Imaji Jika Indonesia Dulu Dijajah Inggris

by James Thomson (Thompson), published by Henry Fisher, stipple engraving, published January 1824

Bicara tentang jajah-menjajah bisa jadi hal yang cukup sensitif. Kendati Indonesia sudah meraih kemerdekaannya, masih ada beberapa kontroversi seputar sejarah penjajahan dulu. Salah satu yang pernah saya dengar adalah imaji jika saja seandainya Indonesia dulu dijajah Inggris.

Kalimat andai-andai itu pernah saya jumpai beberapa kali sewaktu sekolah dan kuliah dulu. Saya yang tidak tahu jawabannya jadi ikut berandai-andai:

Iya juga ya, mungkin kalau Indonesia dulu dijajah Inggris, akan jadi seperti Singapura dan Malaysia atau mungkin India.

Tapi India kan miskin?

Iya, biar miskin tapi punya senjata nuklir!

Jawaban dan imajinasi saya hanya berkutat pada sesuatu yang dapat dilihat mata. Bahwa Singapura kebanjiran turis dan jadi pelabuhan internasional, Malaysia yang punya menara Petronas, dan India yang punya senjata nuklir, itu semua seolah-olah menjadi indikator bahwa berkat jajahan Inggris di masa lalulah negeri-negeri itu bisa maju di masa sekarang.

Syukur kepada Tuhan karena imaji yang dangkal itu akhirnya runtuh di tahun ini! Sewaktu singgah ke Gramedia di September 2017, saya membeli sebuah buku karya Tim Hannigan yang berjudul “Raffles dan Invasi Inggris Ke Jawa”. Desain sampulnya sederhana: warnanya krem dengan potret kepala Raffles di atas dan ada pemandangan pedesaan Dieng pada bagian bawahnya. Setelah dibeli, buku ini sempat menganggur selama enam bulan. Barulah di bulan Maret-April 2018 saya fokus membacanya, mencatat detail-detail kecilnya, dan mendapatkan pencerahan dari untaian kata di dalamnya.

Indonesia pernah dijajah Inggris

Kembali ke imaji kalau andai Indonesia dijajah Inggris, sebenarnya pengandaian ini tidak benar. Indonesia dijajah Inggris itu bukan andai karena faktanya pada tahun 1811-1816 Indonesia memang dijajah oleh Inggris meski waktunya singkat. Tapi, singkat bukan berarti tidak pernah kan. 

Pada masa itu kepulauan Indonesia, terkhusus Jawa memang sudah dikuasai oleh Belanda yang telah menjelajah Nusantara di kisaran abad ke-16. Di abad ke-19, Belanda berhasil direbut oleh Napoleon dari Perancis. Meski Belanda pada masa itu tidak bermusuhan dengan Inggris, kejatuhan ke tangan Perancislah yang membuat Inggris mengobarkan perang terhadap Belanda karena waktu itu Inggris dan Perancis saling bermusuhan. Selain berperang di daratan Eropa, dua monarki ini juga saling berebut pengaruh di daerah jajahan mereka. Singkat cerita, melalui sebuah perencanaan yang dilakukan di Penang, disusunlah rencana penyerbuan dan pengusiran Belanda dari tanah Jawa.

Thomas Stamford Raffles yang dilahirkan pada 6 Juli 1781 baru berusia 24 tahun ketika berada di Penang. Di usianya yang muda itu, dia bersama John Casper Leyden mulai bersiasat untuk menyerbu Jawa. Raffles berusaha meyakinkan pemerintah Inggris yang kala itu ada di India untuk merestui rencananya. Dalam benak Raffles, Jawa adalah ‘Tanah Harapan’ yang memiliki segudang harta karun. Kelak, jika Jawa berhasil jatuh ke tangan Inggris maka kekayaan yang berlimpah akan jadi imbalan yang sepadan.

Di bab-bab pertama bukunya, Tim menggambarkan dengan detail tentang bagaimana persiapan Raffles memetakan rencana dan ambisinya atas Jawa. Saat tentara Inggris berhasil mendarat di Batavia, Tim menggambarkan bagaimana tegangnya suasana ketika kapal-kapal Inggris berlabuh di Pantai Cilincing dan dengan cepat menjatuhkan kota ini tanpa perlawanan berarti dari pihak Belanda. Kendati kawasan kota tua telah diduduki Inggris, perang masih berlanjut hingga terus ke selatan, di Weltevreeden hingga ke Benteng Meester Cornelis yang merupakan babak paling sengit. Saat Belanda akhirnya menyerah kepada Inggris, petulangan Raffles di tanah Jawa dimulai. 

Thomas Stamford Raffles sebenarnya bukanlah sosok sejarah yang asing di telinga saya. Sejak zaman SD dulu, nama Raffles dalam buku-buku pelajaran sekolah digambarkan sebagai sosok Inggris yang ‘mencintai’ Jawa dan punya ketertarikan dalam dunia botani. Untuk mengenangnya, sebuah tanaman bunga raksasa endemik Bengkulu diberi nama Rafflesia Arnoldi. Kalau kita sekarang berjalan-jalan ke Kebun Raya Bogor pun terdapat tugu Lady Raffles yang dibangun untuk mengenang kehadiran Raffles dalam wujud istrinya, Olivia. Ingatan ini melekat, setidaknya sampai akhirnya saya tuntas membaca buku karya Tim.

Selama lima tahun menjabat sebagai letnan gubernur, Raffles melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak dilakukan Belanda di Jawa. Di samping menuliskan buku tebal History of Java yang dianggap sebagai mahakarya pada zaman itu, Raffles mendobrak kesopanan yang mengakar di keraton-keraton Jawa, menjarah pusaka-pusaka,  menuliskan korespondensi berambisi yang akhirnya membuat pertumpahan darah di Palembang, dan serangkaian reformasi aturan yang akhirnya membuat kehidupan di Jawa dipenuhi kisah nestapa.

Pada 16 Juni 1811, atas instruksi dari Raffles, pasukan Inggris yang terdiri dari tentara Eropa dan India menyerbu Keraton Yogyakarta. Raffles menginginkan Keraton menyerah saat itu juga. Tapi, Sultan balik menuntut, meminta Inggrislah yang menyerah. Perundingan buntu, perang pun pecah. Sebelas ribu prajurit Jawa ditambah seratusan ribu warga berbambu runcing mati-matian mempertahankan kedaulatan Yogyakarta. Tapi, meski unggul di jumlah, pasukan Jawa kalah strategi belum ditambah lagi pengkhianatan dari dalam. Kemenangan Inggris atas Yogyakarta semakin mendongkrak ambisi Raffles menguasai ‘Tanah Harapan’. Selama nyaris dua abad Belanda berada di Jawa, mereka belum pernah melakukan sesuatu yang sedemikian berani seperti yang Raffles lakukan. Belanda menghindari penyerbuan secara langsung terhadap Keraton. Atas apa yang diperbuat Raffles, Inggris telah menorehkan sesuatu yang berdampak besar kepada kaum ningrat pribumi dan mengubah keseimbangan kekuasaan di Jawa selama-lamanya (Hannigan, 2012:191). 

Kemenangan Inggris atas Jawa sebenarnya bukan ditujukan untuk memperoleh kejayaan, tetapi uang. Inggris kemudian menetapkan aturan sewa tanah yang sangat tinggi hingga banyak petani yang terlilit utang karena hasil panennya tidak cukup untuk memenuhi biaya produksi. Sebagai letnan gubernur, Raffles tidak menjaga dirinya dari sisi arogan dan agresif kolonialisme Inggris, justru Raffleslah yang menjadi pelopor sisi itu. 

Setelah Belanda terbebas dari cengkraman Napoleon dan memperoleh kemerdekaannya, Inggris pun mengembalikan Jawa kepada Belanda pada tahun 1816. Raffles membawa pulang sedikitnya ada 20 ton harta kekayaan berupa pusaka-pusaka dari Jawa ke Inggris dan setumpuk benang kusut yang dibiarkan mengakar di tanah Jawa. 

Berbeda dari penulis-penulis lain yang menggambarkan Raffles sebagai tokoh yang bak pahlawan, Tim menggali Raffles dari perspektif yang lain; pola pikir, taktik politik, hingga selera Raffles tak luput dikupas oleh Tim. Surat-surat korespondensi dan sumber pustaka yang digali oleh Tim disusunnya dengan gaya bahasa bertutur yang mudah dan enak dibaca. Membaca tulisan Tim membuat saya seperti dibawa langsung ke masa ketika Raffles sedang memerintah di Jawa.

Pada akhir bukunya, barulah saya dapat memahami sejarah dengan lebih utuh. Bahwa Indonesia dulu pernah dijajah oleh Inggris dan penjajahan itu tidak jauh lebih baik daripada yang Belanda lakukan. Meski hanya lima tahun bercokol di Jawa, kehadiran Inggris membuat Jawa tak pernah sama lagi. Kehadiran Raffles sebagai letnan gubernur adalah perwujudan dari bagaimana Inggris bersikap atas Jawa pada masa dulu. Singapura sekarang mungkin boleh dipuji sebagai bekas jajahan Inggris yang berhasil, demikian juga dengan Malaysia. Tetapi, Indonesia adalah Indonesia, bukan Singapura bukan pula Malaysia. Masa lalu sudah terjadi jauh di belakang dan tidak mungkin diulang kembali. Indonesia punya masa depan, dan mau jadi apa negara ini di masa depan ditentukan dari apa yang kita lakukan sekarang.

Tak kenal maka tak sayang. Jika ingin sayang kepada tanah air, tidak ada salahnya untuk belajar mengenalnya dari kisah-kisah lampau yang dulu pernah terjadi di tanah ini.

Informasi lengkap buku:

Judul : Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa

Pengarang: Tim Hannigan

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun terbit pertama: 2012

Tebal: 419 halaman + xv

 

17 respons untuk ‘Imaji Jika Indonesia Dulu Dijajah Inggris

  1. Tulisan yang beda dari anggapan umum selama ini. Waktu SD guru IPS suka cerita yang membandingkan cara Inggris menjajah (Singapura/Malaysia/Brunei) yang memintarkan dengan cara menjajah Belanda (Indonesia), yang membodohkan. Tapi lupa menceritakan jajahan Inggris yang lebih random misal Myanmar, India, Bangladesh, Pakistan. Btw, kira2 setahun lalu pernah baca di koran Pikiran Rakyat Bandung ada artikel sultan Cirebon mengirim surat ke Raffles di Singapura untuk mengambil alih Cirebon dari Belanda, semakin yakin kalau Inggris memang penjajah yang diharapkan 😀. Tapi setelah melihat negara lainnya, dijajah manapun kemajuan suatu negara tergantung sikap mental pemimpin dan masyarakatnya setelah kemerdekaan.

    1. Inggris cuma lima tahun, tapi banyak tatanan yang diubah. Detail seperti ini yang agak kurang diceritakan di buku-buku pelajaran dulu hehehe.

      Bersyukurnya Indonesia sudah merdeka. Tugas besar selanjutnya mengisi kemerdekaan untuk kesejahteraan rakyatnya :))

      1. Ya.dalam hal pemukiman kalau di negara ex Inggris misal Australia, untuk bangun sesuatu harus ada blueprint nya. Semacam real estate. Kalau di sini di luar area real estate bebas saja, ga ada blueprint juga gpp. Mungkin itu yang bikin kota-kota di Indonesia di luar perumahan/real estate tidak se rapi di Malaysia atau Australia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s