Semarak Bunga Matahari Di Atas Pasir Pantai


Di Sabtu sore yang berawan, Seno terduduk di sebuah dipan kayu. Di belakangnya, bunga-bunga matahari bermekaran, warnanya kuning merona. Bunga-bunga itu bergoyang-goyan ditiup hembusan angin dari laut. Tapi, perhatian Seno tak tertuju ke sana. Matanya menatap lembar demi lembar kertas yang isinya adalah cerita tentang dinosaurus.


Seno tidak sendiri. Di dekatnya ada Atik, seorang perempuan berusia 30-an yang adalah ibunya. Sementara Seno belajar, Atik melempar senyum pada setiap pengendara sepeda motor yang melintas di depannya.

“Monggo mas, mbak, mampir-mampir dulu. Selfie sama bunga matahari. Lagi mekar.”

Mendengar undangan hangat dari Atik, saya dan Tegar berhenti sejenak. Awalnya kami tidak berniat singgah di kebun bunga, kami ingin langsung ke Dermaga Adikarto. Di sebelah kiri kami, ada sekitar lima kebun bunga yang masing-masingnya dibatasi oleh pagar kayu. Dari pinggir jalan, bunga-bunga itu menarik mata, mereka sudah bermekaran dan tampak begitu merona. Di kebun paling ujung sebelum jalan aspal berkelok, Atik berdiri sembari mengundang tiap orang untuk singgah.

Kami pun memarkirkan sepeda motor dan berjalan menghampiri Atik. Di gapura masuk kebun, Atik meletakkan sebuah kotak kayu. Bentuk kotak itu mirip seperti kotak amal. Ada lubang kecil untuk menyelipkan uang kertas di atasnya. “Monggo mas, selfie, lima ribu satu orang,” kata Atik.


Setelah menyelipkan selembar uang sepuluh ribu, saya dan Tegar berjalan masuk ke dalam kebun. Saya baru pertama kali menemui sebuah pantai yang di atas pasirnya tumbuh bunga-bunga cantik. “Kok bisa bu bunganya mekar di pasir pantai?” saya bertanya pada Atik.

“Oh bisa mas. Bunga matahari bisa tumbuh di pasir pantai.”

Atik bertutur, kemudian ia membuka kotak kayu yang ia pajang di gapura. Kotak itu isinya tidak cuma uang. Ada sekantong bibit bunga matahari yang bentuknya mirip kuaci. Bibit-bibit itu dikemas rapi dalam plastik-plastik kecil. Mirip seperti kemasan obat yang diracik di apotek. Bibitnya ada dua jenis. Jenis yang pertama ukurannya besar-besar, sedangkan yang kedua lebih kecil.

“Kalau bibit yang ini, ditaruh dulu di polybag satu bulan. Nanti bulan kedua udah bisa ditaro di tanah mas. Cepet tumbuhnya. Kalau yang ini, lebih lama. Lepas dua bulan baru bisa ditaro di tanah.”


Kebun bunga matahari milik Atik pertama kali dibuka pada September 2017. Waktu itu, ia bersama beberapa warga desa mencari ide untuk menciptakan objek pariwisata yang baru di kawasan Glagah. Nama Glagah sendiri sebenarnya sudah cukup ternama, mengingat di lokasi ini terdapat pelabuhan dengan tumpukan beton-beton pemecah ombak. Bagi sebagian orang, Pantai Glagah adalah spot wisata Instagrammable. Kendati demikian, Pantai Glagah tidak selalu ramai tiap hari. Kawasan Pantai Glagah di Kulonprogo masih kalah pamor dibandingkan Parangtritis di Bantul.

Percobaan pertama menyemai bunga matahari ternyata sukses. Setelah bibit berubah wujud menjadi tanaman, Atik memindahkannya ke pasir tapi tidak asal taruh. Di sekitar akar tanaman diberi setumpuk jerami. Tujuannya supaya akar tetap lembab dan bunga mekar sumringah. Pohon-pohon matahari kecil itu ia rawat dengan telaten. Pagi dan sore ia sirami. Tiap waktu ia doakan supaya mereka tumbuh besar dan mekar. Setelah kurang lebih tiga bulan, bunga-bunga itu mekar. Atik meminta Seno untuk berfoto dengan bunga matahari, kemudian ia mencetak foto itu dan menggunakannya sebagai backdrop penanda kebun bunga mataharinya.


“Tapi bunga matahari paling-paling bertahan cuma sebulan mas. Saya pusing. Yang ini saya tanam dua bulan lalu. Saya pikir mekarnya nanti pas lebaran. Ini malah sekarang sudah mekar duluan. Cuaca gak bisa diprediksi.”

“Waduh, terus gimana dong bu? Kan lebaran masih hampir sebulan lagi?”

Atik menggeleng sembari tertawa kecil.

“Semoga awet mas. Semoga sekarang dan minggu-minggu depan Gusti kasih hujan. Kalau ada hujan, bisa tahan sampai sebulan. Kalau tidak hujan, ya dua mingguan lagi layu, hitam, terus mati.”

“Sayang banget ya bu. Cuma sebulan lalu udah. Ndak coba dimanfaatkan yang lain bu selain buat foto-foto?”

Atik kembali menggeleng. Sampai hari ini, ia bersama warga yang mengelola kebun bunga matahari hanya memanfaatkan kebun ini sebagai objek swafoto semata. Artinya, kehadiran bunga-bunga semarak ini hanya bisa bermanfaat kalau ada pengunjung yang datang dan ingin berfoto. Jika tidak, maka bunga-bunga itu hanya bergoyang-goyang saja ditiup angin. Tak mendatangkan uang.

This photo is taken with Brica B-PRO5 Alpha Edition MK.¢òS

Selain dimanfaatkan sebagai objek swafoto, Atik juga tahu kalau bunga matahari bisa diolah menjadi kuaci atau minyak, tapi ia belum tahu siapa yang dapat menolong mereka mewujudkannya.

Ketika Atik dan beberapa warga menggarap ide membuat kebun bunga, mereka mencontoh kebun yang sudah lebih dulu ada dan ngehits di Bantul. Harapannya, ketika banyak orang datang untuk swafoto, mereka bisa meraih untung. 

“Coba masnya foto, tulis, terus masukin ke internet mas, biar kebun saya makin rame,” kata Atik sembari terkekeh.

“Boleh bu. Saya tulis ya, kita foto bareng ya bu?”

Atik menggeleng. “Jangan aku mas, foto sama Seno aja.”

Seno pun menanggalkan buku bacaan dinosaurusnya, berpose senyum di depan kamera.

Usai berfoto, saya undur diri dari Atik dan Seno. Matahari sebentar lagi tenggelam, saya dan Tegar harus segera mencapai Dermaga Adikarto untuk mendapatkan jepretan senja yang syahdu.

4 respons untuk ‘Semarak Bunga Matahari Di Atas Pasir Pantai

    1. Masnya kalau dri jalan wates, nemu plang pantai Glagah, ikutin aja plang itu.

      Ntr sebelom parkiran motor, tepatnya pas di sebrang pagar proyek bandara NYIA, ada kebun2 bunga itu mas

  1. saya pernah ke kebun Bunga matahari yang dekat pantai cemoro bantul nih. Ternyata masih bersambung sampai glagah kulonprogo ya ? jalur pantai selatannya sudah terkonek kah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s