Pertama Kali Naik Kereta Api Bima, Si Biru Malam

Interior dalam K1 2016 yang dirangkaikan pada KA Bima

Kamis, 24 Mei 2018. Hari itu adalah hari yang spesial. Bukan karena naik gaji, bukan pula karena mendapatkan si pujaan hati. Tapi,  hari itu bos saya memberi bonus cuti satu hari. Dan, untuk memaksimalkan cuti itu, saya memilih untuk mudik ke Jogja naik kereta. Perjalanan kemarin adalah kali pertama saya naik Kereta Api Bima, sebuah layanan kereta api kelas eksekutif yang pada masa-masa awal kemunculannya dicap sebagai kereta serba wah.

Perjalanan hari itu dimulai dari Kalideres, Jakarta Barat. Setelah semua pekerjaan selesai, saya izin meninggalkan kantor dua jam lebih cepat. Jam tiga sore, saya meluncur ke Gambir menggunakan ojek motor. Jalanan Jakarta masih lengang, kalau saja telat sejam lagi, jalanan sudah berubah jadi lautan macet.

Jam empat kurang, saya tiba di Gambir. Tidak seperti hari Jumat malam yang penuh sesak penumpang, Kamis sore suasana stasiun lebih lengang. Saya mencetak boarding-pass, mampir toilet sebentar, check-in, kemudian duduk manis di peron jalur 3. Di jalur 4 sudah tersedia Kereta Api Argo Sindoro yang akan berangkat ke Semarang Tawang tepat pukul 16:15.

Bersama si puongsss

Saya duduk di gerbong satu, persis di belakang lokomotif CC 206 yang kalau klaksonnya bersiul, nadanya puoonggsss. Tepat pukul 16:30, semboyan 35 yang berupa peluit panjang berbunyi.

Priiiit

Peluit panjang itu dibalas dengan “puooooonggsss” dan kereta pun melaju.

Karena saya jarang naik kereta kelas eksekutif, perjalanan kali ini terasa berbeda. Ada rasa senang dan sedih. Senang karena kursinya nyaman, tidak perlu desak-desakkan. Sedih karena harganya cukup mahal. Untuk perjalanan dari Gambir ke Yogyakarta, saya membayar 335 ribu. Lebih murah 15 ribu dari Taksaka dan Argo Lawu yang kala itu tarifnya 350 ribu. Tapi, harga ini lebih mahal dibandingkan KA Bengawan yang tarifnya disubsidi pemerintah sehingga hanya 74 ribu, atau Progo yang non subsidi seharga 120 ribu.

Fasilitas KA Bima: kartu menu makanan, majalah On-Track, dan paket hokben plus teh yang saya beli sendiri.
Di atas Eksekutif 1 KA 44 Bima

Walau lebih mahal, saya memang sengaja memilih naik kereta Bima supaya bisa tiba di Jogja sebelum jam satu pagi, dan sekalian ingin merasakan sensasi seperti apa sih naik kereta yang dulu pernah didapuk sebagai kelas wahid.

Bertolak ke dekade 1960-an, KA Bima mulai wara-wiri di lintasan Jakarta – Surabaya pada tanggal 1 Juni 1967. Nama Bima merupakan singkatan dari Biru Malam, mengingat kereta ini menempuh perjalanannya dalam dekapan langit malam. Gerbongnya pun dicat berwarna biru. Kalau kata dosen Komunikasi Visual sewaktu kuliah dulu, warna biru dalam livery moda transportasi bisa diartikan sebagai elegan, juga aman.

KA Bima pada masa itu tergolong sebagai kelas wahid. Rangkaiannya menggunakan kereta tidur, atau istilah bekennya adalah sleeper train. Kereta tidur ini dibuat oleh pabrik di Jerman dan menjadi kereta tidur pertama yang beroperasi di Indonesia. Dan, satu lagi, KA Bima waktu itu juga adalah kereta yang pertama kali menggunakan pendingin udara dalam perjalanannya. Pada masa itu, AC masih merupakan barang mewah dan moda transportasi pesawat belum semurah dan sepopuler sekarang.

Selama beberapa tahun KA Bima menikmati statusnya sebagai KA favorit dan paling ciamik. Hingga setelah tahun 1984, perusahaan menilai bahwa keberadaan kereta tidur tidak sesuai dengan kondisi sosial masa itu. Mungkin terlalu mewah, sehingga fasilitas kereta tidur ini pun dihapus. Tapi, di awal-awal penghapusannya, kereta tidur ini belum sepenuhnya sirna. Satu atau dua keretanya masih sempat dirangkaikan di kereta lain seperti Mutiara Utara dan Mutiara Selatan. Setelah layanan kereta tidur resmi dihapus dari fasilitas Kereta Api Indonesia, kereta-kereta tidur ini berevolusi. Ada yang tutup usia, tidak dipakai lagi. Ada pula yang sekarang menjadi kereta pariwisata.

Pasca tahun 1995, perusahaan berfokus pada peningkatan jumlah okupansi kereta, sehingga wacana pengadaan kereta tidur pun benar-benar tenggelam. Di masa ini jugalah kereta Bima mulai surut pamornya karena di tahun inilah, adik KA Bima lahir, yaitu Argo Bromo Anggrek yang sama-sama melayani penumpang di lintas Jakarta Surabaya. Kalau kakak Bima menuju Surabaya via Purwokerto dan Yogyakarta, adik Argo Bromo Anggrek melewati lintas utara melalui Semarang – Cepu – Bojonegoro. Secara jalur, si adik jauh lebih unggul. Jalur utara konturnya lebih lurus daripada jalur selatan yang melewati perbukitan berkelok-kelok di lintasan Cirebon-Purwokerto. Sehingga, si adik butuh waktu tempuh lebih cepat daripada si kakak. KA Argo Bromo Anggrek bisa tiba di Surabaya dalam waktu 9 jam, sedangkan Bima butuh 12 jam.

Perbedaan waktu tempuh ini cukup terasa. Jika saya naik kereta api ke Semarang, cukup enam hingga tujuh jam sudah bisa tiba di Tawang dari Jakarta. Sekarang jalur di lintas utara sudah double track, tidak perlu lagi kereta saling menunggu untuk berbagi jalur. Sedangkan di jalur selatan, dari Purwokerto hingga Kutoarjo masih single track (sedang dikerjakanan jalur ganda), kereta harus bergantian jika berpapasan.

KA Bima tunggu silang KA Gajahwong tujuan Pasar Senen di Stasiun Purwokerto

Meski pamor KA Bima sudah tersaingi oleh si adik, tapi Bima tetaplah kereta eksekutif, kereta kelas satu. Dari Gambir, kereta terus melesat ke arah timur. Di Jatibarang, kereta berhenti selama dua menit untuk naik turun penumpang. Di Cirebon, kereta berhenti lagi. Langit di luar sudah gelap, saya menempelkan wajah ke jendela supaya tetap bisa melihat sawah-sawah gelap dan pedesaan yang dilintasi kereta.

Selepas Purwokerto, status KA Eksekutif yang disandang Bima tidak membuatnya diberi karpet merah dan lampu hijau terus menerus. Di Kroya, KA Bima berhenti selama tujuh menit untuk memberi jalan bagi KA Taksaka yang meluncur ke Gambir. Melaju kencang, berhenti, melaju lagi, berhenti lagi. Di stasiun Sumpiuh, kereta berhenti. Kali ini bersilang dengan KA Gajayana. Di Stasiun Ijo, berhenti untuk tunggu silang dengan KA Argo Dwipangga. Dan, terakhir di Kebumen, berhenti lagi untuk bersilang dengan sesama Bima yang mengarah ke Jakarta.

Tunggu silang KA Taksaka di Stasiun Kroya
Stasiun Ijo nan sunyi. Tunggu silang KA Argo Dwipangga

Selepas Kutarjo, jalur sudah double track. Tidak ada lagi tunggu-tungguan. Bagi yang ingin cepat, jalur ganda sungguh menggembirakan. Tapi buat yang suka berlama-lama di atas kereta api, jalur ganda menghilangkan momen-momen berharga. Saat kereta sedang tunggu silang, saya suka turun dari kereta, memotret, dan mengobrol dengan sesama penumpang yang biasanya memanfaatkan waktu sesingkat apapun untuk udud.

Seperti yang tertera di boarding pass, pukul 00:40 KA Bima nomor 44 tujuan Malang tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kereta berhenti 12 menit. Beberapa penumpang, juga saya, turun dari kereta dan berjalan ke selatan menuju pintu keluar.

Yeah! Jogjakarta! Kereta Bima kembali bertolak. Perjalanannya masih panjang. Dari Yogya hingga ke Malang masih terbentang jarak 300 kilometer lebih. Kalau on time, kereta akan tiba di Malang sebelum pukul 9 pagi.

 

10 respons untuk ‘Pertama Kali Naik Kereta Api Bima, Si Biru Malam

  1. Oh, jadi tahu cerita kereta Bima. Tahun lalu ketemu bapak2 orang Indonesia di sleeper train kereta Senandung Sutera Johor-KL, beliau bilang kereta ini kayak kereta Bima dulu. Takjub juga dengar kalau di Indonesia ada sleeper train. Mungkin cerita masa mudanya dulu, kan sudah lama sleeper train Bima ditiadakan.

  2. terima kasih sharingnya… cerita yang sangat menarik. kebetulan minggu depan saya mau baru mau nyoba kereta Bima Eksekutif. jadi semakin penasaran. karena bakal jadi pengalaman pertama naik kereta api.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s