Tapak Tilas Jalur Tua Solo-Wonogiri

Sekitar tahun 1970-an, ketika moda transportasi berbasis ban karet mulai menjamur, kereta api di jalur-jalur cabang mulai kehilangan pamornya. Alhasil banyak jalur-jalur itu pun ditutup, mati, dan menjadi kepingan sejarah seterusnya. Namun, ada satu jalur yang dulu sempat mati suri kini bangkit kembali. Jalur itu bisa kita nikmati di atas laju kereta yang lambat namun membangkitkan kesan nostalgia.

Di kunjungan saya ke Kota Surakarta bulan Januari lalu, terbersit ide untuk kembali menjajal layanan Kereta Api (KA) Batara Kresna yang berangkat dari Purwosari ke Wonogiri PP. Setahun sebelumnya, saya memang sudah pernah menjajal naik kereta ini, tapi waktu itu rangkaian kereta yang dipakai adalah jenis diesel non-ac, bukan railbus yang seharusnya melayani trayek ini. Setelah menyusun jadwal untuk sehari, pagi harinya saya pun bertolak ke Stasiun Purwosari.

Apa sih yang istimewa dari naik kereta api Railbus Batara Kresna ini?

Railbus Batara Kresna bukan kereta api biasa, jalur yang dilintasinya adalah jalur istimewa yang kaya sejarah dan sempat ditutup selama beberapa masa. Jika kita pernah bertandang ke Solo dan mampir ke Jalan Slamet Riyadi, di sana ada rel kereta api yang menyatu dengan jalan aspal tanpa pagar penyekat. Nah, inilah rel yang nantinya akan dilewati juga oleh Railbus Batara Kresna.

Ada dua kali pemberangkatan pulang pergi untuk Railbus Batara Kresna. Kereta pertama berangkat dari Purwosari ke Wonogiri pada pukul 06:00, tiba di Wonogiri pukul 07:45. Kereta lalu berhenti 15 menit dan bertolak kembali ke Purwosari pukul 08:00 dan tiba di tujuan pukul 09:45. Kereta kedua berangkat pukul 10:00 dari Purwosari, dan inilah kereta yang akan saya naiki.

Railbus Batara Kresna di Jalur I Stasiun Purwosari.

Jam sepuluh kurang, Railbus Batara Kresna tiba di jalur satu Stasiun Purwosari. Ada serombongan anak TK dari Wonogiri yang hendak berwisata ke Solo. Selepas mereka turun, saya pun naik. KA Batara Kresna disebut juga dengan railbus, karena bentuknya mirip seperti bus yang berjalan di atas rel. Satu rangkaian terdiri dari dua kereta. Kursinya dibuat dari plastik, tidak empuk seperti kereta eksekutif. Untuk satu kali perjalanan, tarifnya cuma 4 ribu rupiah saja.

Jam sepuluh tepat kereta pun bertolak. Saya duduk di kereta kedua, dan posisinya dekat dengan mesin. Deru mesin lumayan bising dan mengganggu. Meski begitu, suasana kereta cukup nyaman karena kereta tidak penuh dan ada pendingin udara.

Yang ditunggu-tunggu pun tiba, kereta melintasi jalan raya Slamet Riyadi. Masinis terus menerus membunyikan klakson, “Teettttt…teeettttt”, menghalau mobil dan motor agar tidak nyelonong masuk rel. Sesekali kereta berhenti karena ada mobil yang terjebak macet, lalu melaju pelan.

Selepas Purwosari, kereta tiba di Stasiun Solo Kota atau disebut juga Sangkrah. Cuma segelintir penumpang yang naik. Kereta lalu melaju lagi, melintasi pemukiman padat kota Solo terus ke selatan.

Interior KA Batara Kresna.

Jika kita menaiki kereta api, apapun jenisnya, entah itu kereta jarak jauh, kereta komuter, kereta bandara, atau kereta MRT, setelah kereta meninggalkan stasiun lajunya akan terus bertambah. Kecepatan kereta maksimum yang diizinkan di Indonesia adalah 120 km/jam.

Tapi, kecepatan itu tidak akan kita temukan di Railbus Batara Kresna. Kereta melaju pelan, membelah langit biru dan melintasi Sungai Bengawan Solo yang legendaris.

Dari balik jendela, terlihat segaris jalan raya. Mobil, motor, dan bus melaju lebih cepat, mendahului kereta yang berjalan santai bak siput.

Bengawan Solo

 

Jalur yang merugi

Menilik kembali pembangunannya pada masa lampau, jalur KA Wonogiri-Solo bermula dari inisiatif perusahaan trem kuda swasta Belanda bernama Solosche Tramweg Maatshappij (SoTM) yang mengoperasikan jalur dari Purwosari menuju Solo Jebres via Benteng Vastenburg. Perusahan ini mendapatkan konsesi pada tahun 1890 dan mulai beroperasi pada tahun 1892.

Pada tahun 1899, kuda-kuda yang menarik trem banyak terjangkit penyakit sehingga dipikirkanlah alternatif lain yang bisa membuat trem tetap beroperasi. Perusahaan lalu menandatangani kontrak kerjasama operasional dengan perusahan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang mengganti trem kuda menjadi lokomotif uap

Pada tahun 1920, perusahaan mendapatkan konsesi untuk membangun jalur Solo-Wonogiri-Kakap. Pada tanggal 1 Oktober 1923, jalur ini diperpanjang hingga ke Baturetno.

Pada masa itu, transportasi roda karet seperti bus, truk, dan mobil belum populer. Kereta pun jadi sarana transportasi yang vital karena tak cuma membawa penumpang, kereta juga bisa membawa barang-barang hasil bumi dalam jumlah yang banyak.

Ketika zaman semakin maju dan transportasi berbasis aspal menjamur, kereta api tetap setia pada lajunya yang lambat. Perusahaan kereta yang telah dinasionalisasi tak memiliki cukup modal untuk meremajakan lokomotif. Akibatnya, penumpang pun beralih ke transportasi lain, menjadikan layanan kereta api yang dulu merupakan tulang punggung perekonomian menjadi terbelakang.

Pada tanggal 1 Mei 1978, jalur dari Wonogiri menuju Baturetno ditutup lantaran akan dibangunnya Waduk Gajahmungkur. Sejak saat itu, Wonogiri menjadi stasiun terminus.

Hinga tahun 1978, jalur ini masih tercatat mendatangkan keuntungan lewat pengangkutan batu gamping untuk keperluan pabrik gula. Namun seiring meredupnya pamor pabrik gula yang juga dimakan usia, jalur ini pun pelan-pelan menuju mati. Layanan kereta yang tersedia hanyalah layanan feeder, di mana satu lokomotif menarik satu kereta ekonomi yang dicabut dari rangkaian KA Bengawan.

Rel kereta api di jalur Solo-Wonogiri.

Di dekade 2000-an, jalur Wonogiri-Purwosari ditutup lantaran tidak mendatangkan keuntungan. Rel yang masih berjenis R33 tidak memungkinkan untuk dilalui lokomotif berat jenis CC. Mau tidak mau cuma lokomotif jenis BB300 atau D301 yang bisa melintas, tapi usia lokomotif ini pun kian tua.

Pda tahun 2015, PT. KAI akhirnya melaunching ulang layanan kereta di jalur ini. Disediakanlah layanan railbus Batara Kresna yang melayani rute Purwosari-Wonogiri. Tarifnya amat terjangkau, cuma 4 ribu saja sekali jalan.

Menikmati laju nan lambat

Di atas kereta, saya pelan-pelan bisa menikmati laju kereta yang lambat. Jika dihitung menggunakan speedometer di ponsel, kecepatan kereta tidak lebih dari 30 km/jam. Laju ini sangat lambat jika dibandingkan dengan sepeda motor atau bus dan mobil.

Perjalanan pelan bak siput ini memakan waktu selama 1 jam 45 menit hingga akhirnya kereta tiba di Wonogiri. Dengan waktu selama ini, tak heran banyak orang lebih memilih naik mobil, motor, atau bus.

Kereta pun tiba tepat pukul 11:45, sesuai jadwal, di saat matahari tepat berada di ubun-ubun. Saya turun sebentar, memotret beberapa sisi Stasiun Wonogiri, membeli tiket lagi, dan kembali ke dalam kereta.

Pukul 12:00, saya kembali lagi ke Purwosari, menikmati lagi laju kereta yang lambat.

Lambatnya laju kereta mungkin membuat saya bosan. Tapi, inilah yang mengajari saya bahwa sebelum segala sesuatunya bisa berjalan cepat, semua memulai dari proses yang lambat terlebih dulu.

Kereta api cepat yang bisa kita nikmati saat ini merupakan buah evolusi dari pembaharuan teknologi.

17 respons untuk ‘Tapak Tilas Jalur Tua Solo-Wonogiri

  1. Kukira railbus ini laris manis. Sempat baca di mana gitu, penumpang bejubel naik kereta ini. Ternyata sepi. Kalo gini aku juga mau cobain hehe.

    Terbayang jika railbus ini diganti trem elektrik yang modern dan lebih cepat, lalu punya banyak perhentian di kota Solo khususnya sepanjang Jl. Slamet Riyadi dan jalan-jalan arteri lainnya.

    1. Dulu kupikir juga gitu Guh.

      Tapi taunya nggak. Sepi, hanya di jam-jam pemberangkatan awal aja lumayan rame. Salah satu kendalanya karena kecepatan yang rendah, jadi kalah saing dengan roda karet.

      jalur yg di slamet riyadi epic banget sih haha
      aku suka banget nontonin kl ada kereta lewat di jalur ini.

  2. Berkali kali lihat tapi belum pernah nyobain, suatu saat boleh juga tuh kalau pas liburan 😁

    Btw jalur Solo – Wonogiri sebetulnya rute gemuk, sayangnya persaingan antar moda mmg tinggi, kereta yg lambat jelas tersisih dibanding bus yg cepat dan waktu keberangkatan lebih fleksibel

  3. Ini nih transportasi yang tiap kali ke Solo gak pernah keturutan, pernah di Slamet Riyadi beriringan, rasanya pengin cegat dan naik macam angkot saking lambannya, tapi tetap aja bikin penasaran dan sampai sekarang belum keturutan haha

    1. Wahh, next kudu dicoba mas.
      Kalau ndak nyandak tekan wonogiri, bisa naik dari Purwosari sampai ke Sangkrah aja, buat cobain gimana rasanya nyepur di atas Slamet Riyadi hehe.

      4000 tok 😀

Tinggalkan Balasan ke Ikhalid Rizqy Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s