Secuplik Suasana Natal dalam Foto dan Narasi

Foto oleh Garrysen David
Teks oleh Aryanto Wijaya

Malam Natal, 24 Desember 2018 yang lalu berlangsung lancar dan aman. Terima kasih dan dua jempol patut diacungkan kepada segenap aparat yang telah bersumbangsih mengamankan rangkaian acara Natal di tahun ini.

Biasanya, ketika rangkaian ibadah Natal berlangsung, media-media nasional memberitakan kekhidmatan suasana dari beberapa gereja besar. Yang paling sering adalah dari Gereja Katolik Katedral di Jakarta yang dibanjiri oleh ribuan umat. Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan secuplik suasana Natal dari lokasi dan suasana yang lain: dari sebuah gereja Protestan di bilangan barat kota Bandung.

Gereja yang saya hadiri bernama Gereja Baptis Indonesia (GBI) Baitlahim. Gereja dengan jumlah jemaat aktif sekitar 300 orang ini sekarang telah berusia 56 tahun. Setiap tahunnya, GBI Baitlahim selalu memperingati Natal sesuai dengan penanggalan yang tertera di kalender (ada beberapa gereja yang menyelenggarakan ibadah di luar tanggal 25). Pada tanggal 24 Desember, ibadah yang dilangsungkan berupa candle light service, sebuah ibadah kebaktian yang bersifat reflektif untuk memperingati malam kelahiran Kristus ke dunia.

Acara dimulai pukul 18:00. Jemaat sudah mulai berdatangan sekitar setengah jam sebelumnya. Karena hari ini adalah Malam Natal, biasanya jemaat yang jarang datang di minggu-minggu biasa akan memunculkan diri. Panitia menyiapkan beberapa kursi tambahan di ujung kiri dan kanan bangku panjang jemaat. Di antara jemaat-jemaat tersebut, ada jemaat-jemaat senior yang duduk di bagian depan. Tak peduli hari Natal atau bukan, mereka memang gemar duduk di sana. Sebelum duduk, mereka memberikan senyum hangatnya dan menyalami setiap jemaat yang telah hadir lebih dulu.

Tatkala cahaya jingga di langit tampak merona, acara dibuka dengan lagu. Pemimpin kebaktian mengajak jemaat untuk menyanyi dan bangkit berdiri. Di tepi kanan mimbar, kelompok paduan suara dalam balutan busana merah turut bernyanyi. Mereka memiliki beberapa lagu istimewa yang akan mereka nyanyikan sebelum khotbah berlangsung.

Tata ibadah kebaktian dalam gereja-gereja di seluruh dunia tidaklah sama. Tiap gereja dan denominasi memiliki caranya masing-masing. Namun, ketika Natal tiba, pesan yang diberitakan dalam tiap ibadah tetaplah sama: kelahiran Kristus ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa. Memasuki sesi khotbah, seorang pendeta naik ke atas mimbar. Ia mengawali pemberitaan pesan Natalnya dengan sebuah monolog singkat yang diperankan oleh boneka.

Seusai khotbah, sesi penyalaan lilin dimulai. Para diaken gereja maju ke depan. Pendeta telah terlebih dulu memegang lilin besar, kemudian ia membagikan api lilinnya kepada lilin-lilin mungil yang dipegang oleh para diaken. Para diaken lalu menyebar ke empat baris kursi, membagikan api lilinnya kepada lilin-lilin jemaat lainnya. Suasana berlangsung teduh. Lampu listrik dimatikan. Musik mengalun lembut. Temaram lilin meliputi seluruh ruangan ibadah.

Malam kudus, sunyi senyap, lagu ini mengalun pelan. Jemaat memejamkan matanya. Meresapi makna dari liriknya yang bercerita tentang sebuah peristiwa Natal pertama. Jika hari ini kita mendapati suasana Natal yang begitu meriah dan gempita, dengan pohon Natal dan hiasan yang berkilauan, Natal pertama tidaklah demikian. Natal, seperti digambarkan dalam lirik lagu Malam Kudus, adalah suatu momen yang sunyi. Tiada gempita maupun semarak, sebab kedatangan-Nya di dunia memang tidak terjadi dalam sebuah istana besar, tetapi di sebuah kandang sepi.

Oh ya, menariknya, tahun ini adalah tahun di mana lagu Malam Kudus yang berjudul asli Stille Nacht berusia 200 tahun. Sedikit cerita, lagu ini dikumandangkan pertama kali pada Natal tahun 1818 di Gereja Oberndorf, Austria. Kala itu, orgel gereja tengah rusak sehingga tidak dapat mengiringi jalannya ibadah. Joseph Mohr kemudian teringat akan sebuah sajak berjudul Stille Nacht yang ia ciptakan dua tahun sebelumnya. Saat ia menemukan teksnya, ia lalu meminta Franz Xaver Guber untuk membuatkan melodi dan komposisi dengan dua suara pria diiringi paduan suara. Singkat cerita, lagu ini kemudian tersebar ke seluruh dunia dan menjadi salah satu lagu yang selalu dinyanyikan setiap momen Natal berlangsung.

Setelah lagu Malam Kudus selesai berkumandang, pendeta mengajak jemaat untuk berdoa. Kemudian, lilin pun ditiup. Suasana ruang ibadah kembali cerah. Pemimpin pujian kembali mengajak jemaat untuk menyanyikan sebuah lagu, kemudian menutup ibadah dengan doa berkat yang dipimpin oleh seorang pejabat gembala sidang.

Ibadah malam Natal pun usai. Durasinya sekitar satu setengah jam. Di gereja-gereja yang jumlah jemaatnya lebih banyak, ibadah malam Natal biasanya dilangsungkan beberapa kali. Namun, di GBI Baitlahim satu kali ibadah sudah cukup mengakomodasi semua umat, sebab kapasitas gedung memang mencukupi.

Selamat Natal, kawan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: