Yanto dan Paijo, Dua Sahabat Beda Bangsa

“Hey Ary!

How are you doing? it´s been a long time since we chatted last time. Hope you are doing well. Many things have happened, also strong earthquake etc. in sulawesi. I wish all the best for your country.”

Hape saya bergetar. Di layar, pesan di atas muncul. Saya yang sedianya sudah siap tidur jadi bangun lagi, mengingat pesan itu dikirim oleh Johannes Tschauner (Jo), yang tinggalnya di Wurzburg, nun jauh di benua biru.

Pesan itu adalah pesan pertama yang dikirimkan oleh Jo setelah dua bulan kami tidak berkomunikasi. Di Agustus lalu dia bilang kalau dia sedang sibuk melamar pekerjaan. Banyak kendala yang mesti dia hadapi. Melamar kerja di Jerman tidak mudah, katanya. Selain mempersiapkan mental masuk ke dunia kerja penuh waktu, dia juga harus bersiap pindah rumah dari kampung halamannya ke kota besar.

Dari sekadar bertanya apa kabar, obrolan kami pun berlanjut panjang. Kantuk saya hilang total. Jari-jari saya menari lincah di atas layar ponsel. Sesekali saya senyum sendiri ketika Jo mengajak saya bernostalgia akan kenangan-kenangan yang dulu pernah kita lalui sewaktu di Jogja.

“Already 24!!!? Time is running! I still remember you when you were a young boy!” tulisnya diakhiri emot tertawa.

Aduh. Waktu memang beranjak sangat cepat. Saya bertemu dengan Jo pada tanggal 8 September 2013. Detail dari pertemuan itu sudah pernah saya tuliskan di sini. Singkat cerita, dari pertemuan itu kami jadi sahabat. Kami pergi traveling di akhir minggu, menumpang di rumah-rumah teman, hingga puncaknya saat Jo kembali lagi ke Indonesia di tahun 2015, kami pergi menjelajahi Sumatra selama sebulan kurang sehari.

Waktu pertama bertemu, usia saya 19 tahun. Sekarang, di tahun 2018 saya sudah 24 tahun dan Jo 28 tahun. Jo sudah menikah setahun lalu, dan saya masih lajang. Jo lantas tertawa, sedikit mengejek tentang status relasi saya. Sial, saya pikir guyonan soal jomblowan-jomblowati ini cuma berlaku buat orang-orang Indonesia saja, rupanya orang Jerman juga melakukannya.

Obrolan kami lalu bertolak kian dalam. Adegan ejek-ejekan dan nostalgia berlalu, kini kami berdiskusi tentang langkah ke depan apa yang ingin diambil. Dulu kalau mengobrol dengan Jo, saya selalu semangat ingin mengejar pendidikan S-2. Tapi sekarang semangat itu hilang entah kemana, mungkin digondol oleh curut. Lenyap tak berbekas. Kesibukan kerja dan umur yang merangkak naik membikin saya jadi tak mau melihat jauh-jauh ke depan. Lihat sehari lewat sehari saja, sambung hidup dari weekend ke weekend. Perihal nanti bisa lanjut kuliah lagi atau tidak, urusan belakangan.

Namun, diskusi malam itu seperti menyalakan kembali sumbu yang padam dalam diri saya. Jo berkata bahwa dia kelak sangat ingin melihat saya melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, dan tentu apabila studi itu dilakukan di benua biru, dia akan menyambut saya di rumahnya, seperti saya dulu menyambutnya di rumah saya di Bandung.

Saya jadi semangat lagi. Semangat bukan untuk mengejar pasti harus bisa kuliah lagi, tapi semangat untuk mengerjakan pekerjaan sekarang dengan sebaik-baiknya. Kalau di sini saya tuntas, mungkin Yang Kuasa kelak akan memberikan sesuatu yang lebih besar.

Dalam tiap obrolan dengan Jo, seringkali yang menjadi topik pembahasan adalah soal problematika kehidupan. Dan, saya selalu terharu setiap kali menerima chat dari dia. Jo sudah tamat S-2 dan dapat pekerjaan yang bagus, tapi dia tidak pernah lupa menjalin relasi dengan orang yang dia anggap sebagai sahabatnya. Sepanjang perjalanan saya berteman dengan puluhan orang asing, hanya satu yang bertahan dan bertumbuh hingga saat ini, yaitu persahabatan dengan Jo.

Persahabatan ini melunturkan sekat-sekat perbedaan di antara kami. Perbedaan bahasa, antara Indonesia dan Jerman bisa pupus karena kami sama-sama menggunakan bahasa Inggris, meskipun my English is broken. Perbedaan budaya pun bisa dijembatani dengan keinginan untuk saling mengenal. Karena kami merasa relasi kami sudah dekat, saya pun lalu memberinya nama Indonesia, atau lebih tepatnya nama Jawa kepada Jo: ‘Paijo’.

Jo tidak marah dengan panggilan ‘Paijo’, malah dia senang. Waktu awal nama ini disematkan padanya, dia berkata kalau ada temannya yang bilang, “kok Paijo sih? Ini kan kayak nama tukang bakso.” Paijo menanggapi santai. Dia lalu menyebut saya dengan Yanto, yang menurutnya sejajar dengan Paijo.

Saya masih ingin mengobrol, tapi mata tak kuat lagi. Jam sudah setengah satu pagi. Saya harus tidur kalau tidak ingin menjadi mayat hidup di kantor. Saya pamit kepada Jo dan memberitahunya bahwa perbedaan waktu antara Jakarta dan Jerman memaksa saya undur diri duluan.

Dari Jo saya belajar bahwa jarak, budaya, suku, bahasa, bahkan cara pikir boleh menjadi sekat perbedaan, tetapi satu hal yang bisa membuat persahabatan itu langgeng adalah: keinginan untuk tetap bersahabat. Ketika keinginan ini ada, gengsi akan luruh. Tiada lagi gengsi untuk menyapa duluan. Pun tidak ada lagi perasaan tidak dianggap karena tidak dikirimi chat sekian lama. Masing-masing kami percaya bahwa di dalam kesibukan kami sehari-hari, kami memelihara komitmen persahabatan kami dan memupuknya lewat doa-doa yang kami panjatkan.

“Okay, Ary!” tutup pesan Jo di WhatsApp. Tak lupa dia juga memberitahu saya bahwa di tahun 2020 nanti dia akan datang kembali ke Indonesia, dan kami akan memulai petualangan kembali seperti yang dulu kami lakukan saat masih berada di Jogja.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s