Angpau yang Paling Mahal

Saat teman-teman keturunan Tionghoa lainnya sibuk mempersiapkan datangnya tahun baru Imlek, seperti biasanya tidak ada yang spesial di keluargaku. Tidak ada acara masak-masak, kumpul-kumpul, ataupun makan bersama. Di keluargaku, tahun baru Imlek itu tiada bedanya dengan hari biasa. Hanya sebuah hari biasa yang juga akan berlalu.

Itulah secuplik kesan tentang hari raya Imlek yang selalu kualami tiap tahunnya. Walaupun keluargaku adalah keluarga keturunan Tionghoa, tapi kami tidak pernah merayakan Imlek dengan semarak. Paling-paling, kami hanya saling mengucap Gong Xi, Gong Xi, lalu tanpa banyak bicara Papa akan memberikan amplop merah berisi sejumlah kecil uang, kemudian kakak-kakakku pulang ke rumahnya masing-masing. Rangkaian acara Imlek yang kalau di keluarga lain bisa berlangsung sehari lamanya, di keluargaku hanya satu jam kurang. Selesai.

Tapi, tahun 2018 ini ada sesuatu yang berbeda. Bukan soal nominal uang dalam amplop merah yang melambung tinggi. Bukan pula soal durasi kumpul keluarga yang menjadi lebih panjang. Imlek tahun ini bisa jadi adalah Imlek yang paling berkesan buatku. Mari kuceritakan sedikit.

Sewaktu mendekati bulan Februari, aku sudah berencana untuk tidak pulang. Lebih baik stay di Jakarta saja supaya hemat uang. Jadi, aku pun tidak mencari-cari tiket kereta. Mau tiket ludes ya sudah, wong memang tidak ingin pulang. Tapi, H-3 hari sebelum Imlek, tiba-tiba aku galau. Imlek kali ini jatuh di hari Jumat yang artinya adalah long-weekend, dan di hari Kamis jam kerja di kantor pun hanya setengah hari.

“Masak iya gak mau pulang?” batinku berbisik.

Aku bersikukuh tidak ingin pulang. Buat apa pulang, toh di rumah pun tidak ngapa-ngapain.

Tapi, di saat aku mengeraskan hati untuk tidak pulang, hati kecilku pun akhirnya memberanikan diri untuk angkat suara.

Kok kamu sombong sih? Kan sekarang sudah kerja di Jakarta, jarak ke Bandung itu dekat. Masak iya gak mau pulang barang sebentar?” Kali ini aku jadi merenung.

Ada benarnya juga. Jarak antara Jakarta dan Bandung itu dekat, kalaupun macet di jalan kan tidak akan memakan waktu sampai 24 jam. Mengapa aku tidak pulang? Walaupun orangtua tidak pernah menuntut anaknya untuk pulang, tapi aku yakin dalam hati kecil mereka tentu ada sukacita jika anaknya yang sudah bekerja merantau ini masih ingat rumah.

Pendirianku runtuh. Aku pun memutuskan untuk pulang. Tapi, karena tidak mempersiapkan diri sebelumnya, maka semua tiket kereta sudah ludes. Tiket travel juga ludes. satu-satunya jalan adalah dengan naik bus.

Oke lah, tidak masalah. Singkat cerita, hari Kamis siang sepulang kantor aku segera berangkat ke terminal Kalideres. Menanti 30 menit di pinggir jalan, lalu tibalah bus P.O Arimbi. Karena hari itu adalah permulaan long-weekendhari di mana jutaan manusia Jakarta melarikan dirimaka jalan tol macet parah. Setelah 9 jam duduk manis di atas bus, barulah aku tiba di Bandung.

Imlek

Hari tahun baru Imlek pun tiba. Seperti biasa, tidak ada yang spesial di keluargaku. Di pagi hari, dua kakakku perempuan datang sebentar. Tak sampai 30 menit, mereka kembali pergi. Kemudian, suasana rumah kembali hening. Tidak ada aktivitas lain yang kulakukan selain tiduran karena memang hari itu badanku meriang.

Jam sepuluh malam, saat hari hampir berakhir, Papa terbangun dan pergi ke dapur. Keluarga kami sedari 25 tahun yang lalu hidup dari berjualan makanan, dan malam itu Papa menyiapkan segala bahan untuk dijual di besok pagi.

Melihat Papa terbangun dan bekerja, aku keluar dari kamar dan duduk di dapur. Maksudku adalah ingin menemaninya mengobrol.

Kata Papa, tahun ini adalah tahunnya aku, tahun anjing.

Shio kamu anjing. Tahun ini tahun anjing. Kalau tahun ini kamu mau bikin bisnis, banyak peluang sukses. Kalau kerja ikut orang pun, ada kemungkinan dapet jabatan atau tanggung jawab baru,” katanya.

Aku mengangguk walaupun tidak sepenuhnya percaya tentang perhitungan shio seperti ini.

Dua tahun yang lalu dan sebelumnya, Papa adalah orang yang paling aku hindari untuk diajak bicara. Aku malas dengan tutur katanya yang sering kasar dan tidak nyambung dengan jalan pikirku. Sebagai anak muda yang belum kenal sulitnya cari duit, aku menganggap Papa itu terlalu khawatir dengan yang tidak-tidak. Khawatir tentang kondisi negara. Khawatir tentang ini dan itu yang menurutku tidak penting juga untuk dipikirkan. Tapi, segalanya berubah sejak dua tahun lalu. Tatkala aku menamatkan studiku, menjadi sarjana, dan bekerja di Jakarta, pikiranku semakin terbuka.

Dulu aku sering berdoa supaya Tuhan mengubahkan keluargaku, juga memulihkannya. Dan, di tahun ini Tuhan menjawabnya. Tapi, tentunya Tuhan menjawab doaku seturut dengan kebijaksanaan-Nya, bukan seturut apa yang aku inginkan.

Alih-alih mengubahkan keluargaku seperti sulap dalam sekejap, Tuhan ingin aku yang berubah terlebih dahulu. Bagaimana caranya berubah? Ya, pola pikirnya diubah dahulu. Jika dahulu aku memandang keluargaku dari lensa yang negatif, sekarang aku memandangnya dari lensa positif.

“Kamu gimana kerja di Jakarta?” tanya Papa serius.

Gak gimana-gimana. Ya gitu aja. Tapi sepi. Gak ada temen di Jakarta kalau weekday. Jadi kalau sepi cuma bisa teleponan sama temen-temen di Jogja dulu,” sahutku.

Pertanyaan sederhana yang diajukan Papa hari itu menggetarkan hatiku. Dan, dari pertanyaan itulah obrolan kami yang mulanya hanya basa-basi berkembang menjadi obrolan serius dan panjang. Papa bercerita tentang pergumulannya selama 5 tahun terakhir dan aku pun menimpalinya dengan bercerita bagaimana perjalananku selama 5 tahun sejak pindah dari Bandung ke Jogja hingga sekarang pindah lagi ke Jakarta. Selama 5 tahun terakhir memang kami tidak banyak bicara. Bahkan, selama aku kuliah di Jogja pun Papa tidak pernah menengokku. Bisa dikatakan komunikasi antara kami nyaris nihil.

Papa adalah orang yang gengsian. Dibesarkan dalam lingkungan yang keras membuatnya jauh dari kata-kata I love You, apa kabar, dan lain-lainnya. Papa tidak mengenal gaya mendidik seperti yang sering digambarkan sinetron-sinetron tentang keluarga yang ideal. Papa jarang menjadi pribadi yang proaktif untuk bertanya kepada orang lain. Tapi, yang Papa tahu tentang menjadi seorang ayah adalah bekerja dan bekerja. Bahasa kasihnya adalah tentang bekerja. Bagaimana dari pekerjaannya itu dia menghidupi anak-istrinya, hingga aku bisa mandiri seperti sekarang, itulah bahasa kasihnya.

Tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini, termasuk juga dengan karakter seseorang. Karakter Papa yang keras belakangan ini mulai luruh ketika aku telah mandiri secara finansial darinya. Demikian juga dengan karakterku yang apatis mulai berubah menjadi proaktif saat aku menyadari bahwa segala sesuatu terjadi karena ada sebab, termasuk dengan perangai Papa. Perubahan terjadi ketika dua pihak sama-sama berproses dan Tuhanlah yang mengizinkan proses itu terjadi.

Sosok Papa masihlah jauh dari sosok yang sempurna, demikian juga dengan aku. Tapi, di sinilah uniknya kehidupan. Bagaimana manusia-manusia yang sejatinya tidak sempurna itu saling memberi makna di kehidupan masing-masing.

Di dalam ketidaksempurnaannya, sekarang aku memahami Papa sebagai sosok yang sungguh berjasa dalam membentuk hidupku. Aku tahu bahwa kadang ada tindakannya yang tidak terpuji, dan di sinilah aku belajar untuk tidak menirunya. Aku mengambil apa yang baik darinya, tapi membuang apa yang buruk darinya.  

Sampai hari ini, aku masih terus berdoa dan berpengharapan bahwa keluargaku bisa pulih. Tapi, aku pula sadar betul bahwa untuk sampai ke tahapan “pulih” diperlukan kerja keras untuk mewujudkannya. Kasih yang sejati itu adalah tentang memberi, bukan menuntut. Ketika aku ingin Papa supaya menjadi orang yang peduli, itu artinya aku harus terlebih dahulu jadi orang yang peduli. Aku harus terlebih dahulu mengiriminya SMS “Apa Kabar?” daripada menantinya mengirimiku SMS duluan. Ketika aku ingin Papa berdoa, aku harus terlebih dahulu mendoakannya. Aku mendoakan segala hal baik untuknya, supaya Tuhan berkenan menggunakan hidup Papa untuk kemuliaan-Nya.

Tidak terasa. Obrolan malam itu berlangsung hingga lewat tengah malam. Aku mengantuk. Satu wajan besar bumbu kacang yang diolah Papa pun usai. Dan, kami pun mengakhiri obrolan.

Sebelum fajar menyingsing, di atas kasur, aku berdoa. Aku mengucap syukur atas waktu berharga yang boleh terjadi malam itu. Jika seandainya aku tidak pulang ke rumah, mungkin quality time ini tidak akan pernah terjadi. Bagaimana anak dan bapak duduk bersama bicara tentang hidup, inilah momen yang luar biasa.

Obrolan malam itu adalah angpau terbesar yang pernah kudapat. Bukan tentang nominal, tapi tentang relasi yang sedang dibangun menuju erat.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai, termasuk untuk memulai relasi ini.

Terakhir, sebelum aku benar-benar terpejam, sekali lagi aku tersadar bahwa kasih yang sejati itu adalah soal memberi, bukan menerima. Dan, saat pikiranku merenungkan tentang kasih, aku jadi teringat akan sosok Santo Fransiskus Asisi yang dalam hidupnya begitu bertekad untuk menjadi seorang pembawa damai.

Aku mengucapkan doa dari St. Fransiskus Asisi yang bunyinya demikian:

TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.

Ya Tuhan,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.

Amin.

 

Jakarta, 17 Februari 2018

 

20 respons untuk ‘Angpau yang Paling Mahal

  1. Cerita mas seperti aku dan ibuku mas. Memang hrus sama2 saling memahami. Aku juga mulai belajar lunak dengan ibuk, begitupun beliau. Setidak nya hrus ada yg memulai #ah curhat hehee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s