Pecel Paling Sedap di Lasem

Sebelum menginjakkan kaki di Lasem, gambaran yang muncul di benak saya tentang kota kecamatan ini adalah bangunan-bangunan tuanya yang sarat sejarah. Namun, setelah benar-benar singgah di Lasem pada awal tahun 2018 lalu, akhirnya saya paham bahwa selain bangunan tuanya, ada dua hal lain yang membuat Lasem itu istimewa: orang-orang dan kulinernya.

Hari itu adalah hari Minggu. Sebelum kami menjelajah ke rumah pembuatan batik Nyah Kiok, Mas Pop (tour leader kami) mengajak kami untuk sarapan dulu ke sebuah warung pecel.

“Ini pecelnya beda. Uenak banget,” kata Mas Pop meyakinkan kami bahwa warung pecel yang akan kami sambangi nanti bukan warung pecel biasa.

“Ah, masa?” saya mengernyit. Sepengetahuan saya, yang namanya pecel itu hanyalah sayur-sayuran rebus yang disiram dengan bumbu kacang dengan rasa sedikit pedas. Plus ditambah rempeyek. Dari Kroya hingga Banyuwangi yang pernah saya singgahi, rasa-rasanya penampakan dan rasa pecel itu mirip-mirip saja.

Tapi, saya coba menerka-nerka. Se-spesial apa sih pecel yang akan kami santap nanti? Apakah porsinya jumbo? Atau, apakah pedasnya luar biasa? Atau, jangan-jangan penjualnya cantik jelita? Semua rasa penasaran ini tersimpan di dalam hati hingga akhirnya kami tiba di warung pecel yang Mas Pop banggakan.

Jeng…jeng..

Warung pecel yang kami singgahi pagi itu berada di pekarangan depan sebuah rumah tua yang terletak di pinggir jalan raya Lasem-Jatirogo. Sepintas, tak tampak keistimewaan apapun dari rumah ini. Bangunannya berbentuk joglo. Atapnya ditopang dua tiang kayu yang sudah keropos. Dinding rumahnya pun memprihatinkan karena bilik kayunya sudah tipis. Sepertinya, jika hujan angin melanda, air bisa merembes masuk ke dalam rumah. Kemudian, saya menerawang ke sekeliling: apakah ada mbak-mbak cantik jelita yang akan melayani pembuatan pecel hari itu?

Harapan saya untuk bertemu mbak-mbak cantik itu harus pudar. Tidak ada mbak-mbak cantik yang menghidangkan pecel di sini. Tapi, seorang wanita berkerudung kelabu yang melayani setiap pembeli dengan cekatan. Sambil tangannya menata sayuran di atas piring, dia mengajak kami berbicang. Logat medok Jawanya sangat khas.

“Monggo mas, badhe pesen opo?”

“Aku pecel satu bu. Tapi bumbunya sedikit aja,” sahut saya.

Sembari menanti pecel dihidangkan, Mas Pop kemudian bertutur tentang mengapa pecel ini menjadi istimewa. Katanya, warung pecel ini adalah favoritnya sejak dulu. Sebelumnya, penjual asli pecel ini bernama Mak Mok, namun sekitar 1,5 tahun lalu Mak Mok meninggal dunia sehingga usaha pembuatan pecel ini diteruskan oleh keponakannya, yaitu Oma Widia. Sembari Oma Widia memasak bakwan dan tempe goreng di dapur, ibu berkerudung kelabu membantu melayani pembeli di warung.  

“Monggo, mas” sahut ibu itu.

Pecel yang saya pesan tersaji dengan sempurna di atas piring. Ukurannya kecil, tidak jumbo seperti terkaan saya. Bumbu kacangnya yang berwarna kecoklatan berpadu dengan warna hijau sayuran. Begitu sedap terlihatnya. Di gigitan pertama, saya langsung merasa cocok dengan rasa dari pecel ini. Melihat saya suka dengan makanan pagi itu, Mas Pop melayangkan senyuman kepada saya seraya manggut-manggut. Mungkin dalam hatinya dia berkata: “Piye? Enak toh?”

Biasanya, setiap kali makan pecel di Kroya, Yogyakarta, ataupun Banyuwangi dulu, saya selalu tidak cocok dengan bumbunya. Seringkali rasanya terlalu pedas. Buat orang yang tidak suka cabai seperti saya, rasa pedas bisa jadi masalah serius. Alih-alih membuat nikmat, pedas membuat saya jadi bersusah payah untuk menyantap suap demi suapnya. Tapi, pecel pagi ini berbeda. Takaran pedasnya pas, tidak membuat mulut kebakaran. Dan, dalam hitungan menit, sepiring pecel pun selesai disantap.

Setelah selesai makan, kami tidak segera pulang. Saya meminta izin kepada Oma Widia untuk melihat-lihat rumahnya. Oma Widia pun mengizinkan, bahkan dia mengeluarkan foto-foto lawasnya lalu bertutur kepada saya.

“Ini foto saya dulu, waktu kawin sama om,” jelasnya antusias. Saya menanggapinya dengan manggut-manggut.

Usia Oma Widia sekitar 60 tahunan. Dia memakai kacamata, badannya kurus, dan ternyata sangat suka berbicara sampai-sampai bakwan yang sedang dia goreng pun ditinggalkannya demi meladeni saya.

“Aku dulu dioperasi. Aku kena kanker payudara. Puji Tuhan sekarang sudah diangkat,” tambahnya sembari tangannya menunjukkan posisi payudaranya yang kini telah hilang. 

Jika saya perhatikan, sepertinya Oma Widia dan keluarganya bukanlah berasal dari kalangan yang kaya secara ekonomi, hal ini terlihat dari keberadaan rumahnya. Meski Oma Widia adalah warga keturunan Tionghoa, tapi rumahnya berada jauh dari kawasan Pecinan.

Para warga Tionghoa Lasem yang cukup mapan secara ekonomi kala itu biasanya bermukim di kawasan Pecinan yang dekat dengan kota. Mereka mendapatkan pundi-pundi yang besar dari bisnis garam, pembuatan batik, hingga bisnis candu. Rumah-rumah mereka dibuat megah, dengan pekarangan yang luas, atap yang tinggi, juga tiang penyangga yang kokoh dari tembok. Atau, jika menggunakan kayu, kayunya pun masih terlihat kuat hingga hari ini. Untuk menunjukkan identitas ketionghaan mereka, atap rumah dibuat melancip, kemudian di beranda rumah juga dibuat pintu besar yang diapit dua jendela.

Pada zaman kolonial, pemerintahan Belanda membangun kawasan pemukiman berdasarkan etnis tertentu. Etnis Tionghoa yang digambarkan sebagai pedagang tidak boleh sembarangan mendirikan tempat tinggal. Umumnya, mereka mendirikan bangunannya di kawasan yang berdekatan dengan pasar. Hingga sekarang, nama kampung Tionghoa itu kita sebut sebagai pecinan.

Barulah pada tahun 1910-an, setelah Belanda memberlakukan peraturan Wilkenjstenstel (peraturan tentang pemukiman), orang-orang Tionghoa diperbolehkan tinggal di luar pecinan (Raap, 2015:97). Nah, untuk bagian ini saya pun sebenarnya belum tahu dengan pasti, apakah kala itu peraturan ini juga turut diterapkan di Lasem atau tidak. Jika ya, berarti ini menjawab penasaran saya akan rumah Oma Widia. Besar kemungkinan, rumah Oma Widia dibangun pasca 1910. Berapapun tahun tepatnya, tentu usia rumah Oma Widia sudah sangat tua.

Bermula dari ajakan makan pecel, penasaran saya akan keluarga Oma Widia semakin membuncah. Apa gerangan keluarga Tionghoa ini hingga pada akhirnya mengisi keseharian sebagai penjual pecel? Ketika saya coba bertanya kepada Oma Widia tentang asal usul keluarganya, dia menjawab sudah banyak lupa. Tapi, dia begitu bersemangat menceritakan tentang kedua anaknya.

“Anak saya dua. Cowok dan cewek. Yang cowok sekarang sudah jadi pendeta,” tuturnya bangga. Senyuman mengembang di bibirnya.

Menarik sekali. Pada mulanya, saya menduga bahwa Oma Widia masih memeluk kepercayaan Konghucu karena saya melihat ada meja altar di ruang utama rumahnya. Tapi, dugaan saya mulai pudar tatkala saya melihat ada sebuah salib tanpa korpus yang tergantung di dinding reyot. Pembicaraan pun mulai bergeser menjadi semakin personal. Oma Widia bangga dengan iman yang dianutnya. Katanya, karena pertolongan Tuhan sajalah Oma Widia bisa mendapatkan kesehatannya kembali, walaupun sudah divonis menderita kanker payudara. Dan sekarang, melalui usaha berjualan pecelnya, Oma Widia memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Oh ya Oma, kalau anaknya yang cewek sekarang di mana?” tanya saya penasaran karena sejak tadi Oma hanya banyak membahas anak lelakinya yang sudah jadi pendeta.

“Oh, dia kerja jaga apotik di Lasem. Belum nikah juga,” kata Oma Widia semberi terkekeh.

Rupanya, percakapan ini didengar oleh anak perempuannya yang saat itu sedang berada di kamar. Saya melihat tirai gorden dibuka sesaat dan tatapan mata penasaran pun diarahkan ke saya. Sayang sekali. Terlalu singkat. Saya jadi tidak nampak seperti apakah rupa dari anak perempuan Oma Widia itu.

Tak terasa, saya dan Oma Widia sudah mengobrol selama 15 menit lebih. Oma Widia teringat akan gorengannya dan buru-buru berlari ke dapur. Saya turut membuntutinya karena masih ingin mengobrol. Tapi, Mas Pop mengingatkan saya bahwa sehabis ini kami masih harus berkunjung ke rumah batik.

Mengetahui bahwa saya akan segera pamit, Oma Widia menepuk pundak saya.

“Kamu, nanti main lagi ke Lasem ya. Ini bakwan dibawa pulang ya,” kemudian dia menyerahkan sebaskom bakwan panas untuk saya bawa pulang.

“Waduh, jangan, jangan oma. Bakwannya kan buat dijual. Kalau dikasih buat saya nanti ndak kemakan. Eman”

Saya tidak tahu apa perasaan Oma Widia saat itu. Tapi, saat saya menolak pemberiannya, raut mukanya terasa berbeda. Kemudian dia kembali membujuk saya: “Wes, dibawa saja ya? Tak bungkusin.”

Kebaikan Oma Widia hari itu membuat saya terenyuh. Inilah hal berharga yang saya dapatkan dari perjalanan di Lasem, selalu saja ada hal-hal baik yang diberikan oleh mereka yang berhati tulus. Sebaskom bakwan yang hendak Oma Widia berikan bukanlah sekadar pemberian, melainkan sebuah ekspresi syukur dan apresiasi kepada saya, orang baru yang mau menjadi teman bicaranya. Dari pemberian itu, terselip ketulusan Oma yang tidak menaruh curiga ketika saya hendak menjelajahi isi rumahnya. Padahal, bisa saja seharusnya Oma menaruh curiga pada saya, kalau-kalau saya akan mencuri sesuatu dari rumahnya.

Dengan lembut, saya kembali menolak Oma Widia bahwa bakwan sebanyak itu tidak mungkin saya makan seluruhnya. Lagipula, sehabis ini saya, Mas Pop, dan juga Mas Joe harus kembali melanjutkan perjalanan menaiki motor. Sulit jika harus sambil makan bakwan.

Akhirnya, Oma Widia bisa memahami penolakan saya. Dan, sebelum saya pergi, saya mengajak Oma untuk berfoto bersama.

Kunjungan singkat ke rumah Oma Widia hari itu membuat saya mengamini ucapan Mas Pop. Benar, pecel di sini adalah pecel yang paling sedap di Lasem. Sedap karena rasa yang pas, harga yang bersahabat, dan kisah sejarah yang turut hadir dalam setiap bumbu-bumbu pecelnya.

Saya akan ingat terus ajakan Oma Widia untuk suatu saat berkunjung ke rumahnya kembali. Semoga Oma Widia tetap sehat.

 

14 respons untuk ‘Pecel Paling Sedap di Lasem

      1. Hehehehe. Doa para pekerja di Jakarta yg suka keluyuran ya.

        Seandainya ke Lasem ada kereta, mgkin akan sering main ke sana. Tapi, sayang. Keretanya cuma sampai Semarang tok. Harus oper lagi, jadi ribet

      2. Hahahaha.. bener banget…
        Belum lagi kalau bosanya sangar.. baru mau ngajuin cuti aja mukanya dah sepa bener..

        Nah iya mas.. padahal kalau ada kereta lintas pantura enak tuh ya.. uhh… andai oh andai

  1. Aku udh batin dulu wah kalo sarapan pecel biasanya dikasih porsi jumbo. Eh kok kmrn beda, pas buat sarapan krn ga terlalu kenyang 😀
    Dapat bonus pula gorengan sak plastik eh bonus cerita2 sm Oma Widia. Kayaknya kudu balik kesana lagi deh mas. Biar dikenalin sm anaknya Oma Widia eh :p

    1. Wakakakakakakakak.

      Anak wedoke nyumput ning kamar. Ora wani metu hahahahaha.
      Tp emg sih, pecelnya enak. Apalagi setelah menetap lama di Jkt. Andai Jkt-Lasem bisa kepeleset doang, tiap hari dah mampir

  2. Oh jadi Oma Widia dan ibu berkerudung itu 2 wanita berbeda toh. Menarik tulisannya mas. Nggak cuma dapet info wisata, aku juga tercerahkan 😀
    Tapi aku setuju, kuliner Lasem itu josss!

    Bedanya, aku fans cabe, hahahaha.

    1. wkwkwk.
      Iya mas, dua orang berbeda. Tapi aku belum sempat menggali hubungan keduanya hihihi.

      kita beda selera berarti mas. Aku anti banget sama cabe. Cabe sedikit aja bisa bkin aku berenti makan. Padahal dulu lahir dan besar di Bandung, yang mana banyak makanan pedes wkwk

  3. Warung makan oma Widia ini begitu bersahaja,ya ….
    Salut dengan perjuangan hidupnya dan berhasil meramu resep bumbu pecel jadi berbeda rasa dengan pecel di tempat lain 👍

    1. Hehehe. Iya Mas, tapi sebenarnya katanya pecel ini bumbunya warisan dari Mak Mo yang sudah meninggal beberapa tahun lalu.

      Aku sendiri kurang menggali lebih dalam nih. Sepertinya masih banyak kisah menarik yg bisa digali di rumah Oma Widia, semoga nanti bisa ke Lasem lagi :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s