Monthly Archives: Februari 2018

  Saat teman-teman keturunan Tionghoa lainnya sibuk mempersiapkan datangnya tahun baru Imlek, seperti biasanya tidak ada yang spesial di keluargaku. Tidak ada acara masak-masak, kumpul-kumpul, ataupun makan bersama. Di keluargaku, tahun baru Imlek itu tiada bedanya dengan hari biasa. Hanya sebuah hari biasa yang juga akan berlalu.

  Tulisan ini adalah cerita dari hari kedua perjalanan saya di Lasem.Β 

  Sewaktu masih duduk di bangku SD dulu, saya sering diajak pulang kampung ke kota kelahiran ibu di Jombang, Jawa Timur. Tak jauh dari rumah tempat ibu saya dulu dilahirkan, teronggok rel tua yang tak lagi utuh. Bantalannya sudah tiada. Beberapa bagian relnya patah. Lagipula, rel itu tidaklah panjang, hanya beberapa meter kemudian terkubur di bawah bangunan rumah tembok dan jalan aspal.

  Pernahkah terpikirkan dari mana sebagian besar keuangan sebuah negara berasal?

  Potret sungai yang mengalir jernih nampaknya telah menjadi barang langka, terutama untuk mereka yang kesehariannya tinggal di daerah perkotaan. Tapi, langka bukan berarti tiada. Di Kabupaten Klaten, masih terjaga sebuah mata air yang sangat jernih. Mata air ini oleh warga setempat disebut Umbul Cokro. Saking jernihnya, beberapa pengunjung yang bertandang ke sana sering menganalogikannya seperti air β€œAqua”.