Kisah Pembuka dari Boyolali

Pertengahan tahun ini saya mendapatkan kesempatan istimewa dari kantor: perjalanan dinas selama 9 hari keliling Jawa Tengah. Buat seorang bocah ilang yang rutinitasnya duduk di depan laptop, kesempatan kerja di luar kantor rasanya seperti sebuah rejeki nomplok. 

Ada tiga kota yang akan didatangi dalam perjalanan dinas kali ini: Boyolali, Sragen, dan Solo. Tapi, agar tidak ribet mencari akomodasi, kami memutuskan untuk menetapkan Boyolali sebagai base camp. Saya lalu mengontak sebuah gereja di sana, menanyakan apakah tim kami boleh menginap, dan puji syukur, jawabannya adalah “Ya”.

Kami bermalam di Gereja Baptis Ngargosari, lokasinya tidak jauh dari pusat kota Boyolali, tapi suasananya masih ndesa dan asri. Di samping gereja, ada lapangan bola terhampar luas. Kalau pagi hari, di sebelah barat gereja ada Gunung Merbabu berdiri anggun berbalut cahaya keemasan. 

Gereja ini belum memiliki pendeta tetap sebagai pemimpinnya, tetapi ada seorang mahasiswa S-2 Theologi dari Semarang yang menolong pelayanan di sini. Mas Jalu, saya memanggilnya. Usia Mas Jalu yang masih di kepala 2 agaknya membuat ia memiliki relasi yang dekat dengan anak-anak dan pemuda di gereja. Hampir tiap malam, pastori ramai oleh mereka yang menginap. 

Awalnya saya dan tim disediakan satu kamar untuk bermalam. Anak-anak yang menginap tidur menggelar kasur di ruang tengah. Tapi, rasanya tidur ramai-ramai di ruang tengah lebih asyik. Anak-anak pun menyambut. Kami yang baru pertama kali datang, dianggap seperti bagian dari mereka. Mereka mengajak kami mengobrol, bertanya tentang ini dan itu, hingga lama-lama kami jadi makin akrab.
Gereja Baptis Ngargosari bukanlah gereja besar. Jemaatnya cuma berkisar 50an saja. Usia mereka beragam, dari yang masih balita sampai yang sudah sepuh. Secara status ekonomi, mereka pun tidak berada di atas. Tapi, yang mengagumkan adalah bagaimana di balik kesederhanaan penampilan mereka, ada iman luar biasa yang tumbuh. 

Iman itu tampak dari kesetiaan mereka hadir dalam kegiatan yang ditetapkan oleh gereja. Untuk pertama kalinya, saya mengikuti doa fajar yang dimulai jam 03:30. Setengah jam sebelum doa mulai, jemaat yang sudah sepuh malah sudah datang duluan. Mereka tidak mengantuk, malah bersemangat melantunkan nyanyian dan menaikkan doa-doanya. Dalam kesempatan lainnya, mereka juga menyiapkan sarapan untuk kami. Pagi-pagi kami berkunjung ke rumah mereka, menikmati sajian nikmat yang dibuat dari kesederhanaan mereka, dan berbincang hangat. 

Sepanjang hidup di Jakarta, tak pernah saya menyempatkan diri bangun jam tiga dini hari untuk menyapa Sang Pencipta. Yang ada bangun setelah matahari terbit, dan itu pun masih mengantuk, terlalu! 

Well, inilah sekelumit kisah pembuka dari perjalanan saya selama 9 hari di Boyolali. Ada kisah-kisah lainnya tentang bagaimana anak-anak di Desa Sampetan menolong kami menyelesaikan proyek perdana kami, kisah tentang rumah-rumah tua di Desa Gondang, Sragen, dan juga kisah tentang seorang pemuda kota yang memantapkan dirinya untuk merantau ke desa dan membangun manusia di sana. 

To be continued. 

Berkunjung ke rumah jemaat
Bermalam ramai-ramai
Dilepas oleh jemaat sebelum tim kami kembali ke Jakarta


4 respons untuk ‘Kisah Pembuka dari Boyolali

  1. Teaser yang menggugah rasa penasaran Ry… kenapa kamu memilih tinggal di boyolali, padahal solo lebih rame hehe… apa yang kamu lakuin selama 9 hari itu hehe… tp biarlah rasa penasaran ini akan terjawab perlahan-lahan 🙂 ditunggu kisah selanjutnya….

  2. Aryyy, nangguuunggg hahaha. Baru mau mulai menikmati tulisan, eh udahan 😀
    Bener-bener teaser ya.

    Jangankan kamu, Ry. Aku aja pasti sumringah juga kalo ada pekerjaan dinas di tiga kota kecil Jawa Tengah ini. Salut sama semangat simbah-simbah yang udah siap berdoa subuh jam 3:30. Jemaatku yang ibadah juga udah jam 9:30 aja masih suka telat.

    Aku kangeeennn hidup kolektif kayak gitu, Ry. Ketemu temen-temen baru, tidur bareng-bareng di ruang tengah, bener-bener kenangan manis 🙂

    1. Wkwkwkwkwk,

      kemarin lusa aku mendadak pulang Bandung, lalu sambil kerja di kafe, aku nyelingin nulis cerita ini. Eh batre habis, ya udah dibuat sepotong dulu ceritanya wkwk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s