Bermalam di Rumah Tua

Menginap di rumah teman? Itu biasa. Menginap di hotel? Itu juga biasa. Menginap di rumah tua yang dibiarkan kosong puluhan tahun? Hmmmm.

Kisah lain dari perjalanan ke Lasem bersama Ruangsore.com

Belum sampai seperempat jalan menuju Lasem, motor kami berguncang. Mas Joe yang mengendalikan kemudi buru-buru menepi ke bahu jalan dan mengecek kondisi roda. “Wah, bannya kena,” katanya. Kami turun dari motor. Mas Joe mendorong motor dari samping, saya mengikuti di belakangnya. “Moga kurang angin tok ya mas,” saya berharap. Saat tiba di tukang tambal, ternyata ban sudah sobek dan perlu diganti baru seharga 40 ribu.

Perjalanan berlanjut, tapi jadi lebih pelan karena takut ban motor kembali bermasalah. Mas Joe memacu kecepatan tak lebih dari 70 km/jam supaya kalau ada lubang di depan, motor bisa menghindar. Perjalanan kami ke Lasem masih jauh. Jika ditilik di peta, dari Semarang sampai ke Lasem terbentang jarak kurang lebih 130 kilometer. Semua jalurnya melewati Pantura. Motor kami terasa kerdil jika dibandingkan dengan tronton dan bus-bus yang melintas. Sesekali bus yang ngebut membuat motor kami menepi sedikit. Cari aman supaya selamat.

Jam setengah dua belas siang, kami tiba di destinasi dan langsung menuju Rumah Nyah Lasem, penginapan yang akan kami tempati selama dua malam. Sebelumnya, Mas Joe sudah mempersiapkan lebih dulu segala detail itenerary perjalanan di Lasem, mulai dari tempat menginap sampai dengan siapa orang yang paling pas untuk menjadi narasumber dan pemandu perjalanan kami.

Rumah Nyah Lasem berlokasi kampung Karangturi, yang posisinya berada di sebuah gang di tepi jalan raya Jatirogo yang ramai. Di pinggir jalan ada penjual vcd dangdut, bakul pecel, warung wedangan, juga minimarket. Kontras dengan pinggir jalan yang ramai, suasana di sekitar rumah sepi. Ada satu kios di depan tembok rumah, tapi kios itu tutup. Rumah tetangga-tetangga juga pintunya tertutup. Sunyi.

Pagar kayu berdecit saat dibuka. Pekarangan ditumbuhi semak-semak yang masih basah karena sisa embun. Mas Pop sudah tiba lebih dulu, senyumnya menyeringai dan dia menjabat tangan saya juga Mas Joe. “Aku ada tamu siang ini, kalian istirahat dulu aja. Kalau mau jalan-jalan sendiri juga boleh. Nanti malam aku balik,” katanya.

Badan saya capek. Di perjalanan Jakarta-Semarang, saya cuma tidur ayam. Saran dari Mas Pop terasa menggiurkan. Kami memarkirkan motor, mengunci pintu, dan masuk ke kamar. 

Di dalam Rumah Nyah Lasem ada dua kamar utama yang biasa diperuntukkan untuk tamu. Kami kedapatan kamar yang ujung, yang paling jauh dari pintu masuk. Katanya, di kamar depan nanti malam akan ada tamu satu lagi dari Jakarta.

Sebagai rumah tua, banyak perabot lawas di dalamnya. Di kamar yang kami tempati ada dua kasur berdebu. Lumayan nyaman untuk tidur walau kadang bikin hidung jadi gatal. Ada lampu gantung, dan sebuah kipas angin mungil yang sedikit horror. Saat berputar, tubuh kipas angin ini bergoyang-goyang. Lalu, putarannya tidak pernah searah. Setelah memutar semenit ke kiri, dia berputar ke kanan. Di rumah tua, keanehan sekecil apapun jadi begitu terasa.

Mas Joe berbaring di kasur, melemaskan badannya yang selama empat jam belakangan konsentrasi mengemudi. Sebelum rebahan di kasur, saya berminat mandi dulu. Ada dua kamar mandi di rumah ini. Paling dekat adalah kamar mandi di belakang kamar, tapi penampakannya tidak nyaman dilihat. Kamar mandi itu penuh dengan dedaunan kering, juga tidak ada lampu. Saya tidak jadi mandi di situ dan pindah ke kamar mandi yang dekat dengan kamar tidur Mas Pop dan pintu masuk.

Kamar mandi di belakang kamar saya menginap, tapi tidak jadi mandi di sini.
Kipas angin mungil yang bisa berputar ke kanan dan kiri

Adegan mandi dimulai. Saat atasan hingga bawahan sudah dilepas semua, angin bertiup. Gesekan suara dedaunan terdengar sampai ke dalam kamar mandi. “Braaaakkkk!” Tiba-tiba pintu di depan kamar Mas Pop terbanting dengan keras. Maksudnya mau mandi supaya membersihkan keringat, keringat saya malah tambah deras. Saya tahu pintu itu tertutup karena angin. Tapi, ya kembali seperti di atas, apapun yang terjadi di rumah tua ini jadi terasa serius dan memancing imajinasi.

Tiga jam setelah itu kami habiskan dengan tidur. Badan yang lelah mendukung tidur kali itu terasa nyenyak. Malam harinya, Mas Pop datang kembali ke rumah dan kami mengobrol bersama. Mas Pop adalah orang yang dipercaya untuk mengelola Rumah Nyah Lasem. Pemilik rumah ini adalah seorang Tionghoa bernama Santoso Soesantio, sekarang beliau tinggal di Semarang. Mas Pop aslinya tinggal di Rembang, tapi karena dia dititipi rumah ini, jadi dia turut bertanggung jawab untuk menemani tamu-tamu yang bermalam.

“Gimana istirahat dan kesannya sama rumah ini?” senyum Mas Pop menyeringai.

“Apik kok mas, tadi tidurnya nyenyak.”

“Airnya keluar kan?”

“Iya mas, lancar malah. Tadi juga saya sudah mandi”

Mas Pop mengangguk. “Bagus kalau begitu. Energi rumah ini positif menyambut kalian,” tambahnya.

“Maksudnya mas?”

Mas Pop bertutur panjang. Rumah Nyah Lasem adalah rumah yang dibangun sekitar tahun 1920-an. Tidak diketahui siapa pemilik pertama rumah ini. Jika dilihat dari usianya, Rumah Nyah Lasem belum terlalu tua. Kebanyakan bangunan pecinan di Lasem itu dibangun dengan langgam Fujian pada kisaran tahun 1700-1800an. Rumah Nyah Lasem sedikit berbeda karena tidak mengikuti standar arsitektur khas Pecinan masa itu, walau lokasinya masih di Pecinan. Setelah dibangun, rumah ini sempat kosong dan pada tahun 1950-an dibeli oleh Santoso Soesantio.

Di bawah kepemilikan yang baru, rumah ini juga tetap kosong. Lasem di abad 21 tidak lagi sememikat dulu. Generasi muda Tionghoanya kebanyakan tidak lagi menetap di sini. Mereka tersebar di kota-kota besar, menyisakan bangunan tua yang tidak lagi berpenghuni. Santoso sehari-harinya tinggal di Semarang, sehingga pengelolaan rumah dia serahkan kepada Mas Pop.

Mas Pop sendiri memiliki nama asli Baskoro, tapi dia lebih suka disapa Pop. Rambutnya ikal dan kalau pergi pasti membawa sebungkus rokok di dalam totebagnya. Melanjutkan cerita Mas Pop soal energi di rumah, dia bertutur kalau di dalam setiap tempat itu ada energi tak kasat mata. Di Rumah Nyah Lasem, energi itu positif dengan kedatangan saya dan Mas Joe.

“Rumah ini unik. Rumah ini memilih orang-orangnya sendiri,” kata Mas Pop.

Sebelum kami, ada seorang dari Jakarta yang hendak menginap di Rumah Nyah Lasem. Dia bahkan sudah sampai dan masuk ke kamar. Tapi, air tidak mau nyala, dan perasaannya tidak enak. Dia membatalkan rencana menginapnya  dan mencari penginapan lain.

“Kemarin airnya mati. Waktu tamu dari Jakarta datang juga airnya mati, dan sampai hari ini aku belum sempat perbaikin. Tapi kalian datang, airnya nyala sendiri,” Mas Pop tertawa kecil.

Saya dan Mas Joe saling berpandangan. Malam baru saja dimulai dan Mas Pop mengawalinya dengan cerita semacam ini.

“Tenang saja. Nikmati rumah ini. Energinya positif kok”

Energi positif. Ini kata kunci. Baiklah, energi positif, pasti kesan kami bermalam di tempat ini pun akan positif.

Dan, malam itu juga esoknya, menginap di Rumah Nyah Lasem jadi terasa nyaman. Kami melewati malam pergantian tahun di rumah ini, dalam kesunyian, tanpa semarak kembang api ataupun terompet. Benar-benar nyaman.

Kasur sederhana yang nyaman

 

25 respons untuk ‘Bermalam di Rumah Tua

    1. wkwkwkwk.
      tahun baru yg tenang, bener-bener sepi tanpa hingar-bingar.

      whoaaa, anak kos sejati kasurnya begitu ya.
      dulu kasurku ya busa, bkn kapuk. Kalo abis didudukin, buffering dulu, baru setelahnya kembali ke bentuk asli haha

  1. Oh, begitu ya rasanya menginap di rumah tua di Lasem. Dulu pernah lewat Lasem pas ke Surabaya dari Semarang lewat Pantura, terlihat unik dan jadul, banyak rumah tua peninggalan orang kaya jaman dulu kelihatannya.

  2. Hahahaha, siang2 udah horor aja yak 😀

    Asline aku penakut mas, tapi setiap di tempat baru apalagi suasananya kayak gitu coba berpikir positif dulu. Dan selanjutnya ga ada apa-apa wkwk. Dulu malah pertama tidur disitu dewean. Mas pop masih nemenin mbak bule. Tp akhirnya pulas juga 😀

    Ada satu temen nih yg pengen ditemenin ke Lasem, tp blm keturutan. Karena takut begitu tak liatin guesthousenya wkwkwk. Dan gatau mau nginep di mana lagi.

    1. Wkwkwkwkwk. Tp air mukamu tenang banget loh wktu dsana. Hahaha

      Walau serem, tp berkesan nginep di Nyah Lasem. Seremnya cuma di awal-awal aja. Tapi kalau malem ttepan kerasa seremnya

  3. Uwaaaa keren bisa nyoba nginap di rumah tua dan disambut aura positif 😁. Pasti deg2an maksimal pas mandi. Saya ngakak bacanya.

    Btw, kok halaman rumahnya agak berantakan dan penuh dedaunan kering gitu ya? Kan creepy banget. Kalau dirapihin mungkin lebih menyenangkan dilihat.

    Baca malem2 begini jadi merinding 😃

    1. Hahaha. Nah itu mas, aku ya agak syok pas tahu kok halamannya penuh daun kering. Apalagi kalau masuk ke WC belakang. Tapi mungkin ini yang jadi nuansa tersendiri penginapan Nyah Lasem

    1. Kmren itu pengalaman pertamaxku tahun baruan dalam nuansa super sepi. Sebelumnya di 2015 sempat tahun baruan di bukit menoreh. Sepi sunyi, tapi berdelapan sama temen jadi gak terlau krik-krik. Yang di Lasem ini yang super sunyi, cuma bertiga dan dilewatkan hanya dengan tidur haha

  4. Scarry ngikutin cerita kamu.
    Siapapun datang kerumah kosong puluhan tahun kayak gitu pasti merinding duluan ya ..

    Untung ya saat mandi pintu kamar mandi ngga kebuka sendiri … wkkwkk ..

    Sebenarnya bentuk rumah tua ini keren banget kalo diurus,sayangnya terlantar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s