Akhir Pekan di Stasiun Tanjung Priok

Hari Sabtu. Kendati hari ini bukan weekday di mana orang-orang kantoran bekerja, kereta komuter tetap saja penuh. Dari Stasiun Jatinegara, kereta komuter tujuan Jakarta Kota yang saya naiki ini penuh sesak. Isinya kebanyakan keluarga yang membawa serta anak-anak yang masih kecil. Entah ke mana tujuan mereka, barulah di Stasiun Manggarai mereka turun dan kereta menjadi lebih lowong.

Naik kereta ke Jakarta Kota sebenarnya bukan tujuan utama saya hari itu. Rencana awalnya, saya bersama seorang rekan dari lembaga penelitian akan menjajal kereta api lokal menuju Merak. Tapi, saat saya sudah tiba di stasiun, teman saya itu mendadak batal karena sakit. Ya wis, karena sudah terlanjur berada di stasiun, saya pun mencari alternatif perjalanan lain yang bisa saya lakukan seorang diri.

Stasiun Tanjung Priok muncul pertama kali di benak sebagai alternatif pilihan. Selama satu setengah tahun di Jakarta, stasiun ini selalu membuat saya penasaran. Dari foto-foto yang beredar di Instagram, hingga dari penuturan beberapa teman, katanya Stasiun Tanjung Priok itu megah sekali dan tidak akan membuat menyesal jika dikunjungi. Akses menuju Tanjung Priok pun sekarang sudah dibuat mudah dengan hadirnya perjalanan KRL yang wara-wiri sebanyak 18 perjalanan dalam sehari.

Di Stasiun Jakarta Kota, kereta dengan rute menuju Tanjung Priok diparkir di peron nomor empat. Tidak seperti kereta-kereta komuter lainnya yang terdiri dari 8 sampai 12 gerbong, kereta menuju Tanjung Priok dibuat lebih pendek. Satu rangkaian hanya terdiri dari empat gerbong karena memang jumlah penumpang yang naik turun di rute ini tidak sebanyak rute KRL lainnya. Eksteriornya berwarna oranye dan posisi atapnya lebih pendek daripada kereta komuter biasa. Sampai waktu keberangkatan tiba, saya harus menunggu selama 20 menit.

KRL oranye spesial untuk rute Tanjung Priok – Kp. Bandan – Jakarta Kota
Suasana di dalam kereta selepas Stasiun Ancol

Pukul 11:50, kereta pun berangkat.  Selepas Stasiun Jakarta Kota, kereta melintasi perkampungan padat penduduk. Pada akhir 2017 lalu, saya melihat dari peron stasiun bagaimana perkampungan padat penduduk ini terbakar hebat. Asapnya membumbung tinggi. Api menjalar ke mana-mana. Perjalanan kereta pun dihentikan karena rel tertutup oleh harta benda yang berusaha diselamatkan oleh warga. Miris rasanya melihat pemandangan ini.

Perkampungan kumuh arah menuju Kampung Bandan yang terbakar di tahun 2017

Sekarang, setelah kebakaran, rupa perkampungan ini tidak banyak berubah. Tetap kumuh seperti sedianya. Rumah yang dibangun dari bahan-bahan seadanya memang cepat musnah terbakar api, tapi cepat pula didirikan kembali. Kereta terus melaju, menyajikan pemandangan berupa sampah-sampah yang terlihat dari balik jendela. Setibanya di Stasiun Ancol, kebanyakan penumpang yang membawa serta anak kecil turun di sini. Kereta pun kosong dan meneruskan perjalanan hingga ke Tanjung Priok.


Saat kereta tiba di tujuan akhir, apa yang saya lihat di Instagram itu bukan tipu-tipu. Stasiun ini memang megah adanya. Atapnya dibuat melengkung dan tinggi, membuat suasana stasiun ini didaulat sebagai stasiun dengan kanopi peron terbesar di Indonesia. Belum ada stasiun lainnya di Indonesia yang atapnya menandingi kemegahan Tanjung Priok.

Sebenarnya, Stasiun Tanjung Priok yang saya singgahi ini bukanlah Stasiun Tanjung Priok yang pertama. Olivier Johannes Raap (2017) menyebutkan bahwa Stasiun Tanjung Priok yang pertama dibangun pada tahun 1885 setelah Staatspoorwegen membuka jalur buntu Batavia-Tanjung Priok sejauh 9 kilometer. Bentuk stasiun pertama ini tidak terlalu megah, mirip-mirip dengan stasiun lainnya yang dibangun oleh SS. Hanya, tidak disebutkan secara rinci mengapa, stasiun pertama ini pun lenyap. Tiada lagi sisa-sisa bangunannya yang dapat kita lihat saat ini.

COLLECTIE TROPENMUSEUM Station Tandjong Priok TMnr 10013792.jpg
Stasiun Tanjung Priok yang pertama. By Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0, Link
Stasiun Tanjung Priok yang kedua, yang berdiri hingga kini. By Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=8603599

Pada tahun 1925, atas pertimbangan militer yang kurang masuk akal, SS membangun Stasiun Tanjung Priok kedua yang berjarak sejauh 1 kilometer dari pelabuhan. Pertimbangan ini agak aneh karena lokasi stasiun menjadi kurang strategis untuk penumpang-penumpang yang hendak bepergian naik kapal laut. Selain itu, stasiun ini juga dibuat amat besar dengan 10 jalur dan atapnya yang membentuk kanopi. Sejak awal berdiri hingga sekarang, Stasiun Tanjung Priok selalu sepi. Bangunannya terlalu besar dibandingkan dengan fungsi dan lalu-lintas keretanya (Raap, 2017:117)

Meski Tanjung Priok adalah pelabuhan laut terbesar di Jakarta, lalu lintas kereta api menuju tempat ini tidaklah padat. Setiap harinya, Stasiun Tanjung Priok hanya melayani kereta komuter yang menuju Ancol-Kampung Bandan-Jakarta Kota, kereta lokal yang menuju Cikampek-Purwakarta, dan kereta barang logistik. Sembari saya mengamati stasiun, tidak banyak arus penumpang yang mengalir di sini, sangat kontras dengan ukuran stasiun yang besar. Dalam hati saya berpikir, seandainya Stasiun Gambir atau Pasar Senen sebesar ini, mesti lebih asyik karena penumpang tak perlu bejubel.

Stasiun Tanjung Priok hanya disinggahi penumpang KRL dan KA Lokal

Sekadar pembanding, Stasiun Pasar Senen yang sekarang menjadi stasiun keberangkatan dan kedatangan seluruh kereta non-eksekutif hanya memiliki total 6 jalur. Untuk keberangkatan kereta, hanya jalur 1 dan 3 yang digunakan. Jalur 2, 4, dan 5 digunakan untuk parkir, langsir, ataupun komuter melintas. Sedangkan jalur 6 didedikasikan khusus untuk komuter yang berhenti dan mengarah ke Bogor. Senada dengan Pasar Senen, Stasiun Gambir malah memiliki jalur lebih sedikit. Hanya ada 4 jalur yang digunakan untuk keberangkatan, kedatangan, dan lalu lintas kereta komuter. Konstruksi Gambir yang dibuat melayang tidak memungkinkan untuk penambahan jalur. Seandainya Gambir atau Pasar Senen dibuat sebesar Tanjung Priok, pasti kepadatan stasiun tidak terlalu kentara.

Wacana untuk menjadikan Tanjung Priok sebagai titik pemberangkatan dan kedatangan kereta jarak jauh pernah sebelumnya juga pernah disuarakan tapi tidak terwujud. Saya iseng mencari tahu tentang wacana ini melalui Mbah Google. Harian Warta Kota menyebutkan kalau Stasiun Tanjung Priok dinilai kurang aman. Meski lokasi dalam stasiun sudah steril, tetapi area di luar stasiun dianggap memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi sehingga perlu dilakukan evaluasi mengenai keamanannya. Selain itu, seiring dengan dibangunnya proyek jalur dwiganda Bekasi-Manggarai, nanti Stasiun Manggarailah yang akan jadi titik pemberangkatan dan kedatangan kereta jarak jauh. Rencananya, Stasiun Manggarai akan dibangun menjadi stasiun dengan 10 jalur dan 3 tingkat. Tingkat 1 untuk KA Bandara dan KRL, tingkat 2 untuk ruang tunggu, dan tingkat 3 untuk kereta jarak jauh. Oleh karena itu, sepertinya Stasiun Tanjung Priuk harus menerima takdirnya sebagai stasiun yang sepi.

Beranjak dari peron, saya mencoba berjalan ke area stasiun yang lain. Di bagian pintu masuk stasiun, terdapat loket yang melayani penjualan tiket kereta api lokal dan komuter. Kemudian, di bagian tengah stasiun terdapat ruang kosong yang lapang dan tinggi. Tiada aktivitas apa pun di sini selain beberapa penumpang yang duduk ngaso. Di sayap kiri stasiun (dari arah peron) pintu keluar langsung mengarah ke Terminal Bus Tanjung Priok. Sayang sekali saat saya singgah hujan sedang turun dengan lebat sehingga tidak memungkinkan jika saya jalan-jalan keluar.

Sembari menanti kereta yang akan berangkat kembali ke Jakarta Kota, saya duduk-duduk di ruang tunggu. Kata teman saya yang pernah berkunjung ke Priok, di sini tidak diperkenankan memotret menggunakan SLR. Lalu, saat saya coba membaca beberapa blog pun hasilnya serupa. Jadi, saya pun hanya memotret menggunakan kamera ponsel. Tidak banyak gambar yang saya ambil, pun saya juga tidak cakap dalam teknik fotografi. Saya lebih banyak meluangkan waktu untuk duduk, menatapi atap kanopi yang indah, seraya berharap supaya stasiun ini dapat tetap lestari untuk seterusnya.

 

14 respons untuk ‘Akhir Pekan di Stasiun Tanjung Priok

  1. Nah itu yang bikin sebel, nggak boleh foto pake kamera gede. Peraturan yang menurutku kurang masuk di akal. Misal punya gawai mahal canggih gitu senyum bahagia karena kualitas foto bagus, yen gawai murah ya blur sana sini hasilnya, kan? Kalo pake pocket boleh nggak ya?

  2. Dulu ke sini juga gak sempat keluar stasiun, karena udah kesorean takut ketinggalan kereta terakhir….akhirnya cuma muter2 di dalem stasiun aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s