Saat Kami Kehabisan Bensin

Saat berkunjung ke Yogyakarta minggu lalu, ada peristiwa unik—yang tidak saya duga sebelumnya—terjadi kepada saya.

Sebelum nanti malam kembali ke Jakarta, saya menyempatkan diri untuk berbelanja jamu-jamuan di Pasar Beringharjo. Hari itu, saya tidak sendirian, sahabat saya bersedia mengantar dan menemani saya. Setelah proses berbelanja usai, kami pun kembali ke rumah menaiki sepeda motor.

Sedari di parkiran, indikator tangki bensin motor sudah berkedip-kedip, pertanda tangki harus segera diisi. Saya pun menepuk pundak sahabat saya dan mengingatkannya untuk nanti mampir sejenak di SPBU. Tapi, dia menolak. “Masih cukup ini, selow aja,” katanya meyakinkan saya bahwa kapasitas bensin dalam tangkinya masih cukup untuk mengantar kami tiba di rumah. Ya wis, saya pun tidak memaksanya untuk mampir ke SPBU, karena mungkin saja sahabat saya itu lebih mengerti kemampuan motornya. Kami pun mengobrol asyik sepanjang jalan.

Tapi, baru setengah perjalanan pulang, tepatnya di daerah Gejayan, motor yang kami tumpangi mendadak tak bertenaga, lalu segera mati mesinnya.

“Loh, mampus ini, abis bensin,” umpat sahabat saya.

“Lah, piye? Tadi tak suruh mampir pom bensin katane emoh,” timpal saya.

Akhirnya, di siang hari yang terik, kami pun harus turun dari motor dan berjalan kaki mencari penjual bensin eceran seraya menenteng satu kantong plastik penuh berisi jamu-jamuan. Melelahkan sekali rasanya. Lalu, timbul pula rasa menyesal, mengapa tadi kami tidak mampir saja ke pom bensin, toh kan tidak akan makan waktu lama juga. Tapi, penyesalan di akhir memang sudah terlambat. Kami tetap harus berjalan hingga menemukan bensin.

Peristiwa yang terjadi siang itu jelas bukanlah peristiwa yang kami harapkan. Tapi, ada satu pelajaran yang dapat kami petik.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, sebenarnya ada indikator-indikator yang Tuhan ciptakan untuk mengingatkan kita; kapan kita harus berhenti, kapan harus memulai, kapan harus pulang, ataupun kapan harus pergi. Namun, seringkali, kita malah mengabaikan indikator tersebut dengan asumsi bahwa tanda yang diberikan itu bukan sesuatu yang mendesak, persis seperti apa yang saya dan sahabat saya lakukan tatkala menyikapi indikator tangki bensin yang berkedip-kedip.

Sebagai orang yang pergi merantau, seringkali tiba-tiba muncul rasa kangen. Kadang, di tengah ritme pekerjaan yang seolah tiada berjeda, saya cenderung mengabaikan rasa kangen itu dan menganggapnya seolah bukan sesuatu yang mendesak. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, rasa kangen yang muncul dengan tiba-tiba itu bisa jadi adalah indikator yang diberikan Tuhan supaya saya meluangkan waktu sejenak untuk bertemu dengan orang-orang yang saya kasihi. Jika bensin motor habis, maka bisa diisi kembali. Tapi, jika saya tetap mengabaikan indikator itu hingga kemudian waktunya habis, akankah saya tidak menyesal nantinya? Tentu menyesal.

Oleh karena itu, ketika rasa kangen itu tiba-tiba muncul, sebisa mungkin saya akan menanggapinya. Jika bulan itu saya tidak dapat pulang, maka minimal saya akan menelepon orang-orang saya kasihi, mengajaknya mengobrol, ataupun sekadar menanyakan bagaimana kabarnya. Sebisa mungkin, saya tidak mau bersikap acuh tak acuh terhadap setiap indikator yang muncul dalam kehidupan ini.

Jika saya telaah lebih dalam lagi, selain rasa kangen, ada rasa-rasa lainnya yang juga muncul sebagai indikator. Ketika kepala terasa berat dan pandangan kabur, itu adalah indikator bahwa tubuh sudah lelah dan saya harus mengambil waktu untuk beristirahat. Ketika pikiran mulai kacau, itu adalah indikator untuk saya berdoa sejenak, menyandarkan diri pada sosok yang Mahakuat. Ketika rasa jengkel memuncak, itu adalah indikator bahwa saya harus melepaskan pengampunan. Dan, tentunya ada banyak indikator lainnya.

Dalam kehidupan ini memang seringkali terjadi hal-hal yang mendadak dan tidak terelakkan. Itu bukanlah bagian kita, karena kita memang tidak memiliki kuasa apapun untuk mengendalikan kehidupan di luar kita. Namun, sejatinya, kita memiliki kendali penuh atas diri kita. Ketika indikator hidup ini berkedip-kedip, kita punya dua pilihan: menghiraukannya atau mengabaikannya. Saya mau belajar untuk tidak menganggap remeh setiap indikator kehidupan yang berkedip-kedip itu.

 

13 respons untuk ‘Saat Kami Kehabisan Bensin

  1. Beli bensine ed sheran yo jadine di pertamini, wkwkw

    Iya, udah dikasih kode, tinggal peka apa ndak sama kode tersebut, setelahnya ya ikhlaskan saja yang diluar kemampuan kita.

  2. Sepakat Pak, penyesalan itu di akhir. Tapi ada koq yang menyesal duluan, yaitu orang yang menggiring kerbau jalan di depan kemudian diseruduk. Pada temannya dia bercerita, “saya menyesal duluan”. “Andai jalan di belakang kerbau, pasti tidak bakal diseruduk.

  3. Iyah, karena sibuk akan rutinitas (mencari rezeki) kadang kita lupa juga untuk berbagi. Alertnya tentu saja rasa iba terhadap orang tak punya, saya hiraukan. Yah…uang saya hilang deh (pengalaman pribadi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s