Drama Menyebalkan di Atas Kereta Api

Prriiiitt… Semboyan 35 berbunyi. Dari peron nomor lima Stasiun Tugu, Yogyakarta, Kereta Api (KA) Taksaka Malam melaju perlahan menuju Jakarta. Lima belas menit setelahnya, di jalur yang sama, KA Jayakarta Premium datang dari Surabaya Gubeng untuk berhenti sejenak kemudian kembali bertolak ke barat.

Saya berdiri di belakang garis berwarna kuning. Sambil tangan kiri menenteng kardus belanjaan dari Pasar Beringharjo, tangan kanan saya meraih boarding pass. Sekali lagi saya mengecek nomor kereta dan kursi supaya tidak salah naik: Ekonomi Premium 9 No. 5D.

Saya sengaja memesan kursi di kereta belakang. Kalau bukan hari libur, biasanya kursi-kursi di bagian ekor rangkaian ini kosong. Lumayan, kalau sebelahnya kosong, saya bisa tiduran lebih leluasa. 

Saat kereta telah berhenti dengan sempurna, buru-buru saya naik. Tapi, imaji saya akan kereta yang kosong itu ambyar. Kursi-kursi hampir terisi penuh. Akibat di hari Sabtu dan Minggunya terjadi banjir di lintasan Brebes-Ketanggungan, banyak penumpang yang seharusnya berangkat di hari itu diundur jadi ke hari Senin. Sejak kereta berangkat dari Surabaya hingga Solo, sudah banyak penumpang yang naik.

Saya berjalan menuju kursi 5D . Tapi di kursi itu sudah duduk seorang lelaki.   

“Permisi mas, ini tempat duduk saya,” saya menyapa sambil tersenyum.

Kursi 5D adalah kursi favorit kalau naik kereta Jayakarta Premium. Di nomor ini, ukuran jendelanya besar dan kalau ke arah barat, posisinya searah dengan laju kereta.

Tapi, lelaki itu bergeming di tempat duduknya. “Oh iya mas,” jawabnya singkat sambil kepalanya tetap bersandar di kursi.

“Saya duduk di 5D mas, ini kursi saya,” saya bicara agak keras sambil menunjukkan boarding pass

Mungkin sudah terlanjur pewe, lelaki itu bersikeras untuk tidak pindah.  

“Masnya di situ aja. Saya sulit mau pindah. Sudah kagok. Ini saya sama ponakan saya,” 

Saya menghela napas sambil membatin. “Kampret!”

Lelaki itu sebenarnya duduk di kursi nomor 5C dan keponakannya di 5B. Melihat kursi nomor 5D kosong sejak dari Surabaya, dia pun pindah. Pikirnya kursi itu akan kosong sampai tujuan akhir. Tapi dia lupa kalau kereta Jayakarta ini berhentinya tidak di Surabaya doang. Banyak penumpang yang akan naik dari stasiun-stasiun lainnya.

Ingin rasanya marah dan meminta dia supaya pindah. Namun, saya sendiri tidak enak jika terjadi adu mulut. Apalagi gesture lelaki itu tampak tidak baik. Dia merasa karena naik lebih dulu, dia bebas duduk di kursi mana pun, meski itu tidak sesuai boarding pass.

Akhirnya saya mengalah. Semenit dua menit setelah kereta melaju, hati ini masih membara. Masih ada rasa tidak terima. Ingin rasanya mengadu ke Pak Kondektur seperti anak SD yang mengadu ke gurunya kalau ia dijahili temannya.

Tapi, kemudian saya merenung. Apa iya sih marah-marah bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah? Kalau ke Pegadaian mungkin iya. Tapi, sepertinya marah tidak selalu jadi solusi tunggal. Saya ingat sebuah buku yang ditulis oleh Bo Sanchez, seorang penulis terkenal dari Filipina. “Mind The Gap!”, tulisnya. Ketika keadaan membuat kita terpancing emosinya seketika, ingatlah selalu untuk memberi gap, alias jeda atau ruang. Saat marah dan mulut ingin nyerocos, berilah ruang dan waktu untuk otak berpikir sejenak. Tentu bukan berpikir kata-kata kebun binatang apa yang ingin dikeluarkan, tapi berpikir tentang dampak apakah yang akan terjadi kalau aku marah?

Jika kala itu saya marah dan menuntut lelaki itu pindah, itu bukanlah sesuatu yang salah. Toh memang kursi itu adalah hak saya. Tapi, bisa dibayangkan dampaknya. Perjalanan ke Jakarta yang masih harus ditempuh 9 jam itu akan terasa dingin dan dongkol. Perjalanan 9 jam dengan hati sumringah saja sudah bikin pegal, apalagi kalau ditambah dongkol dan benci. Duh, remuk-redam lahir batin!

Akhirnya, saat kereta telah melintasi Stasiun Wates, saya memutuskan ikhlas. Merelakan kursi 5D yang didambakan kepada bokong orang lain supaya tidak terjadi drama keributan di atas kereta nomor sembilan. Keputusan mengalah ini terpaksa saya ambil karena melihat situasi dan kondisi saat itu. Mengalah yang saya lakukan bukan berarti memberikan pembenaran pada lelaki si penyerobot kursi itu. Saat keesokan harinya sudah di kantor, saya mengajukan komplain ke pihak manajemen kereta api supaya petugas di lapangan bisa mengatur setiap penumpang untuk duduk sesuai dengan nomor yang tertera di boarding passnya. Terutama kalau kereta sedang penuh.

Dari jutaan sensasi naik kereta, inilah sepenggal drama menyebalkannya. Bagaimana denganmu? Adakah drama-drama menyebalkan yang mengajarimu sesuatu di atas kereta api?

31 respons untuk ‘Drama Menyebalkan di Atas Kereta Api

  1. Kalau pengalaman saya, entah ini disebut menyebalkan atau ketakutan adalah saat naik KA lokal Bandung-Cicalengka sekitar tahun 2009 silam. Kereta lokal saat itu dipenuhi suporter bola, dan sepanjang melewati jalur KA Cikuda pateuh – Gede bage, kereta dilempari batu dan botol kemasan minuman oleh warga sepanjang jalur tersebut, karena kesal dengan tingkah para supoter yang suka bikin resah. Horor sekali waktu itu. Pengen nangis rasanya. Untunglah sekarang PT. KAI sudah berbenah jauh lebih baik dari waktu itu. Semakin tertib dan nyaman naik kereta, sekalipun itu KA lokal. 😊

    1. Duh, itu mah lebih dari menyebalkan mbak, mengerikan! Syukurlah ndak kenapa-napa ya mbak.

      Kereta Cicalengka-Padalarang itu ngeri-ngeri sedap. Dulu aku sering naik tanpa tiket dari Garuda (St. Andir) ke Ciroyom, nunut di gerbong paling ekornya.

      Pernah juga suatu ketika saat naik kereta itu dari Bandung ke Cimahi, temanku hapenya dicopet saat kereta berhenti di Cimindi. Nangis sejadi-jadinya karena itu hape bapaknya, dan aku ikutan panik karena aku yang ngajak dia naik kereta itu hahaha.

      Syukurlah kereta telah banyak berbenah diri.
      Tinggal penumpangnya juga berbenah attitude nih.

      1. Iya, itu adalah pengalaman naik kereta paling mengerikan. Semoga tidak mengalami hal serupa lagi.

        Haha.. Sepertinya, siapapun yang pernah naik KA lokal Cicalengka-Padalarang pasti mengalami pengalaman tidak mengenakkan ya.

        Syukurnya, sekarang KA lokal Padalarang-Cicalengka jauh lebih baik dari segala segi. Tahun-tahun pertama pembenahan, diberlakukan tiket dengan nomor tempat duduk, tapi seperti mas Ary bilang, masyarakat kita belum sepenuhnya paham bagaimana aturan itu ditaati bukan untuk dilanggar. Akhirnya, sistemnya berganti lagi jadi tanpa nomor tempat duduk, daripada banyak penumpang yang berantem didalam kereta kali ya. Hahaha..

      2. Iyes. Mungkin untuk kereta lokal seperti Pdlarang Cicalengka perihal tempat duduk ndak jadi masalah karena perjalanan cuma 1-2 jam saja :))

        Btw pernah coba naik Lokal Cibatu?

      3. Iya.. perjalanan 1-2 jam abis sama berantem kalo pake nomor tempat duduk. Hahha..

        Pernah tapi belum pernah sampai stasiun Cibatu. Hanya sampai Cicalengka saja. Mas Ary pernah naik KA Cibatu? Ada pengalaman menarik apa nih? 😁

      4. Belum pernah hahahaha
        Pernahnya naik Baraya Geulis yang sekarang sudah almarhum.

        Pengen main naik itu, turun di Cibatu lalu motret2 di sana. Tp sedihnya, waktunya gak ada wkwkwk

      5. Ah iya, Baraya Geulis. Kereta lokal yang lumayan nyaman dan bikin betah. Kenapa sekarang ditiadakan ya?

        Mungkin saat pulang ke Bandung, bisa disempatkan explore kereta arah Cibatu mas. 😀

      6. Sepertinya mengikuti jejak layanan kereta komuter yang memberlakukan sistem kereta satu kelas.

        Dulu baraya kan dianggapnya kelas patas, yang cuma berhenti di Cimahi – Bdg – Kircon – Rancaekek – Cicalengka. Kalau sekarang di semuanya berhenti kan yaa

    1. Duh, pertanyaan yang sulit.
      Bisa jadi keduanya sih, karena kadang orang selalu mikirnya tentang dirinya sendiri. Apa yang enak buat dia, itu yang dia lakukan, meski itu jelas-jelas merugikan orang lain.

  2. pengin mencicipi pengalaman naik ka.ekonomi dari pwt ke jakarta tapi pas lihat jadwalnya, durasi perjalanannya lama juga ternyata, takut bosan gitu hehehe selain itu lokasi stasiun dari rumah yang jauh jadi mikir nyari tiket sesuai jam yang pas.
    oya semboyan 35 itu artinya apa ya?

    1. Kalau dari PWT ke Jakarta sebenarnya cepat mas, cuma 5 jam. Tapi itu kalau naik kereta yang via Cirebon.

      Kalau naik Serayu yang harganya 67 ribu, itu waktu tempuhnya 12 jam karena dia muter lewat Bandung hahaha. Punggung pegal pasti dijamin.

      Semboyan 35 itu adalah semboyan suara mas. Itu kode yang diberikan saat kereta siap diberangkatkan. Biasanya petugas stasiun akan meniup peluit panjang sambil menunjukkan bulatan atau papan berwarna hijau. Artinya, kereta dipersilakan melaju.

      1. iya yang lewat cirebon emang cepat sih, mending lah daripada naik bus atau travel yang lama dan bokong rasanya pegal.
        yang belum nyoba ya yang itu Serayu hehehe, nasib rumah jauh dari stasiun, lebih milih jadwal yang agak siang pas berangkatnya.

  3. saya pernah mengalami 2 kejadian seperti di atas.

    kejadian pertama, seorang pemuda menempati kursi yang semestinya saya duduki. setelah saya tanyakan, beliau meminta maaf dan memohon saya untuk duduk di kursi tersebut agar bisa bersebelahan duduk dengan ibunya. tentu saya tanpa pikir panjang, mempersilakan dengan senang hati, anak laki-laki yang dekat dengan ibunya adalah momen yang sakral.

    kejadian kedua, mirip dengan kejadian yang diceritakan di atas, ingin rasanya protes dan mengadu ke petugas, tapi akhirnya memilih mengalah tapi dengan catatan saya masih leluasa mengakses stop kontak dan alhamdulillah bisa terkondisikan.

    1. Hehehe. Kalau yg seperti itu memang kita sukar menolak ya mas.

      Selagi memang keadaannya mendesak, tukar tempat duduk bisa dimaklumi. Tapi kalau alasannya cuma sekadar ingin enak sendiri, ini yang menyebalkan.

  4. Ada… pertama kalinya naik kereta api Jawa..
    Aku kebagian kursi paling buncit.. lupa nomornya.. tapi itu kursi yg serba salah, ngadep belakang adu dengkul dengan penumpang lain, ngadep depan adu dengkul dengan dinding kereta..
    Nah.. saya sebetulnya lebih pewe adu dengkul dengan penumpang lain.. eh sebelah saya malah keukeuh memutar kursi itu.. nah.. jadilah space duduknya sempit..
    Udah gitu.. doi malah pergi..ninggalin saya yg mati gaya selama 9 jam ngga bisa merem.. arrrrggghhh

    1. Wkwkkwkwkwk. Aku jg pernah naik itu. Tahun 2013 naik Lodaya dari Bdg ke Jogja, dpet kursi zonk yg ngadep dinding. Dengkul nempel dan pegelnya tiada terkira hahaha

      Tp skrg yg sperti itu mulai jarang terjadi kalau kita naik kereta yg pakai gerbong baru ehehehe

  5. Mas kalo Jayakarta Premium kursi 3A gimana ya? Posisi menuju ke arah Barat. Baru pertama kali coba kereta ini soalnya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s