Mengintip Rapinya Stasiun Cirebon Kejaksan

Bagaimana rupa sebuah bangunan tua yang dirawat dengan rapi? Stasiun Cirebon Kejaksan menyediakan jawaban itu.

Sabtu kemarin, seperti yang lalu-lalu, weekend adalah waktu favorit untuk jalan-jalan naik kereta. Setelah paginya berangkat menuju Cirebon naik KA Tegal Ekspress, malamnya saya pulang ke Jakarta naik KA Tegal Bahari.

Kunjungan ini adalah kali pertama saya benar-benar menginjakkan kaki di Stasiun Cirebon Kejaksan. Biasanya stasiun ini cuma numpang dilewati kalau bepergian ke Semarang, Jogja, atau Solo. Itu pun jam lewatnya sudah malam. Kantuk sudah keburu menyerang, kepala enggan melongok ke luar jendela.

Dari Vihara Dewi Welas Asih di dekat Pelabuhan Cirebon, saya sengaja berjalan kaki menuju stasiun supaya sesuai dengan visi hari itu: jalan-jalan, tidak naik angkot, becak, atau gojek. Saya melewati jalan raya yang trotoarnya rusak, menyeberang jalan, berbelok kanan, berjalan lurus lagi sampai akhirnya tiba di tujuan. Sebelum masuk ke bangunan utama stasiun, sebuah lokomotif uap berwarna hitam diletakkan di jalan masuk.

Ada dua stasiun besar di kota Cirebon. Saat datang menaiki KA Tegal Ekspress, saya turun di Stasiun Cirebon Prujakan. Letaknya lebih selatan daripada Cirebon Kejaksan dan terdapat percabangan jalur menuju Tegal atau Purwokerto. Stasiun Prujakan melayani kereta api kelas ekonomi, sedangkan Kejaksan melayani kelas bisnis, premium, dan eksekutif. Dari depan, saya terkesima dengan rupa fisik Stasiun Cirebon Kejaksan. Bangunannya bergaya Art Deco, berwarna putih dan tinggi. Khas dengan nuansa kolonial yang telah berpadu dengan modernitas. Sederetan mobil terparkir rapi di pelatarannya.

Badan saya keringatan. Setelah mengambil sedikit foto dan membeli air mineral, saya izin ke petugas untuk boarding lebih dulu dan syukurnya diizinkan. Waktu itu masih pukul 16:00, sedangkan kereta Tegal Bahari berangkat pukul 18:30. Kalau di Gambir, peraturan boarding ketat. Hanya boleh satu jam sebelum kereta berangkat. Ini dimaklumi karena kapasitas peron Gambir yang kecil.

Ruang tunggu di Stasiun Cirebon Kejaksan

Di sepanjang pinggiran rel Stasiun Cirebon Kejaksan tidak terdapat kursi sama sekali. Saya clingak-clinguk mencari tempat duduk sampai seorang petugas keamanan datang menghampiri. “Silakan menunggu di ruang tunggu mas, di sebelah sana.”.

“Wew,” saya bergumam dalam hati. Ruang tunggu ini rasa-rasanya adalah ruang tunggu yang paling bagus yang pernah saya jumpai selama ini. Ruangan dilengkapi pendingin udara dan area bermain anak. Kursi-kursinya ada tiga macam: ada kursi sofa, kursi tunggu biasa lengkap dengan chargeran, dan kursi dan meja tinggi seperti di kafe. Ruang tunggu ini membuat impresi pertama saya akan Stasiun Cirebon sangat baik. Setelah bersantai 15 menitan di ruangan ber-ac, saya menjajal kamar mandi sekalian untuk ganti baju. Kamar mandinya bersih dan wangi. Pencahayaannya juga bagus. Menggunakan lampu kekuningan, kamar mandi jadi terkesan eksklusif.

Kamar mandi pria

Dari depan kamar mandi, pemandangan Stasiun Cirebon Kejaksan terlihat ciamik. Sebuah menara air berdiri menjulang. Selain sebagai stasiun tempat naik turun penumpang, Stasiun Cirebon Kejaksan juga menjadi tempat transit masinis yang bertugas. Beberapa kereta api bertukar masinis di stasiun ini. Kereta juga berhenti di atas lima menit untuk mengisi air di tiap gerbongnya.

Saya berjalan dari ujung ke ujung. Stasiun Cirebon masih mempertahankan keasliannya seperti sedia kala. Jika ditilik dalam linimasa, Stasiun Cirebon Kejaksan dulunya hanyalah sebuah stooplats. Pada masa Belanda, tempat pemberhentian kereta api ada tiga jenis: stasiun, halte, dan stooplats. Stasiun adalah kasta tertinggi, disusul oleh halte, dan terakhir stooplats yang diambil dari kata berbahasa Belanda. Stoop artinya berhenti dan plats artinya tempat.

Memasuki abad 20, Cirebon Kejaksan naik status, dari stooplats menjadi stasiun. Stooplats kemudian dihapuskan pada tahun 1933, menyisakan dua jenis saja untuk tempat pemberhentian kereta. Pieter Adriaan Jacobus Moojen merancang bangunan stasiun dengan apik dan pada 3 Juni 1912 diresmikanlah bangunan Stasiun Cirebon Kejaksan yang megah seiring dengan dibukanya lintas Cikampek-Cirebon sejauh 137 kilometer oleh Staatsspoorwegen.

KA Kertajaya melintas langsung Cirebon Kejaksan

Pada tahun 1917, Stasiun Cirebon Kejaksan semakin ramai karena jalur Batavia-Yogyakarta-Surabaya sudah dibuka melewati Cirebon. Sebelumnya perjalanan kereta api Staatsspoorwegen dari Batavia menuju Surabaya tidak dapat melewati Semarang karena dari Stasiun Cirebon Kejaksan, jalurnya tidak menyambung ke timur. Stasiun Cirebon Kejaksan dimiliki oleh Staatsspoorwegen yang jalurnya berbelok ke Kroya, sedangkan Stasiun Prujakan dimiliki oleh Semarang-Cheribon Spoorwegmaatschappij (SCS) yang jalurnya membentang hingga ke Semarang. Dari Batavia ke Surabaya via Kroya memakan waktu selama 2 hari. Sebelum tahun 1936, tidak ada layanan kereta malam jadi semua penumpang biasanya diinapkan dulu di Kroya baru kemudian melanjutkan perjalanan. Barulah pada 1 November 1914 diteken kesepakatan untuk menghubungkan Stasiun Cirebon Kejaksan dan Cirebon Prujakan.

Rupa lawas Stasiun Cirebon Kejaksan

Gaya arsitektur Eropa di Stasiun Cirebon Kejaksan tidak hanya dijumpai di bagian wajahnya. Keseluruhan bangunan jika dicermati masih mencerminkan nuansa seabad lalu yang masih terjaga rapi. Di pinggir peron, ukiran setengah lingkaran menghiasi dinding stasiun. Tulisan “Cirebon” juga masih menggunakan font yang jadul. Nuansa masa lalu ini jadi semakin manis dengan dipercantiknya stasiun. Peron-peron dibuat tinggi supaya penumpang tidak kesusahan masuk ke dalam kereta. Penunjuk arah ada di mana-mana. Dan, untuk mengurai kepadatan penumpang yang berpindah antar peron tersedia terowongan. Layanan untuk penyandang disabilitas juga sudah tersedia. Jika boleh memberi skala penilaian, saya akan memberikan angka 9 untuk Stasiun Cirebon Kejaksan yang kerapihannya sedap dipandang dan nyaman di hati.

Jelang matahari meredup, saya menyudahi jalan-jalan dan duduk di sayap utara stasiun, dekat dengan bengkel lokomotif. Angin semilir berhembus. Mendung pekat menggantung di sisi selatan, sedangkan kemilau jingga menyemburat di sisi utara. Teduh sekali.

Referensi laman web:
https://heritage.kai.id/page/Stasiun%20Cirebon

Referensi pustaka:
Raap, Olivier Johannes. 2017. Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

 

17 respons untuk ‘Mengintip Rapinya Stasiun Cirebon Kejaksan

    1. Nah, kalau musim mudik aku belum pernah merasakan nih karena biasanya saat mudik aku malah gak ikut mudik hihi.

      Tapi sepertinya sih tetap nyaman. Karena kalau saat mudik, pasti pihak stasiun sudah menyiapkan diri :))

      1. Haha.. selalu ada alasan untuk kembali ya.. Dilihat-lihat bagusan stasiun Cirebon dibanding stasiun Bandung ya? 😂 Jadi pengen ke Cirebon naik kereta nih.. 😁

  1. Stasiun-stasiun sekarang sudah bagus2 ya.. dan yang pasti jadi lebih nyaman, meski stasiun kecil sekalipun.

    Termasuk stasiun cirebon ini.. dulu pernah kesana sebelum direnovasi, ampun deh.. penjual dagangannya banyak banget bareng sama copet. Dulu terkenal banget stasiun corebon dengan copet euy..

    Sekarang sudah keren sepertinya harus main2 kesana lagi deh..

    1. Wah, aku baru tahu kalau Cirebon jg banyak copetnya. Dulu yg kutahu itu stasiun Gombong rawan, apalagi kalau kereta malam berenti lama di sana. Suka ada penyusup yg cari kelengahan penumpang.

      Tp itu dulu hehehe.
      Semua stasiun jadi lebih baikkk skrg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s