Mengecap Perjalanan di Atas Kereta Api Brantas

Jumat (12/10) akhirnya terwujud juga keinginan saya untuk menjajal Kereta Api Brantas (KA) yang belum pernah saya naiki sepanjang hidup.

Kilas balik ke dua bulan yang lalu, saya berencana pergi ke Solo di bulan Oktober. Ada banyak pilihan layanan kereta api yang melayani rute Jakarta sampai ke Solo. Ada Senja Utama Solo yang berangkat jam sepuluh malam, juga ada Bengawan, si kereta yang tarifnya paling murah tapi jam berangkatnya tidak ideal: pukul 11:20. Tidak mungkin naik KA Bengawan, harus mengajukan cuti sehari dari kantor kalau begitu.

Scrolling-scrolling tiket akhirnya pilihan saya jatuh ke KA Brantas yang tujuan akhirnya adalah Stasiun Blitar dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih empat belas jam, kalau ke Solo waktu tempuhnya kurang lebih sepuluh jam saja. Tarif KA Brantas adalah 80 ribu rupiah, lebih mahal enam ribu dibandingkan KA Bengawan yang tarifnya 74 ribu.

Sepuluh jam di atas Brantas

Jam empat lima belas sore saya tiba di Stasiun Pasar Senen. Suasana stasiun sore itu relatif lebih lengang kalau dibandingkan dengan jam delapan hingga sembilanan malam. Jumlah kereta yang berangkat di sore hari tidak sepadat yang berangkat di jam malam. Penumpang KA Brantas telah diperbolehkan check in di pintu kedua. Pintu pertama dikhususkan untuk penumpang KA Majapahit.

Rangkaian KA Brantas hari itu membawa serta 8 kereta ekonomi + 1 kereta makan + 1 kereta bagasi. Total satu rangkaian KA Brantas terdiri dari 10 kereta. Saya duduk di Ekonomi-6 kursi nomor 7D. Sewaktu memesan tiket ini dua bulan lalu, seluruh kursi nomor E dan A yang letaknya di pinggir kaca sudah ludes semua. Tapi duduk di kursi D masih lebih baik daripada kursi B, yang diapit oleh penumpang nomor A dan C. Mati gaya.

Peron tiga Stasiun Pasar Senen kala jam setengah lima sore.

Penumpang di depan dan kanan saya adalah bapak-bapak. Satu turun di Solo Jebres, satu turun di Madiun, dan satu turun di Walikukun. Kami berkenalan sejenak lalu bersepakat soal posisi kaki, siapa yang mau menyilang ke kiri, siapa yang mau ke kanan. Dalam naik kereta ekonomi, hal ini penting. Kalau tidak ada koordinasi antar penumpang, kaki tidak bisa selonjor. Terbayang toh bagaimana pegalnya menekuk kaki 10 jam lebih?

Tepat pukul 17:00 kereta berangkat dari Pasar Senen. Kereta melaju pelan melintasi jalur padat yang menuju Jatinegara. Sesekali laju kereta tersendat, memberi jalan untuk kereta lain lewat. Selepas Jatinegara, barulah laju kereta dipercepat. Kereta (gerbong) ekonomi yang saya naiki adalah milik dipo Blitar, dan berspesifikasi D yang artinya laju kecepatan maksimum kereta adalah 90 km/jam.

Selepas Bekasi langit mulai remang, dan laju kereta lebih konstan. Berhubung saya tidak duduk di samping kaca, jadi saya mengusir jenuh dengan baca buku. Sekitar jam enam, kereta telah melintasi Cikampek, dan baru berhenti untuk naik turun penumpang selanjutnya di Stasiun Haurgeulis.

Kendati usia kereta ekonomi yang saya naiki sudah 20 tahun, tapi perjalanan di atasnya tetap terasa nyaman. Goncangan selama kereta melaju kencang tidak terlalu kentara. Saya tetap bisa tidur tanpa kepala terjatuh ke kanan atau ke kiri. Kenyamanan in didukung dengan suspensi kereta yang baik dan juga kondisi rel. Sebagai lintasan utama di Pulau Jawa, jalur kereta di pantai utara sudah menggunakan spesifikasi batang rel dengan tipe R54, yang artinya berat tiap satu meter potongan rel adalah 54 kilogram. Rel tipe ini adalah tipe standar yang memungkinkan kereta api dengan beban berat melaju kencang di atasnya.

Penumpang turun sejenak keluar kereta di Stasiun Cirebon Prujakan.

Jam setengah sembilan, kereta tiba di Stasiun Cirebon Prujakan. Di sini kereta berhenti lebih dari 10 menit. Penumpang yang lapar segera menghambur ke warung-warung di sisi selatan stasiun. Satu paket nasi rames harganya 12 ribu, lebih murah daripada nasi goreng di atas kereta yang harganya 23 ribu. Setelah ritual beli makanan usai, beberapa penumpang tidak langsung naik ke atas kereta. Mereka menjalankan ritual lainnya, merokok sebatang dulu.

Selepas Cirebon, saya berpindah ke kereta restorasi, membeli segelas teh panas dan duduk di samping kaca. Meski sudah ratusan kali naik kereta, saya tetap emoh kalau duduk tidak di pinggir kaca. Rasanya ada yang kurang.

Kereta melaju kencang, melalui stasiun demi stasiun di lintasan utara. Di Tegal, kereta berhenti sejenak, lalu melaju kembali ke timur. Di Pekalongan, KA Brantas yang saya naiki berpapasan dengan sesama KA Brantas yang melaju ke barat. Di Semarang Tawang, kereta berhenti 20 menit lebih. Lumayan lama. Saya lalu turun, memotret suasana stasiun kala tengah malam, lalu kembali naik ke atas kereta.

Stasiun Tegal
Stasiun Semarang Tawang

Saat meninggalkan Semarang, hari telah berganti, pun para penumpang satu per satu mulai tumbang terlelap. Perjalanan KA Brantas kemudian meninggalkan jalur utara, berbelok ke selatan di Stasiun Brumbung. Lintasan rel di antara Stasiun Brumbung hingga Solo Jebres merupakan jalur bersejarah tetapi sepi dari kereta yang melintas. Setiap harinya hanya KA Brantas, Matarmaja, Majapahit, Bangunkarta, dan Kalijaga yang melintasi jalur ini. Sayang, karena tengah malam, pemandangan di balik jendela hanya ada kegelapan.

Di Stasiun Gundih, kereta berhenti lima belas menit untuk tunggu silang dengan KA Majapahit. Saya beranjak dari kursi, membuka pintu bordes dan memotret stasiun dengan kamera ponsel. Stasiun Gundih ini tampak cantik. Bentuk bangunannya kentara sekali dengan nuansa kolonial. Pun tipe stasiun ini adalah stasiun pulau, di mana bangunan stasiun berada di tengah-tengah rel. Selain Gundih, stasiun dengan tipe pulau yang sarat nuansa sejarah adalah stasiun Kedungjati, juga stasiun Cikampek yang kini merupakan salah satu stasiun paling sibuk di Jawa.

Stasiun Gundih pukul dua dini hari.
Terlelap di kala malam.

Setelah KA Majapahit melintas, KA Brantas kembali berangkat. Saya tidak tidur lagi, jarak menuju Solo Jebres kian dekat. Jam setengah tiga, kereta sudah melalui Stasiun Kalioso. Pengumuman pun berbunyi, membangunkan para penumpang yang sedianya terlelap.

Sesuai jadwal, pukul 02:47, KA Brantas berhenti di jalur I Stasiun Solo Jebres. Waw. Rasanya cepat, tahu-tahu sudah sampai saja. Di depan stasiun, kawan saya sudah menanti dengan sepeda motornya.

Epilog

Perjalanan ini adalah perjalanan ke-73 dengan kereta api di periode 2017-2018. Selayaknya kereta ekonomi bersubsidi lainnya, sejatinya tidak ada perbedaan yang kentara dari segi fasilitas kereta. Namun, buat saya pribadi, pergi naik kereta ekonomi tak melulu bicara tentang bagaimana berpindah dari satu kota ke kota lainnya dengan harga murah. Lebih dari itu, kereta api ekonomi menyajikan kisah perjuangan tersendiri.

Di dalamnya terdapat orang-orang yang menaruh rindu, di mana rindu itu terpisah oleh jarak ratusan kilometer tetapi terhubung oleh satu ikatan: cinta.

Di kereta ini jugalah interaksi antar sesama manusia terjadi. Ketika lutut saling beradu dan kaki pegal, mau tidak mau harus berkoordinasi dengan penumpang di yang duduk di depan agar bisa mengatur posisi kaki dengan nyaman. Tapi, saya mendapati di beberapa perjalanan, komunikasi ini tidak terwujud. Ada penumpang yang semaunya sendiri. Sedari naik sudah pasang muka tak bersahabat, seolah kereta itu adalah ranah pribadi miliknya sendiri. Kakinya pun dirapatkan, hingga penumpang di depannya sulit untuk berselonjor.

Ah, terima kasih Brantas. Karenamu, aku bisa tiba di Solo dan bertemu dengan orang-orang yang menempati posisi spesial di dalam hati.

Jadwal KA Brantas:

Berangkat dari Pasar Senen (PSE) ke Blitar (BL): pk 17:00
Berangkat dari Blitar (BL) ke Pasar Senen (PSE): pk 12:50
Tarif: Rp 80.000

Rute: Jakarta – Blitar via Cirebon Prujakan – Tegal – Pekalongan – Semarang Tawang – Gundih – Solo Jebres – Madiun – Kertosono – Kediri

2 respons untuk ‘Mengecap Perjalanan di Atas Kereta Api Brantas

  1. Beberapa kali lewat petak Brumbung-Kedungjati sampe Jebres itu kereta ga bisa ngebut ya, padahal minim persilangan karena yg lewat cuma dikit. Kadang relnya emang masih jelek. Kadang pula ga ada guncangan berarti tapi dari boogie suaranya kenceng banget.

    1. Iya. Mgkin kondisi rel, mungkin juga banyak lengkungan kali ya mas?
      Aku tiap lewat petak itu selalu malam. Gelap, gak bisa lihat apa-apa.

      Tapi selepas stasiun Gundih sampai Kalioso laju kereta cepat lagi nih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s