Catatan di Seperempat Abad

Suatu ketika di kota Yogyakarta saya bersantap pagi bersama seorang kawan lama. Perjalanan ke Jogja kali ini terjadi mendadak, tanpa direncanakan. Saya tiba di Stasiun Lempuyangan pagi hari dan siang harinya kembali bertolak ke Cilacap.

Kebetulan, kawan lama ini juga sedang bertandang ke Jogja. Dia hendak mengikuti job fair di kampus. Pagi-pagi saya menemaninya mencetak CV, memperbaiki sedikit typo dalam portofolionya, lalu mengantarnya ke depan kampus.

Sambil dia melamar kerja, saya pergi ke sebuah warung makan dengan menu andalan terong goreng di belakang kampus. Lima belas menit menanti, datanglah dia.

“Kaget aku. Semua lowongan yang dibuka di sana, gak ada yang pas sama aku,” tuturnya.

Raut wajahnya lesu. Dia mengangkat pundaknya lalu berkata, “Entahlah.”

“Selow, wes, pesen makan dulu aja,” jawab saya padanya.

Saya bisa menangkap sedikit bagaimana gulatan perasaannya saat itu. Enam bulan lebih menganggur bukanlah pergumulan yang mudah. Pertanyaan, atau bahkan hujatan banyak dia terima. Setelah dia sedikit tenang, obrolan kami berlanjut.

Tiga bulan terakhir, saya jarang berkontak dengannya. Di samping pekerjaan saya semakin sibuk, saya juga tidak ingin merecokinya dengan pertanyaan “sudah dapat kerja belum”. Meski terkesan peduli, tapi bisa saja dia memaknai itu sebagai pesan yang mengganggu, atau bahkan menyindir. Kemudian teman saya itu bertutur tentang betapa sulitnya buat dia mencari pekerjaan. Katanya, berbagai lowongan telah dia coba masukkan, tetapi hasilnya tetap nihil. Dia mulai putus asa dengan perjalanannya mencari kerja.

“Hmm…cari kerja memang berat sih. Tapi, aku senang loh. Minggu-minggu ini aku lihat status WhatsAppmu dan mamamu. Kalian kompak sekali jualan makanan. Tiap kali kalian posting jualan kalian laku, entah kenapa aku merasa senang banget,” tutur saya padanya.

“Ah, masa?” tukasnya.

“Iya, bener. Kupikir, ada pelajaran berharga loh dari sulitnya kamu cari pekerjaan, dan aku bangga sama kamu. Kamu nggak diam, berpangku tangan. Tapi, kamu lakuin apa yang kamu bisa. Kamu jualan, itu langkah positif. Dan…. kupikir tidak semua orang memang terpanggil menjadi karyawan.”

Alisnya mengernyit. Dia agak tidak percaya dengan apa yang saya sampaikan.

“Kamu bangga sama aku? Kok bisa? Aku pengangguran loh.”

Saya mengulangi kembali statement terakhir di kalimat yang barusan terucap. Saya bilang, bahwa agaknya hidup ini tidak asyik jika semua manusia pada akhirnya hanya menjadi karyawan. Seperti alam semesta yang tertata rapi, saya percaya bahwa pekerjaan manusia ada bagiannya masing-masing, sebuah panggilan. Ada mereka yang memang dipanggil untuk mengabdi menjadi karyawan, atau ada pula yang dipanggil untuk mencipta sesuatu, untuk bekerja di luar rutinitas kantoran, dan untuk banyak tujuan lainnya.

Terong goreng kriuk pelan-pelan mulai habis dari piring di depan kami.

“Eits, tapi aku tidak menyarankanmu untuk menyerah cari kerja loh ya!” kata saya kepadanya.

“Hahaha. Iya, aku ngerti.”

“Sekarang tugasmu itu adalah lanjutin usahamu cari kerja, jika kamu memang ingin punya pekerjaan tetap dan mendapat gaji darinya. Tapi, jangan sampai pencarian ini bikin kamu stres dan down. Jangan nyerah. Sambil cari, kamu bisa kembangin juga usaha jualanmu.”

Segaris senyum tersungging di wajahnya. Raut lesu yang tadi dibawanya kini menghilang. Dia lalu bilang, kalau pertemuan pagi itu tidak disangkanya. Semangatnya bangkit. Saya pun merasa heran dan takjub. Kok bisa pagi itu kami saling bertemu dan saya bisa berkata-kata demikian. Betapa Yang Kuasa mempertemukan kami di momen yang tepat dan untuk maksud yang jelas pula.

Di akhir santap pagi itu, kami saling berpelukan. Hangat sekali, pelukan dari seorang sahabat yang lama tak jumpa. Dia lalu mengingat kembali masa-masa lima tahun lalu ketika saya masih jadi mahasiswa sejurusan dengannya.

“Aku nggak pernah kepikiran sampai seperti yang kamu pikirin soal aktivitasku sekarang.”

“Aku juga nggak tahu kenapa bisa mikir sampai ke sana, tapi kupikir itu terjadi karena perjalanan hidup kita yang memberi banyak pelajaran.”

Pertemuan kami pun usai. Saya melesat menuju Terminal Giwangan, dan dia menuju utara kota Jogja.

***

Sekelumit cerita di atas adalah kisah yang belakangan sering terjadi dalam kehidupan saya. Tiga tahun lalu, saat hijrah ke Jakarta, saya merasa diri terjebak dalam kubangan kesalahan. “Aduh, kerjaanku cuma di depan laptop doang,” gerutu saya pada diri sendiri. Setiap hari yang berkecamuk dalam pikiran adalah bagaimana caranya supaya bisa keluar dari Jakarta dan mendapatkan pekerjaan di Jogja atau Bandung.

Tapi, hari ini, pemikiran itu membuat saya jadi senyum-senyum sendiri. Perjalanan mengentaskan rasa tidak betah di Jakarta rupanya membawa saya pada banyak kesempatan bertemu dengan orang-orang. Dan, dari tiap pertemuan itu lahir cerita-cerita yang saling menyalakan api semangat dalam diri masing-masing. Ada pertemuan dengan para sahabat, pertemuan dengan rekan-rekan kontributor, pertemuan dengan kerabat, bahkan pertemuan dengan orang-orang asing yang tak saling kenal. 

Hari ini, ketika perjalanan saya di dunia genap memasuki seperempat abad, saya sungguh bersyukur dengan kesempatan-kesempatan bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Segala pemikiran yang saya lontarkan dalam tiap pertemuan bersama mereka bukanlah hasil dari upaya-upaya untuk tampil bijak, karena pada kenyataannya saya rasa saya bukanlah orang yang bijak. Tetapi, merupakan sebuah cerita dari hati, cerita tentang perjalanan yang dulu pernah saya lalui yang saya ingin sampaikan kepada mereka lewat sebuah narasi sederhana yang membangun.

Di hari-hari ke depan, saya tidak ingin bermimpi banyak dan jauh. Saya cuma ingin supaya dalam perjalanan hidup ini, saya tetap diizinkan Tuhan bertemu dengan banyak orang, untuk belajar dari mereka, dan jika boleh, untuk saling berbagi cerita bersama mereka.

***

Teruntuk kamu yang mampir dan membaca tulisan ini, saya bersyukur dan bersukacita karena kamu.

Terima kasih banyak sudah berkenan membaca cerita ini.

10 respons untuk ‘Catatan di Seperempat Abad

  1. Wah, selamat tambah dewasa Ry! Tetep jadi pribadi murah hati dan bijak dalam menyikapi kehidupan yang kadang tidak seramah yang dibayangkan. Sukses selalu ya! 😊

Tinggalkan Balasan ke sondang Saragih Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s