Wajah Baru Pabrik Gula Colomadu

Di akhir pekan kemarin, ditemani oleh seorang kawan lawas sewaktu kuliah dulu, saya menyambangi Pabrik Gula (PG) Colomadu (ejaan lawasnya: Tjolomadoe). Nama pabrik ini sebenarnya tidaklah asing di telinga saya, karena dulu kalau hendak ke Solo dari Yogya, saya biasanya memilih jalur alternatif melalui Colomadu. Tapi, meski sering melintas, saya tidak pernah mampir ke dalamnya. Barulah di tahun 2018 ini saya benar-benar masuk ke dalam PG Colomadu.

Semalam sebelum saya menginjakkan kaki di Pabrik Gula (PG) Colomadu, Anggun C. Sasmi dan David Foster sudah terlebih dulu singgah ke sini. Mereka datang bukan untuk berwisata, melainkan sebagai bintang yang memeriahkan semarak wajah baru PG Colomadu. Setahun ke belakang, PG Colomadu didandani rupanya. Dari sebuah pabrik gula zaman lawas yang mati suri menjadi sebuah loka wisata sejarah yang Instagrammable. Selesainya proyek besar mendandani PG Colomadu ini pun dirayakan dengan konser akbar yang diisi dengan lantunan suara dua penyanyi terkenal tersebut. Tepat 25 Maret 2018, PG Colomadu dalam wajah baru pun terbuka untuk publik.

Saya beruntung karena datang tidak jauh dari hari peresmian PG Colomadu. Selain masih bebas tarif masuk, saya pun cukup leluasa menjelajah karena tidak terlalu banyak pengunjung yang datang ke sini. Dari area parkiran motor, bangunan megah pabrik yang berwarna krem menyambut saya, lengkap dengan cerobong asapnya yang tinggi menjulang.

Pabrik Gula Colomadu dalam linimasa

Sebelum bercerita tentang rupa pabrik gula Colomadu dalam rupa sekarang, ada baiknya apabila kita singgah sejenak ke masa-masa dua abad yang lalu untuk mengetahui lebih detail tentang perjalanan nan panjang dari PG Colomadu.

Permulaan abad ke-19 adalah masa yang cukup pelik bagi pemerintahan Belanda karena di tahun 1825-1830 meletus perang Diponegoro. Perang selama lima tahun ini mau tidak mau membuat kas keuangan Belanda menjadi kempes, dan di kala perang berakhir, Belanda pun mencari cara supaya bisa kembali memperoleh keuntungan di tanah jajahan. Pemerintah kemudian mengutus Johannes Van Den Bosch sebagai Gubernur Jenderal yang baru, yang kemudian kebijakannya kita kenal sebagai tanam paksa atau cultuurstelsel.

Kebijakan tanam paksa memberi kesempatan kepada pemerintahan Belanda untuk mengeksploitasi hasil tanah di pedesaan Jawa secara maksimal. Para petani dipaksa untuk menanam komoditi yang laku di pasaran dan harga jualnya tinggi, seperti kopi, tebu, teh, dan sebagainya. Kendati menghasilkan keuntungan yang tinggi, kebijakan tanam paksa  akhirnya dihapuskan pada tahun 1870 setelah menuai beragam kritik dan terjadi bencana kelaparan yang melanda Grobogan, Demak, dan Cirebon pada akhir 1840-an. Kelak, gugurnya sistem cultuurstelsel inilah yang akan melahirkan gagasan politik etis. 

Melihat bisnis perkebunan tebu yang berprospek bagus, pemerintahan Swapraja Mangkunegaran berinisiatif untuk membuka sebuah pabrik gula dengan harapan keuntungan yang didapatkan nanti dapat digunakan untuk membiayai kas kerajaan yang sebelumnya kembang-kempis karena dililit utang. Setelah melewati serangkaian proses, pada tahun 1861, di bawah kepemimpinan KGPAA Mangkunagara IV, pemerintahan swapraja pun resmi mendirikan sebuah pabrik gula yang dinamai P.G Tjolomadoe.

COLLECTIE TROPENMUSEUM Suikerfabriek Tjolomadoe (Malang Djiwan) TMnr 60022717.jpg
Pabrik Gula Tjolomadoe di era 1857-1872, By Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0, Link 

Pabrik Gula Tjolomadoe, 25 Maret 2018

Sejak tahun pertama beroperasi, PG Tjolomadoe memberi keuntungan finansial yang besar. Sepuluh tahun berselang, pemerintahan Swapraja pun mendirikan pabrik gula serupa yang berlokasi di wilayah timur, dekat dengan kaki Gunung Lawu. Pabrik gula yang baru itu diberi nama PG Tasikmadoe. Pada tahun 1928, PG Colomadu mengalami pengembangan. Sebuah bangunan baru ditambahkan di belakang bangunan lama. Sekarang kedua bangunan ini dapat kita kenali dengan jelas sebab di masing-masing temboknya tertera tahun pembuatannya.

Selama abad 19 akhir hingga permulaan abad ke-20, pemerintahan Hindia-Belanda telah membangun sekitar 179 pabrik gula. Pada periode 1929-1930, pabrik-pabrik gula yang kebanyakan terpusat di Jawa mampu memproduksi gula konsumsi sebanyak 3 juta ton. Angka ini menjadikan Hindia-Belanda sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia, setingkat di belakang Kuba yang duduk di peringkat pertama.

Namun, masa kejayaan gula ini tidak berlangsung lama. Pasca Hindia-Belanda takluk kepada Jepang dan kemudian Indonesia merdeka, kejayaan pabrik gula semakin menurun. Setelah kemerdekaan Indonesia, pabrik-pabrik gula yang kebanyakan dibangun oleh Belanda diambil alih oleh pemerintah dan pengelolaannya dilakukan di bawah naungan lembaga PTPN. Senada dengan pabrik gula lainnya, PG Colomadu pun diambil alih oleh pemerintah pada tahun 1950, seiring dengan dicabutnya hak-hak istimewa Karesidenan Surakarta (Hal ini kemudian menimbulkan konflik atas proyek revitalisasi PG Colomadu, mengingat Mangkunegaran merasa bahwa pabrik ini masih merupakan asetnya dan seharusnya pemerintah izin terlebih dulu kepada pihak Mangkunegaran sebelum melakukan revitalisasi pabrik. Sumber: detik.com)

Jika seabad lalu Hindia-Belanda pernah didaulat sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia, sekarang faktanya telah jungkir balik. Deutsche-Welle pada tahun 2016 melaporkan bahwa Indonesia mengimpor gula rafinasi sebanyak 2,5 juta ton dan oleh karenanya, Indonesia pun didaulat sebagai negara pengimpor gula terbesar ketiga di dunia. Dari 45 pabrik gula yang dikelola oleh BUMN, pada tahun 2016 kapasitas produksi berkisar 1,2 juta ton. Sedangkan permintaan konsumsi gula mencapai angka 2,8 juta ton.

Reinkarnasi Pabrik Gula Colomadu

Sejak dibangun pada tahun 1861 dan beroperasi, pada tahun 1998 PG Colomadu menghentikan aktivitasnya. Bangunan pabrik nan megah yang memproduksi ribuan ton gula itu pun teronggok tak bernyawa, menyisakan kepingan sejarah yang diam membisu selama kurang lebih 20 tahun.

Barulah pada tahun 2017, empat perusahaan besar yang terdiri dari PT. PP (Persero) Tbk, PT. PP Properti Tbk, PT. Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko (Persero), dan PT. Jasa Marga Properti membentuk joint-venture dengan nama PT. Sinergi Colomadu untuk merevitalisasi PG Colomadu dari sebuah pabrik tua menjadi area komersial yang juga digadang-gadang sebagai cultural center.

Bagian dari revitalisasi, ada dinding kaca, dan logo kontraktor yang masih tertempel

Setahun berselang, proyek revitalisasi pun rampung dan acara peresmian PG Colomadu dalam wajah baru ini dimeriahkan dengan penampilan Anggun C. Sasmi dan David Foster. Sekarang, jika kita Googling dengan memasukkan kata kunci “Pabrik Gula Colomadu”, artikel-artikel yang muncul isinya kebanyakan berbicara seputar megahnya bangunan dan meriahnya konser David Foster dan Anggun. Kehebohan rupa bangunan baru dan acara konser di malam minggu itu membuat nama PG Colomadu kembali naik daun, bahkan selama beberapa jam berita tentangnya muncul di urutan terpopuler di salah satu media online berskala nasional. Spektakuler sekali. 

Melanjutkan cerita perjalanan yang saya buka di awal tulisan ini, saat tiba di area pabrik gula, kesan pertama yang saya dapatkan adalah “Wow”. Proyek revitalisasi ini membuat bangunan pabrik yang dulu kusam menjadi cerah. Bahkan, jika dilihat sekilas penampakan pabrik gula ini mirip seperti pabrik gula yang masih beroperasi. Namun, saat saya melangkah ke dalam, barulah saya ngeh kalau revitalisasi ini tidak ditujukan untuk membuat PG Colomadu kembali bernyawa sebagai pabrik gula, melainkan sebagai area wisata komersial, lengkap dengan concert-hall bertaraf internasional yang katanya mengikuti kaidah cagar budaya. Nama PG Colomadu pun di-rebranding menjadi De Tjolomadoe.

Dari luar, tampak dua bangunan utama pabrik yang masing-masing diberi penanda tahun pembuatan. Bangunan yang berlokasi dekat parkiran motor adalah bangunan hasil perluasan pabrik yang dibangun pada tahun 1928 (Anno 1928), sedangkan bangunan di sisi lainnya adalah bangunan pabrik yang lebih tua, dibangun pada tahun 1861.

Bangunan pertama yang dibangun tahun 1861

Masuk ke dalam bangunan utama pabrik, saya disuguhi pemandangan berupa mesin-mesin berukuran besar yang telah dicat ulang dan beberapa diberi pagar kaca. Penampakan mesin-mesin ini sangat menarik, membuat saya berimajinasi seperti apa suaranya jika sedang beroperasi. Saya pun mendekatinya seraya berharap bisa menemukan informasi terkait apa kegunaan ataupun cerita di balik mesin ini. Tapi, hasilnya nihil. Tidak ada papan petunjuk atau informasi mengenai mesin-mesin ini. Akibatnya, kebanyakan pengunjung yang datang ke sini hanya sekadar datang, foto-foto selfie, tanpa tahu nilai sejarah di balik bangunan megah ini. Cukup disayangkan. Atau, mungkin karena saya datang di H+1 peresmian jadi belum semua sarana tersedia lengkap.

Bagian-bagian asli pabrik sebisa mungkin tetap dipertahankan. Pada masa ketika PG Colomadu masih beroperasi dulu, batang-batang tebu diolah di beberapa stasiun, yaitu: Stasiun Gilingan,  Stasiun Penguapan, Stasiun Karbonatasi, dan Stasiun Ketelan. Keempat stasiun ini masih dipertahankan bentuk aslinya dan pengunjung De Tjolomadoe bisa mengamat-ngamati juga membayangkan (karena tidak ada informasi detail) tentang bagaimana gula diproses di masing-masing stasiun itu.

Di Stasiun Gilingan, sepasang rel kereta api dengan lebar sepur 1.067 milimeter masih terpasang, hanya bagian tengahnya sudah ditegel. Pabrik gula dan kereta api adalah bagian yang tak terpisahkan. Untuk keperluan angkut-mengangkut, pabrik gula membutuhkan kereta api yang bisa membawa barang dalam jumlah banyak.

Di dalam pabrik, meski kesan kuno masih dapat saya rasakan, tapi saya lebih merasa kalau suasana di sini mirip seperti mal. Udaranya sejuk karena dilengkapi pendingin udara, ada kedai kopi, kafe, penjual batik, juga restoran tersedia lengkap. Sekadar berefleksi pribadi, kendati PG Colomadu telah berubah wajah menjadi obyek wisata yang modern, alangkah baiknya apabila tiap-tiap pengunjung yang datang dapat menghargai hakikat bangunan pabrik ini sebagai warisan sejarah. Saya sangat mengelus dada ketika ada pengunjung yang demi foto selfie sampai duduk atau mencoba naik di mesin-mesin tua, sampai-sampai satpam harus mondar-mandir setiap saat untuk selalu mengingatkan pengunjung.

Alangkah baiknya apabila kunjungan ke De Tjolomadoe tidak hanya menghiasi linimasa Instagram dengan deretan foto-foto ciamik, melainkan juga mengisi otak dengan sedikit pengetahuan akan bahwa dulu Jawa pernah menjadi manis karena suburnya pabrik gula.

Hari itu saya masih bisa masuk dengan gratis, ke depannya saya tidak tahu akan dipatok tarif berapa untuk pengunjung yang datang ke sini. Semoga sarana dan prasarana yang ada di De Tjolomadoe segera dibenahi supaya ketika pengunjung datang, mereka tak sekadar wisata, melainkan ada informasi dan nilai sejarah yang bisa mereka dapatkan.


 

 

22 Comments on “Wajah Baru Pabrik Gula Colomadu

  1. membicarakan pabrik gula saya jadi ingat Pabrik Gula di Kalibagor Banyumas, waktu saya kecil ketika mengunjungi rumah kakek saya di Sokaraja selalu melintasi rel-rel bekas kereta pengangkut tebu di tepi sungai Pelus.

    • Kalau yang tinggalnya di daerah Jateng/Jatim mesti familiar dengan pabrik gula. Kalau aku dulu di Bandung gak ada pabrik gula haha, jadinya baru kenal dan seneng dengan jalan-jalan ke pabrik gula sewaktu pindah kuliah ke Yogya 😀

      • di Subang ada pabrik gula yaitu PG Rajawali tapi kayaknya termasuk modern karena dibangun sekitar tahun 78-79an dan masih beroperasi sampai sekarang, makanya didaerah saya masih banyak kebun tebu

      • Wah, aku malah baru tahu ini mas kalau ada pabrik gula di Subang. Yang aku tahu dari Subang paling peternakan buaya wkwk

      • peternakan buaya didaerah Blanakan ya, kalau pabrik gula itu didaerah Purwadadi. Sebenarnya banyak cagar budaya di daerah Subang tapi sepertinya kurang terkenal, mungkin yang paling terkenal itu rumah Sejarah Perjanjian Kalijati tempat Belanda menyerah kepada Jepang, tapi meskipun cuma berjarak 20km dari rumah saya, saya juga belum pernah kesana

      • Hmmm… iya juga sih mas.
        Kalau bicara soal Subang, paling yang disebut orang itu air panas Ciater dan Tangkuban (dua tempat ini pun sering disangka orang sbgai tmpt wisata punya Bandung).

    • Iyaa. Tapi aku nggak nonton Mbak Anggun dan Mas David Foster, sepertinya tiketnya juga agak mahal kali ya.. (aku juga baru tahu ada konser mereka pas sudah sampai di Solo) hehehe

  2. Pada akhirnya, terkait dengan revitalisasi cagar budaya kita cuma bisa melihat pilihan apa yang diambil oleh para pemangku kepentingan. Kadang-kadang keputusan yang diambil agak, yah, ajaib dan membuat beberapa pihak pasti tidak habis pikir, tetapi selalu ada ruang untuk perbaikan, dan semua pihak harus berusaha bergerak ke arah sana, kan. Hehe.
    Menarik juga mengetahui bagaimana di masa lalu pemerintah kolonial bisa membuat kerja sama yang sifatnya setara dengan penguasa lokal. Kalau digali lebih dalam, saya rasa pemecahan akan masalah kepemilikan lahan bekas pabrik gula ini tentu bisa menemui titik terang. Saya rasa pertanyaan terbesarnya adalah: apakah hubungan hukum antara penguasa lokal dengan pemerintah kolonial kala itu serta-merta hapus ketika kekuasaan beralih ke sebuah negara yang baru terbentuk?

    • Nah, bisa jadi mas. Kalau mau dirunut, bisa jadi perkaranya pelik, atau malah tidak pelik-pelik amat. Yang penting sih ada komunikasi dan sepakat hehe.

      Tapi, dari kunjungan singkat kemarin sih upaya merevitalisasi ini langkah yg cukup baik. Daripada dibiarkan tak bernyawa, mgkin untuk saat ini revitalisasi ini adalah jawaban. Semoga proyek mahal ini bisa terjaga dan manfaatnya bs dirasakan jg oleh warga solo dsk.

  3. Miris kalau generasi sekarang mengetahui dulu kita pernah menjadi pengekspor gula terbesar kedua di dunia, bukan pengimpor terbesar 😥

    • Hehehe ya begitulah. Sejarah kadang menjadi cermin refleksi yang kalau dibandingkan dengan masa sekarang bikin jadi bertanya-tanya hehehe.

    • Sayangnya ndak datang mas. Padahal paginya aku sudah sampai di Solo.

      Aku datang pas hari Minggunya, dan berhubung itu baru H+1 peresmian, jadi waktu itu masih gratis mas, cuma bayar parkir 3 ribu hoho

    • Halo Bang Brian,

      Mengenai tiket masuknya waktu saya berkunjung belum diterapkan biaya. Untuk update terbarunya mohon maaf karena saya belum mengetahuinya. Akan saya update segera di blog nanti. TKs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: