Berkirim Kartu Pos, Masih Eksis!

Batavia! Meski kota tua ini kini telah berganti nama jadi Jakarta, saya suka memanggilnya dengan sebutan lamanya, “Batavia”, apalagi jika sedang jalan-jalan ke kawasan Kota Tua.

Di hari Minggu, 12 Mei 2019, saya menyambangi Stadhuis, atau kini dikenal dengan nama Museum Fatahillah. Matahari tepat di atas ubun-ubun, pun hari itu adalah bulan Ramadhan. Kota Tua yang biasanya ramai wisatawan, mendadak sepi. Satu dua pengunjung yang datang lebih memilih berlindung di balik bayangan gedung-gedung ketimbang terpanggang matahari.

Puas memotret nuansa Kota Tua yang sepi, saya melipir ke bagian belakang museum. Di sana terselip sebuah toko souvenir. Di dalam toko dipasang AC, lumayan untuk ngadem. Dari sekian banyak souvenir yang dijual, saya terpincut dengan deretan kartu pos. Gambarnya banyak yang menarik.

“Berapa pak satunya ini?”

“Sepuluh ribu.”

Saya mengambil dua kartu pos dengan gambar Batavia dan peta Indonesia lalu menyerahkan selembar dua puluh ribu ke kasir.

Pertanyaannya: akan dikemanakan kartu pos ini?

Dua bulan sebelumnya, saya pernah membeli selusin kartu pos di Jogja. Maksud hati mau mengirimkannya ke sahabat-sahabat yang tinggal di luar negeri. Saya browsing di Google, mencari tahu pengalaman orang yang pernah melakukannya. Katanya, kirim kartu pos itu masih eksis dan harganya murah. Saat jam istirahat kantor, saya bawa dua kartu pos itu ke sebuah kios yang ada tulisan “kantor pos”.

“Mbak, saya mau kirim kartu pos.”

“Nggak bisa mas.”

“Wah? Tapi kan ini kantor pos?”

“Iya, tapi di sini nggak jual perangko Masnya kalau mau kirim kartu pos, harus ke kantor pos besar di kota yang jual perangko. Ini cuma agen, bisanya kirim paket.”

Kecewa. Saya tinggal di Kalideres. Kalau ke kota untuk cari kantor pos besar, jauh. Dan tidak mungkin pula melakukannya di jam istirahat yang cuma satu jam. Sebenarnya, jika saya niat merogoh kocek dalam, saya tetap bisa mengirimkan kartu pos itu di ‘kantor’ pos dekat kantor. Tapi, kartu pos itu akan dianggap paket dengan berat minimum 1kg. Harganya? Mahal. Apalagi tarifnya dihitung sebagai paket antar negara.

Cuma butuh perangko

Berkaca dari pengalaman yang lalu, hari itu saya ngeh kalau di Kota Tua ada kantor pos besar. Buru-buru saya berjalan ke sana, lalu menuliskan beberapa baris kalimat di balik kartu pos. Jam menunjukkan pukul tiga. Sebenarnya kantor posnya sudah tutup, tapi mas-mas di sana berbaik hati melayani saya.

“Mas, mau kirim kartu pos bisa?”

“Bisa mas. Ke mana tujuannya?”

“Singapur sama Jerman mas. Berapa harganya?”

“Singapur 8 ribu, Jerman 10 ribu.”

Soal harga, kirim kartu pos menggunakan perangko ini biayanya terjangkau. Menyeberang benua sampai ribuan kilometer pun tarifnya dipatok 10 ribu, seharga naik ojol dari kantor ke halte busway.

Saya lalu diberikan dua buah perangko yang masing-masingnya berharga 4 ribu. Di perangko itu tercetak gambar Jembatan Soekarno di Manado. Setelah perangko ditempel, kartu pos lalu diberi stempel. “Cetok,” bunyi saat kartu pos diketok. Stempelnya bertuliskan tanggal pengirman dan alamat kantor pos “Taman Fatahillah”.

“Waktu sampainya dua minggu sampai satu bulan ya mas,” kata petugas pos pada saya.

Saya mengangguk, menyerahkan uang 8 ribu dan berlalu. Kartu pos yang ke Jerman tidak jadi dikirim karena rekan saya ternyata kehilangan alamatnya.

Bicara soal durasi pengiriman kartu pos, agaknya tidak banyak perubahan yang berarti sejak budaya kirim-kirim kartu pos ini dimulai hingga sekarang. Dari buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe yang ditulis oleh Olivier Johannes Raap, tercantum beberapa korespondensi kartu pos yang dikirim orang-orang kulit putih di Hindia Belanda kepada kerabatnya yang bermukim di Eropa. Kala itu berkirim kartu pos hanya dilakukan oleh warga Eropa, salah satunya adalah karena alasan literasi dan budaya. Warga lokal kurang familiar dengan pesan teks, mereka lebih menyukai pesan verbal.

Kartu pos yang dikirim di awal tahun 1900-an bisa memakan waktu sekitar 1 bulan untuk tiba di Eropa. Di dalam kartu pos itu biasanya orang-orang bertukar update singkat. Gambar-gambar yang dicantumkan biasanya lebih ke pemandangan alam, budaya, ataupun bangunan yang menunjukkan hal-hal bagus atau perkembangan di Jawa yang semakin modern.

Satu abad berselang, eksistensi pengiriman kartu pos mulai memudar. Mungkin hanya segelintir dari generasi digital yang familiar dengan benda konvensional ini.

Buat apa kirim kartu pos kalau sekarang bisa kirim pesan lewat WhatsApp atau email atau bahkan video call sekaligus?

Sebagai alumni Ilmu Komunikasi, saya ingat bahwa bentuk komunikasi yang terbaik adalah komunikasi tatap muka. Tetapi, dikarenakan kendala jarak dan keadaan lainnya, tidak selamanya komunikasi tatap muka bisa dilakukan. Yang menjadi esensi dari komunikasi tatap muka adalah kehadiran. Orang suka jika orang yang dikasihinya bisa hadir dekat dengan mereka. Ia bisa melihat mimik mukanya, menyentuhnya, bahkan merasakan emosi lewat intonasi dan sorotan mata.

Ketika komunikasi tatap muka itu tak terwujud, orang masa dahulu menyiasatinya dengan berkirim kartu pos. Lalu, semakin berkembang dengan hadirnya telepon hingga video call seperti zaman sekarang. Tetapi, ada perbedaan yang mencolok di sini. Pesan digital meskipun mudah dicerna dan diterima dengan cepat, tetapi menjadi kurang bermakna karena ia tidak berbentuk fisik. Pesan itu hanya dapat dibaca tanpa bisa dipegang. Apalagi jika pesan yang masuk di WhatsApp begitu banyak hingga chat itu tenggelam. Dan, ketika semua orang berkirim salam dan pesan lewat piranti digital, pesan itu jadi sesuatu yang mainstrem, meskipun niatan dan kontennya istimewa.

Berkirim kartu pos mungkin adalah cara usang. Pun waktu kirimnya sangat lama. Tapi, ketika benda ini tiba dan diterima, pesan dan salam yang disampaikan terasa lebih nyata. Ia memberikan setitik kesan kehadiran kita bagi sang penerima. Dan, pesan itu tidak pudar (kecuali kartu posnya dibuang ya). Selembar kartu pos yang berisi salam dan pesan singkat itu menjadi sebuah cermin yang merefleksikan kehadiran sang pengirim.

Hari ini saya sangat senang dan bersyukur. Kartu pos yang dikirimkan tanggal 12 Mei 2019 yang lalu telah diterima oleh mantan bos saya di Singapura. Ia lalu mengirimkan potret kartu pos itu pada saya lewat WhatsApp, dan menempelkannya di dinding kulkasnya.

Kartu pos ini sudah diterima di negara tujuan.

10 Comments on “Berkirim Kartu Pos, Masih Eksis!

  1. Menurut aturan dirjen pos, kalo kirim ke singapur (benua asia) sebenarnya 6 ribu cukup sih hehe, kalo ke eropa 7 ribu… hehehe, mungkin karena petugas posnya jarang ada yg nanyain tarif pos makanya asal saja 😉 saya masih rutin kirim kartu pos, ada websitenya kalau mau join..

    • Oiya? Wahh… lebih murah dua ribu.
      Kalau ke Eropa ktanya 10 ribu.

      Cuma skrg klo mau kirim kartu pos, sy kudu ke kantor pos pusat. Lumayan jauh dari tmpt tinggal haha.

  2. Mas.. ayo gabung postcrossing yuk.. hehehe.. aku gabung dr Oktober 2017 dan happy banget tiap dapat kiriman random dari orang2 di luar sana..
    Kalau postcardnya sudah ditempel prangko, bisa dititip ke agen2 pos. Nah memang siy beli prangkonya yg kudu di kantor pos (walaupun sekarang sudah bisa beli online di website filateli).

      • Bisa Mas.. hehehe..
        Biasanya aku beli selembar2, yg nominal 3000, 4000, 5000.
        Yuk register di postcrossing (dah kayak marketingnya ajee.. )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: