Teguran di Ujung Setang Motor

 

Dua bulan lalu saya merasa stres dan tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Hari-hari terasa suram. Mata sembab. Kepala berat. Semangat menguap. Akhirnya di hari Sabtu pagi saya memutuskan pulang ke Bandung secara mendadak, untungnya masih ada tiket kereta.

Berada di rumah dan bertemu dengan dua keponakan yang masih balita sedikit banyak meluluhkan stres yang hinggap di kepala. Di hari Minggunya, saya kembali lagi ke Jakarta. Tidak naik kereta karena semua tiketnya sudah ludes. Saya naik travel dari Cihampelas dengan tujuan akhir Grogol. Sembari menunggu travel yang datangnya agak molor, saya membatin, “Jakarta lagi. Jakarta lagi.” Lalu saya coba berpikir positif dengan cara mendengarkan lagu-lagu yang liriknya memberi semangat.

Ngeeengg. Travel melaju, melibas jalan Tol Cipularang yang lancar. Memasuki Cikampek, jalan tol lancar menjadi ilusi. Mobil, truk, dan bus berbaris padat merayap. Saya cek di Google Maps, jalanan berwarna merah. Entah kapan sampai Jakarta kalau caranya begini. Ya sudah, saya memilih tidur.

Sekitar jam 11 malam mobil travel tiba di Grogol. Saya lalu memesan Gojek supaya bisa tiba di kantor lebih cepat dan langsung tidur. Busway tidak jadi pilihan karena waktu tunggunya yang lumayan lama, dan jarak dari halte ke kantor yang masih terpaut satu kilometer. Semenit dua menit berlalu, datanglah seorang bapak yang menjadi pengemudi Gojek saya malam itu.

“Mas Aryanto yang ke Kalideres ya?”

“Iya pak. Saya naik ya.”

Di atas motor skuter matik itu perjalanan terasa biasa saja. Pak Gojek menanyakan saya dari mana dan bekerja apa. Saya jawab seadanya karena badan capek dan ingin segera mendarat di kasur. Tapi, kira-kira belum ada dua kilometer motor melaju, saya merasa ada yang aneh. Laju motor melambat dan oleng hingga tiba-tiba kepala si pak Gojek itu tertunduk.

Wadaw! Saya langsung menepuk pundaknya. “Pak, kenapa pak? Ngantuk banget ya?”

Pak Gojek itu kaget dan buru-buru menepikan motor ke pinggir jalan. Beruntung sekali di belakang kami sedang kosong, tidak ada mobil dan motor dalam jarak dekat. Pak Gojek mengiyakan bahwa ia sangat mengantuk.

“Wah bahaya kalau gini pak. Ya sudah, saya aja yang nyetir pak.”

“Aduh, gapapa nih mas? Saya jadi ngerepotin. Maaf mas.”

Sambil bilang “gapapa”, saya meraih setang motor, mengambil alih kemudi. Untungnya motor ini matic, kalau kopling sih ya salam, saya tidak bisa mengemudikannya. Mulai dari halte Indosiar, saya menarik gas pelan-pelan. Rem belakang dan depan motor ini tidak berfungsi baik. Pak Gojek rupanya mengantuk sungguhan, bukan pura-pura. Helmnya beberapa kali menabrak helm saya. “Brakk”. Saya langsung menepuk lutut si bapak. “Pak, tidurnya jangan nyenyak-nyenyak banget, nanti kita berdua yang jatoh malah berabe pak.”

Pak Gojek membalas dengan berkata “Iya, iya mas”, lalu helmnya menabrak helm saya lagi. Ya sudah, apa mau dikata. Saya lalu memutuskan untuk berhenti, tapi pak Gojek minta saya melaju saja karena dia juga ingin cepat pulang. Sepanjang jalan saya berusaha mengajak ngobrol supaya kantuknya agak hilang, dan puji syukur akhirnya kami mendarat dengan selamat di Kalideres.

“Abis ini udah gak akan narik lagi kan pak?”

“Udah nggak mas. Ini udah terakhir. Saya mau pulang langsung ke Poris.”

Untungnya rumah Pak Gojek ini ada di Poris, tidak jauh dari Kalideres. Saya menawarkan si bapak untuk jajan kopi dulu di minimarket, tapi dia menolak.

“Maaf ya mas, saya jadi nggak enak banget. Masnya penumpang, malah jadi yang nyetir.”

“Gapapa pak, yang penting kita selamat. Kok bisa ngantuk banget kenapa pak?”

“Iya, saya narik dari jam sebelas siang, belum balik sama sekali. Lagi butuh mas,” katanya sembari meneguk air putih dari botol.

Hmmm. Saya tertegun. Saat itu sudah hampir jam 12 malam, berarti si bapak sudah berkendara hampir 13 jam. Saya yakin berkendara selama itu di Jabodetabek adalah aktivitas yang menguras tenaga dan emosi. Macetnya, semerawutnya, polusinya, adalah mimpi buruk. Tapi apa mau dikata. Ketika penghidupan terletak di setang motor, mau tidak mau segala risiko itu harus dihadapi oleh si bapak.

Setelah air di botolnya habis, pak Gojek mengakhiri obrolan singkat dengan saya dan pamit pulang. Saya mengucapkan terima kasih dan mewanti-wantinya supaya tidak tidur tengah jalan. “Ingat anak istri di rumah pak. Ati-ati!”

Beliau tersenyum, dan berlalu.

Ah, pekerjaan, apapun bentuknya selalu menyajikan tantangan dan risiko sendiri-sendiri. Adalah baik jika hari itu saya bertemu dengan si bapak yang mengantuk. Ketika tangan saya menyentuh setang motornya, di situlah saya ditegur untuk bersyukur. Sengantuk-ngantuknya saya di kantor, itu tidak akan mengakibatkan saya mati. Sedangkan si pak gojek, jika ia sampai tak kuasa menahan kantuknya saat berkendara, bisa saja akibat fatal menantinya.

Terima kasih pak!

 

3 Comments on “Teguran di Ujung Setang Motor

  1. Dan, beruntungnya pak gojek ketemunya penumpang kayak kamu Ry. Kalo bukan kamu yang jadi penumpangnya, bisa jadi pak gojek bukannya ditawarin buat diboncengin tapi malah dimarah-marahin dan ga dibayar. Melengkapi harinya yang suram. Tiap orang pasti bisa memetik hikmah dari tiap kejadian. Yakin deh, seandainya pak gojek nulis blog juga dia juga akan nulis ttg bersyukurnya ketemu penumpang kayak kamu Ry. 😂

  2. ngeri bangettt … untung ada tukang ojek tembakan … haha
    saya aja pernah ngantuk naik ojek aja sudah bahaya … apalagi driver-nya yang ngantuk …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: