Jejak Angkara di Utara Jakarta

Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia meninggalkan jejak, meskipun jejak itu hanya bisa bertutur dalam diam. 

Kawasan Ancol adalah area rekreasi sekaligus perumahan elite yang berlokasi di pesisir utara Kota Jakarta. Jika menyebut nama “Ancol”, imaji yang muncul pertama kali biasanya adalah Dunia Fantasi, Sea World, ataupun pantainya. Tak banyak yang tahu, bahwa di tujuh dekade silam, Ancol pernah menyaksikan gelora angkara antara kekuatan-kekuatan besar dunia. 

Hari Sabtu sore, pantai Ancol lumayan ramai. Anak-anak berbasah ria di pantai yang ombaknya lebih mirip seperti ombak empang daripada lautan. Sedikit bergeser dari area keramaian, berdiri sebuah pintu gerbang. Catnya hitam dan di kedua sisinya diapit tembok berwarna krem. “Ereveld Ancol”, tertulis di sana. 

“Ereveld” merupakan kata dari bahasa Belanda yang berarti “Ladang Kehormatan”, keberadaannya diresmikan pada tanggal 14 September 1946 dan dikelolah oleh Nederlandse Oorlogsgraven Stichtng (Yayasan Belanda untuk Pemakaman Perang). Jika di Ereveld Menteng Pulo dimakamkan lebih dari dua ribu prajurit, di Ancol kebanyakan korban adalah warga sipil yang turut dibantai dalam ekspansi kolonialisme Jepang di Hindia Belanda. 

Dicky Purwadi, seorang staf yayasan yang bertugas mengelola ereveld bertutur bahwa kisah-kisah di Ereveld Ancol lebih mengiris hati. Di Menteng Pulo yang diisi oleh banyak prajurit, agaknya kematian adalah hal yang mau tidak mau harus dihadapi oleh mereka sebagai risiko perang. Tetapi di Ancol, para warga sipil yang sejatinya tidak terlibat dalam pertempuran, turut menjadi korban. 

“Di pojok sana, ada satu makam yang cuma sendirian. Namanya, L. Ubels, dia korban salah tangkap,” tutur Dicky sambil menunjuk ke arah utara. 

Luuth Ubels ditangkap oleh tentara Jepang karena nama belakangnya yang sama dengan saudara laki-lakinya. Ketika tentara menggerebek kediamannya dan mencari-cari saudara laki-lakinya, Luuth tidak mengelak. Tentara Jepang kala itu tidak tahu bahwa Ubels merupakan nama keluarga dan mereka adalah kakak dan adik. 

Selain makam Ubels, di bagian tengah ereveld juga terdapat tiga nisan makam anonim korban eksekusi di Blora. Ketika dilakukan penggalian untuk mengidentifikasi jenazah, diketahui bahwa korban masih berusia balita. Mereka dihabisi secara bersama-sama dan dikebumikan dalam satu makam. “Tulang belulangnya ukurannya kecil, dan di pergelangan kaki masih ada borgol. Ada kacamata anak kecil pula di dalamnya,” tutur Dicky. 

Kompleks pemakaman terpusat dalam satu lahan berbentuk kotak yang terbagi dalam dua kolom. Di masing-masing kolomnya, didirikan deretan nisan yang disesuaikan dengan agama masing-masing almarhum. Akan tetapi, untuk korban eksekusi yang tak diketahui namanya, dibuatkan nisan berbentuk salib dan dituliskan “Geexcutered” beserta kota di mana jenazah mereka ditemukan. 

Nisan bagi mereka yang tereksekusi dan tidak diketahui identitasnya
Mereka yang dieksekusi di Subang

Kekejaman perang dunia kedua |

Pasca Jepang menyerang Pearl Harbor pada 7 Desember 1941, Amerika Serikat mendeklarasikan perang terhadap Jepang. Dan sejak saat itulah, perang dunia yang semula berkecamuk di daratan dan langit Eropa turut meluas hingga ke Asia Tenggara. 

Setelah Belanda mengaku kalah terhadap Jepang di Kalijati, kekejaman belum berakhir. Warga sipil yang dicurigai bersekongkol dengan Belanda tak segan dihabisi oleh Jepang. Di salah satu pojok ereveld, berdiri sebuah Pohon Mindi yang telah diawetkan. Pohon ini telah mati dan dibeton. Warnanya coklat dan daun-daunya sudah tiada lagi. 

Dari kesaksian warga sekitar juga orang-orang vihara, Pohon Mindi ini dulu adalah tempat eksekusi. Banyak orang, tidak diketahui berapa jumlahnya, tewas di pohon ini. Ada yang mengatakan kekejaman tentara Jepang di masa dulu salah satu sebabnya adalah karena mereka harus sangat berhemat. Biaya perang tidaklah kecil, mereka diminta untuk sebisa mungkin tidak memboroskan uang. Untuk mengeksekusi, alih-alih memakai tembakan peluru, mereka menggunakan cara-cara lain. Ada yang digantung, dipenggal, dan konon katanya ada pula yang dimasukkan ke dalam kapal yang dengan sengaja dilabeli bendera Jepang hingga akhirnya kapal itu dibombardir oleh tentara Sekutu. 

Pohon Mindi
Di antara dua kolom makam, diberi jalan paving block yang mengarah ke monumen

Semua kisah pilu tersebut disajikan secara bisu oleh Ereveld Ancol. Kita beruntung, karena belakangan ini Ereveld-ereveld di Indonesia telah membuka diri untuk dikunjungi oleh publik. Dulu, ereveld sebagai makam perang hanya bisa dikunjungi oleh kerabat korban ataupun tamu dengan izin khusus. Keterbukaan Ereveld ini bisa dimanfaatkan bukan sekadar sarana wisata, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran sejarah secara langsung, bahwasannya peperangan tak pernah menyajikan pemenang. Peperangan mewariskan duka dan nestapa yang tak lekang oleh waktu. 

Senja di Ancol, di pantai persis di sebelah Ereveld

 

 

 

10 respons untuk ‘Jejak Angkara di Utara Jakarta

  1. Terakhir datang kesini masih diwanti2 sama penjaganya untuk tidak foto dari bagian depan nisan yang bernama dan nggak boleh diupload di medsos.. berarti sekarang sudah bebas ya Mas?
    Pengen ke Menteng Pulo juga tapi belum kesampaian.. hiks..

  2. Sudah sering dengar nama Ancol tapi baru kali ini tau ada tempat seperti ini 😮 dan terawat sekali ya tempatnya, cuma jadi ikutan sedih dengar cerita kejadian di masa silam, termasuk sejarah pohon di atas~ terima kasih sudah berbagi cerita, benar-benar menambah pengetahuan baru untuk saya 😀

    1. Halo kak, betul, ereveld ini agaknya sering luput dari perhatian pengunjung Ancol. Karena Ancol kan taman hiburan, sedang pemakaman identik dengan kedukaan. Jadi jarang dilirik. Tapi, tempatnya menyenangkan, dan pengunjung boleh bebas berkunjung asal sopan dan ikut aturan.

  3. Aku pernah mengalami masa dimana mau ke ereveld susah bener harus pake ijin, akhirnya gak jadi karena kesananya mendadak… next kapan2 ke jkt pengen kesini deh, tp mau ngajak kawan… kalo sendiri takut ada yg ngikutin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s