Stasiun Parakan yang Tak Lagi Berdenyut

Temanggung di bulan Januari adalah kota yang sempurna untuk bermalas-malasan. Hujan turun dengan deras. Langit kelabu. Dan udara dingin mengalir lembut dari lereng Sumbing-Sindoro. Kunjungan saya dua hari di kota ini nyaris hanya dilewatkan di atas kasur jika Tegar tidak ‘memaksa’ saya untuk keluar.

“Yok muter-muter yok,” sahut Tegar.

“Ke mana?”

“Parakan wae.”

“Emang ono opo e di sana?” saya balik bertanya.

“Wes, metu sek wae.”

Langit masih kelabu, sisa-sisa hujan masih terwujud dalam genangan air. Saya menuruti apa kata Tegar. Sejurus kemudian kami pun melenggang di atas aspal Jalan Raya Bulu-Parakan.

Parakan adalah sebuah kota kecil yang membuat saya jatuh hati. Arsitektur rumahnya banyak yang kuno. Pun jalan utamanya hanya segaris dan menanjak. Saya kekurangan referensi mengenai sejarah mula Parakan, tetapi dari sedikit sumber tertulis yang pernah saya baca, disebutkan bahwa di kota inilah para petani tembakau membawa hasil panen mereka. Tembakau-tembakau yang ditanam di lereng Sumbing-Sindoro akan dikumpulkan terlebih dulu di Parakan sebelum nantinya didistribusikan ke proses selanjutnya.

Jejak kejayaan tembakau tersebut salah satunya bisa dikorek dengan menilik kembali sistem transportasi yang pernah ada di Parakan. Di masa kini, Parakan tak lebih sebagai kecamatan di jalur penghubung antara Temanggung-Weleri via Sukorejo. Jika pernah naik bus malam dari Yogya via Temanggung, pasti bus akan melewati Parakan. Medan yang dilalui tidaklah mudah. Daerah Parakan terletak di dataran tinggi. Jalanan penuh kelokan dan tikungan.

Jejak kolonial untuk mendongkrak komoditi

Jejak Parakan sebagai kota yang mashyur karena tembakau dapat diselidiki dari jalur kereta api yang pernah eksis di kota ini. Pada abad 19, Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS) melihat ada potensi alam besar yang bisa diambil di lembah-lembah Gunung Merbabu dan Gunung Sumbing. Pada masa itu transportasi yang sedang naik daun dan memungkinkan untuk dibangun adalah kereta api. Kendaraan roda karet belum eksis pada masa itu.

Mengutip dari buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe, didapati bahwa pembangunan jalur kereta di lintasan Yogyakarta-Ambarawa/Parakan dimulai secara bertahap.

Jembatan KA Kali Progo. Jika kita berkendara ke Temanggung dari Secang, kita akan menjumpai jembatan ini.

Meski masih tersisa kerangka utuhnya, rel di sini sudah usang. Pun bantalan kayunya telah lapuk.

Pembangunan tahap pertama, tahun 1898 dimulai dari Yogyakarta Tugu ke Kota Magelang sejauh 45 kilometer. Tahap kedua, tahun 1903, dari Magelang Kota ke Secang sejauh 9 kilometer. Tahap ketiga, tahun 1905, dari Secang ke Ambarawa sejauh 28 kilometer. Dan, tahap terakhir, tahun 1907, dari Secang ke Parakan sejauh 28 kilometer.

Jalur dari Yogyakarta menuju Ambarawa ini bercabang di Secang. Jika ke utara, rel akan mengarah ke Ambarawa dan selanjutnya ke Semarang. Jika ke barat, rel akan mengarah ke Temanggung dan berakhir di Parakan, stasiun terminus. Ada fakta menarik di sini. Di sebelah barat Parakan adalah Kota Wonosobo dan sempat ada ide untuk menyambungkan jalur antara Parakan dan Wonosobo. Tapi, ide ini tak pernah terlaksana lantaran medan yang terlalu susah untuk dibuatkan jalur kereta.

Jika teman-teman yang sedang membaca tulisan ini pernah berkendara dari Secang menuju Parakan, cobalah bayangkan bagaimana perjalanan itu. Jalanannya naik turun dan penuh kelokan. Bus-bus besar pun terkadang ngos-ngosan saat melibas jalanan yang menanjak. Tetapi, jauh sebelum kendaraan roda karet wara-wiri, di jalur ini telah ada moda transportasi roda besi! Untuk melibas trek pegunungan yang naik turun ini, NIS membeli lokomotif dari pabrik Hartmann di Jerman dan Werkspoor di Belanda. Lokomotif kuat ini alih-alih kecepatannya, tenaganya yang paling dibutuhkan untuk menghela gerbong-gerbong tiba di tujuan. Di Stasiun Secang, ketinggian tanah berkisar 466 meter di atas permukaan laut. Kereta api harus mendaki ratusan meter untuk bisa tiba di Parakan yang berelevasi 780 meter di atas permukaan laut.

Selain mengangkut penumpang, jalur spektakuler ini menikmati juga denyutnya sebagai jalur pengangkut barang-barang hasil bumi. Namun, nahas. Jalur Secang-Parakan hanya bertahan selama 66 tahun sebelum akhirnya mati hingga saat ini. Pada tahun 1973, jalur ini ditutup lantaran kalah bersaing dengan moda transportasi roda karet.

Stasiun Parakan dari tepi jalan raya.

Fasad Stasiun Parakan.

Papan reyot.

Dulu, hal ini pernah jadi pertanyaan yang selalu menggantung di benak saya. Mengapa saat itu kereta api bisa kalah saing? Kan sekarang negara maju malah banyak mengandalkan kereta api. Jawabannya adalah pada masa dulu, kereta api yang masih menggunakan lokomotif uap memiliki kecepatan yang terbatas. Di lintasan Secang-Parakan, paling-paling lajunya hanya sekitar 30 kilometer per jam. Sedangkan mobil dan bus bisa dipacu lebih cepat. Meremajakan lokomotif bukan pekerjaan mudah. Butuh dana besar, sedangkan bagi perusahaan kereta api kala itu kondisi keuangan sedang tidak mengalir lancar. Mau tak mau akhirnya kereta pun ditinggalkan.

Jika penasaran mengapa kereta api bisa selambat itu hingga akhirnya ditinggalkan, teman-teman bisa menjajal bagaimana rasanya menaiki Railbus Batara Kresna dari Purwosari menuju Wonogiri. Perjalanan di lintasan sepi yang menggunakan rel lawas ini memakan waktu dua jam perjalanan. Kereta rasanya berjalan sangat lambat, bak siput.

Mati untuk selamanya

Setelah layanan kereta api di lintasan ini ditiadakan, otomatis sarana dan prasarananya pun tak lagi terpakai. Ibarat tubuh yang jantungnya tak lagi berdenyut, organ-organ lain pun mau tak mau segera menyusul mati.

Stasiun Parakan kini telah menjumpai ajalnya. Bangunan stasiun masih lumayan utuh dan bisa dengan mudah kita jumpai di pinggir jalan. Tapi, bangunan ini tak ada lagi nyawanya. Ia tak lagi menghidupi takdirnya sebagai loka naik turun penumpang, hanya menjadi seonggok batu dan semen yang kehilangan denyutnya.

Saya miris mendapati bangunan stasiun ini. Di tepi jalan raya, bangunannya kontras dari bangunan lain di sekitarya. Tembok stasiun berwarna merah muda. Ada sebuah jendela kayu kelabu di pojoknya. Di fasadnya, terdapat dua jendela kecil yang dulu menjadi loket jual beli tiket.

Dulu di sini tempat membeli karcis.

Fasad Stasiun Parakan, didominasi merah muda.

Bekas Peron.

Gundukan sampah di tepi stasiun.

Stasiun ini telah beralih fungsi menjadi rumah warga. Saya masih bertanya-tanya, bagaimana caranya stasiun yang adalah bangunan publik berpindah tangan menjadi tempat tinggal pribadi. Saat saya tiba di sana, sedang tidak ada orang di dalam bangunan stasiun. Tapi, dari jemuran yang menggantung jelaslah bangunan stasiun ini telah menjadi rumah tinggal.

Meski zaman telah berganti dan menjadikan stasiun ini makin tenggelam dalam sejarah, jejaknya tak seketika sirna. Ada tiang-tiang kayu yang menjadi penanda batas antara bangunan stasiun dengan rel. Pun ada sebuah papan besi reyot yang mempertegas bahwasannya bangunan ini adalah sebuah stasiun.

Saya menyentuh dinding stasiun. Dalam hati saya kembali bertanya, tidak bisakah kita menjaga dan mempertahankan?

Stasiun Parakan beserta denyut perjalanannya telah mati. Namun, setidaknya kita bisa menjaga sisa-sisa bangunannya agar kisah sejarah itu dapat terus hidup.

 

7 Comments on “Stasiun Parakan yang Tak Lagi Berdenyut

  1. jangankan di sana
    masih banyak aset kereta api yang beralih fungsi menjadi rumah tinggal penduduk
    sedih
    padahal kalo digunakan bisa memperlancar arus logistik

    • Iyaa 😦

      Semoga program-program reaktivasi dan sebagainya bisa berjalan lancar. Minimal untuk jalur Cianjur Padalarang dan Cibatu Garut dulu yang sudah berjalan prosesnya 🙂

    • Katanya jalur jogja-magelang-semarang mau direaktivasi mas, dan termasuk KSPN, semoga aja jalur secang parakan nya dibangun juga.

      • Iya mas, wacananya begitu. Semoga bisa segera terealisasikan. Untuk saat ini sih yang progressnya berjalan reaktivasi jalur Cianjur-Padalarang dan Cibatu-Garut.

  2. ketika mayarakat tak ada pilihan lain, dan ketika pemerintah (dlm hal ini kai) abai, jadinya ya ditempati sebagai hunian ….

  3. KAI termasuk tegas lho dlm mengubah budaya masyarakat, misal menghapus krl komuter ekonomi, jd gak ada yg naik di atap gerbong, terus ga ada yg jualan di kereta… hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: