Ada di Jogja, Tiada di Jakarta

Kereta Api Jaka Tingkir mengantarkan saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Di depan stasiun, Tegar sudah menanti. Di kepalanya masih terpasang helm hitam merek Honda, yang tak konsisten dengan motor bebeknya, Yamaha. 

“Akhirnya Mbud! Jogja lagi!” sapa saya sembari menepuk pundaknya. “Mbud” adalah panggilan akrab untuk Tegar, yang sejarahnya hanya segelintir orang saja yang tahu. 

Tegar tertawa, lalu geleng-geleng kepala. Masih saja panggilan itu disebut-sebut. Katanya, cuma saya seorang yang masih setia memanggilnya dengan julukan itu.

Sejak dua tahun pindah ke Jakarta, saya selalu rutin ‘pulang’ ke Jogja, meski tanah kelahiran saya sejatinya bukanlah di kota ini. Jogja dengan segala kenangan dan romansanya adalah sesuatu yang tak bisa lepas dari pikiran. Hingga saya pernah menuliskan di dalam jurnal harian saya, “Aku ini ragaku ada di Jakarta, tetapi jiwaku tertinggal di Jogja.”

Sepeda motor pun melaju di jalanan Jogja yang padat, tapi kami belum menentukan mau pergi ke mana. Pokoknya makan malam, titik. Nanti ada Tathya, seorang rekan kuliah yang setahun lebih tua dari kami, akan ikut bergabung. Semenit dua menit berpikir, pilihan kami jatuh ke kedai Soto Sampah yang lokasinya ada di utara Tugu. Tegar setuju, kami belok kiri di perempatan Sagan, dan sejurus kemudian tiba di sana.

Kedai Soto Sampah adalah warung makan pinggir jalan yang cuma buka kalau malam. Kenapa namanya sampah? Apakah karena lokasinya dekat dengan tempat sampah? Bukan. Konon katanya, penampakan soto yang tersaji di atas piring mirip dengan sampah. Tapi, jawaban itu tidak memuaskan saya. Sepiring soto di atas piring itu tampak layaknya soto lainnya. Ah, tapi ya sudah, biarlah asal muasal penamaan ini tetap menjadi misteri.

Kami memesan dua piring soto dan empat tempe goreng. Kami duduk di atas tikar yang digelar di tepi jalan. Cahaya oranye temaram dari lampu jalan menjadi penghangat makan malam kami saat itu. Tegar lalu bertutur tentang perjalanan kuliahnya yang akhirnya telah tiba di penghujung. Dia sudah selesai sidang dan dinyatakan lulus. Bulan depan dia akan wisuda. Perjalanan studinya tidak mulus. Ada badai-badai hebat yang hampir menumbangkannya. Tapi dia bangkit lagi. Jatuh lagi. Bangkit lagi, sampai akhirnya puncak studinya pun bisa tergapai.

Di tengah obrolan itu, Tathya lalu datang. Dengan wajah sedikit cemberut dia duduk di atas tikar, bergabung dengan kami dan meluapkan kekesalannya.  

“Mas ojeknya aneh. Masak aku diminta nunggu lama, terus dia juga gak tahu jalan,” ujarnya sambil merapikan rambut. Emosi itu membuat senyum enggan terbit di wajahnya. 

Tathya bukan tipe orang yang selow. Sedari kuliah dulu, dia adalah ratu sibuk. Hampir segala kegiatan dia ikuti. Dari matahari terbit sampai langit gulita, aktivitas Tathya tiada habisnya. Pagi kuliah, siang jadi penyiar radio, sore jadi asisten lab, malam rapat, ikut komunitas ini-itu, belum ditambah kerja kelompok dan lainnya. Cara hidup itu rupanya tidak pupus tatkala ia menamatkan studinya. Setelah bekerja, pekerjaan Tathya tidak kurang sibuk dibandingkan kuliahnya. Sebagai seorang atasan di tempat kerjanya, Tathya setiap hari harus wara-wiri. Kadang dia lelah dan ingin marah. Tapi dia selalu tahu bagaimana cara memulihkan dirinya.

Malam itu Tathya datang dengan setumpuk pikiran tentang kerjaan, dan juga sebongkah rasa sakit yang tertanam dalam perutnya. Siklus kewanitaannya sedang berlangsung. Saya tidak tahu sakitnya seperti apa, tapi dari mimik mukanya cukuplah saya tahu bahwa itu memang sakit, bukan perkataan belaka.

Obrolan kami berlanjut. Satu suapan soto di mulut dilanjutkan dengan sederet kalimat panjang. Begitu seterusnya hingga sepiring soto itu ludes.

Satu hal yang menarik adalah, di tengah segala keruwetan masalah hidup masing-masing, Tegar dan Tathya bersedia meluangkan waktunya di suatu malam untuk sekadar bertemu dengan saya. Saya bukanlah tamu agung, bukan pula tamu yang spesial-spesial amat. Tapi, kesediaan mereka untuk bertemu inilah yang menjadikan pertemuan malam itu terasa spesial dan hangat.

Di Jakarta, kehidupan saya kebanyakan hanya berkutat di kantor dan kamar. Pulang kerja sudah malam, tak ada waktu lagi untuk berkomunikasi tatap muka dengan rekan. Lokasi mereka jauh-jauh. Saya tinggal di pojok barat dekat bandara, sedangkan rekan lainnya tersebar di daerah pusat, timur, dan selatan. Mau nekat bertemu mereka, artinya harus nekat pula berjibaku dengan kemacetan dan waktu tempuh yang panjang. Pun itu kalau temannya mau diajak ketemu. Dengan rutinitas pekerjaan yang tiada habisnya, pertemuan tatap muka dengan kawan menjadi sesuatu yang langka. Meskipun ada niatan menggebu untuk mewujudkannya, tak jarang cuma jadi sekadar wacana yang tak pernah terlaksana. 

Alhasil, sebagai seorang lulusan Ilmu Komunikasi yang diajar bahwa bentuk komunikasi terbaik adalah komunikasi tatap muka, tetapi kehilangan banyak kesempatan untuk mewujudkan komunikasi jenis itu, saya jadi stres. Ingin bicara, tapi rekan-rekan sibuk. Kalau pulang ke Bandung pun kasusnya kadang sama. Ada teman yang ingin bertemu, tapi karena kesibukan, rencana pun tinggal wacana. Kota Metropolitan memang menawarkan karier, tapi kadang ia tidak memberi ruang komunikasi yang hangat.

Kesibukan sehari-hari menjadikan waktu luang adalah barang langka. Tapi, terkadang, waktu luang itu ada bukan karena ia ditunggu lalu muncul, tapi karena ia dengan sengaja diciptakan.

Waktu terus melaju, tanpa pernah memberi jeda. Detik demi detik yang berlalu di belakang hanya akan jadi kenangan. Satu detik yang diciptakan untuk menjalin komunikasi tatap muka adalah investasi yang nilainya besar. Kala menjalin obrolan hangat dengan kawan, tak hanya transfer pengalaman yang terjadi, tapi juga ada transfer sukacita dan semangat, atau bahkan kesedihan untuk ditanggung sama-sama.

Dari obrolan singkat di kedai soto sampah malam itu, bibit semangat kembali ditanam di dalam hati saya, yang biasanya sendu karena dikoyak-koyak sepi di Jakarta. Sebuah kota menjadi istimewa bukan melulu karena fisik kota tersebut, melainkan juga karena orang-orang yang berada di dalamnya.

4 respons untuk ‘Ada di Jogja, Tiada di Jakarta

  1. Tentang sakit perut saat datang bulan, tak perlu dipikirkan banget Mas, Emang sakit banget kok 😄😄

    Beruntung ya punya teman seperti Thatya dan Tegar . Semoga persahabatan kalian Abadi. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s