Catatan 18 Ribu Kilometer Bersama Kereta Api

 

Kemarin saya iseng membuka kembali catatan perjalanan yang saya tuliskan setiap kali bepergian naik kereta api. Setahun belakangan ini, jika ditotal saya sudah bepergian naik kereta api sebanyak 52 kali. Kalau diakumulasikan jarak totalnya, kira-kira ada 18.312 kilometer dan 314 jam yang sudah saya lalui dengan duduk di atas kereta.

Catatan itu membuat saya senyum-senyum sendiri. Dulu, sewaktu awal-awal pindah ke Jakarta, kekhawatiran terbesar saya adalah tidak memiliki waktu lagi untuk melakukan hobi paling favorit: naik kereta. Tiga bulan pertama setelah bekerja, kekhawatiran itu terbukti. Saya berusaha fokus seratus persen pada kerjaan, tapi manajemen waktu saya kacau balau. Akibatnya, saya pun jadi sulit untuk bepergian karena merasa tidak tenang karena dibuntuti kerjaan. Jadi, jika kangen naik kereta, paling-paling saya cuma membuka YouTube lalu menonton video kereta lalu-lalang. Itu saja sudah senang, apalagi jika naik kereta sungguhan.

Tapi, terlalu berfokus pada kerjaan dan meniadakan akivitas naik kereta tidak membuat kinerja saya jadi meningkat. Malah, di bulan April 2017 saya nyaris dipecat dan diberi peringatan karena selama tiga bulan itulah kinerja saya tidak pernah mencapai target. Hati jadi kecut. Saya pun putar otak mencari tahu apa yang menyebabkan saya menjadi begini.

Keputusan yang nyeleneh

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan yang cukup nyeleneh. “Lakukan apa yang kamu suka, yang bisa membuat semangatmu balik,” pikir saya. Yang saya suka adalah naik kereta supaya nanti di kota tujuan bisa bertemu teman. Tapi waktunya jelas mepet sekali karena saya hanya punya waktu di Sabtu dan Minggu. Namun, waktu mepet itu kan bukan berarti tidak ada waktu. Waktunya ada, hanya sedikit. Artinya saya harus mengatur ulang penggunaan waktu yang ada.

Jadi, buah dari keputusan hari itu adalah saya akan keluyuran di akhir pekan dan memaksimalkan waktu weekday yang ada. Setiap Senin hingga Kamis, setelah jam kerja usai pada pukul lima, pukul tujuh saya akan kembali lagi ke ruangan dan kembali kerja, mulai dari membalas email, kirim revisian kepada kontributor, dan brainstorming sendirian. Kira-kira jam 10 atau 11, barulah saya pulang ke kos. Kerja ekstra di weekday ini sengaja dilakukan supaya di kala weekend saya bisa pergi dan target tetap tercapai.

Kalau ada pepatah yang mengatakan ‘hati yang gembira adalah obat’, bepergian naik kereta inilah yang membuat hati jadi gembira. Dua bulan setelah berkomitmen untuk mendedikasikan waktu naik kereta, kinerja saya pun meningkat. Target tercapai dan bos pun senang. Bepergian naik kereta menjadi semacam reward dan apresiasi bagi diri sendiri untuk terus semangat dalam bekerja.

Semenjak bulan Mei tahun lalu, saya pun rutin menjadi orang PJKA, alias orang-orang yang Pergi Jumat Kembali Ahad. Jumat malam, tanpa mandi terlebih dulu pulang kantor langsung menuju stasiun. Lalu, di Minggu malam kembali lagi ke Jakarta dan Seninnya bekerja. Di dalam kereta, saya banyak berjumpa dengan orang-orang yang telah melakoni PJKA bertahun-tahun. Dan, mereka tampak ceria meski jarak ratusan kilometer memisahkan mereka dengan orang-orang yang dicintai. Ada Mas Supri yang sudah 15 tahun lebih bolak-balik sebulan dua kali dari Jakarta ke Gandrungmangun. Ada Mbak Dewi yang berjuang dari Jakarta ke Tegal demi anak semata wayangnya. Ada pula Mas Hafidz yang wara-wiri di lintas Jakarta-Jogja demi istri dan keluarganya. Alih-alih hadir sebagai pemisah, jarak justru melahirkan semangat yang membuat orang-orang ini rela berlelah-lelah demi bisa berkomunikasi secara langsung. Inilah yang mahal dari sebuah relasi: perjuangan. Sedikit banyak, merekalah yang menginspirasi saya untuk tetap semangat bekerja meski harus tinggal di Jakarta sendirian tanpa sanak famili

Rute-rute yang biasanya saya naiki adalah Jakarta-Bandung dan Jakarta-Yogya/Semarang/Solo/Cilacap. Jika ke Bandung, saya selalu menaiki KA Argo Parahyangan yang kendati ada kelas ekonomi, tapi ekonomi dengan rupa terbaru. Sedangkan, jika ke tujuan lain yang ada di Jawa Tengah, saya selalu naik kereta api kelas ekonomi yang posisi duduknya 3-2. Meski lebih melelahkan, sejujurnya saya lebih suka duduk di kelas ekonomi lama daripada duduk di kursi Argo Parahyangan. Seringkali, dari posisi duduk yang sempit dan berdesakan ini lahir cerita. Bermula dari sapaan basa-basi ‘turun di mana?’ bisa berlanjut menjadi sebuah diskusi hangat atau bahkan pertemanan. Tapi, jika duduk di kursi Argo Parahyangan, hampir tidak ada basa-basi yang lahir, apalagi diskusi. Penumpang sudah pasang ancang-ancang untuk tidak mau diganggu. Sedari datang sudah pakai headset, main hape, atau langsung tidur. Praktis, tidak banyak cerita yang bisa saya dapatkan dari perjalanan tiga jam ke Bandung selain daripada cerita tentang rangkaian Argo Parahyangan yang makin bagus.

Setahun terakhir ini adalah tahun yang menyenangkan dan banyak pengalaman. Laju kereta api, deru lokomotif, dan hentakan roda besi dengan rel telah menjadi terapi tersendiri untuk saya.

Terima kasih kereta api, juga kawan-kawan di ujung rel yang selalu bersedia meluangkan waktu dan menyambut saya setiap kali saya turun dari kereta.

 

17 Comments on “Catatan 18 Ribu Kilometer Bersama Kereta Api

  1. mungkin mirip dengan yang saya alami, dua tahun terakhir saya juga mengalami kejenuhan di tempat kerja, produktivitas juga menurun, ngeblog juga males-malesan karena bosan dengan isi blog yang isinya mayoritas sama soal otomotif. Tapi di akhir tahun 2017 kemarin saya mencoba sesuatu yang baru, diawali dengan riding ke Cilacap lewat jalur baru, lalu setiap Sabtu saya riding menjelajahi daerah pelosok ya meskipun daerah tersebut masih satu kecamatan tapi ternyata banyak sekali daerah yang belum pernah saya kunjungi, dan mulai menambah bacaan dan tentu saja kenalan dengan mengunjungi blog-blog baru (termasuk mengunjungi jalancerita.com 😀 ) yang isinya cerita, petualangan bahkan sekedar curhatan hidup dan hasilnya beberapa bulan belakangan ini saya merasa hidup saya mulai ada perbaikan, termasuk mulai bisa ngeblog lagi

  2. Delapan belas ribu kilometer bukan jarak yang singkat, Mas, hehe. Semoga selalu diberi kesehatan agar bisa menjelajah jalur kereta lebih jauh lagi, dan bisa membagikan kisahnya di sini. Saya setuju, kadang kesibukan membuat kita lupa menyenangkan diri sendiri. Oleh karena itu manajemen waktu menjadi penting (sekali) supaya semua kegiatan bisa selesai. Namun, agaknya benar juga, yang penting hati bahagia. Kalau sudah bahagia, capek pun tak terasa, ya.

    • Tapi sepertinya tahun ini harus menurun frekuensinya mas.

      Minggu lalu sy divonis kena nasofaringitis sama dokter, jadi harus mengurangi aktivitas dan mengembalikan jam tidur jadi 8 jam sehari, di mana ini susah karena sudah 5 tahun jam tidur kacau balau hehehe

      • Aduh, turut sedih mendengarnya. Ya sudah Mas, jalan-jalannya ke yang dekat-dekat dulu saja. Minimal sampai kondisi badan sedikit lebih sehat, setelah itu baru bersua lagi dengan ular besi yang mengelilingi Jawa itu, hehe.
        Semoga cepat sembuh!

  3. Seandainya setiap pulau besar di Indonesia dihubungkan oleh Rel Kereta. Pasti kenaikan wisatawan lokal makin ramai. Gak perlu mahal-mahal naik Pesawat hahaha

    • Panas mas.
      Tapi meh piye e, aku ndak betah di Jkt wkwk. Jadi kalau ada weekend dikit tak mlipir naik kereta. Temen-temenku banyaknya di daerah Jateng sih, jadi seringnya ke sana

      • owh i see, i see. main-mainlah ke Jatim, barangkali kita bisa jumpa, semisal di Jakarta sibuk kerja dan jadi tak sempat jumpa, haha.

      • Siap mas.
        Bakalan ke Jatim mesti, cuma nunggu waktu yang pas. Soalnya kalo nyepur ke Jatim butuh 10 jam lebih 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: