Catatan 13 Jam di atas Bus Gapuraning Rahayu

 

“Bapa ibu sekalian yang terhormat mohon maaf apabila kami menggangu kenyamanannya, kami cuma ingin bernyanyi….” ujar seorang lelaki muda sambil memegang gitar.

Suara sumbang yang diiringi petikan gitar pun mengalun ke seluruh kabin bus. Wajarlah jika pengamen itu meminta maaf di depan karena suaranya memang tidak sedap didengar. Saya memberinya sekeping uang logam seribu saat dia selesai menyanyi dan berharap bus segera berangkat.

Belum ada lima menit berselang, masuk lagi sepasang pengamen. Kali ini suaranya merdu dan tampak lebih niat. Sementara si perempuan menyanyi sambil tangannya menepuk-nepuk dada, si lelaki menggenjreng gitar sembari memainkan harmonika. Untuk mengapresiasi talenta dan inovasi bermusiknya, saya mengeluarkan selembar uang dua ribu dan memberikannya kepada mereka di akhir lagu.

Selama bus yang saya tumpangi masih berhenti di Terminal Kalideres, terhitung ada 12 pengamen yang masuk ke dalam kabin. Ada yang suaranya merdu, ada pula yang sumbang. Meski terasa tidak nyaman, tapi inilah salah satu sensasi yang mesti dirasakan oleh penumpang saat bepergian menggunakan bus umum, terkhusus bus-bus yang diberangkatkan dari terminal, bukan pool.

Terminal Kalideres yang riuh oleh penumpang, pedagang, dan pengamen

Saya jarang menjadikan bus sebagai pilihan pertama. Jika bisa naik kereta, kenapa pilih bus. Buat saya kereta lebih nyaman. Naik kereta itu bebas macet juga ada toilet. Namun, di libur Paskah kemarin, semua tiket kereta sudah ludes duluan sementara saya sudah janji untuk datang ke rumah sahabat di Sidareja, sebuah kota kecamatan yang terletak di perbatasan antara Cilacap dan Banjar. Pilihan satu-satunya adalah naik bus. Dari terminal Kalideres, ada beberapa bus yang bertujuan ke daerah Cilacap Barat yang harganya di bawah 100 ribu.

Di terminal, ada bus Gapuraning Rahayu, Kramat Djati, Merdeka, Sinar Jaya, dan Murni Jaya yang bertujuan ke Sidareja. Semua bus ini sudah terparkir rapi dan para kondekturnya (atau mungkin calo?) sudah getol memburu penumpang. Sedari saya turun dari ojek, mereka segera mengerumuni dan bertanya:

“Mau ke mana mas?”

Saya melengos ke pojok terminal. Di sana, bus-bus Gapuraning Rahayu (GR) sudah terparkir dengan mesin menyala. Dari semua bus tujuan Sidareja yang ada sore itu, bus GR-lah yang berangkat paling cepat.

Dari luar, tampilan bus GR tampak meyakinkan, mirip seperti bus baru. Padahal kalau dicermati, bus-bus yang dimiliki GR beberapa merupakan bus bekas dari PO Efisiensi yang menguasai jalur Jogja-Purwokerto. Bus-bus itu dijual, kemudian dibeli oleh GR. Logo Efisiensi dihapus dan diganti dengan tulisan “Gapuraning Rahayu” dalam font yang mirip  undangan nikah.

Tampak samping PO Gapuraning Rahayu

Bus-bus non-AC yang dimiliki oleh Gapuraning Rahayu

Di kaca depan bus tertulis “Patas AC”. Jika ditilik di KBBI, kata ‘patas’ merupakan akronim dari kata ‘cepat dan terbatas’. Bus Patas menawarkan layanan yang setingkat lebih unggul dibandingkan dengan bus ekonomi. Bus GR dilengkapi AC, televisi, kursi yang bisa diatur sandarannya, dan pengharum udara.

Kendati dari tampak luar cukup meyakinkan, kondisi di dalam kabin bus GR tidak lagi prima. Kursinya  kusam, aroma udara dalam kabinnya pun adalah kombinasi dari bau keringat, udara Jakarta yang pengap, tapi didinginkan AC. Lampu baca tidak berfungsi. Kadang, air AC bocor dan tumpah mengenai kursi penumpang. Sepertinya ini adalah PR yang harus segera diselesaikan oleh manajemen bus.

Jam lima kurang sepuluh, bus terisi penuh dan berangkat meninggalkan Terminal Kalideres. 

Dari 50 penumpang, ada yang membawa ayam jago. Ayam itu diletakkannya di bawah kursi. Di belakang saya duduk seorang ibu. Aroma minyak angin yang dia gunakan menyebar ke mana-mana.

Saat bus keluar Tol Cileunyi dan jalanan berkelok-kelok, terdengar suara “hoekkkk” dari belakang. 

Kesan di atas bus Gapuraning Rahayu

Buat saya pribadi, naik bus GR ini unik. Saat penumpang saling mengobrol dengan sebelahnya, ada tiga bahasa yang digunakan di sini: Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa logat Ngapak, dan Bahasa Sunda. Kebanyakan penumpang bus GR adalah warga Cilacap Barat yang mengadu nasib ke Jakarta, tapi ada pula beberapa warga Jawa Barat. Pekerjaan mereka beragam, ada yang bekerja sebagai karyawan swasta, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, sopir, hingga kuli bangunan.

Penumpang di sebelah saya, sebut saja namanya Ihsan, adalah orang Kuningan yang menikah dengan wanita dari Gandrungmangun. Logat bahasanya setengah Sunda dan setengah Ngapak. Waktu dia tahu kalau saya aslinya orang Bandung, obrolan kami berganti ke Bahasa Sunda. Percaya atau tidak, mengobrol dengan bahasa daerah itu kadang lebih seru. Kalau berdasarkan salah satu teori komunikasi, kesamaan yang ditemukan antara dua orang yang belum saling kenal bisa jadi perekat yang membuat obrolan semakin hangat. Kami yang tadinya ngobrol seputar perjalanan bus malah jadi cerita tentang pengalaman masing-masing, tentang bagaimana kami merantau dan suka duka yang kami alami selama tinggal di Jakarta dalam bahasa Sunda yang seru.

AA ayeuna umur sabaraha?” tanyanya

Abdi mah 23 a.”

“Aduh, keneh muda euy. Tos kawin?”

Saya tertawa.

Ihsan ikut tertawa.

“Enak kayak kamu, masih bebas. Saya mah udah susah. Udah gak sebebas dulu.”

Pengalaman seperti ini jarang saya dapatkan jika bepergian dengan transportasi lain yang kelasnya lebih tinggi. Jika naik pesawat, jarang saya bisa mengobrol dengan penumpang di sebelah kanan atau kiri. Biasanya mereka segera sibuk dengan aktivitas sendiri. Naik kereta eksekutif pun serupa. Obrolan dengan sesama penumpang bukan menjadi bumbu perjalanan yang dicari orang. Tidur atau main hape adalah yang utama supaya bisa membunuh waktu dan tau-tau sampe

Adanya teman bicara ini cukup membantu untuk mengusir jenuh. Semenjak keluar dari Terminal Kalideres, bus yang saya tumpangi terjebak macet selama 5 jam sampai keluar Cikampek. Jika bisa tidur oke lah, tapi jika mata tetap terjaga, obrolan dengan penumpang sebelah bisa jadi kesempatan untuk melupakan penat perjalanan dan siapa tahu menambah teman. 

Sebagai seorang pekerja kantoran yang setiap harinya di ruangan ber-ac, duduk satu bis dengan orang-orang yang bekerja di luar rutinitas kantoran adalah sesi pembelajaran tersendiri buat saya.

Kepada Ihsan, saya bertutur tentang bagaimana membuat blog gratisan di WordPress, sedangkan Ihsan bercerita panjang lebar tentang bagaimana membina relasi jarak jauh antara suami-istri yang tinggal beda kota. 

Jam satu pagi, bus sudah lewat Nagreg. Saya menyudahi obrolan dengan Ihsan dan kami pun tertidur. Baru saja kepala menyandar di jendela, seekor kecoak kecil merayap ke arah wajah saya.

“Kampret!” batin saya mengumpat, padahal jelas-jelas itu kecoak bukan kampret.

Bus GR bukanlah luxury bus, demikian juga dengan penumpang-penumpang di dalamnya. Tidak ada yang menunjukkan kemewahan. Tapi, inilah yang membuat saya menikmati perjalanan dengannya.

Saat ada penumpang yang turut membawa ayam jago ke dalam kabin bus, saat ada penumpang yang muntah karena bus berbelok-belok, saat ada kecoak kecil yang keluar dari balik jok, semuanya adalah bumbu perjalanan yang membuat saya belajar bahwa tidak semua perjalanan terasa menyenangkan. Namun, saya bisa memilih respons apa yang bisa saya berikan kepada perjalanan ini.

Menyenangkan atau tidak kadang tidak melulu bicara fasilitas, tapi tentang sikap hati dan pengalaman. Saat hati saya memilih untuk menikmati perjalanan, maka pengalaman pun didapat.

Tempe dan 2 lontong seharga 5 ribu rupiah sebagai bekal pengganjal perut di 13 jam perjalanan

 

7 Comments on “Catatan 13 Jam di atas Bus Gapuraning Rahayu

  1. enak ya mas..tiap libur jalan-jalan terus. Tapi karena tulisannya, seakan kita ikut liburannya si mas loh. Trims sudah menghibur hati yg tak bisa libur ini.

    • Hihihi. Iya mas, sy sengaja meluangkan waktu di sabtu minggu untuk pergi. Tapi, konsekuensinya kalau weekday saya sampai jam 11 malem di kantor hahaha.

      Tp skrg sudah mulai berkurang pergi2nya, cuma sebulan sekali saja.

  2. saya penasaran dengan tempe & 2 lontongnya, apakah isi lontongnya “jujur” atau terlihat tebal karena memang bungkus daun pisangnya banyak ? 😀

    • Yg lontong aku ndak cerita wkwk.

      Tp lontongnya oke tuh.
      Aku beli pas bus sampe di Karangpucung (perjalanan balik Jkt). Lontongny 2 isinya jujur kok, padet juga. Mendoannya jg anget.

      • oh bagus kalo gitu soalnya pernah ngalamin beberapa kali, bungkusnya tebel banget, isinya sedikit 😀

  3. baca tulisan ini ga kerasa bosan, tau-tau dah selesai aja. sambil baca sambil bayangin gimana situasi bus yang dulu saya familiar banget. Ya gitulaah namanya naik bus umum. Tapi bikin rindu juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: