Menjajal Rute KRL Terpanjang di Indonesia

“Ketemu di Stasiun Palmerah jam 8 ya Ry!” kata Advent, rekan saya yang akan menjadi kawan perjalanan jelajah Sabtu ini. Jam 07:45 saya sudah tiba di Stasiun Tanahabang. Buru-buru saya berlari, pindah peron dari jalur dua ke lima untuk menaiki KRL tujuan Rangkasbitung yang berangkat tepat pukul 07:50. Tapi saya bernasib sial. Stasiun dipadati penumpang. Eskalator pun mampet. Alhasil saya pun tertinggal kereta.

Sabtu, 7 September 2018 lalu adalah hari di mana saya dan Advent mengagendakan rencana jelajah bersama ke Rangkasbitung. Tujuan utama kami adalah Museum Multatuli dan Alun-alun Rangkasbitung, sekaligus menjajal rute KRL yang saat ini didaulat sebagai rute terpanjang di Indonesia. Kok Indonesia? Kan itu keretanya cuma di Jabodetabek + Banten? Yes. Karena sampai saat ini, layanan kereta listrik memang baru tersedia di jalur ini. Mungkin di masa mendatang akan ada wilayah lain juga yang turut menikmati layanan transportasi massal elektrik ini.

Peta jalur kereta api pada era kolonial. Jalur Tanahabang-Merak memiliki cabang sampai ke Anyer dan Labuhan. Namun dua jalur cabang tersebut sudah tidak lagi aktif.

Meski saya tertinggal kereta, tapi rupanya inilah yang menjadi berkah. Setelah bertemu Advent di Stasiun Palmerah, kami harus menanti KRL ke Rangkasbitung selanjutnya yang keberangkatannya masih satu jam lagi.

“Piye, mau nunggu sejam, atau naik yang ke Parungpanjang dulu aja? Mending nunggu di sana, sekalian lihat-lihat,” saya berusul. Usul ini segera disetujui Advent.

Perjalanan kereta api menuju Tangerang Selatan sampai dengan Merak yang membelah utara Provinsi Banten sebenarnya bukanlah layanan kereta api yang baru-baru amat. Sebelum layanan kereta komuter (KRL) resmi beroperasi pada 1 April 2017 lalu, jalur Tanahabang-Rangkasbitung-Merak dilayani oleh Kereta Rel Diesel (KRD) lokal yang menggunakan stamformasi kereta ekonomi kelas-3. Dengan diaktifkannya layanan KRL, maka stasiun-stasiun pun berbenah. Mereka direnovasi, diperlebar bangunan peronnya, dibuat penyeberangan untuk orang, dan sebagainya.

Perjalanan dari Tanahabang menuju Parungpanjang Sabtu itu cukup lengang. Kebanyakan penumpang turun di Stasiun Rawa Buntu dan Serpong. Selepas itu, penumpang berangsur-angsur sepi dan pemandangan di luar kereta berasa seperti tidak naik komuter ke Bogor atau Tangerang yang dipadati rumah penduduk. Di kanan kiri, persawahan hijau masih menghampar luas. Di beberapa titik, sawah-sawah tersebut sudah ada yang berubah wajah menjadi kawasan pemukiman. Tapi masih belum terlalu padat.

Hamparan sawah di kiri kanan jalur kereta api

Sekitar satu jam setelah kami berangkat dari Palmerah, kereta tiba di peron nomor dua Stasiun Parungpanjang. Stasiun ini besar dan lengang (mungkin karena itu hari Sabtu), juga bangunannya sudah modern. Penumpang yang hendak berpindah peron tidak lagi menyeberang rel, mereka harus naik ke bangunan atas stasiun lalu turun dan naik lewat tangga. Di sisi timur stasiun, ada satu bangunan lama yang merupakan bekas stasiun sebelum renovasi. Secara keseluruhan, stasiun Parungpanjang memiliki 5 jalur.

Stasiun Parungpanjang

Sekitar 15 menit kami menanti dan mengambil foto-foto, kereta komuter tujuan Maja datang di jalur I. Stasiun Maja adalah dua stasiun sebelum tujuan akhir Rangkasbitung.

“Yo, naik ini yo? Biar bisa motret-motret juga di Maja”, ajak Advent.

Kami melompat masuk ke dalam kereta. Kali ini suasana kereta lebih penuh, tapi tidak sampai bersesakan. Kalau ditotal secara keseluruhan, dari Tanahabang sampai Rangkasbitung terdapat 17 stasiun pemberhentian. Stasiun Maja adalah titik ke-15. Lokasinya sudah bukan lagi di Jawa Barat, tapi di Banten. Semakin ke timur, pemandangan di kiri dan kanan kereta semakin asri, berasa seperti perjalanan nyepur ke Jawa Tengah atau Timur.

Di Stasiun Maja, kereta berhenti di jalur dua. Kalau dibandingkan Stasiun Parungpanjang, Stasiun Maja lebih kecil. Hanya ada dua peron di sini, dan suasananya pedesaan. Di sisi kiri datangnya kereta, ada empang yang airnya surut. Meski begitu, bangunan stasiunnya sudah modern. Kereta yang kami tumpangi barusan akan berangkat lagi menuju Tanahabang.

Stasiun Maja. Hanya terdapat dua jalur di sini, dan di sisi stasiun terdapat lahan kosong berupa empang yang airnya menyusut.

Kami pindah ke jalur satu untuk menanti KRL selanjutnya menuju Rangkasbitung. Sekitar 15 menit menanti, kereta pun datang. Suasana hampir sama seperti tadi, agak penuh tapi tidak sesak. Selepas Stasiun Maja ke timur, jalur kereta api masih tunggal. Sebenarnya sudah ada jalur satu lagi yang dibangun, tetapi belum siap digunakan. Masih dalam proses. Jika jalur tersebut sudah selesai, besar kemungkinan frekuensi perjalanan di lintas Tanahabang-Rangkasbitung akan ditambah.

Stasiun Maja. KRL di jalur dua tengah berhenti untuk mempersilakan penumpang naik. Kereta akan bertolak kembali ke Stasiun Tanahabang.

Sekitar jam 11, kami tiba di Stasiun Rangkasbitung. Ada setitik rasa bangga karena akhirnya kami sukses menjajal stasiun paling timur yang bisa diakses dengan layanan komuter. Jarak total dari Tanahabang hingga ke Rangkasbitung adalah 72,7 kilometer. Lebih jauh daripada lintas Jakartakota-Bogor (54,8 kilometer), Jatinegara-Bogor (69,4 kilometer), Jakartakota-Cikarang (44 kilometer), Duri-Tangerang (19,3 kilometer), dan Jakartakota-Tanjung Priok (15,4 kilometer).

Meski didapuk sebagai lintasan paling jauh, KRL Rangkasbitung-Tanahabang sejatinya merupakan lintasan yang paling muda usianya (resmi beroperasi April 2017) kalau dibandingkan dengan layanan komuter Jakartakota-Depok-Bogor yang sudah beroperasi sejak tahun 1930, masa di mana kereta api dioperasikan oleh Staatsspoorwegen.  

Stasiun Rangkasbitung

Berbeda dengan rupa stasiun-stasiun komuter lainnya yang rupanya modern, Stasiun Rangkasbitung masih terlihat kelawasannya. Peron tinggi khusus KRL belum sepenuhnya dibuat permanen. Penumpang yang hendak turun dari KRL hanya bisa melalui satu sisi saja dan harus antre untuk tap-out. Beberapa penumpang yang Rangkasbitung bukan tujuan akhirnya tetap harus keluar dahulu untuk tap-out dan membeli tiket kereta lokal yang menuju Merak.

Sebagai informasi tambahan, dahulu ada layanan KA Krakatau relasi Kediri-Merak yang juga melewati Stasiun Rangkasbitung. Tapi karena sepinya okupansi di lintas barat, maka rute kereta dipangkas hanya dari Pasar Senen menuju Blitar. Namanya pun diganti, dari Krakatau menjadi Singasari.

Oh ya, untuk perjalanan sejauh itu, tarif yang dipatok adalah Rp 8.000 dari Tanahabang, dan Rp 10.000 dari Rawabuaya. Murah toh. Dan berhubung hari Sabtu itu ada Festival Seni Multatuli, pihak penyelenggara menyediakan layanan transportasi gratis dari stasiun menuju alun-alun. Tapi sayang, kami ketinggalan informasi itu saat datang, jadi kami pun berjalan kaki mengitari kota Rangkasbitung sembari menjepret beberapa gambar.

Jadi kawan, yuk agendakan menjajal layanan KRL ini di akhir pekan, sebelum penuh seperti KRL ke Bogor!

Jadwal keberangkatan komuter Tanahabang – Rangkasbitung PP.

Tanahabang – Rangkasbitung Rangkasbitung – Tanahabang
No. KA Berangkat Tiba No. KA Berangkat Tiba
1914 05.50 07.50 1915 04.00 06.00
1922 06.35 08.35 1927 05.00 07.00
1936 07.50 09.52 1933 05.30 07.30
1948 08.55 10.58 1939 06.10 08.10
1956 09.35 11.31 1947 06.50 08.50
1968 10.50 12.50 1953 07.20 09.20
1980 12.05 14.07 1961 08.05 10.05
1988 12.50 14.55 1971 09.00 11.00
1994 13.40 15.40 1985 10.30 12.30
2002 14.30 16.34 1995 11.45 13.45
2022 16.25 18.24 2001 12.10 14.10
2034 17.25 19.24 2009 13.15 15.15
2044 18.20 20.19 2023 14.25 16.25
2060 19.45 21.42 2031 15.10 17.10
2070 21.10 23.09 2041 16.05 18.05
2076 21.45 23.48 2051 16.50 18.50
2069 18.50 20.50
2077 19.45 21.45
2081 20.40 22.40

*Jadwal dapat berubah, tergantung dari PT. KAI. Untuk jadwal terupdate, silakan akses langsung ke KRL Access, atau tanyakan via contact-center commuter line. 

17 Comments on “Menjajal Rute KRL Terpanjang di Indonesia

  1. Wah boleh juga nih, bisa jadi ide jalan-jalan yang gak terlalu jauh tapi hemat. Bisa sekalian main ke Serang juga, kebetulan di sana ada beberapa kawan. Makasih infonya yaaa 🙂

  2. Wah, perjalanannya menarik, Ry. Mau coba ah kalo nanti ada free time di Jakarta lagi.

    Ternyata Parung Panjang punya stasiun yang bagus dan besar ya, sampai 5 peron. Aku suka desain tiang lengkung di bagian peron itu. Tapi ada apa di Rangkasbitung, Ry?

    • Di Rangkasbitung ada Museum Multatuli nih Guh.

      Kalau jalan kaki, 1 setengah kilo dari stasiun. Museumnya ciamik meski ukurannya kecil. Di museum itu kita bisa belajar sejarah, bagaimana Multatuli (Edward Douwes Dekker) yang adalah orang Belanda, tapi giat memperjuangkan hak-hak warga pribumi kala itu.

      Plus, di deket museum ada warung nasi padang. Murah banget haha. Nasi pake ikan tnggiri + teh anget cuma 10 rebu

  3. berjalan jalan pakai KRL menyenangan … murah meriah seru .. hehe
    saya pernah naik KA ke Maja tapi sudah lama banget, bertahun tahun lalu … belum KRL, seingat saya di gerbong ada yang bawa hewan ternak, sayuran … hehe

    • Wah ada mas Farchan! Hehe.

      Karena pengen tahu seperti apa Rangkasbitung jadi kucoba mas. Untung pas weekend, kalau weekday sih tak terbayang. Tp dari perjalanan kemarin sih itung-itung simulasi, kalau-kalau nanti kalau mau menetap di Jakarta dan beli rumah di wilayah sub-urbnya Jkt hahaha.

    • Iya mas, soalnya interval keberangkaannya masih 1 per 1 jam. Nanti setelah jalur ganda Maja-Rangkasbitungnya rampung, mungkin akan ditambah frekuensinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: