3 Destinasi Ciamik di Cirebon yang Bisa Diakses dengan Berjalan Kaki

 

Cirebon! Mereka yang pernah naik kereta api dari Jakarta ke Jawa Tengah atau Timur pasti pernah melewati Cirebon, entah itu sadar atau tidak. Saya sendiri sudah puluhan kali melintasi Cirebon, tapi tidak pernah benar-benar singgah ke kota ini. Hingga suatu waktu di bulan April lalu, saya memutuskan untuk pergi menjelajahi Cirebon dalam sehari.

Sabtu pagi saya bertolak menaiki Kereta Api (KA) Tegal Ekspress. Kereta berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 07:35 dan tiba di Cirebon sekitar jam setengah 12. Untuk perjalanan selama tiga jam tersebut tarif yang harus dibayar adalah 49 ribu. Cukup murah karena tarif kereta Tegal Ekspress disubsidi oleh dana pemerintah.

Setibanya di Stasiun Cirebon Prujakan, saya duduk sejenak lalu membeli pop mie untuk mengganjal perut. Siang itu, dengan budget yang terbatas saya hanya ingin berkeliling Cirebon dengan berjalan kaki. Waktu yang ada pun singkat, jam setengah 7 malam saya sudah harus ada di Stasiun Kejaksan untuk kembali ke Jakarta. Setelah membuka Google Maps dan menimbang-nimbang destinasi mana yang akan dituju, saya pun melangkahkan kaki ke luar stasiun menuju destinasi pertama.

  1. Cirebon Waterland

Cirebon Waterland adalah loka wisata keluarga berupa waterbom. Dulunya, wahana ini dikenal sebagai taman rekreasi Ade Irma Suryani Nasution. Lokasinya persis di pinggir laut dan dekat pelabuhan. Seingat saya waktu berkunjung di tahun 2004 lalu, taman ini kurang terawat. Pantainya beraroma amis dan penuh sampah. Tapi, sekarang taman ini telah berbeda.

Dari Stasiun Prujakan, saya beruntung karena ada seorang kawan yang menemani saya ke tempat ini.  Katanya, ia ingin sekalian mengobrol. Setibanya di lokasi, ada dua pintu masuk. Pintu masuk pertama adalah langsung menuju Waterbom. Pintu kedua adalah pintu menuju restoran Cheng Ho dan cottages yang berada di atas pantai.

Penampakan Cirebon Waterland. Atas: kolam bermain. Bawah: restoran Cheng Ho

Teman saya sudah pernah ke sini. “Kalau kamu masuk lewat waterbom, rugi. 45 ribu cuma buat liat laut doang. Mending masuk lewat sini (restoran), bayar 50 tapi sudah sama makan.”

Saya manggut-manggut. Di depan pintu restoran, kami dimintai biaya tiket sebesar 50 ribu per orang. Tiket 50 ribu itu bukan sekadar tiket. Ia bisa digunakan untuk makan juga di restoran. Hanya, apabila harga makanan yang kami pesan lebih murah, sisa uang tidak dapat dikembalikan. Kembali, saya beruntung lagi. Saat saya hendak membayar, teman itu berkata “Ga usah. Udah jauh-jauh datang ke sini, aku seneng. Tak traktir,” katanya.

Restoran Cheng Ho sendiri merupakan satu kesatuan dari cottages-cottages yang dibangun rapi di atas laut. Dari luar, restoran ini berbentuk seperti perahu lengkap dengan layar-layar di atasnya. Pengujung restoran bisa memilih untuk makan di dalam ruangan atau di luar, di tepian laut.

Kendati lautnya berwarna coklat dan sedikit bersampah, bersantap di atas restoran ini lumayan nikmat. Hanya, kalau siang bolong sih lebih baik duduk di dalam ruangan yang ber-ac. Jika duduk di tepi pantai, panasnya sangat terasa.

Pengunjung restoran Cheng Ho boleh berjalan-jalan ke sekitar cottages. Cottages-cottages ini mirip seperti penginapan yang dibangun di hutan mangrove di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Saya kurang paham berapa harganya semalam, tapi mungkin harganya di atas 500 ribuan.

Di sisi kiri cottages, terdapat sebuah jembatan kayu panjang yang membentang hingga ke tengah laut. Jika ingin berjalan sampai ke ujung, wajib membayar 10 ribu, lalu gratis sebotol teh manis. Saya coba berjalan sampai ke ujung, tapi baru setengah jalan saya mundur. Angin bertiup keras. Kayu dan bambu jembatan agak kurang meyakinkan ketika diinjak. Ada beberapa bagiannya yang bolong dan berderit. Setelah mengambil foto dan duduk sejenak, saya kembali ke daratan.

  1. Vihara Dewi Welas Asih

Jam sudah menunjukkan pukul tiga. Saya cuma punya waktu tiga jam lagi sebelum kereta berangkat. Dari Cirebon Waterland, saya berjalan kaki menyusuri jalan besar ke arah Stasiun Cirebon Kejaksan. Suhu wilayah pesisir sejuk-sejuk panas, keringat pun bercucuran.

Tak jauh dari pelabuhan, ada satu bangunan yang menarik mata. Bangunan ini bergaya oriental dan tercium aroma dupa dari pelatarannya. “Vihara Dewi Welas Asih”, tertulis di papan penunjuk.

“Permisi pak,” saya meminta izin kepada seorang lelaki yang berjaga di sana.

“Oh ya silakan, ada keperluan apa?”

“Cuma mau lihat-lihat pa.”

Bapak itu bernama Yohanes. Ia seorang penganut Katolik yang sudah bertahun-tahun bekerja sebagai penjaga vihara. Ia tidak membiarkan saya melengos sendirian. Dengan detail dan nada lembut, ia bertutur tentang vihara ini.

“Kamu aslinya Bandung? Tadi siang ada rombongan dari Bandung ziarah ke sini. Kalau kamu datangnya agak cepet, siapa tahu kamu bisa ikut sekalian pulang ke Bandung.”

“Wah, nggk pak. Sekarang aku pulangnya ke Jakarta, kan kerjanya di sana, bukan di Bandung,” saya menyanggah.

Vihara Dewi Welas Asih didirikan pada tahun 1595 oleh orang-orang Tionghoa yang bermukim di pesisir Cirebon. Jika data tersebut valid, maka usia vihara ini sekarang sudah 423 tahun! Angka yang tua untuk sebuah bangunan yang masih berdiri hingga kini.

Saya sendiri tidak terlalu banyak bertanya pada Yohanes perihal vihara ini. Setelah Yohanes memotret diri saya di depan dinding vihara satu kali, ia pamit mengobrol dengan rekannya. Saya berjalan ke ruangan altar utama, menatap dewa-dewa dalam keheningan dan rasa hormat. Aroma dupa tercium harum di bibir. Pendaran temaram lilin-lilin raksasa terasa meneduhkan jiwa. Keheningan sore itu terasa syahdu, bercampur dengan sayup-sayup suara berbahasa Mandarin dari anak-anak yang sedang les di belakang vihara.

  1. Stasiun Cirebon Kejaksan

Destinasi ketiga adalah destinasi sekalian pulang. Dari Vihara, saya kembali berjalan kaki. Kali ini lumayan ngos-ngosan karena jaraknya cukup jauh. Sekitar 2 kilometer melewati ruas jalan yang tidak ramah pejalan kaki.

Cerita tentang destinasi ketiga ini sudah pernah saya tuliskan di sini. Stasiun Cirebon Kejaksan adalah stasiun yang sarat nilai sejarah. Bangunannya berwarna putih dalam langgam art deco, menampilkan nuansa seabad lalu yang masih kentara.

Stasiun Cirebon Kejaksan diresmikan pada 3 Juni 1912 untuk mengakomodasi penumpang yang bepergian dari Batavia ke arah timur. Gaya arsitektur Eropa di Stasiun Cirebon Kejaksan tidak hanya dijumpai di bagian wajahnya. Keseluruhan bangunan jika dicermati masih mencerminkan nuansa seabad lalu yang masih terjaga rapi. Di pinggir peron, ukiran setengah lingkaran menghiasi dinding stasiun. Tulisan “Cirebon” juga masih menggunakan font yang jadul. Nuansa masa lalu ini jadi semakin manis dengan dipercantiknya stasiun. Peron-peron dibuat tinggi supaya penumpang tidak kesusahan masuk ke dalam kereta. Penunjuk arah ada di mana-mana. Dan, untuk mengurai kepadatan penumpang yang berpindah antar peron tersedia terowongan. Layanan untuk penyandang disabilitas juga sudah tersedia. Jika boleh memberi skala penilaian, saya akan memberikan angka 9 untuk Stasiun Cirebon Kejaksan yang kerapihannya sedap dipandang dan nyaman di hati.

Jelang matahari meredup, saya menyudahi jalan-jalan dan duduk di sayap utara stasiun, dekat dengan bengkel lokomotif. Angin semilir berhembus. Mendung pekat menggantung di sisi selatan, sedangkan kemilau jingga menyemburat di sisi utara. Teduh sekali.

4 Comments on “3 Destinasi Ciamik di Cirebon yang Bisa Diakses dengan Berjalan Kaki

  1. saya baru tahu kalau di cirebon ada cottage seperti itu. Pernah juga main ke Cirebon .. jalan2 ke tempat yang biasa, Istana kesultanan Cirebon, gua surnyaragi .. dan beli batik .. hehe .. standard banget ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: