Refleksi Dua Tahun Bekerja: Sebuah Perjalanan ke Puncak Bukit

Setiap kali melihat kalender yang letaknya di samping monitor, rasanya waktu berjalan sangat cepat. 5 Desember 2018, hari ini genap dua tahun saya masuk dan bekerja di Jakarta, di sebuah kantor lembaga nirlaba yang letaknya di pojok barat Jakarta. Kalau mengingat bagaimana kalutnya suasana hati kala pertama masuk kerja dulu, bisa bertahan sampai sejauh ini tentu adalah sebuah berkat dan kesempatan yang amat baik.

Sebagai seorang yang bertugas mengurusi konten sebuah website, kadang saya merasa tidak pas dengan pekerjaan ini. Sehari-harinya saya cuma duduk di depan laptop dan memandang barisan kata demi kata. Lama-lama jenuh, suntuk pula. Satu-satunya harapan yang bisa mengusir kejenuhan ini adalah weekend, hari di mana saya bisa keluyuran menekuni hobi. Tapi, masalahnya, masak iya saya cuma mau hidup dari weekend ke weekend doang? Masak iya saya bertahan kerja dengan perasaan hati yang tidak suka terus-menerus?

Entahlah. Kala itu saya tidak tahu jawabannya apa.

Setahun berlalu, saya mulai terbiasa dengan rutinitas ini. Meskipun dalam hati kecil kadang masih merasa kurang, tapi saya mau terus berusaha menekuni tanggung jawab yang diberikan di depan saya ini dengan sebaik-baiknya, sebab meski lowongan kerja bertebaran bak kacang goreng, menemukan yang kriuknya pas itu susah.

Mundur atau maju?  

Pasca setahun bekerja, sempat terbersit keinginan untuk mundur dan mencari pekerjaan lain. Saya sempat bilang soal ini ke pimpinan pada bulan Agustus. Menariknya, si bos tidak marah. Dia manggut-manggut, lalu menepuk pundak saya. “Let’s see,” katanya. Si bos memahami keadaan yang saya alami. Untuk itu, dia meminta saya kembali bertahan dan mencoba melakukan beberapa inovasi. Mungkin keinginan untuk mundur ini cuma sekadar perasaan sesaat, kalau ada sesuatu yang menarik yang bisa dilakukan, mungkin pemikiran saya akan berubah, begitu tuturnya.

Saya amat hoki mendapatkan bos yang walaupun jarang ketemu dan bicara (bertemu tatap mukanya cuma sekali dua kali dalam setahun), tapi mau memahami pergumulan anak buahnya. Buat menambah wawasan saya, si bos lalu memberangkatkan saya pergi ke Malaysia untuk mengikuti sebuah workshop, lalu mengajak saya bekerja dua hari bersamanya di kantor Singapura, mentraktir makan siang, dan juga mengajak saya diskusi mengenai kendala maupun tantangan apa yang sekiranya saya rasa sulit menghadapinya.

Dan…di akhir diskusi itu, dia mengajak saya berdoa.

Lalu, apakah setelah kembali ke Jakarta saya segera termotivasi dan langsung bersemangat 45?

Tidak.

Yang ada semangat saya malah makin melempem. Saya melihat postingan teman-teman di Instagram yang pekerjaannya terlihat “Wow”. Ada para jurnalis yang wara-wiri naik pesawat meliput banyak event. Ada fotografer yang bekerja di lembaga pemerintahan, tiap hari ketemu orang-orang penting. Ada mereka yang bekerja di perusahaan keuangan, dan pasca setahun kerja sudah bisa beli ini itu. Wah, terpuruk rasanya. Meskipun pekerjaan yang saya jalani memberikan banyak kebaikan, melihat terlalu mendongak ke atas membuat saya merasa jadi manusia yang paling suram.

Hingga suatu ketika, jam sebelas malam, saya menemukan sebuah lowongan kerja yang saya pikir “ini gue banget”. Kerjanya setengah lapangan setengah kantoran, bidangnya bidang sosial dan politik, dan perusahaannya cukup terkenal. Segeralah saya mengontak teman yang kerja di situ dan bertanya perihal lowongan yang masih fresh itu.

“Lowongan ini kamu banget, Ry. Ayo langsung daftar sekarang. Apply dulu aja,” katanya.

Entah mengapa, saya malah ragu.

“Gitu ya. Ok-ok, makasih ya. Malam ini tak renungkan dulu.”

Malam itu saya benar-benar merenung. Saya memohon kiranya Tuhan menunjukkan jalan. Lalu saya pun tidur.

Pagi-paginya, sekitar jam 7 di layar ponsel muncul notifikasi kenangan-kenangan di Facebook. Saya buka notif itu, dan…ndilalah, dua tahun lalu saya pernah share artikel yang judulnya “Don’t Quit Your Job!”. Loh? Kok pas? Ah, cuma judulnya doang kali yang pas, saya berkata ke diri sendiri. Tapi, setelah saya klik dan baca kata-katanya dari awal sampai akhir, artikel ini pada intinya mengatakan bahwa pindah pekerjaan seharusnya bukan dilakukan karena emosi sesaat. Perlu ada pertimbangan matang-matang, dan…pindah bukanlah solusi tunggal dari masalah.

Jleb.

Saya urung pindah. Saya merasa ditegur. Saya merefleksikan diri, bahwasannya selama ini saya terlalu emosional dalam menyikapi segala tantangan. Tantangan kok dirasa-rasa, kan seharusnya dihadapi.  

Melihat dari ketinggian

Sejak detik itu, pekerjaan saya tidak berubah, tapi ada pola pikir yang berubah. Perubahan ini tidak terjadi instan, ada segelintir tindakan yang menyertainya. Saya mulai membangkitkan kembali disiplin rohani yang sejak lama saya tinggalkan. Meluangkan waktu setiap hari bersama yang Empunya Kehidupan memberikan saya kedamaian hati dan keyakinan akan sesuatu yang baik yang pasti terjadi di balik segala hal.

Saya lalu mulai mengaktifkan kembali penulisan jurnal harian, yang walaupun kadang ada bolongnya, tapi sangat membantu saya melihat bagaimana proses hari lepas hari yang saya lalui. Dan, setiap kali membuka media sosial, saya mengeset otak saya untuk tidak memakan mentah-mentah tiap unggahan teman-teman. Media sosial itu layaknya etalase toko. Cuma yang bagus-bagus saja toh yang dipajang. Di balik setumpuk prestasi yang dipajang teman-teman di medsos, mereka pun tentu melalui jalan terjalnya masing-masing. Alih-alih minder, saya lalu belajar turut berbahagia atas pencapaian mereka dan turut berempati kala mereka sedih.

Bulan lewat bulan berlalu, perasaan jenuh mulai luntur, tergantikan oleh semangat yang terus mekar.

Pengalaman dua tahun ini mengajari saya untuk memandang pekerjaan, juga segala masalah kehidupan seperti saya memandang lautan.

Jika saya berdiri di atas pasir pantai, lautan yang saya lihat adalah sebuah kolam air penuh gelora. Ada ombak-ombak yang berkejaran dan pecah menabrak karang. Kala cuaca memburuk, lautan itu pun layaknya angkara murka yang penuh amukan badai.

Tapi, ketika saya melihat lautan itu dari puncak bukit nan tinggi, yang saya lihat adalah kolam biru yang luas membentang, yang menyajikan suatu ketenangan yang tiada berbatas.

Dalam tinggal tenang dan percaya, terletak kekuatanmu.

 

11 Comments on “Refleksi Dua Tahun Bekerja: Sebuah Perjalanan ke Puncak Bukit

  1. Gejolak ini jugalah yg sedang saya alami, bosen dengan rutinitas kerja skrg

    Btw boleh dong share artikel “Dont Quit Your Job” nya 😁

  2. Adem banget baca refleksinya. Akhir-akhir ini juga lagi galau banget soal kerjaan. Di kantor, bawaannya pengin cari kerjaan baru aja. Hehehe. Kalau sudah begitu, kuncinya ya cuma satu, banyak-banyak berdoa dan bersyukur. 😊

    • Makasih Mbak Sintia :))

      Bersyukur memang mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan. Semoga kita menikmati perjalanan kita masing-masing ya, perjalanan yang di sana kita bisa bersukacita sembari berkarya 🙂

  3. Jangankan mendongak ke atas mas, ke samping sekitar lho kadang juga nylekit 😂😂😂

    Liat temen-temen seangkatan menemukan kesuksesan masing-masing. Kadang memang memicu semangat, tp tak jarang juga bikin hati mencelos pfttt.

    Tapi, semakin kesini, kita akan berdamai dengan diri sendiri kok. Seiring umur. Hehehe dan memandangan ke samping atau ke atas pun ya biasa-biasa aja.

    Manusia sudah punya porsinya masing-masing. Hal ini yg tak tanamkan. Bukan berarti gamau berusaha lebih keras lagi sih. Dan makin makin makin banyakin melihat sekitar, atau ke bawah. Dijamin nampar kita untuk bersyukur dan bersyukur :)))

    • Iya e mas.

      Ajang reuni kecil-kecilan sama teman seangkatan ini senang-senang menantang. Senang karena bisa kumpul dan nostalgia, tapi kadang juga bikin down (kalau tidak nyiapin hati). Dia yang dulu rekan sekelas kita, sekarang ternyata sudah melejit, dengan segudang prestasinya.

      Seharusnya yang seperti itu jadi pemacu, pemacu untuk sama-sama maju, sekaligus pemacu untuk jadi lebih bersyukur.

      btw, jadi kapan hayoo kita ngetrip lagi hahaha

  4. semangat terus dengan pekerjaan nya yaa, semoga bisa diberikan jalan yang terbaik untuk kedepannya.. Kadang melihat lahan orang lain terlihat hijau jika dibandingkan dengan lahan sendiri, padahal engga begitu juga sebenarnya yaa..

  5. semua orang merasakan seperti itu, aku juga kadang mikir nih bocah tiap hari minggu/libur kok jalan2 mulu naik kereta, soalnya aku aja ga setiap minggu pergi2 hahaha. intine urip iku mung sawang sinawang

  6. Tinggalin pemikiran ‘rumput tetangga lebih hijau’, mas.
    Nikmati saja apa yang udah diporsikan oleh yang di Atas.

    Belum tentu loh, orang berkemapanan hidup lebih tinggi itu bahagia selalu adanya.
    Malah tak sedikit yang berujung jadi depresi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: