Terasering Panyaweuyan, Secuplik Swargaloka di Bumi Majalengka

Pernah mendengar nama Panyaweuyan?

Kalau nama itu diketik di mesin pencari, maka muncul berbagai laman yang menggambarkan keindahan kebun sayur yang berjejer rapi di punggung-punggung bukit. Sedap dipandang. Saya tidak sengaja menemukan postingan tempat ini saat sedang buka Instagram. Kira-kira tiga bulan setelah itu, saya pun menyambanginya dan dibuat kagum oleh panorama Terasering Panyaweuyan yang rasanya seperti gambaran kecil sebuah swargaloka.

Perjalanan ke Panyaweuyan

Perjalanan kali ini terwujud berkat ide ingin keluyuran dari Yoga, seorang rekan sesama tukang keluyur. Kami bertemu secara tidak sengaja di Pelabuhan Sunda Kelapa. Melihat masing-masing kami membawa kamera, kami bertegur sapa, dan akhirnya berlanjut jadi kawan jelajah.

Kami sepakat untuk menggunakan akhir pekan terakhir di bulan September untuk ngetrip bareng, destinasi utamanya: Cirebon. Sabtu pagi, kami berangkat tepat pukul 07:35 menaiki KA Tegal Ekspress seharga 45 ribu per sekali jalan. Sekitar jam 11.30, kami tiba di Cirebon Prujakan dan mengambil sepeda motor pinjaman di rumah kawan.

Hmmm. Namun, perjalanan ini diawali dengan sedikit keraguan. Motor yang kami gunakan adalah bebek matik Mio keluaran pertama. Bebek matik jenis ini terkenal akan ngompolnya, alias boros bensin. Dan, entah apakah si bebek ini akan kuat kalau diajak pergi ke gunung. Tapi okelah, kami tidak ambil pusing. Sudah dapat pinjaman motor pun sudah syukur. Bensin diisi penuh dan kami berangkat.

Sempat salah arah karena sinyal mendadak hilang. Kami lalu berhenti sejenak untuk mendinginkan si bebek matik.

Kami berdua tidak tahu jalan, cuma mengandalkan Google Maps. Dari Cirebon kota, maps mengarahkan kami melaju lewat Sumber, lalu terus ke selatan, kemudian berbelok ke timur lagi. Perjalanan sampai ke Kecamatan Rajagaluh tidak banyak kendala. Jalanan antar kota di sini lumayan lebar meski ada banyak truk-truk ukuran sedang, sudah disalip tapi terus ada lagi ada lagi. Perjalanan menanjak dan menantang baru dimulai saat kami sudah memasuki jalanan desa. Di sini beberapa ruas jalan ada yang rusak, dan makin ke atas makin sempit.

Si bebek matik yang terkenal suka ngompol pun langsung mengompol saat gas dipacu sampai ke titik maksimal. “Kuat, kuat, kuat, ayo, ayo,” saya berkomat-kamit sambil memacu gas motor. Di tanjakan curam, saya memainkan laju motor menjadi zig-zag supaya si bebek kuat sampai atas. Kalau tidak kuat, Yoga yang duduk di belakang siap-siap melompat turun. Di indikator, jarum bensin yang tadinya masih tiga perempat turun mendekati garis habis, pertanda si bebek mio ngos-ngosan melibas jalanan menanjak.

Ada dua jalur untuk menuju kawasan Terasering Panyaweuyan. Kami memilih jalur via Maja seperti yang ditunjukkan Google Maps. Padahal sebelumnya ada papan penunjuk arah yang menunjukkan kalau kami bisa belok ke kiri, tapi kami lebih pilih patuh pada GPS. Jalur yang kami pilih lebih jauh jaraknya dan jalanannya lebih sempit. Tapi ada nilai lebihnya, pemandangan yang dilihat lebih banyak. Jalanan juga melalui beberapa kampung. Sekilas, perkampungan di perbukitan ini mengingatkan saya akan Dieng.

Perkampungan penduduk di kawasan Argapura, Majalengka.

Kawasan Terasering Panyaweuyan sejatinya adalah perkebunan sayur di Kecamatan Argapura yang digarap di lahan miring. Kebun-kebun sayur tersebut membentuk pola yang indah saat dilihat dari kejauhan. Pun warnanya sedap dipandang. Sayuran daun bawang membentuk pola berwarna hijau yang tampak begitu rapi. Tapi, ekspektasi kami untuk melihat pola warna yang indah itu gagal total. Sejak motor mulai memasuki jalanan desa, kami memicingkan mata ke bukit-bukit di depan kami.

“Kok warnanya coklat ya mas bukit-bukitnya?” saya bertanya ke Yoga.

“Iya. Tapi mungkin bukan itu bukitnya. Itu kering, gak ada sayurannya. Mungkin di bukit-bukit belakangnya.’

Saya mengamini ucapan Yoga. Masa iya, sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak dapat apa yang diinginkan hati. Tapi, kenyataan memang tak bisa diubah. Kami datang di waktu yang salah. “Kalau sekarang mah belum musim tanam cep. Nanti Oktober baru tanam, Desember tah kalau ke sini bagus,” kata seorang tukang parkir. Kami salah perhitungan. Asal datang tanpa pikir tanggal. Di depan kami, bukit-bukit yang kalau di Instagram warnanya ciamik-ciamik, sekarang sejauh mata memandang hanya terlihat coklat, kering tanpa ada sayur-mayur yang tumbuh di atasnya.

Meski begitu, seiring kami mendaki ke puncak bukit yang kering, lama kelamaan warna coklat ini pun jadi sedap dipandang. Dari puncak bukit, hamparan tanah coklat ini pun jadi terasa elok di mata. Saya jadi ingat, Taman Nasional Baluran paling banyak digandrungi orang kalau sedang kemarau, saat semua rumputnya kering dan kuning. Katanya, di masa-masa itu, Baluran seperti bukan di Jawa, tapi savana Afrika! Terasering Panyaweuyan pun mirip-mirip begitu. Bukit-bukit kering berwarna coklat itu tetap menunjukkan pola yang menarik, meski hanya sewarna. Ada garis-garis melengkung yang tergores rapi di punggung-punggungnya. Dan, dari posisi kami berdiri, kami bisa melihat jelas jalanan aspal sempit yang dibangun meliuk-liuk, mirip seperti ular.

Mendaki ke puncak bukit.
Jalanan aspal meliuk indah.

Oh ya, meski Panyawengan hanya berjarak 55 kilometer dari Cirebon yang orang-orangnya berbahasa Cirebonan, di sini budaya Sunda sangat kental terasa. Dari namanya pun, “Panyaweuyan”, sudah nama yang khas Sundanya terasa. Buat mereka yang tidak bisa berbahasa Sunda pasti agak sulit mengucapkan nama ini.

Trek menuruni bukit. Cukup licin dan berdebu.

Tidak sepenuhnya gersang

Puas menatap indahnya pemandangan, kami turun ke parkiran motor. Meski sekarang sudah makin terkenal, tapi di kawasan wisata Terasering Panyaweuyan belum tersedia lahan parkir yang luas. Parkiran motor pun dibangun di samping tikungan, yang sebelahnya langsung jurang. Mungkin karena alasan inilah tidak banyak pengunjung bermobil yang datang ke sini, yang menurut saya jadi nilai yang lumayan positif juga. Terbatasnya jumlah pengunjung dapat menjaga suatu tempat tetap terjaga keasriannya. Terlalu banyak pengunjung, meski mendatangkan pundi-pundi yang besar, cukup riskan juga mengancam kelestarian lingkungan. Apalag kalau tipe pengunjung yang datang adalah yang tidak peduli lingkungan.

Ada sekitar lima warung berjejer. Kami mampir ke salah satunya dan menyantap dua mangkok Indomie goreng. Kepada si ibu, Yoga yang asli Probolinggo mencoba bertutur dalam bahasa Sunda yang kaku, “Sabaraha ieu bu?” Dari pertanyaan itu lalu lahir diskusi lanjutan.

“Oh, asep mau liat kebun yang ijo-ijo? Itu ke Bukit Mercury aja sep, deket rumah ibu. Di sini mah kering soalnya kalau mau tanem kudu nunggu ujan. Di sana mah nggak. Ada air irigasi, bisa tanem kapan aja. Sekarang juga lagi ijo kok,” kata si ibu.

Waw! Harapan kami belum gugur. Setelah membayar dua indomie, buru-buru kami memacu sepeda motor ke Bukit Mercury sebelum langit gelap sepenuhnya. Waktu itu sudah jam setengah lima.

Jalan menuju Bukit Mercury. Entah mengapa namanya Mercury.

Perjalanan ke Bukit Mercury jalanannya jauh lebih sempit. Saat memasuki perkampungan warga, lebar jalanan paling-paling cuma satu meteran. Tidak muat untuk mobil. Selepas perkampungan, barulah perkebunan hijau yang tadi disebut oleh si ibu terlihat. Ibu itu tidak bohong. Sejauh mata memandang, sayur-sayur yang kebanyakan berupa daun bawah tumbuh subur. Mereka disirami air yang memancur dari tiang-tiang semprotan. Airnya berasal dari mata air yang mengalir lewat saluran irigasi kecil, lalu ditampung di kolam-kolam di tepi kebun.

Sayur berupa daun bawang disirami oleh alat yang bergerak memutar.
Dari bukit Mercury, perbukitan terasering yang kering di sebelahnya tampak jelas.

Kalau ada kata yang bisa menggambarkan suasana saat itu adalah: syahdu. Jelang matahari tenggelam, angin berhembus kian sejuk. Pun di cakrawala, cahaya benderang mulai memudar, menorehkan jingga yang berpadu dengan hijaunya sayuran. Para petani yang di ladang pun bergegas turun. Mereka menyapa kami, melontarkan senyuman hangat.

Ah, betapa meneduhkannya suasana sore itu. Di balik perkebunan sayur itu, Gunung Ciremai berdiri anggun. Di tubuhnya diselimuti hutan-hutan nan hijau. Angin sejuk turun dari lereng-lerengnya. Dan kala langit telah semakin redup, seolah dengan halus ia meminta kami untuk pulang.

Di tepi kebun banyak dijumpai makam-makam kecil.
Para petani selesai bertugas di ladang. Saatnya pulang ke rumah.
Rona jingga menyirami ladang hijau.

Pukul 17:50, kami bertolak pulang, meninggalkan secuplik kesan swargaloka nan damai dan teduh di kaki Gunung Ciremai. Kelak, saat musim tanam tiba, kami kan kembali lagi ke sini.

Hal-hal umum buat diketahui teman-teman yang hendak berkunjung ke Argapura, Majalengka: 

Jika tidak tahu jalan, bisa menggunakan GPS. Ketik “Terasering Panyaweuyan”, maka GPS akan mengantarkan kita ke tujuan tanpa menyesatkan arah. Pastikan saja sinyal dan baterai ponsel tersedia.

Bukit-bukit akan menghijau kalau musim tanam telah tiba

Jarak dari Kota Cirebon menuju Panyaweuyan, Argapura adalah sekitar 55 km. Jika menggunakan motor, estimasi waktu tempuhnya sekitar 2 jam.

Tersedia bensin eceran di jalanan desa menuju Panyaweuyan

Tidak ada retribusi masuk. Hanya bayar parkir 5 ribu, dan karcis naik ke puncak bukit 5 ribu.

Saat sedang masa tanam, kalau berswafoto jangan sampai menginjak sayuran milik para petani. Ingat, berfoto boleh asal jangan merusak.

Bersama Yoga, si kawan jelajah yang juga suka motret-motret.

 

4 respons untuk ‘Terasering Panyaweuyan, Secuplik Swargaloka di Bumi Majalengka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s