Menemukan Hutan Sungguhan di Tengah Belantara Beton Ibukota

Selasa (20/11) yang lalu, rekan-rekan di kantor mengajak saya pergi jalan-jalan. “Ke Hutan Kota Srengseng yuk,” kata mereka. Saya mengernyit. Baru pertama kali dengar nama itu. Setahu saya, kawasan hijau yang mirip-mirip hutan di Jakarta itu cuma di Taman Suropati, atau kalau mau melipir lebih jauh lagi ya Kebun Raya Bogor, kawasan hijau yang bentuknya paling mirip dengan hutan.

Karena penasaran, saya menyambut ajakan itu. Kami sepakat pergi di sore hari. Meski hari itu adalah tanggal merah, pagi-paginya saya sudah bangun dan menuntaskan beberapa pekerjaan terlebih dulu.

Sekilas tentang Hutan Kota Srengseng

Jam setengah tiga, kami berangkat dari kawasan Kalideres. Kami menaiki motor, karena kalau lihat di Google Maps, lokasi Hutan Kota Srengseng jauh dari akses transportasi massal seperti KRL atau Busway. Kalaupun bisa, masih harus naik ojol. Ribet dan boros, naik motor okelah. Dari Kalideres, kami mengambil jalan ke selatan melewati kawasan Puri, lalu mblusuk lewat jalanan kecil. Dua puluh menitan berkendara, tibalah kami di lokasi. Sebuah papan penunjuk berwarna coklat memberi tanda lokasi Hutan Kota Srengseng ada di kanan jalan.

Dari depan jalan, kawasan Hutan Kota Srengseng tidak tampak besar-besar amat. Kami masuk melalui sebuah portal dan membayar Rp 2.000,- per orang, dan Rp 2.000,- per motor. Di area parkir ada sederet warung yang menjual makanan ringan, mie rebus, dan aneka minuman. Suasana teduh sudah terasa sejak di sini, tapi sayang, waktu itu kami mencium aroma busuk yang menguar dari tong-tong sampah yang sepertinya di dalamnya ada makanan busuk.

Melansir dari situs Jakarta Tourism, Kawasan Hutan Kota Srengseng (HKS) bukanlah area hutan sungguhan yang sejak dulu dijaga keberadaannya. Dulunya, HKS adalah sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dengan sistem gali uruk. Seiring Jakarta yang bertambah padat dengan pemukiman, kawasan TPA ini dirasa tidak lagi memadai. Pada tahun 1994, lokasi TPA kemudian diubah menjadi daerah resapan air dan perlindungan plasma nutfah. Setahun kemudian, melalui Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 202 Tahun 1995, HKS dikukuhkan sebagai hutan kota yang di dalamnya berfungsi juga sebagai ruang publik bagi wisata dan aktifitas masyarakat.

Kaum bapak, termasuk yang masih cilik, menikmati KHS dengan cara memancing

Trek paving block di tepian danau

Trek paving block ke dalam ‘rimba’

Cantik, tapi kurang bersolek

Saya suka dengan keberadaan ruang publik. Adanya ruang semacam ini memberi tempat kepada masyarakat dari berbagai lapisan untuk berinteraksi. Tapi, seiring saya berjalan masuk lebih ke dalam area KHS, saya mendapati kalau kawasan ini kurang diminati. Sepi pengunjung. Yang banyak hanya para kaum bapak yang memancing di pinggir danau yang airnya kotor. Mungkin sepinya ini karena saya datang sudah sore hari.

Menurut saya pribadi, HKS ini cukup rindang. Pohon-pohonnya tinggi menjulang, mirip-mirip lah dengan hutan sungguhan. Hanya, di beberapa spot, tampak sekali keterbengkalaian tempat ini. Ada sebuah pondokan yang penuh dengan coretan usil. Lantainya kotor, kacanya pecah. Tembok-tembok pemisah antara kawasan hutan dengan rumah penduduk juga ada yang sudah doyong di beberapa bagian. Sampah-sampah juga terlihat berserakan di beberapa lokasi. Selain itu, fasilitas publik juga kurang memadai. Seharusnya, jika KHS juga ditetapkan sebagai kawasan wisata, pengelola hendaknya memfasilitasinya dengan sarana MCK yang memadai, kursi-kursi untuk pengunjung, dan juga papan informasi mengenai sejarah dan keanekaragaman flora di hutan ini. Kan lumayan, sekalian pengunjung berwisata, mereka pun jadi belajar.

Ciri khas nuansa hutan yang asli, daun-daun kering berserakan

Matahari senja menyusup masuk di antara sela-sela dedaunan

Termos mini kapasitas 200ml berisikan teh panas. Nikmat sekali.

Saya berandai-andai. Kalau HKS ini mau dikelola serius, seperti Kebun Raya Bogor, atau bahkan seperti Singapore Botanic Garden, pasti hasilnya akan wow sekali. Manusia-manusia pencari ketenangan pasti akan rajin berkunjung ke sini, mencari oase batin, menenangkan jiwa di hutan sungguhan di tengah belantara beton Ibukota yang membikin stres.

Saat ini, menurut Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2002, sebuah kota seharusnya memiliki 10% wilayah hijau berupa hutan kota dari total luas wilayahnya. Luas Jakarta adalah 66,233 ha, sedangkan luas hutan kotanya cuma 149,76 ha, alias cuma 0,23% dari total keseluruhan wilayahnya. Angka yang jauh di bawah target. Padahal, keberadaan hutan kota semacam ini bisa menjadi sarana relaksasi dan terapi tersendiri bagi warga ibukota yang sehari-harinya dikepung stres pagi malam.

Kurang lebih tiga jam saya duduk, berjalan, bengong, foto-foto, dan ngeteh di sini. Lumayan nyaman meski tangan bentol-bentol digigiti oleh nyamuk yang jumlahnya tak terhitung. Aktivitas yang paling saya sukai di sini adalah memelototi ketenangan para bapak memancing. Di Jakarta yang serba kesusu, rasanya unik mendapati ada orang-orang yang mau meluangkan waktu berjam-jam hanya untuk bengong, menanti kail digigit ikan. Sekitar 15 menit mengamati, ada seorang bapak yang pancingnya bergoyang. Saat ditarik, yah, yang tertangkap cuma anak ikan mujair. Ukurannya cuma sebesar jempol orang dewasa.

Kalau ada pepatah yang mengatakan banyak hal di dunia ini pasti berubah, saya juga amat berharap kalau Hutan Kota Srengseng kelak ikut berubah. Berubah menjadi lebih rapi, lebih tertata, lebih ramai dikunjungi, dan juga lebih terkenal. Supaya kelak ketika orang-orang bicara soal tempat menghibur diri di Jakarta, mereka tak melulu menyebut mal-mal beserta kafe-kafe hits, melainkan juga menyebut Hutan Kota Srengseng, sebagai si hijau hutan sungguhan di tengah belantara beton ibukota.

15 Comments on “Menemukan Hutan Sungguhan di Tengah Belantara Beton Ibukota

  1. Hmmm.. kalau mau jujur.. Kebun Raya Bogor juga udah kurang menyenangkan… banyak orang yg ga paham pentingnya kebersihan…

    • Iya sih, di beberapa sisi yang banyak pengunjung memang kotor. Tapi….ada beberapa spot yang masih apik nih mbak 😀

      Aku paling suka spot di Kuburan Belanda, masih bersih dari sampah.

  2. Dari foto2nya mmg keliatan kurang “hidup” ya…
    Air danaunya hijau. Pertama baca saya feeling dikit ini pasti banyak nyamuk. eh beneer, hehe

    • Betuuull, airnya hijau dan agak sedikit berbau.
      Tp di beberapa blog lain, saya lihat pernah juga warna danaunya coklat. hehehe.

      Meski gitu, tmptnya lumayan tenang mbak. Cuma ya itu, mesti bawa autan biar gk bentol-bentol

    • Lah, enakan di desa dong mas kalau begitu wkwkwkwk. Tinggal melipir keluar rumah udah ketemu kebon, kebonnya malah lebih mirip hutan beneran wkwk

  3. Tempat ini cocok banget kayaknya buat menyendiri, ya. Hehehe. Semoga bisa dapat “perhatian” lebih biar hutan kota ini lebih menarik untuk dikunjungi.

    Next time ke sini, jangan lupa bawa anti-nyamuk 😄😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: