Pulang ke Desa Sidareja

Di Stasiun Pasar Senen, Kereta Api Serayu Malam berangkat pukul 21.00, mengantarkan saya pergi meninggalkan Jakarta untuk perjalanan singkat akhir pekan. Saya duduk di kereta nomor dua dan sembilan jam kemudian, saya tiba di tujuan akhir saya: Stasiun Sidareja.

Di parkiran stasiun, Roland, teman saya sudah menunggu. Dia duduk di atas motor bebek yang sehari-harinya menjadi motor pasar. Di belakang motor itu ada besi tambahan buat mengangkut belanjaan. Walau umur motor ini sudah lawas, tapi tenaganya masih oke.

“Eeee kampret, akhirnya datang juga elu ke sini!” Kata Roland dengan logat ngapaknya yang kental. Terdengar lucu karena dia berusaha menirukan gaya Jakarta gue elu.

Penggalan perjalanan di atas adalah secuplik cerita dari pertemanan saya dan Roland. Sejak kami lulus kuliah dari Jogja, kami memilih jalan hidup yang berbeda. Saya pindah untuk bekerja di Jakarta. Roland kembali ke rumahnya, di desa Sidareja, Kabupaten Cilacap. Roland membantu melanjutkan usaha keluarganya membuka toko kelontong. Setiap beberapa bulan sekali kami biasanya selalu menyempatkan diri untuk bertemu. Kalau tidak di Jogja atau Jakarta, saya yang akan datang ke rumahnya di Sidareja.

Keputusan Roland untuk kembali ke desa itu bukan perkara mudah. Awal-awal dia lulus kuliah, saya sempat menyemangati Roland untuk pindah ke Jakarta saja. Kerja di kota besar selama setahun atau dua tahun, buat cari pengalaman. Nanti kalau sudah lewat masanya, baru balik lagi ke rumah. Roland pun semangat. Dia berangkat ke Tangerang, menumpang di rumah kakaknya, tes sana sini demi mendapat kerja.

Tapi, usaha tersebut belum berhasil. Kemudian dia pulang lagi ke rumah. Pertentangan batin pun dimulai. Di satu sisi Roland ingin bekerja ke kota besar. Semangatnya belum pudar, dia ingin mengaplikasikan ilmu yang didapat dari kuliahnya ke dunia kerja. Namun di sisi lainnya, rumahnya membutuhkan dia. Ayah Roland telah berpulang tiga tahun lalu, kedua kakak perempuannya telah menikah pula dan tinggal di luar kota. Tinggallah ibunya seorang diri. Kalau Roland pergi lagi, betapa sepinya sang ibu. Ini yang jadi pertimbangan terberat.

Saat Roland bertanya tentang mana jalan terbaik untuknya, sekarang saya malah bingung menjawabnya. Dulu saya sempat berpikir bahwa pergi ke kota adalah jawaban terbaik untuk fresh graduate. Tapi, pada kenyataannya tak semua orang bisa mengejar impian dengan mulus. Kadang ada hal yang harus lebih diutamakan ketimbang impian itu sendiri. Ada orang yang bekerja merantau jauh, sangat rindu dengan keluarganya. Ada pula yang tinggal bersama keluarga, tapi rindu merantau jauh.

“Tak pikir yo lan, nek misalkan kamu mutusin tetep di rumah ya kupikir ndak salah juga. Toh kamu jadi bisa nemeni mamamu. Hidup sendiri ya ndak enak,” saya coba mengutarakan opini padanya.

“Iya, aku ya belajar, walau cuma kerja di rumah, tapi aku mau berusaha bikin inovasi,” jawabnya.

Thats the point! Saya mengamini ucapan Roland. Saya percaya bahwa pekerjaan itu mungkin tidak selalu tentang di mana kita bekerja atau apa yang kita kerjakan, tapi tentang bagaimana kita mengerjakannya. Saya jadi ingat tentang pekerjaan Bunda Teresa yang merawat orang-orang terbuang. Kalau dilihat dari sisi kesuksesan dunia yang menekankan pada kekayaan materi, apa suksesnya? Jangankan menghasilkan uang, yang ada malah harus cari-cari uang untuk mendukung pekerjaannya itu.

Tapi, Bunda Teresa pernah bilang, “Tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan besar. Tapi, semua orang bisa melakukan pekerjaan kecil dengan kasih yang besar.” Lewat pekerjaan yang menjadi pelayanannya, Bunda Teresa mendapat kepuasan bukan dari nominal uang yang didapat, tapi dari setiap senyuman ucapan syukur orang-orang yang ditolongnya.

Mungkin kisah bunda Teresa terdengar terlalu jauh. Kita kan bukan Bunda Teresa. Kerjaan kita bukan melayani seperti beliau. Tapi, saya pikir cara Bunda Teresa memaknai apa yang dia kerjakan itu mungkin relevan dengan hidup kita. Bukan soal besar atau kecilnya tanggung jawab pekerjaan yang kita emban, tapi tentang bagaimana kita memaknai pekerjaan itu. Apakah kita melakukannya dengan kasih yang besar? Atau, kita mengerjakannya dengan setengah hati?

Sekarang, enam bulan sejak Roland memutuskan tinggal dan melanjutkan pekerjaan keluarganya di rumah, saya melihat tawa lepasnya. Meski kadang dia suka bertutur tentang rasa bosannya tinggal di desa, tapi dia bilang kalau dia juga sedang belajar menikmati kesehariannya. Sedikit demi sedikit, dia mau belajar melahirkan karya. Katanya, dia sedang menggodok beberapa rencana untuk membuat pengunjung betah berbelanja di tempatnya. Meski swalayan modern telah ada, tapi toko kelontongnya tak kehilangan pembeli. Ada hal-hal yang sejatinya tidak tersaji di swalayan modern. Beberapa pembeli yang datang ke toko kelontong ini tak sekadar membeli, mereka kadang mengobrol, berdiskusi, bahkan berkonsultasi dengan Roland dan ibunya. Sesuatu yang tak dilakukan di kasir swalayan modern bukan?

Sebagai kawannya, kehidupan Roland telah menginspirasi saya. Keputusannya kembali ke desa untuk ibunya adalah hal yang baik, dan menjadi lebih baik ketika dia mau menciptakan hal-hal baru yang bisa dia terapkan untuk usahanya. Anyway, dari sini pun saya jadi belajar untuk memahami bahwa panggilan tiap orang berbeda. Ada yang terpanggil untuk pergi jauh, ada pula yang terpanggil untuk dekat dengan keluarga. Keduanya istimewa.

Tetap semangat, kawan!

2 respons untuk ‘Pulang ke Desa Sidareja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s