Ereveld Menteng Pulo dan Sekelumit Nestapa Perang

Delapan dekade lalu perang mahadahsyat pernah berkecamuk. Perang yang bermula di Eropa dengan cepat menjalar ke berbagai penjuru dunia, tak terkecuali kepulauan Nusantara yang kala itu masih bernama Hindia-Belanda. Meski pada tahun 1945 perang dinyatakan berakhir dan dimenangkan oleh pihak Sekutu, jerit dan pilu keganasannya tak pernah benar-benar sirna. Kemenangan sekalipun tak mampu memulihkan luka dari perang.

Jika kita menyambangi Jakarta, di sini terdapat dua loka bersejarah yang menyimpan bongkahan-bongkahan cerita terkait bagaimana perang tersebut berkobar dahsyat di negeri kita. Ereveld Menteng Pulo namanya. Kompleks pemakaman korban perang di pihak Belanda dan Inggris ini terletak dekat dengan Kota Kasablanka, mal hits di Jakarta Selatan.

Kali pertama saya mengunjungi Ereveld Menteng Pulo adalah Maret 2018. Waktu itu Gara, Ryan, dan Indi, ketiga rekan pecinta sejarah mengajak saya untuk tapak tilas ke sana. Singkat cerita kesepakatan terwujud. Kami bertemu di Stasiun Tebet pada hari Sabtu pagi, dilanjutkan dengan naik taksi online sampai ke depan komplek makam.

Sebelumnya Gara sudah pernah berkunjung ke sini. Dialah yang paling tahu tentang seluk beluk lokasi hingga tata cara masuk ke makam.

“Langsung buka aja pintu pagarnya. Gak usah pencet bel. Nanti di dalam ada lonceng, bunyiin di situ aja,” kata Gara meyakinkan saya yang masih clingak-clinguk melihat suasana di luar pagar kompleks makam. Pagi itu parkiran makam tampak kosong, pun jalan di depannya sepi. Saya pikir makam ini masih tutup. Tapi, nyatanya makam sudah buka. Pagar depan memang selalu ditutup, tetapi tidak dikunci gembok.

Dari pelataran parkir, sebuah gapura bertuliskan “Ereveld Menteng Pulo” menyambut kami. Ereveld adalah kata dari bahasa Belanda yang berarti “ladang kehormatan”, dan Menteng Pulo adalah nama lokasi di mana makam berada. Tanah ereveld berada di Jakarta, tetapi pengelolaannya dilakukan oleh Oorloch Gravenstichting alias Yayasan Makam Kehormatan Belanda. Di meja kecil yang di atasnya terletak buku tamu, ada tiga bahasa yang tertulis: bahasa Belanda, Indonesia, dan Inggris.

Ereveld Menteng Pulo, rumah istirahat abadi dari kemelut perang

Saya beruntung pergi ke sini bersama Gara karena sebelumnya ia sudah menghubungi Elisa Bharka, seorang yang ditunjuk oleh OGS untuk bertanggung jawab atas pengelolaan makam.

Pak Elisa, demikian kami memanggilnya, hari Sabtu itu kebetulan sedang berada di kantor dan ia tidak keberatan menjadi pemandu kami. Sebelum mengajak kami berkeliling, ia bertutur sejenak tentang sejarah berdirinya Ereveld Menteng Pulo.

Pak Elisa bertutur tentang Ereveld Menteng Pulo kepada kami

Pada tahun 1947 terdapat 22 ereveld di seluruh Indonesia. Tapi tidak semua ereveld itu berukuran besar. Ada yang ukurannya hanya sepetak-petak saja. Karena lokasi yang tersebar, biaya mengurusi makam ini jadi mahal. Akhirnya pada masa transisi, makam-makam itu jumlahnya diperkecil. Makam yang ukurannya kecil disatukan ke makam lain yang lebih besar. Dari 22 ereveld, hari ini hanya terdapat 7 ereveld yang masing-masing terletak di Bandung (Pandu dan Kherkoff Leuwigajah), Jakarta (Menteng Pulo dan Ancol), Semarang (Candi dan Kalibanteng), dan Surabaya (Kembang Kuning).

Di Ereveld Menteng Pulo sendiri terdapat kurang lebih tiga ribu korban perang yang berisitrahat dalam damai. Setiap tanggal 4 Mei diadakan peringatan sebagai hari berkabung atas gugurnya jiwa-jiwa. Dan, tanggal 15 Agustus juga diperingati sebagai hari berakhirnya Perang Dunia II.

Pak Elisa lalu mengajak kami masuk ke sebuah bangunan yang terletak di tengah pemakaman. Bangunan ini bernama Columbarium, yang artinya rumah abu. Di tengah bangunan terdapat kolam ikan. Di dinding-dindingnya dibuat sebuah cerukan besar, mirip seperti rak yang digunakan sebagai tempat penyimpanan guci.

“Guci-guci ini dibuat dari beton. Di dalamnya isinya abu jenazah. Di sini totalnya ada sekitar 742 jenazah,” tutur Pak Elisa.

Abu-abu tersebut adalah jenazah dari orang-orang Belanda dan Indonesia yang tergabung dalam KNIL. Ketika Jepang menyerbu Indonesia pada 1942, mereka ditangkap dan dibawa ke Jepang untuk dijadikan romusha. Mereka lalu meninggal dunia di sana. Ketika Amerika Serikat mengebom Jepang, mereka menemukan makam-makam tentara KNIL itu. Untuk memulangkan jenazah-jenazah itu ke Hindia Belanda butuh ruang dan biaya besar, jadi pihak AS kala itu melakukan kremasi terhadap jenazah dan membawa pulang abunya untuk disemayamkan di tempat asalnya.

Guci-guci abu ini berwarna kelabu, berpadu dengan cat dinding yang berwarna krem. Di beberapa guci, terdapat karangan bunga. Ada yang masih segar, ada juga yang sudah layu. Kata Pak Elisa, bunga itu adalah pemberian dari anggota keluarga almarhum yang masih hidup. Tapi makin ke sini makin sedikit bunga yang datang, mengingat jarak antar generasi yang semakin jauh. Kebanyakan generasi muda tak lagi memilki kedekatan emosional yang erat dengan para korban perang di sini.

Gugur di usia muda

Keluar dari rumah abu, kami berjalan-jalan di atas rerumputan hijau. Salib-salib putih ditata rapi dan sejajar. Kalau pernah menonton film-film Hollywood, makam-makam ini seperti di luar negeri.

Meski tampak Instagrammable, Pak Elisa memberitahu kami untuk tidak mengambil foto close-up nisan-nisan di makam ini. Pernah suatu ketika ada pengunjung yang berfoto secara close-up (mungkin juga selfie) dengan salah satu makam, kemudian mengunggahnya di media sosial. Ketika foto itu tersebar, ada pihak keluarga yang mengenali makam itu. Mereka lalu mengajukan keberatan. Sejak saat itu tiap pengunjung dihimbau untuk lebih beretika dalam mengambil foto, mengingat makam-makan di sini sejatinya adalah tempat peristirahatan terakhir, bukan sekadar objek wisata.

Kompleks pemakaman Belanda
Kompleks pemakaman Inggris

Ada tiga kompleks utama di sini. Bagian pertama adalah kompleks pemakaman Belanda. Kebanyakan yang gugur di sini adalah tentara Belanda dan tentara warga lokal yang tergabung dalam KNIL. Bagian kedua adalah tentara Inggris non-kulit putih yang adalah orang-orang India dan Pakistan. Bagian ketiga adalah tentara Inggris kulit putih. Baik Belanda maupun Inggris kala itu sama-sama berjuang mempertahankan wilayah dari serbuan Jepang. Tapi sayang, di tahun 1942, mereka tampil menjadi yang pihak yang kalah.

Satu hal yang membuat kami bergidik adalah usia-usia yang tertulis di atas nisan. Kebanyakan tentara tersebut meninggal di usia 20-an, usia sepantaran kami. Pikiran kami menerawang. Mati muda mungkin bukanlah pilihan yang didamba mereka. Tapi apa dapat dikata, zaman itu dunia memang penuh pergolakan. Mereka mau tak mau harus mati demi mempertahankan kedaulatan negara.

Perang Dunia II yang berlangsung kurang lebih tiga tahun telah merenggut korban lebih dari 62 juta jiwa, atau sekitar 3 persen dari total populasi dunia kala itu.

Simultaankerk

Kembali ke bangunan di samping rumah abu, di sana terdapat sebuah gereja yang warnanya berwarna putih. Gereja ini didesain oleh Letkol H. van Oerle dari Royal Netherlands Engineer. Meski disebut sebagai gereja, tetapi arsitekturnya merepresentasikan kepercayaan dari agama-agama lain seperti Islam, Yahudi, dan Buddhis.

Gereja Simultan yang berdiri di tengah kompleks makam menjadi simbol akan perjuangan melawan perang yang dilakukan oleh manusia-manusia dari beragam latar belakang, termasuk agama. Mereka yang gugur di sini tidak hanya berasal dari satu agama saja. Ada orang Kristen, Katolik, Islam, Buddha, Hindu, Sikh, dan lainnya. Agama mereka dapat terlihat dari bentuk masing-masing nisan.

Kata Pak Elisa, gereja ini biasanya ramai orang saat upacara peringatan berlangsung, atau kala pengunjung datang dalam jumlah besar. Sekarang sudah 73 tahun berlalu sejak perang usai di tahun 1945. Para veteran maupun anak-anaknya sudah menjadi sangat tua atau meninggal dunia. Kunjungan orang-orang Belanda ke sini pun semakin menurun dari segi kuantitas.

Pak Elisa lalu menyemangati kami untuk menjadi ‘duta’ dari makam ini. Sebagai anak muda yang lahir di penghujung milenium, kami mungkin tak mengenal bagaimana kengerian perang di masa lalu itu berlangsung. Tapi dari kunjungan ke Ereveld Menteng Pulo inilah kami dapat mengecap sedikit dari nuansa itu. Betapa perang, meski diakhiri dengan seorang pemenang, sejatinya menyisakan pilu yang tak lekang oleh waktu.

 

*Informasi terkait Ereveld Menteng Pulo:

  • Ereveld buka setiap hari sejak pukul 07:00 sampai 17:00
  • Tidak dikenakan biaya berkunjung ke sini, tetapi pengunjung boleh menyalurkan donasinya untuk biaya perawatan makam
  • Tidak diperkenankan memotret makam secara close up
  • Ereveld Menteng Pulo bukanlah objek wisata, jadi silakan datang dengan niatan utama untuk belajar, bukan untuk foto-foto ala-ala.

 

 

8 respons untuk ‘Ereveld Menteng Pulo dan Sekelumit Nestapa Perang

  1. Di dekat muara banjir kanal barat di semarang, ada sebuah monumen dari batu gede. Suasananya tenang seperti namanya, monumen ketenangan jiwa. Konon di muara itu ditemukan banyak mayat tentara jepang yg menjadi korban dari pertempuran lima hari di semarang.

    Memang perang bagaimanapun selalu membawa kerugian, materil maupun nyawa2 manusia yg harus dibayar. :((

  2. Dulu waktu saya menyewa virtual office di Park 88 Casablanca, view nya langsung ke makam ini tapi saya belum pernah masuk ke dalamnya. setiap kali saya memandang ke arah makam ini, rasanya jiwa saya tenang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s