Catatan 12 Jam di Atas Kereta Tegal Ekspress

Tiap-tiap orang punya caranya masing-masing untuk mengatasi jenuh. Ada yang mengatasinya dengan banyak makan sampai tahu-tahu berat badannya naik. Ada yang memilih untuk tidur sepuasnya supaya nanti saat bangun kejenuhannya hilang. Ada pula yang mengentaskan kejenuhan dengan berbelanja barang-barang kesukaannya.

Kalau saya sendiri, naik kereta api adalah cara yang biasanya saya lakukan untuk mengusir jenuh. Goyangannya, suara besi beradu besi, deru lokomotif, dan interaksi dengan para penumpangnya adalah sensasi yang mengaktifkan indra petualangan dalam diri. Dua belas jam di dalam kereta bisa jadi terapi untuk memulihkan semangat yang pudar.

Waktu itu Sabtu pagi dan saya berencana untuk pergi ke Tegal karena sepanjang minggu otak sepertinya sudah buntu, jenuh dengan rutinitas di kantor. Meski pergi secara mendadak, puji syukur karena masih dapat tiket. Kursi di sebelah kaca, nomor A dan E sudah ludes semua. Mau tidak mau, saya duduk di kursi nomor B, kursi zonk dan membuat mati gaya karena diapit oleh dua orang.

Tujuan utama saya hari itu sebenarnya bukanlah kota Tegal, melainkan cuma naik kereta sampai stasiun terakhir lalu pulang lagi ke Jakarta. “Kurang kerjaan,” kata teman saya di pesan Whatsapp. “Mending tidur dong Ry, daripada keluyuran gak jelas,” lanjutnya. Iya juga sih, tidur seharian juga enak. Tapi buat saya, meski tidur memang terasa nyaman, petualangannya terasa kurang. Saya percaya perjalanan tidak jelas ke Tegal hari itu akan memberikan asupan semangat untuk mengentaskan kejenuhan.

Jam setengah delapan pagi, kereta berangkat dari Stasiun Pasar Senen. Saya menumpang Kereta Api (KA) Tegal Ekspress. Sesuai dengan namanya, destinasi terakhir dari kereta ini adalah Stasiun Tegal dan total durasi perjalanannya adalah enam jam. Lumayan lama, tapi tarifnya murah. 49 ribu per sekali jalan.

Tegal Ekspress, kereta api dengan PSO

Bicara soal tarif murah, ada beberapa kereta di Indonesia yang didekasikan untuk melayani masyarakat menengah ke bawah. Jadi, tarifnya disubsidi oleh pemerintah melalui dana Public Service Obligation (PSO). Tegal Ekspress adalah salah satu kereta subsidi itu. Subsidi untuk tarif perjalanan kereta api sebenarnya bukan baru muncul di masa sekarang. Sejak zaman kompeni dulu—tatkala Belanda membangun jaringan rel kereta di seantero Jawa—ada tarif subsidi untuk kereta kelas terendah dengan tujuan menarik minat penumpang bumiputera untuk naik kereta.

Interior kereta api kelas III tanpa embel-embel premium

Saat layanan kereta api mulai berdenyut di tanah Jawa, gerbong penumpangnya terbagi ke dalam tiga kelas. Di dalam buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe, Olivier Raap (2017) menuliskan ada tiga klasifikasi kelas kereta. Tarif tiket kelas I adalah 100% harga tiket. Kelas II 60%. Kelas III 20%. Tapi, meski tarif kelas III sudah dipangkas 80 persen, hanya sedikit warga bumiputera yang mau naik kereta. Tarifnya terlalu mahal dan kala itu ada peraturan tidak boleh membawa bagasi lebih dari 30 kilo, sedangkan warga bumiputera biasanya membawa barang dagangan yang ukurannya besar dan berat. Jadi, pemerintah pun memangkas kembali tarif kelas III menjadi 10% dari tarif utuh dan menghapus kebijakan bagasi (Raap, 2017:XVI).

Strategi pemerintah ini membuahkan hasil. Terjadi peningkatan penumpang dalam jumlah besar. Setelah Indonesia merdeka, sistem kelas ini masih diberlakukan dalam perjalanan kereta. Kelas I kini dinamai sebagai kereta eksekutif, sebagian juga kelas argo. Kelas II kelas bisnis dan kelas III kelas ekonomi. Meski begitu, soal hitung-hitungan tarif tidak lagi sepenuhnya sama. Ada beberapa kereta ekonomi telah dicabut subsidinya sehingga tarifnya lebih tinggi.

Sepintas penghapusan tarif subsidi ini mungkin terdengar sedikit ‘kejam’ karena membuat harga tiket melambung. Sebagai contoh, pada Juni 2014 saya pernah menaiki KA Progo dari Pasar Senen menuju Lempuyangan. Tarifnya masih 50 ribu per sekali jalan. Tapi mulai 1 September 2014, PSOnya dicabut sehingga tarifnya menjadi dua kali lipat. Meski ada kereta-kereta yang PSO-nya dicabut, ada pula kereta-kereta yang tetap diberikan PSO seperti kereta api Brantas, Serayu, Tegal Ekspress dan sebagainya.

Di balik tiket kereta api yang saat ini mengalami penyesuaian harga dan menjadi lebih mahal, kita dapat melihat perkembangan positifnya di berbagai lini. Jadwal perjalanan lebih tepat waktu, walau kadang masih mengalami terlambat. Pembelian tiket lebih mudah dengan sistem online. Kereta yang dilengkapi pendingin udara. Infrastruktur yang dibenahi. Dan, yang paling penting adalah keselamatan yang semakin diprioritaskan.

Ada harga ada rupa, ungkapan ini ada benarnya. Harga yang dibayarkan oleh penumpang inilah yang nantinya akan bermanfaat dan dinikmati kembali oleh penumpang dalam bentuk pelayanan yang prima.

Kembali ke perjalanan

Pagi itu, seluruh kursi dalam kereta terisi penuh. Dua penumpang di depan saya, sepasang suami istri akan pulang ke Cirebon. Mereka membawa satu televisi layar datar ukuran 20 inch yang terbungkus rapi dalam kardus. Penumpang di sebelah saya adalah seorang perempuan yang tak terdeteksi penampakan dan usianya karena memakai topi dan wajahnya ditutupi masker.

Saat kereta tiba di daerah Subang, saya pergi ke gerbong restorasi untuk mencari makan dan melemaskan badan. Tidak bohong, duduk di kereta dengan kursi tegak itu membuat punggung pegal. Apalagi jika jarak antar kakinya sempit. Kaki harus ditekuk dan sulit untuk diluruskan.

Setelah kereta api tiba di Cirebon Prujakan, barulah kondisi kereta mulai kosong karena kebanyakan penumpang turun di sini. Saya kembali ke tempat duduk. Mbak-mbak yang tadinya memakai masker menyapa saya dalam logat Ngapak. Orang Tegal pasti nih, saya menebak.

“Turun di mana mas?”

“Tegal mbak. Mbaknya?” balas saya.

“Tegal juga mas.”

Pertanyaan ini cuma basa-basi, tapi sanggup jadi pemicu terciptanya obrolan panjang dan dalam. Mbak itu namanya Dewi. Jika saya naik kereta hari itu untuk sekadar melepas jenuh, Dewi naik kereta dengan perasaan campur aduk. Usianya seumur dengan saya, 22 tahun. Hanya, jika saya masih melajang, Dewi sudah menjanda. Perjalanannya ke Tegal adalah untuk menengok anak semata wayangnya yang sakit dan tak kunjung sembuh. Kata Dewi, sudah setahun sang suami lari meninggalkannya. Suaminya tak diketahui di mana rimbanya. “Kata orang kawin lagi sama orang Cilacap,” katanya sambil sesenggukan. Air mata Dewi menetes, menciptakan nuansa haru yang berpadu dengan deru kereta.

“Sabar ya Mbak. Gusti mboten sare,” kata saya mencoba menguatkannya.

Dewi mengangguk dan melanjutkan ceritanya. Nestapa Dewi belum usai. Sebulan sebelumnya, ayahnya meninggal dunia karena keluarganya tak memiliki cukup biaya untuk melakukan pengobatan hingga tuntas. Sehari-harinya, Dewi bekerja sebagai penjaga kantin untuk karyawan hotel di Jakarta Pusat. Jam tiga subuh dia sudah harus bangun dan memasak supaya para karyawan bisa sarapan pagi-pagi. Uang yang didapatnya berkisar 30 ribu, kadang kala dapat bonus. Jumlah yang kecil untuk seorang ibu yang harus membiayai anak.

“Saya sedih banget mas. Tapi saya mesti kuat, demi anak,” katanya sambil menghela nafas kemudian mengalihkan pandangannya ke jendela. Frasa terakhirnya menggetarkan hati saya. Tak peduli semuda apa pun, seorang ibu tetaplah seorang ibu. Nalurinya kuat. Apa pun kan diterjangnya demi anak, meski dirinya sendiri harus berkorban lebih banyak.

Di jarak antara Cirebon Tegal yang ditempuh selama satu jam, saya mendapatkan pelajaran hidup dari Dewi, bahwa setiap orang memiliki kesusahannya masing-masing. Oleh sebab itu, tatkala masalah hidup melanda, tidak sepatutnya saya menganggap diri sebagai orang yang paling malang sedunia. Ada orang-orang lain, yang meski keadaannya malang, tapi tetap berjuang sekuat tenaga untuk menghidupi kehidupan mereka.

Mbak Dewi

Menjelang kereta api tiba di Stasiun Tegal, setelah kisah nestapanya dicurahkan kepada saya, senyum Dewi kembali terbit. “Mas, maaf loh ya aku malah jadi curhat. Makasih mau dengerin,” kata Dewi sambil tersipu malu. Dia mengajak saya untuk mampir ke rumahnya. Tapi, saya menolak karena waktu saya singgah di Tegal hanya setengah jam. Jam dua saya sudah harus pulang ke Jakarta lagi menumpang kereta Tegal Ekspress kembali.

“Ati-ati yo mas. Kapan-kapan kalau ke Tegal mampir ke rumahku,” katanya menutup perjumpaan kami.

Sabtu, 11 Maret 2017, di atas kereta api Tegal Ekspress, Dewi mengajari saya tentang arti semangat. Kejenuhan yang saya alami di kantor adalah perkara biasa, yang juga dihadapi oleh semua orang yang bekerja. Kejenuhan saya bekerja pun saya tanggalkan di Stasiun Tegal. Sekembalinya ke Jakarta, sekantong semangat dari obrolan hangat dengan Dewi menjadi amunisi saya untuk menghadapi rutinitas sehari-hari.

Inilah sekelumit cerita saya dari perjalanan di atas kereta. Bagaimana dengan ceritamu? Adakah cerita menarik yang juga dialami saat bepergian naik kereta?

17 respons untuk ‘Catatan 12 Jam di Atas Kereta Tegal Ekspress

  1. Mbak dewi masih cantik yaa mas. Eh btw tulisannya renyah dan enak dibaca. Saya suka menikmati setiap kata disini. Terima kasih. Aku juga senang jalan2 ga jelas begitu,baca buku, nikmati perjalanan,berbicara sama orang, pulang2 semangat deh. Kita perlu sejenak istirahat dari rutinitas dan mendapatkan hal baru yg surprise. Salam

    1. Halo Mas Hafidh,

      Yoi mas, masih ayu kan umurnya masih 22 (mungkin udah 23 sekarang haha). Makasih mas untuk apresiasinya. Jalan-jalan gak jelas itu menyenangkan. Sering ada kesempatan-kesempatan, atau pertemuan tak terduga dengan seseorang yang memberi inspirasi dan bikin semangat datang lagi 😀

  2. Aku dulu pas di jogja sering gitu Mas, gak ada kerjaan trus naik prameks atau sriwedari. PP ke Solo sehari saja, dan memang naik kereta selalu ada cerita.

    Saya biasanya bawa buku satu buat cadangan ketika tidak menemukan “teman obrolan”.
    Rasanya enak saja, ketemu orang asing, saling berbagi cerita pengalaman gitu, terus udah gitu aja, sebagian besar tidak berlanjut. Tapi ada sih yang tukeran kontak hingga berimbas jadi kerjasama 🙂

    Ini bagian gak disuruh mampirnya emang beneran gak mampir ini? Apa diskip gitu jadi biar lebih ramping artikelnya? Wkwkwk

    1. Halo mas. Maap baru balas.

      Aku juga biasanya bawa buku 1, tapi jarang kebaca juga sih krna kalau udah di kereta, kalau gak ngobrol ama orang, ujung2nya menatap jendela sepanjang jalan sampai tahu2 nyampe hahaha.

      Yang bagian mampir memang beneran ga mampir mas. Soalnya aku sampai di Tegal itu jam satu, dan kereta balik ke Jktnya lagi jam dua, jadi cuma ada 1 jam. Kalau mampir ke mbaknya gak nyandak, rumah mbaknya agak ke kampung, bukan di tegal kotanya nih.

  3. Saya di jakarta kalau weekend sering wisata krl. Mencoba suasana stasiun satu ke stasiun lain. Ternyata menyenangkan loh. Apalagi saya pergi di sabtu pagi, suasana kereta masih lowong jd leluasa untuk duduk 😆 biasanya kan kalau weekdays harus berjuang demi bisa duduk hehe.

  4. sebuah bentuk pelarian yang efektif dan produktif sih menurutku, bisa dapat pelajaran hidup yang luar biasa dari orang-orang yang baru dikenal, gini nih enaknya dekat dengan stasiun kereta, mau kelayabanan dadakan mah bebas hiks…

  5. Ketika membaca tulisannya, saya senyum-senyum sendiri. Mirip dengan saya soalnya. Dari naik kereta untuk melepas jenuh, dianggap aneh oleh orang lain. Beberapa waktu lalu saya juga melakukan seperti yang mas tulis. Naik Pasundan SGU-TSM balik Kahuripan TSM-BL. Capek memang, tapi seru hehe. Btw, tulisannya rapi dan enak dibaca👍

    1. Waaa, masnya jauh banget dri SGU ampe ke TSM hahahaha.

      Betul mas. Kalau bagi sebagian orang naik kereta ntu capek, bagi yg suka kereta kebalikannya. Makin lama d kereta makin asik

      1. Modal nekat mas hehe.. 11 jam Pasundan, istirahat 2 jam di TSM, 11 jam Kahuripan, sampe rumah tepar. Iyak bener, makin lama makin seru, cuma memang harus jaga fisik. Cobain ke BL mas, Brantas atau Matarmaja, mantap hehe..

      1. Biasanya saya klw lebaran berangkat bareng keluarga, terus 4 hari saya balik ke JKT.
        Terus 2 Minggu setelah itu saya baru PP naik kereta ini buat jemput anak istri, jd kuli panggul koper.
        Tp asik juga soalnya hobi juga naek kereta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s