Cerita dari Perjalanan Dinas #2: Kisah Sekolah di Bangunan Tua

Dari kaki Gunung Merbabu, perjalanan dinas saya berpindah ke Desa Gondang, Kabupaten Sragen. Jika di lokasi sebelumnya jam 12 siang saya mengecat tembok sambil pakai jaket, sekarang ingin rasanya membuka baju dan minum es teh. Desa Gondang elevasinya tidak setinggi Dusun Sampetan.

Saya beserta tim, tidak ada satupun dari kami yang pernah menyambangi Desa Gondang. Ketika GPS mengatakan bahwa kami sudah tiba, yang tersaji di depan kami adalah deretan rumah-rumah tua Belanda, sebagian besar sudah tidak berpenghuni. Tak terkecuali TK Pelangi, tujuan kami, yang berlokasi persis di sebelah bangunan Belanda. 

Kami datang sekitar jam 9 pagi. Beberapa menit lagi murid-murid TK akan segera pulang. Ibu Santi, sang kepala sekolah menyambut saya di depan bangunan sekolah. 

“Selamat datang di Gondang, Mas Ary. Beginilah keadaan di sini, mohon dimaklumi ya,” katanya sembari sedikit menunduk. 

“Makasih Bu Santi. Wah, bangunannya bagus sekali bu. Kebetulan saya suka banget sama bangunan bersejarah.” 

Sejak sebulan lalu, saya intens berkomunikasi via WhatsApp dengan Ibu Santi. Saya banyak tanya mengenai kondisi interior kelas dan desain mural seperti apakah yang Ibu Santi inginkan untuk TKnya. Saya tidak menyangka bahwa TK Pelangi ini punya bangunan yang menarik. 

Kaleng-kaleng cat diturunkan dari mobil beserta selusin peralatan lainnya. Tapi, ada satu yang kurang. Kami tidak punya tangga. 

“Bu, wonten tangga untuk kami mengecat bagian atas tembok?” tanya saya ke Bu Santi. 

Anu, nggak ada mas. Di sini adanya andang. Sudah saya siapkan, tapi ada di bangunan sebelah. Masnya bersedia ambil?” 

Andang, demikian sebutannya adalah alat yang punya fungsi mirip seperti tangga untuk proyek bangunan. Bedanya, andang bisa dinaiki tiga orang sekaligus. Untuk mengambil andang ini, saya dan Tora harus masuk ke bangunan eks SMP Kristen Gondang yang sudah tak lagi digunakan. Bangunannya masih orisinil karya zaman Belanda. Saat pintu dibuka, aroma kotoran sriti menyeruak. Bercak kotorannya tampak jelas di lantai, juga menempel di andang yang akan kami angkat. 

Andang

“Bu, ini sekolah sudah sejak kapan tutupnya?” 

“2010 mas. Sudah tidak ada lagi muridnya. Pak kepala sekolahnya sekarang jadi supir yang mengantar jemput murid-murid TK. Itu bapaknya yang pakai topi hitam, nanti saya kenalkan ya mas.” 

Desa Gondang dan sekelumit cerita masa lalunya 

TK Pelangi berdiri di lahan SMP Kristen Gondang. Menurut penuturan Bu Santi, SMP ini berdiri di sekitar tahun 1950an menempati gedung eks rumah dinas pabrik gula. Pada masa kejayaannya, murid di SMP Kristen Gondang mencapai 120 orang. Jelang berganti milenium, jumlah muridnya terus menyusut sampai akhirnya paripurna ditutup pada 2010. 

Pasca SMP ditutup, yayasan lalu mendirikan sebuah TK dan kelompok bermain. Lokasinya ada di sebelah bangunan SMP. Di tahun ke-9 berdirinya, TK Pelangi masih berjuang secara finansial. Untuk beberapa fasilitasnya, mereka menanti uluran tangan dari para donatur. 

Eks rumah dinas yang menjadi SMP Kristen
Bangunan cagar budaya
TK Pelangi

Kondisi bangunan tua yang memprihatinkan tak cuma tampak di eks SMP Kristen. Di beberapa ruas jalan desa, bangunan lainnya bernasib serupa. Beruntungnya, bangunan tersebut sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Hanya, belum ada kejelasan kapan dan bagaimana cara dirawat dan dipugarnya. 

Di hari kedua dinas, Mishael, putra dari Bu Santi mengajak saya untuk berjalan-jalan keliling desa. Dia baru pulang sekolah, tapi semangatnya belum pudar. 

“Mas, di situ bangunan tua juga. Mas ayo ke sana,” katanya sambil menarik tangan saya. 

Belum sempat saya masuk ke pekarangan, Mishael sudah lari duluan lalu masuk ke dalam got. 

“Ayo eh naik, masak aku harus ikutan jalan di dalem selokan sama kamu,” sahut saya. 

Mishael tidak merasa asing dengan bangunan-bangunan tua ini, meski dia berbisik konon katanya ada yang tak kasat mata yang tinggal di situ. 

Pada tahun 1926 didirikan sebuah pabrik gula di dekat distrik Gondang, Sragen. Pabrik gula itu diberi nama PG Kedungbanteng. Lokasinya tidak jauh dari jalur kereta api yang menghubungkan Surakarta dengan Surabaya. Distrik Gondang pada masa itu masuk wilayah Vorstenlanden, atau wilayah kerajaan. Perusahaan swasta Belanda dilarang membeli tanah, maka pengelola pabrik menyewa tanah pada Kasunanan untuk beberapa dekade. 

Seiring dengan mekarnya geliat ekonomi akibat beroperasinya pabrik gula, rumah-rumah pun dibangun. Tapi, semarak pabrik gula tak bertahan lama. Ketika PG Kedungbanteng ditutup, meredup pulalah nadi ekonomi di Desa Gondang. 

Ritme kehidupan di Desa Gondang terasa berdetak lambat. Tak banyak motor atau mobil berseliweran. Dua hari mengecat di TK Pelangi terasa seperti pergi mengerjakan proyek di masa kolonial. 

Setelah dinding selesai dimural, saya berpamitan pada Ibu Santi. Tatapannya berbinar, saya pun bergetar mendengar penuturannya. Ibu Santi saat ini menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi tenaga pengajar. Suaminya, yang merupakan asli warga Gondang masih belum mendapatkan pekerjaan. Namun, Bu Santi tidak berputus asa. Ia menjalankan profesinya dengan penuh pengabdian. Saya bisa melihatnya dari cara beliau mengajari anak-anak dan pelayanannya terhadap kami selama di Sragen. 

“Mas, kalau nanti mas menengok pacarnya di Solo, jangan lupa mampir lagi ke sini nggih.” 

Saya mengiyakan, sembari menempelkan dahi ke tangannya sebagai tanda hormat. 

Saya punya harapan dan doa, kelak jika Desa Gondang berdaya, Mishael dan generasi muda lainnya bisa menciptakan karya dari desa mereka sendiri tanpa perlu pergi merantau ke kota-kota besar. 

Senja di Gondang


6 respons untuk ‘Cerita dari Perjalanan Dinas #2: Kisah Sekolah di Bangunan Tua

  1. Aku baru tau lho di sragen ada bekas pabrik gula, nasib pegawai dan pabrik gula zaman belanda kini tak semanis gula 😦 penasaran sama kisah hidup manusia-manusia penghuni sekolah selanjutnya yg kamu lukis muralnya Ry….

    1. Waktu di sana cuma sempat mengobrol lama dengan Bu Santi. Bapak eks kepala sekolah yang sekarang jadi supir tidak sempat mengobrol mas, kami cuma saling sapa saja. Bapaknya harus mengantar murid, lalu nggak balik lagi deh.

      Gondang di sini agak-agak mirip sama Gondangwinangoen di Klaten, sama-sama pabrik gula hehe.

  2. Wah saya termasuk yang suka dengan bangunan tua especially pada era kolonial. Huhu sayang banget ya nggak terawat, semoga bisa segera dipugar~ jadi bisa mendatangkan wisata ekonomi baru bagi warga sekitar. By the way, jadi penasaran juga hasil muralnya bagaimana 😀

    1. Hihi, hasil muralnya belum kemasukan di sini ya, ntr saya update imagenya.

      Ngmg-ngmg bangunan tua kolonial, sepertinya bangunan di situ nggk tua-tua banget, krna pabrik gulanya baru berdiri di sekitar 1920an. Tapi krna keburu tutup, jadi nggk terawat. Semoga ada dana untuk diperbaiki dan jadi daya tarik wisata yak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s