Sejoli Tua di Atas Kereta Api

Beberapa saat lagi Kereta Api (KA) Argo Dwipangga akan tiba di jalur 5 Stasiun Tugu, Yogyakarta. Kereta berangkat dari Stasiun Solo Balapan dengan tujuan akhir menuju Stasiun Gambir, Jakarta.

Saat pengumuman berbunyi, saya bergegas menyiapkan diri ke sisi peron. Saya akan duduk di Eksekutif-9. Letaknya di ekor rangkaian. Di kanan kiri saya puluhan penumpang lain juga sudah bersiap. Kereta paling ujung ini kursinya dijual dengan harga promo semua, cuma 150 ribu saja. Pantaslah banyak penumpang yang naik kendati hari itu adalah hari Selasa, bukan hari di mana angkutan kereta laris manis okupansinya.

Kereta berhenti dan saya naik ke dalamnya. Saya berjalan ke tengah, menuju posisi duduk di kursi nomor 8D. Tapi, di kursi itu sudah duduk sejoli, mereka sudah suami istri. Penampilan fisik mereka menyiratkan usia yang tak lagi belia. Uban putih tumbuh subur di kepala si bapak dan garis-garis kerut tampak jelas di wajah si ibu. Mereka menatap saya dengan pandangan agak heran. 

“Permisi bapak, mohon maaf saya duduk di kursi nomor 8D gerbong 9. Bapak kursinya di sebelah mana?” Sebelum menegaskan bahwa mereka salah posisi kursi, saya coba menyapa dengan sopan.

Bapak itu tersenyum, lalu merogoh selembar boarding pass yang dia letakkan di saku belakang celana.

“Sebentar ya mas, saya ambil dulu tiket saya.”

Setelah boarding-pass itu terambil, beliau menyodorkannya kepada saya dan berkata, “Mas, saya sudah puluhan tahun nggak naik kereta api. Saya nggak tahu di mana harus duduk. Tadi pas naik kosong, ya sudah saya duduk langsung.”

Saya meraih selembar kertas kecil berwarna oranye itu dan mendapati bahwa sang bapak dan istrinya naik dari Stasiun Klaten. Mereka seharusnya duduk di Eksekutif 3, tapi karena tidak tahu, mereka kesasar di Eksekutif 9, gerbong paling bontot dari rangkaian ini.

“Bapak dan ibu harusnya duduk di Eksekutif 3, kalau di sini itu Eksekutif 9. Eksekutif tiga ada di depan pak.”

“Oalah. Maaf, maaf, maaf ya mas. Saya nggak tahu,” kata sang bapak. Istrinya pun kemudian menghaturkan juga maaf.

“Nggak apa-apa pak, bu. Eksekutif tiga ada di depan, bapak dan ibu jalannya lewat dalam saja, jangan keluar kereta karena sudah mau berangkat. Mari saya bantu dan antar.”

Mereka menolak antaran saya. Yang penting sudah tahu posisinya di gerbong tiga, begitu katanya. Mereka mau jalan sendiri saja ke depan. Saya lalu menolong mereka menurunkan dua buah koper besar dari rak bagasi. 

Absen naik kereta selama puluhan tahun membuat mereka jadi bingung dengan sistem kereta api sekarang yang sangat teratur. Ada cetak boarding-pass, masuk stasiun baru boleh H-1 jam, dan kereta yang tidak ada lagi pedagang asongan. Mereka pikir cara naik kereta hari ini masih sama dengan masa lalu, di mana penumpang duduk berdasarkan siapa cepat dia dapat, bukan berdasar nomor yang tertera di tiket. Pilihan duduk di gerbong paling belakang pun tidak datang tiba-tiba. Mereka pikir posisi paling ekor itu pasti kosong. Saat naik dari Stasiun Klaten, mereka segera menghampiri si gerbong paling bontot ini.

Malam itu jadi peristiwa yang sederhana tapi berkesan buat saya. Di tengah perubahan yang bergulir cepat, ada orang-orang yang belum memahami atau bahkan merasakan perubahan itu. Benak mereka dipenuhi akan apa yang terjadi pada masa mereka. Namun, mereka tidak seharusnya jadi orang yang tersisih dari perubahan dan kemajuan zaman. Bersyukur apabila malam itu saya berkesempatan untuk mengenalkan sedikit perubahan yang lebih baik dalam cara naik kereta kepada mereka.

Saya tak perlu marah atas kursi yang diserobot oleh mereka. Malah, saya perlu berkaca dan merenung, mungkin kelak saat usia saya sudah seperti mereka, saya bisa saja melakukan kesalahan serupa. Dan menemukan seorang muda yang mau memberikan pelayanan dengan baik tentu adalah suatu sukacita tersendiri.

4 respons untuk ‘Sejoli Tua di Atas Kereta Api

  1. Benar mas, ketika kita bisa berkomunikasi dengan baik, maka semuanya bisa diatasi. Saya ada cerita yang mungkin berbeda dengan mas. Pas naik pesawat, tempat duudk saya dekat jendela (satu baris 3 kursi). Ketika saya datang sudah ada yang duduk (perempuan dan masih muda).

    Saya bilang baik-baik kalau saya di sana, malah saya diprotes karena duduk satu baris saja masih dipermasalahkan. Entahlah, mungkin niat saya ingin memberitahu, tapi kok tidak semua hal yang kita sampaikan bisa ditangkap dengan bijak ahahahhaha

    1. Itu menyebalkan banget ya mas. Ada orang-orang yang masih gak ngeh soal tempat duduk di boarding pass. Grrr.
      Dulu juga sy pernah kayak begitu pas naik Jayakarta Premium. Duduk di 5D, disuruh pindah ke 5B dengan alasan dia udah pw duduk di situ.

      Mungkin perlu sosialisasi lebih tegas ya dari pihak perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s