Pengalaman Tertahan di Imigrasi Woodlands, Singapura

Antrean masuk menuju Woodlands Checkpoint, Singapura

Dua kali masuk ke Singapura, semua berjalan lancar. Di Bandara Changi, saya menunjukkan paspor, scan dua jempol, difoto wajah, dan selesai. Tapi, minggu lalu ceritanya berbeda. Paspor saya ditahan dan saya diinterogasi oleh petugas imigrasi. Proses ini memakan waktu hampir dua jam. Buat saya yang baru pertama kali mengalami hal ini, rasanya ngeri-ngeri sedap.  

Sebelumnya, pada 2 Agustus 2018 lalu saya terbang ke Singapura dan tinggal di sini beberapa hari. Prosesnya lancar. Dari Singapura, kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Johor Bahru, Malaysia untuk mengikuti workshop selama tiga hari. Prosesnya pun lancar. Tak sampai satu jam saya sudah tiba di Johor.

Setelah workshop usai, saya kembali lagi ke Singapura bersama dua staf kantor orang Indonesia, satu orang Singapura, dan supir orang Malaysia. Perjalanan sampai ke perbatasan lancar. Di sisi Malaysia, imigrasi berjalan lancar dan kami pun masuk ke sisi Singapura. Karena hari itu hari Minggu, antrean cukup padat. Kami menunggu sekitar 30 menit sampai tiba ke pos imigrasi.

Petugas yang menyambut kami hari itu adalah orang Melayu. Dia menyapa dan berbicara dalam bahasa Melayu.

“Aryanto Wijaya?” tanyanya.

Saya mengacungkan jari dari dalam mobil.

Semenit kemudian dia meminta saya memindai kedua ibu jari. Lalu dia memanggil nama satu rekan saya lainnya.

Dan, di sinilah cerita dimulai. Teman saya itu tidak diminta untuk memindai ibu jarinya. Si petugas menutup kacanya dan memelototi layar komputer. Sejurus kemudian dia berkata, “Ini semua paspornya ambil nanti di office.”

“Alamak! Lagi-lagi begini,” celetuk pak supir di mobil kami.

“Ini ada apa pak? Memangnya sering seperti ini?” saya penasaran.

“Paspor Indonesia, Filipina, dan Vietnam sering kena begini.”

Waduh. Saya juga bingung kenapa bisa begini. Dulu ada rekan sekerja saya yang pernah tertahan di imigrasi Singapura juga. Waktu itu dia baru pertama kali ke luar negeri dan saat mendarat di Bandara Changi dan hendak masuk imigrasi, dia ditahan. Dia diinterogasi dan si petugas kemudian menelepon seorang koleganya di Singapura untuk mencari kepastian.

“Tenang aja. Selama kita gak bawa aneh-aneh, gak masalah kok,” rekan kerja di mobil meyakinkan saya.

Semenit dua menit berlalu, belum ada petugas yang menghampiri kami. Lima menit, sepuluh menit, kami menanti dalam mobil. Setelah lebih dari setengah jam, barulah seorang petugas berseragam hitam dan mengendarai sepeda menghampiri mobil kami. Kami digiring sampai ke kantor. Kunci mobil di ambil dan kami semua diminta duduk. Selama menunggu di situ tidak boleh menelepon, mengambil foto, dan menggunakan ponsel.

Satu per satu kami dipanggil.

“Wijaya Aryanto?” sahut si petugas. Kemudian dia mengarahkan saya masuk ke sebuah ruangan kecil yang isinya ada komputer dan kamera. Di sini saya kembali diminta memindai dua jempol. Mereka membolak-balik paspor saya. Meski kesannya sedikit seram, tapi dua orang petugas di ruangan ini bersikap ramah. Mereka bahkan memanggil saya “adek”.

“Adek, letakkan dua ibu jari kamu di sini ya dek.”

Proses usai, saya diminta kembali lagi ke ruangan tunggu. Lalu dipanggil lagi dan ditanya-ditanya.

“Wijaya, pergi ke Johor untuk urusan apa?” tanya si petugas.

“Workshop.”

“Workshopnya sama dengan rekan-rekan lainnya?”

“Ya.”

“Lalu untuk apa sekarang ke Singapura lagi?”

“Saya mau pulang. Naik pesawat dari Singapura.”

Kemudian dia meminta saya menyebutkan kode penerbangan pesawat, alamat tinggal di Singapura, dan berapa jumlah uang yang saya bawa saat itu, baik dalam Dolar Singapura maupun Ringgit.

Sebenarnya proses tanya-tanya ini berlangsung singkat. Yang lama adalah antrenya. Saat saya menanti, ruang tunggu makin penuh. Orang  yang paspornya ditahan sebentar makin banyak. Seorang ibu di sebelah saya

Sekitar lima belas menit kemudian, setelah semua kami selesai diinterogasi, bunyi “Chop” pun terdengar. Paspor kami dicap dan kami bisa melenggang masuk ke Singapura.

Sekelumit tentang imigrasi Singapura

Untuk masuk ke Singapura melalui jalur darat, ada dua jalan yang bisa dipilih: Woodlands dan Tuas. Saya masuk dan keluar dari checkpoint Woodlands karena tujuannya mau ke Johor Bahru. Perbatasan darat antara Singapura dan Malaysia ini termasuk salah satu gerbang imigrasi yang paling sibuk di dunia. Data pada 2016 lalu menunjukkan setidaknya ada 295.731 orang yang berpindah negara di gerbang ini. Mereka menyeberang dengan berbagai moda transportasi. Ada yang naik mobil, motor, bus, juga kereta. Kalau naik bus, penumpang harus turun dulu. Sedangkan kalau naik mobil, penumpang tinggal duduk saja.

Sebagai negara mungil, Singapura menerapkan aturan imigrasi yang lebih ketat dibandingkan negara tetangganya. Saat saya ke Malaysia, tidak ada scan jempol. Prosesnya begitu cepat. Sedangkan kalau kita (pemegang paspor Indonesia) hendak ke Singapura, kita perlu mengisi dokumen imigrasi, yang mana ini tidak perlu dilakukan kalau masuk ke Malaysia. Dengar-dengar sih kata teman yang orang Singapura, negeri Malaysia lebih bersahabat ke paspor Indonesia. Kita bisa masuk dengan gampang, sedangkan mereka agak ribet. (Ini dengar-dengar loh yaa).

Kartu imigrasi yang perlu diisi saat masuk ke Singapura

Lalu, seorang teman di kantor juga menambahkan kalau imigrasi di Woodlands tidak seketat di Tuas. Kalau di Tuas, mobil akan discan x-ray. Ketatnya imigrasi ini untuk mencegah penyelundupan barang-barang ilegal seperti narkotika dan sebagainya.

“Pokoknya tenang. Selama kamu gak bawa yang aneh-aneh dan tujuanmu baik, pasti lolos.”

Saya percaya quote dari teman saya itu. Selama kita tidak melanggar aturan, tak ada yang perlu ditakutkan. Toh ketatnya pemeriksaan dilakukan dengan tujuan yang baik pula: menjaga keamanan sebuah negara yang merupakan rumah bagi segenap warganya.

Bagaimana denganmu? Adakah pengalaman serupa?

 

4 respons untuk ‘Pengalaman Tertahan di Imigrasi Woodlands, Singapura

    1. Waaa…mantap sekali itu. Perjalananmu mulus wkwkwk

      Iya. Yg ibu2 itu aku gk tau lg lanjutnya gmn. Dia sampe dicek hapenya sih. Aku udah keburu selesai dan pergi, jd gk tw gmn episode si ibu ini

  1. so far ke Singapura, lancar lancar jaya. banyak memang cerita yang kena interogasi.

    Yap bener, yang penting kita nggak bawaa barenag barnag terlarang , santai, jawab aja apa adanya, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s