa gerangan yang membuat pamor kereta api meredup hingga jalur-jalurnya banyak yang mati di dekade 1970-an. Berbagai literatur tentu punya jawabannya, tetapi dengan bertandang ke Ambarawa, kita bisa punya pemahaman yang lebih menyeluruh tentang dinamika perkeretaapian di tanah Jawa. 

Jalur tua Ambarawa-Tuntang 

Stasiun Ambarawa setiap hari libur atau akhir pekan melayani perjalanan kereta wisata. Hari Sabtu yang lalu, saya tiba sekitar jam 10 pagi, setelah sebelumnya menempuh perjalanan naik kereta dari Jakarta ke Solo dan dilanjut motoran ke Ambarawa. Jadwal perjalanan kereta paling dekat ada di jam setengah 12. 

Dari Ambarawa, rel membentang ke dua arah: satu ke arah Tuntang, dan satu lagi ke Bedono. Kereta wisata hanya bisa melayani ke Tuntang, mengitari Rawa Pening, lalu kembali lagi ke Ambarawa. Sedangkan untuk ke Bedono yang elevasinya lebih tinggi dari Ambarawa, kereta harus menanjak, pun relnya bergerigi di tengahnya. Lokomotif uap yang ada sudah terlalu uzur untuk menarik kereta sampai ke Bedono. 

Layaknya stasiun biasa, petugas membunyikan peluit saat kereta menghampiri peron. Penumpang-penumpang dari Tuntang bergantian turun, digantikan oleh para penumpang dari Ambarawa yang penasaran sensasi naik kereta tua. 

Kereta menyusuri persawahan di tepian Rawa Pening

Sejak masa kolonial sampai sekarang, kereta api di Jawa tidak mengalami perubahan lebar sepur atau lebar rel, tetap 1.067 mm (kecuali MRT Jakarta, 1.435 mm). Pemerintah Kolonial mengganggap trek di Jawa yang bergunung-gunung paling tepat jika menggunakan sepur yang sempit, alih-alih sepur standar yang biaya pembangunannya lebih mahal. Keunggulan sepur sempit lainnya adalah kereta lebih bisa menikung tajam. 

Meski begitu, ukuran kereta atau gerbong pada masa kini lebih lebar daripada kereta zaman dulu, meskipun lebar sepurnya sama. Perbedaan ini terasa kentara saat saya masuk ke dalam gerbong kayu. Tempat duduknya sangat sederhana, seperti kursi di taman. Tidak ada yang namanya reclining seat, apalagi ac dan televisi. Hiburan yang tersaji di kereta adalah: angin gelebug, pemandangan alam, dan juga obrolan dengan sesama penumpang. 

Gerbong kayu di mana penumpang menikmati suasana
Salah satu sisi Rawa Pening
Panorama di balik jendela

Kereta melaju pelan. Selain supaya penumpang bisa menikmati perjalanan dengan santai, nyatanya kereta pada zaman dahulu memang tidak bisa sengebut sekarang. Kereta Api Argo Bromo Anggrek bisa menempuh jarak Jakarta-Surabaya dalam 9 jam, dengan kecepatan di atas 100 km/jam. Kereta masa dulu, banter-banter kecepatannya berkisar 45 kilometer per jam, meskipun pasca 1900 ada kereta uap yang bertenaga besar dan mampu melesat lebih cepat. Tetapi kebanyakan kereta api di lintasan antara kota-kota kecil berkecepatan rendah. 

Maka dari itu, perlahan-lahan jalur rel di lintasan Banjar-Cijulang, Semarang-Lasem, Yogyakarta-Magelang-Temanggung, Garut-Cikajang, Bandung-Ciwidey, dan lainnya berguguran. Kereta tak mampu bersaing cepat dengan kendaraan roda karet, meskipun kini keadaan mulai berbalik. Masyarakat juga pemerintah kembali mendamba kereta api sebagai transportasi massal yang tepat, mengingat beban jalan raya yang kian hari kian bertambah. 

Selain itu, tumbangnya layanan kereta api di jalur-jalur non-utama juga disebabkan oleh semakin uzurnya usia lokomotif dan sarana-sarana lainnya. Perusahaan kereta api sebelum dekade ini dikenal sebagai perusahaan yang merugi. Jika rugi terus, bagaimana bisa membenahi sarana dan prasarana? 

Guncangan ketika roda beradu dengan rel terasa betul di atas gerbong kayu yang saya tumpangi. Laju kereta yang lambat pun terasa menenangkan. Dari balik jendela, Rawa Pening menghampar luas. Di siang bolong yang terik, ingin rasanya melemparkan diri ke sana dan berbasah ria. 

Lambat, sempit, tiada hiburan, mungkin menjadi alasan yang membuat kereta-kereta lawas ini ditinggal zaman, tetapi semua sensasi ini menolong kita untuk mengecap sedikit nuansa masa lalu. 

Kereta api telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa ini. 

Seandainya kita bisa berpikir lebih visioner dan punya kepekaan untuk menjaga aset, mungkin jalur-jalur yang telah mati tersebut bisa lebih mudah untuk diremajakan kembali di masa kini. 

Terlepas dari berbagai wacana untuk menghidupkan kembali lintasan kereta api di jalur-jalur minor, biayanya akan sangat besar. Banyak infrastruktur sudah rusak, pun relnya tenggelam ditelan aspal atau rumah penduduk. Saat ini, baru jalur kereta api Cianjur-Ciranjang-Padalarang yang serius digarap hingga nanti tahun 2023 warga Bogor bisa naik kereta sampai ke Bandung, juga jalur kereta api Cibatu-Garut. 

12 respons untuk ‘Kereta Tua yang Ditinggalkan Tapi Dirindu

  1. Harga tiketnya brp mas anto?, saya sering lewat ini museum kereta ambarawa, kdg lihat keretanya juga pas bawa wisata, tp sampai skrg belum kesampaian naik 😅😂😂

    1. Sekitar 1 jam 15 menit mas.

      Sekali jalan itu 30 menit, lalu sampai di Tuntang berhenti sebentar untuk putar posisi lokomotif.

      Kalau menurut saya sih berhenti di Tuntangnya kurang lama, jadi ndak bisa explore sekeliling stasiun.

  2. Semoga jalur-jalur kereta itu kembali hidup ya biar bisa seperti Jepang, kota-kota dan desa-desa terhubung kereta api. Masyarakat harus sadar bahwa naik angkutan umum khususnya kereta itu lebih cepat dan efisien.

    Btw berapa harga kereta wisata ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s