Semangkuk Timlo Sastro

Ketika kereta api Senja Utama Solo berhenti di jalur tujuh Stasiun Balapan, aku meraih sebuah ransel berukuran 45 liter dari kabin bagasi. Para penumpang berbaris, menanti giliran satu per satu keluar pintu kereta. 

Pagi itu Stasiun Balapan riuh tetapi syahdu. Dari jalur lima, kereta api Lodaya siap bertolak menuju Bandung. Di sebelahnya, kereta api Prameks masih menanti waktu berangkat. Ada penumpang yang berjalan santai, ada juga yang tergopoh-gopoh ingin segera masuk dalam kereta. Dari balik atapnya, sinar mentari menyelinap masuk, menorehkan kesan hangat di bangunan yang dibangun tahun 1873 ini. 

Aku tidak langsung keluar. Sesekali kucek layar ponselku. “Oh, belum nongol chatnya,” gumamku. Lalu kumasukkan kembali ke dalam kantong. Kameraku membidik sudut-sudut stasiun, berusaha menangkap momen untuk menjadi karya visual. 

“Tuing”, ponselku bergetar. Kali ini chat yang ditunggu tiba. Sesosok gadis yang setiap hari menjadi kawan diskusiku menampakkan batang hidungnya di pintu kedatangan. 

“Udah lama nunggunya?” dia bertanya. 

Aku menggeleng. “Belum kok, cuma sepuluh menitan. Nggak berasa juga lagian, kan aku sambil menikmati suasana.” 

Kami mengalunkan langkah keluar stasiun. Di ujung jalan, seorang bapak dari persewaan motor berjanji akan menemui kami di sana. Dia ingkar janji. Katanya jam delapan akan datang, tapi sudah undur 30 menit, dia masih belum tiba jua. 

Tapi, penantian itu tak mengesalkan. Ada diskusi yang mengalir antara aku dengan si gadis itu. 

Motor pun datang, dengan sedikit basa basi, tuntaslah proses persewaan pagi itu. Kupegang setang motor, meluncurlah kami ke sebuah kedai makan legendaris. Timlo Sastro namanya. Buat kamu yang sudah pernah ke Solo, kamu pasti setuju kalau Timlo ini legendaris, meski lokasinya dekat dengan bak sampah yang bau dan banyak lalat. Tapi, aroma dan pemandangan buruk itu agaknya tak banyak pengaruhnya. Banyak orang, termasuk kami, senang dengan Timlo Sastro. 

Semangkuk timlo disajikan di atas meja. Di dalamnya ada rempelo ati dan telur yang direndam dalam kuah yang rasanya khas; sedikit asin, tapi manis juga di lidahku. Semangkuk timlo itu disantap berdua. Hangatnya turun menelusuri tenggorokan sampai ke perut. 

Kata seorang profesor dari kampus di Yogya, timlo ini terinspirasi dari sup kimlo yang berasal dari budaya Tionghoa. Kimlo adalah hidangan berkuah dari dataran Tiongkok. Ketika imigran Tionghoa datang ke Jawa dan menetap di pecinan, mereka memasak hidangan ini. Tapi, seiring waktu, cita rasanya turut menyesuaikan lokasi di mana mereka berada. 

Harga semangkuk timlo yang kami santap tidaklah mahal. Kurang dari dua puluh ribu, kami kenyang sarapan berdua. Tak cuma kenyang, kami juga senang. Semangkuk timlo yang tujuannya mengisi perut rupanya juga mengisi hati kami. Iya, mengisi hati dengan sebuah memori yang indah: tentang sebuah perjumpaan sederhana di warung timlo pinggir jalan, dekat bak sampah lagi. 

Menikmati sajian sederhana dengan sikap hati yang lebih dari biasa adalah sebuah latihan rohani buat aku dan dia. Kelak, ketika hidup sudah diarungi berdua dalam satu bahtera, tentu ada banyak hal biasa yang akan dilintasi setiap harinya. Jika hati tak mampu mengecap nikmat dari yang biasa, tentu perjalanan itu kelak takkan jadi mengasyikkan. 

Terima kasih Semesta untuk semangkuk timlo sastro pagi ini. 

9 respons untuk ‘Semangkuk Timlo Sastro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s